Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Konsultasi vs curhat


__ADS_3

Raymond turun ke lantai satu mengikuti langkah Lea. Saat istrinya itu masuk ke dalam dapur yang di dalamnya penuh dengan para wanita, ia memilih memutar langkahnya menuju kebun belakang.


Setidaknya ia harus lebih bersabar sedikit lagi untuk hasil yang maksimal nanti malam.


"Wajah kok kecut banget, ada apa?" tanya Lukman yang sedang bersantai di gazebo. Raymond tidak berniat menjawab, ia hanya melirik sebal pada temannya itu.


"Pria yang sudah menikah itu kalau wajahnya lungset, biasanya setoran ke istri kurang lalu kena omelan atau sebaliknya ...." Gilang menggantung kalimatnya.


"Ga dapat setoran dari bini hahahahahhaaaa ...." Keduanya tertawa lepas.


"Sompreeettt kalian," Raymond memukul Gilang dan Lukman menggunakan sandal sedapatnya.


"Eeh, beneran??" Gilang membelalak.


"Kok bisa?, katamu bulan madu sukses." timpal Lukman.


"Ngapain sih kalian di sini, bisa kan bakar-bakar di rumah sendiri." Raymond tidak menghiraukan pertanyaan Lukman dan Gilang.


"Yang buat acara kan nyonya, Ray. Apalah kami, sebagai bawahan hanya bisa menurut. Di suruh makan, ya makanlah kami," sahut Gilang sambil tersenyum lebar.


"Kalian kan bisa nolak, lihat tuh istriku seharian repot terus di dapur. Aku kan juga butuh perhatian," gerutu Raymond sambil melirik ke arah jendela dapur yang terbuka lebar, dan bisa terlihat dari kebun belakang.


"William dan Maura aja ga serewel kamu," cibir Galih.


"Ray, kamu harus maklum saat ini Lea butuh di kelilingi oleh teman-temannya dengan begitu ia lebih merasa nyaman," jelas Lukman bijak.


"Apa aku ga cukup buat dia merasa nyaman," Raymond memperhatikan Lea yang asyik di dapur, sesekali istrinya itu bercanda dengan Nina dan Kinanti.


"Kamu kan sudah tau, kekecewaan yang di alami Lea berasal dari orang-orang terdekatnya. Menurutmu setelah apa yang ia alami, dia akan begitu saja percaya sama kamu?"


"Maksudmu dia belum bisa percaya sama aku, yang sudah jadi suaminya ini?" Raymond menunjuk dirinya sendiri.


"Erik dulu juga suaminya," sahut Lukman. Raymond terpekur berusaha memahami penjelasan Lukman.


"Aku harus bagaimana lagi?" kata Raymond pelan.


"Aku pikir dengan dia sudah mau ku sentuh, berarti dia sudah mau menerima aku," lanjutnya lirih.


"Tidak semua istri bisa terbuka menerima suami mereka apa adanya. Kalaupun mereka melakukan hubungan intim, bisa jadi hanya karena tanggung jawab dan tugas sebagai istri?"


"Tanggung jawab?" kening Raymond berkerut.


Tidak sampai di pikirannya bagaimana rasanya melakukan hubungan intim yang begitu nikmat, tapi dilakukan hanya karena rasa tanggung jawab.

__ADS_1


"Iya, itu mungkin sama halnya dengan seorang suami yang bertanggung jawab mencari nafkah."


Ingatan Raymond berputar saat masa bulan madu mereka. Selama menghabiskan waktu bersama Lea di Kalimantan Timur, ia sangat bahagia serasa tidak ingin pulang.


Selama di sana pula, ia berusaha keras mengurung Lea dengan seribu satu alasan agar istrinya itu tetap berada di dalam kamar berdua bersama dia.


Ia begitu menikmati masa-masa berbulan madu mereka, tapi apakah istrinya itu juga menikmati?


Tiba-tiba rasa tidak percaya dirinya timbul.


"Kamu dan Lea kan juga belum terlalu mengenal, tidak ada proses kalian saling dekat. Kalian menikah karena faktor saling membutuhkan ... take and give seperti yang kamu bilang sama aku dulu." Raymond bersandar pada gazebo, tiba-tiba ia merasa lelah mendengar penjelasan Lukman.


"Jangan terlalu memaksakan keinginanmu. Apalagi soal hubungan intim, itu kelemahannya Ray."


"Jangan semerta-merta karena ia sudah sah jadi istrimu, dan mau kamu sentuh lalu kamu mengabaikan perasaannya. Bisa-bisa ia berpikir kamu menikahinya hanya karena ****," lanjut Lukman.


Sangat bertolak belakang, jika bagi Lea hubungan intim adalah kelemahannya sebaliknya hal itu adalah sumber semangat bagi Raymond.


"Lea masih sering konsultasi sama kamu?" tanya Raymond sambil berbaring di gazebo.


"Enggak pernah lagi, tapi Nina sering cerita kalau Lea curhat."


"Walaupun bukan konsultasi resmi, tapi tagihan tetap terus berjalan ... termasuk konsultasimu ini juga ada hitungannya." Lukman tersenyum licik.


"Sama aja," sahut Lukman santai sambil menyesap sekaleng cola.


"Mata duitan!" sembur Raymond kesal.


"Bagus itu, dari pada mata keranjang." Lukman segera berdiri pergi menghindari amukan Raymond.


"Sudah ada yang matang?" Papa datang membawa piring kosong. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa di makan.


"Bakar dagingnya kan nanti malam Om," Ucap Gilang.


"Yaah, Om kira sudah ada yang di bakar," ujar Papa sedikit kecewa melihat panggangan yang masih terlihat bersih.


"Kok banyak banget sih yang di siapkan, seperti mau pesta besar aja," Raymond masih menggerutu.


"Mamamu undang Tante Silvi sama anaknya." Papa ikut duduk bersantai di sebelah Raymond.


"Tante Silvi?" Raymond mata Raymond membesar.


Tantenya yang satu itu sangat heboh dalam menanggapi sesuatu, di tambah lagi anak gadisnya yang manja dan selalu cerewet.

__ADS_1


Tante Silvi yang paling bahagia menyambut kabar pernikahannya, ia dan putrinya mempersiapkan segalanya sampai hal yang paling detail.


"Sekalian syukuran rumah barumu ini kata Mama," lanjut Papa.


Raymond bangkit berdiri ingin segera merebahkan diri ke atas ranjang. Ia sepertinya harus menyimpan tenaga lebih untuk acara nanti malam.


'Yang, aku tunggu di kamar ya," bisik Raymond saat melintasi dapur.


"Eheeemm, masih siang Ray." Mama melirik sewot. Ga tahu terbuat dari apa telinga Mamanya ini, jarak yang cukup jauhpun masih bisa terdengar.


Lea hanya tersenyum canggung karena jadi bahan tertawaan seisi dapur.


"Maklum ya Lea, anak Mama itu dah kelamaan menduda jadi energinya lagi berkobar-kobar." Suara Mama yang lantang masih terdengar di telinga Raymond yang sudah sampai di lantai dua.


"Waktu Raymond bilang mau menikah, kaget dong Mama sama Papa. Ketahuan dekat sama perempuan aja ga, tau-tau mau menikah." Mama terus berceloteh sambil mengaduk sayuran di atas wajan.


"Mama langsung tembak aja, sudah berapa bulan perempuan itu hamil?, eh malah marah dia hehehehee ...."


"Terus dia cerita semua tentang kamu, tentang bagaimana kamu mempertahankan Maura. Mama senang sekali, dengan begitu Mama yakin kamu itu ibu yang baik. Itu sudah kebih dari cukup." Suara Mama melunak.


"Memang ada perasaan khawatir dan tidak yakin ... eh, tapi bukan sama kamu. Mama ga yakinnya sama anak Mama sendiri, khawatir dia gegabah mengambil keputusan hanya karena emosi dan itu bisa berpengaruh dalam hubungan kalian kedepannya." Mama menarik Lea untuk duduk bersamanya di meja makan.


"Tapi begitu Mama perhatikan sikap dan perhatian dia sama kamu dan Maura, Mama yakin dia sudah jatuh cinta sama kamu lebih dulu sebelum mengajakmu menikah." Mama tersenyum lebar.


Lea mengernyitkan alis mendengar penjelasan Mama, bagaimana bisa bosnya itu yang sekarang menjadi suaminya jatuh cinta padanya?


Kalau boleh jujur, sampai saat ini Lea masih belum terlalu yakin akan perasaan Raymond.


Ungkapan cinta yang sering di dengungkan suaminya itu masih belum menyentuh seluruh hatinya.


Bagi Lea pertemuan hingga akhirnya mereka menikah sangat terlalu singkat waktunya untuk menumbuhkan rasa cinta, apalagi dulu Raymond selalu bersikap ketus jika bersama dengannya.


Sepertinya ia harus lebih belajar lagi mendalami, dan menggali perasaan suaminya itu sebelum semuanya terlambat untuk disadari.


...❤❤...


Besok kita malam tahun baruan sama Bang Raymond ya


Tante Silvi ada sedikit di cerita ini di bab : SAH


Anak Tante Silvi yang manja dan cerewet ada di novel aku yang baru.


Kisah tentang lika liku cinta anak SMU. Mungkin Bang Raymond nantinya juga akan muncul di cerita keponakannya, si Gita Gempita 😁

__ADS_1



__ADS_2