
Sepanjang perjalanan Erik tak henti-hentinya memaki dirinya sendiri.
Tak seharusnya ia marah besar pada Lea seperti itu, apalagi menyebut Maura itu bukan anaknya.
Menetes air mata Erik mengingat kata yang sudah terlanjur terlontar dari mulutnya. Erik sangat yakin kata itu pasti sudah menusuk hati Lea.
Mungkin Maura pun merasakan hal yang sama, bayi itu langsung menjerit dengan kencang sesaat setelah Erik mengatakan hal itu.
Disaat suasana rumah terasa tidak nyaman dan kurang harmonis karena kondisi mental Lea yang merasa tidak bisa menangani Maura, Erik dibuat pusing oleh sikap dingin Ghea.
Sejak kejadian malam itu, Ghea terlihat selalu menghindari Erik.
Tidak mau berada hanya berdua saja dalam satu ruangan, bahkan tidak mau bertatapan mata secara langsung.
Kejadian malam itu memang bagai tragedi, tapi juga sekaligus kejadian yang menyenangkan dan berkesan bagi Erik.
Di malam yang sama pula Lea yang berstatus resmi sebagai istrinya, melahirkan putri cantik yang nanti akan memanggilnya dengan sebutan Papa.
Sungguh Erik tak bisa melupakan saat dimana ia menghabiskan malam bersama dengan Ghea.
Tiap detailnya sangat melekat dalam ingatannya.
Ada rasa sesal namun juga ada perasaan bahagia yang sulit untuk dijelaskan.
Seharusnya Erik merasa lega karena Ghea tidak menuntut pertanggung jawabannya, tapi mengapa yang dirasakan Erik justru sebaliknya.
Perasaan kacau, bimbang, rindu, bersalah dan ... ingin memiliki berkecamuk menjadi satu dalam hatinya.
Mengapa saat ini ia merasa kondisinya sangat mirip dengan Pak Beni. Ayah kandung Maura itu Ingin memiliki Lea, tapi juga tidak mau melepaskan istrinya.
Apakah ia juga seperti itu, serakah ingin memiliki keduanya? ... jelas tidak mungkin.
Arrhgghhh ... Erik meremas pensil gambarnya hingga terbelah menjadi dua.
Dilihatnya Ghea yang duduk dengan tenang, seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Ia ingat dulu saat Lea dinyatakan positif hamil, saat itu selang satu bulan lebih setelah kejadian malam di mana Lea diperkosa Pak Beni.
Erik memperhatikan dari tempat duduknya, apakah ada perubahan pada perut Ghea.
Kondisi sehari-hari Ghea juga tidak menunjukkan perubahan apapun yang memperlihatkan ia sedang mengandung.
"Gheaa ... tunggu Ghea." Erik menarik lengan Ghea begitu dapat terkejar.
"Tolong dengarkan aku dulu." Ghea menatap mata Erik dengan tatapan menantang.
"Kamu tidak ingin memeriksa? ..." Ghea mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Erik.
"Apa yang kamu harapkan? ... aku hamil?. Aku wanita dewasa dan modern sudah paham dan mengerti cara mengantisipasi hal tersebut," Sahut Ghea tegas sambil menghentakan gengaman Erik di pergelangan tangannya.
...đšī¸...
Siang itu juga setelah mendengarkan cerita panjang dari Lea, Nina membuat janji dan mengantar temannya itu menemui dokter Lukman.
__ADS_1
Selama dalam ruang konsultasi Nina duduk sedikit menjauh dari dokter Lukman dan Lea sambil menggendong Maura.
Ia memberikan ruang untuk Lea menjalankan teraphynya.
Ia Sama sekali tidak menyangka, perjalanan hidup sahabatnya itu yang di sangkanya begitu beruntung ternyata jauh lebih menyedihkan dari pada dirinya.
"Nin," panggil Lea. Mereka berdua berada dalam mobil perjalanan pulang dari praktek dokter Lukman.
Nina menaikan alisnya sambil tersenyum menanggapi panggilan Lea, sementara matanya tetap menatap jalan di depannya.
"Kamu kenal ... Ghea?" Nina menoleh cepat ke arah Lea, namun Lea hanya menunduk memandang Maura.
" ... Kenal, satu department dengan Kak Erik kan? Kenapa Le?" Lea menggeleng dan tersenyum.
Nina menarik nafas dan menghembuskannya dengan kesal. Cukup sudah menjadi orang bodoh di antara mereka berdua.
"Bilang aja Lea, ada apa sih? Kamu ga akan iseng hanya untuk bertanya seperti itu." Lea tertawa miris.
"Benar kan?, aku kenal kamu bukan baru kemarin." Nina mengkerucutkan bibirnya tanda protes.
Lea mendesah lalu melanjutkan, "Kak Erik ada rasa sama Ghea ... tapi mungkin hanya dugaanku." Lea menaikan kedua bahunya.
"Dari mana kamu punya pikiran seperti itu?"
"Sempat denger aja ... waktu Kak Erik telpon di teras ... kurang jelas juga sih obrolin apa tapi ... sebut nama Ghea terus ... ada kata sayang." Lea kembali menunduk hanya memandangi wajah Maura.
"Lalu?"
"Kamu ga tanya ada hubungan apa mereka?"
"Untuk apa?, aku tidak punya hak untuk itu?" Lea membuang pandangannya ke luar jendela.
"Tidak punya hak bagaimana?, Kak Erik kan suamimu? sudah jelas hak mu untuk bertanya bahkan melarangnya dekat dengan wanita lain," sahut Nina kesal.
Lea menggeleng, "Aku tidak berhak." Nina menatap Lea dengan penuh pertanyaan.
"Aku tidak pernah memberikan hak Kak Erik sebagai suami, bagaimana bisa aku menuntut hak ku sebagai istri?"
"Maksudnya?? ...." Nina menggantung pertanyaannya lalu segera memahami setelah melihat Lea menganggukan kepala.
"Tidur terpisah?" Lea menggeleng.
"Lalu selama satu tahun menikah, satu kamar, satu ranjang kalian ngapain aja?? ... main domino??" Nina melebarkan matanya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Maaf ... Kak Erik normal kan?" tanya Nina hati-hati merasa tidak enak.
Lea terkekeh pelan lalu kembali melanjutkan, "Aku yang salah ... aku yang ga bisa menunaikan tugasku sebagai istri."
"Karena itu kamu menemui psikiater?" Lea mengangguk membenarkan.
"Apa kata dokter Lukman?"
"Aku baik-baik aja, hal yang wajar katanya. Itu hanyalah dampak trauma masa lalu dan berangsur-angsur akan hilang ... dan memang benar aku sekarang merasa baik-baik saja setelah Maura lahir." Lea tersenyum lebar menatap Nina.
__ADS_1
"Berarti bisa dong kamuuu ... ehem-ehem sama Kak Erik." Nina mengerling menggoda.
Lea menggeleng lalu menatap ke arah luar jendela, "Sepertinya sudah terlambat."
"Ghea?" tebak Nina, "Kamu masih istrinya ... perjuanginlah."
"Entalah Nin." Lea menggigit bibirnya dengan mata menerawang.
"Di coba dulu kamu pasti bisa ... demi Maura."
...đšī¸...
Pyaaarrr .. piring makan yang terbuat dari beling pecah, begitu juga lauk dan sayuran yang ikut terhambur bersama dengan pecahan piring di lantai.
"Loohh ... kenapa di buang le?" Wanita setengah baya yang sudah mengabdi hampir dua puluh tahun di keluarga besar Raymond, terlihat membersihkan nasi dan lauk yang tercecer di lantai.
"Ga suka!" William mengeraskan wajahnya dan mendekap kedua tangannya di dada.
"Cah ganteng mau makan apa?, nanti mbok buatkan."
William lari masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam.
Mbok Nah memandang sedih ke arah pintu kamar William.
Terdengar suara teriakan dari dalam kamar, sudah di pastikan kamar akan kembali berantakan jika anak usia delapan tahun itu mengamuk.
"Ada apa lagi Mbok?" tanya Raymond lelah. Ia sejak dari pintu masuk sudah mendengar keributan dari arah ruang makan.
"Nda mau makan," sahut Mbok Nah sedih.
Raymond menghembuskan nafasnya kasar lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Mbok Nah hanya terdiam memandang kedua pintu yang tertutup di hadapannya.
Sedih melihat interaksi kedua majikannya. Yang kecil semakin hari semakin sulit diatur, selalu marah tanpa sebab.
Tuan yang besar semakin hari juga terlihat semakin tidak perduli dengan putranya.
Semua hal terkait William di serahkan pada dokter Lukman. Hanya pada dokter Lukman, William mau mendengarkan dan bercerita layaknya seorang anak pada umumnya.
"Hwwuuuaaaaa ... hwuaaaa ...." Suara raungan yang keras terdengar kembali dari arah kamar William.
Raymond keluar dari kamar dengan wajah menahan amarah.
...â¤â¤...
Haiii maaf ya bolong sehari updatenya othor lagi otw pulkam ke kota pahlawan nih mau kasih support Lea đ¤, masih semangat kan đđ
Jangan lupa like, vote dan komen yang santun yaa đ. Love and Big Hug đ¤đĨ°
Saya mau kenalkan karya dari author keren nih. Sambil menunggu Lea, Erik dan Raymond, mampir yuk ke novel berjudul 'Simfoni Temaram Takdir' karya Tita Dewahasta
__ADS_1