Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
otewe pulang kampung


__ADS_3

Raymond ditemani Gilang, Kinanti dan juga Lea, membawa Pak Beni dan kedua rekannya melihat-lihat kembali pameran otomotif di lantai dasar yang menjadi tanggung jawab Kinanti dan Lea.


"Berapa lama rencana mau mengadakan pameran perumahan nanti?" tanya Raymond.


"Dua minggu, ya sepertinya cukup segitu." Pak Beni menimbang-nimbang.


"Saya tunggu secepatnya Pak Raymond dan ... kamu Lea, untuk datang ke tempat saya membicarakan rencana selanjutnya."


"Kamu juga sudah lama kan tidak berkunjung ke makam ibu dan ayahmu?" lanjut Pak Beni.


"Makam?" sahut Gilang ingin tahu.


"Lea dan saya dulu satu kampung, dia ... menikah lalu pindah ke Surabaya." Pak Beni menatap Lea sendu.


Raymond menatap Lea yang sedang melihat kesibukan para SPG menemani pengunjung, seakan tidak mendengar perkataan Pak Beni.


Timbul sedikit rasa bersalah dalam hatinya, sudah menuduh hal yang tidak-tidak antara Lea dan Pak Beni.


"Kalau begitu kami pamit dulu Pak Raymond." Pak Beni menunduk hormat.


"Jaga dirimu baik-baik Lea," ucap Pak Beni pelan yang direspon Lea hanya dengan tersenyum tipis.


"Kamu ikut saya ke kantor, Gilang tolong dampingi Kinanti dulu di sini." Raymond berkata tegas setelah rombongan Pak Beni berlalu pulang.


Lea mengikuti langkah Raymond diiringi dengan tatapan kasihan dari Kinanti dan Gilang.


"Kamu merasa aneh ga sih lang sikap pak bos ke Lea?, kok nyinyir banget sikapnya. Aku tuh kasihan sama anak itu." Kinanti masih melihat dari jauh punggung Lea yang menurun tidak semangat.


"Masak iya?, aku kurang perhatiin sih kan baru ketemu juga sama Lea tadi pagi di lift bareng Raymod ... hehhehe emang sih sepertinya habis kena semprot, yang satu mukanya kayak dalaman sebulan ga dicuci, yang satu pucet kayak lagi ditagih pinjol." Gilang terkekeh mengingat kejadian tadi pagi.


"Jorok banget sebulan ga di cuci, dalaman kamu pasti."


"Belum dapat bini Kin, kamunya juga dikodein ga nyadar-nyadar," sahut Gilang cuek sambil terus berjalan meninggalkan Kinanti dengan wajahnya yang memerah.


Kinanti bukannya tidak tahu Gilang menaruh hati padanya, namun situasi kondisi rumah tangganya saat ini juga masih di ujung tanduk tidak tahu akan di bawa kemana.


"Maaf Pak, saya kan mau mengundurkan diri jadi saya ga bisa pegang proyek ini," ucap Lea saat mereka dalam satu mobil perjalanan kembali menuju kantor.


"Kamu tidak dengar kalau Pak Beni maunya kamu yang menangani pameran dia, saya tidak mau rugi hanya karena kamu resign sekarang. Kamu boleh keluar kapan saja setelah kerjasama dengan Pak Beni berakhir." Raymond bersikukuh.


"Dan ingat kamu belum genap tiga bulan bekerja, itu berarti kamu masih dalam masa kontrak. Ijazahmu berhak saya tahan jika kamu melanggar," lanjut Raymond sambil terus mengemudi.


Lea menarik nafas panjang, apa jadinya jika ia harus bekerja sama dengan atasan macam seperti ini. Belum lagi ia akan menangani pekerjaan milik orang yang paling ingin dijauhi.


Tujuannya datang ke kota besar ini untuk menjauh dari Pak Beni, tapi malah sekarang harus menangani pekerjaannya dah harus terjebak bersama serigala kutub ini pula.


Lea melirik sebal ke arah Raymond yang sedang fokus menyetir, jika tenang seperti ini bosnya terlihat sangat tampan tapi kalau mulutnya sudah nyinyir lebih pantas pakai daster.

__ADS_1


Mata Lea perlahan turun ke bawah, mengingat tendangan maut lututnya pada benda di tengah paha Raymond.


Rasa malu menyeruak pada Lea, bisa-bisanya dia bertindak bar-bar seperti itu.


Lea menggelengkan kepala mengusir bayangan dan rasa kenyal yang masih tertinggal di lututnya.


"Kamu bisa minta maaf tidak bisa menangani proyek klien, tapi untuk hal yang fatal tidak ada permintaan maaf keluar dari mulutmu," sindir Raymond. Ia sebenarnya tahu Lea mengamatinya sedari tadi.


"Maaf, saya tadi hanya membela diri," cicit Lea pelan.


"Kerja sama dengan Pak Beni sudah lama?" tanya Raymond. Lea hanya mengangguk kecil menanggapi.


"Saya juga minta maaf sudah menuduhmu yang bukan-bukan."


Anda tidak selebihnya salah. Lea membatin.


Lea teringat dengan putrinya, ada rasa takut jika Pak Beni tahu ada anak hasil perbuatannya waktu itu.


Entah bagaimana jadinya jika Maura bertemu dengan ayah kandungnya, ia takut jika Pak Beni akan mengambil Maura dari pelukannya.


Satu permasalahan belum selesai sudah datang lagi permasalahan yang lain.


Ia akan menghadapi orang yang sama, bedanya tidak ada Erik yang berada di sampingnya.


Kematangan usia dan waktu membuatnya semakin kuat, tegar dan tenang menghadapi segala masalah yang datang.


"Minggu depan jika team budgeting sudah siap, kita ke tempat Pak Beni. Kamu belum lupa arah jalan pulang kan?, lumayan juga bisa irit pulsa ga perlu buka googlemap." Raymond tersenyum smirk.


"Saya ikut Pak?"


"Untuk apa kamu saya bayar kalau kamu sendiri ga ikut kerja?"


"Ow ... tapi anak saya? Maura harus dijemput jam lima sore dari penitipan, khawatir tidak keburu waktunya. Saya ga enak kalau harus selalu merepotkan teman saya."


"Suami kamu lah yang jemput." Lea hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Raymond tampak berpikir, sebagai seorang atasan memang dia bersikap dingin dan kaku tapi untuk urusan dengan anak kecil hatinya selembut boneka panda.


"Pulang ke rumah saya dulu aja sama William, anak saya sepertinya suka bermain dengan anakmu."


...đŸ”šī¸...


Jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam lebih, tapi Erik belum ada di rumah.


Lea memandang piring berisi lauk dan sayuran yang sudah mulai dingin.


Suara motor dan pagar terdengar saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih.

__ADS_1


"Lembur Kak?" Erik hanya menjawab dengan gerakan matanya.


"Tadi pagi kenapa ga hadir di persidangan?" lanjut Lea.


"Bukannya jika aku tidak hadir, keputusan kita berpisah akan lebih cepat?, itu kan yang kamu mau?"


"Makanannya aku panaskan dulu." Lea memilih pergi ke dapur dari pada meladeni amarah Erik.


"Tidak perlu perhatian sama aku kalau kamu masih berniat untuk berpisah." Erik masuk ke dalam kamar meninggalkan Lea sendiri.


Salahkah jika aku sayang sama kamu Kak?, Kamu sudah begitu baik selama ini. Tidak hanya kamu yang salah, tapi aku juga salah ... kita berdua salah. Andaikan kamu dan Ghea tidak melakukan hal yang terlalu jauh aku pasti akan tetap bertahan bersamamu.


...đŸ”šī¸...


"Besok siap ya kita ke tempat Pak Beni," ucap Raymond saat briefing pagi selesai.


"Besok? ... maaf pak---."


"Apa lagiii??" sergah Raymond kesal.


"Besok panggilan sidang cerai saya yang kedua," cicit Lea lirih.


Raymond mengernyitkan kening, "Jam berapa?"


"Pagi."


"Setelah menghadiri sidang kita bisa langsung berangkat, tidak ada masalah kan?"


"Besok setelah sidang saya usahakan cepat kembali ke kantor."


"Tidak perlu, saya jemput kamu di persidangan. Kelamaan kalo harus nunggu kamu balik," gerutu Raymond.


"Ow, baik kalau begitu saya kabari kalau saya sudah selesai."


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Segini dulu ya gengs saya masih ada acara di luar kota semoga malam nanti bisa curi2 waktu lanjut nulis 🙏


Ingatin lagi nih jangan lupa vote, komen dan likenya đŸĨ°đŸ™


Kenal lebih dekat yuk follow saya di


Tiktok : @avellinacornelia


IG : avellina.cornelia


Kenalkan karya temen aku lagi boleh ya judulnya Bodyguardku Suamiku karyanya Wheena the Pooh

__ADS_1



__ADS_2