
"Mowning swetie ... happy new year, bisik Raymond di telinga Lea, saat pagi hari di tahun yang baru.
Istrinya itu tidak biasanya masih bergelung di dalam selimut, saat matahari sudah mulai terlihat.
Pertandingan semalam benar-benar membuat tubuh Lea remuk redam saat berusaha mengikuti alur permainan yang diciptakan ala Raymond Sanjaya
Bisikan Raymond membuat Lea terbangun, tapi ia masih merasa malas untuk membuka matanya.
Lea mengerang saat rambut yang tumbuh di wajah Raymond, dengan sengaja digesekkan pada lehernya.
"Lanjut di kamar mandi yuk," rayu Raymond.
Lea membuka matanya lalu melirik suaminya sebal, "Aku kan ga mau di kamar mandi, Abang lupa?"
"Ingat kok, tapi itu kan di kamar mandi Villa bukan di kamar mandi kita jadi beda dong," kelit Raymond.
"Sama!, apanya yang beda." Lea berusaha menghindar saat Raymond terus berusaha menjepit tubuhnya.
"Beda sensasinya." Dengan satu kali gerakan, tubuh Lea sudah terangkat dari kasur berpindah di kedua tangan Raymond.
Lea tahu tidak bisa ada kata menolak untuk urusan hal itu bersama suaminya. Bukan karena Raymond yang sedikit memaksa, tapi ia sekarang sudah mulai menyukai permainan suaminya.
Satu jam lebih sedikit mereka akhirnya menyelesaikan mandinya dan bersiap akan keluar kamar.
Saat mereka turun ke lantai satu, Papa, Mama, William dan Maura sudah duduk berkumpul di meja makan menikmati sarapan mereka.
"Maaamaa," seru Maura yang pertama kali menyadari kehadiran Papi dan Mamanya.
"Kalian bangun juga akhirnya, Papa kira kalian bangun nanti tahun depannya lagi," Papa terkekeh menertawakan perkataanya sendiri.
"Maaf ya Ma, aku kesiangan Mama jadi repot urus anak-anak," Lea berbisik di dekat Mama. Ia merasa malu pada mertuanya karena bangun kesiangan dengan rambut yang masih sangat basah.
"Ga apa-apa. Tadi Maura sama William gedor-gedor pintu kalian ga dengar, capek ya." Mama mengerling menggoda.
Lea memegang kedua pipinya sambil melongo, bagaimana bisa mereka tertidur pulas sekali sampai anak-anak mengetuk pintu dan mereka sama sekali tidak dengar.
"Ga apa-apa, mama dulu juga gitu," bisik Mama di telinga Lea. Papa hanya sesekali terkekeh tanpa sebab, seakan menertawakan sesuatu yang ada di pikirannya.
"Semoga cepat ada hasilnya selama kalian di Kalimantan dan semalam. Habis sarapan mau lanjut tidur lagi mungkin?," Mama memandang bergantian dengan penuh harap pada mantu dan anaknya sambil mengusap-usap perut Lea.
"Hasil apa Oma?, Mama sakit perut?" tanya William dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Willi mau punya adek lagi ga?" tanya Mama.
"Ma!" seru Raymond jengah dengan pertanyaan Mamanya pada William.
"Mauu!!, aku mau punya adek yang banyak! biar ga kesepian lagi di rumah. Rumah ini juga lebih gede dari rumah yang lama, kalo Maura tidur aku sendirian lagi," sahut William sedih.
"Kalo Willi mau punya adek yang banyak, trus Mama sama Papi ada di kamar ga boleh ganggu seperti gedor-gedor pintu kayak tadi pagi ya," Papa menimpali.
"Buat adeknya di kamar?" kening William semakin berkerut.
"Iyaa," sahut Papa sambil terkekeh lagi.
"Paa!" sergah Raymond kesal. Ia tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya ini, jika di pagi ini ada Tante Silvi entah nasehat apa lagi yang akan di sampaikannya.
"Oww, pantes Papi maksa minta aku sama Maura tidur kamar sendiri. Tapi ga apa-apa aku puas dengan hadiahnya." Senyum William terkembang.
"Hadiah?" sahut Papa, Mama dan Lea hampir bersamaan.
"Hadiah ... adek baru yang banyak. Benar kan Willi?" Raymond mengerjap-ngerjapkan mata di depan William.
"... yaa, hadiah adek yang banyak," sahut William.
"Hhhh, kalian ini kompak banget," sindir Mama, "Udah kamu sama Lea makan dulu lanjut bobok juga ga apa, Mama sama Papa mau bawa anak-anak belanja oleh-oleh buat pulang besok." Mama mengangkat Maura setelah membersihkan mulut gadis kecil itu.
"Iya, sudah lama Mama sama Papa ninggalin toko di sana."
Sepeninggal Mama dan rombongan, Raymond mengerlingkan mata memberikan kode pada Lea yang sedang mencuci piring.
"Nyuci piringnya biar Mbok Nah aja," bisik Raymond sambil memeluk dari arah belakang.
"Lalu?" tanya Lea menggoda.
"Aku masih ngantuk," Raymond mulai mengendusi tengkuk dan leher Lea.
"Ngantuk ya tidur." Lea mulai menggeliat.
"Temenin." Raymond meraih tangan Lea yang masih dipenuhi sabun, membilasnya lantas menariknya menaiki tangga.
Sekali lagi Lea tidak bisa menolak kemauan Raymond, namun sebenarnya ia pun juga mengharapkan hal yang sama.
Siang itu kembali lagi mereka bergulat di setiap sudut kamar, memanfaatkan waktu dan moment berdua yang sulit mereka dapatkan.
__ADS_1
"Maaa ... Maaamaaaaa." Suara ketukan dan teriakan Maura di pintu membangunkan Lea dan Raymond.
"'Ssstttt, jangan ganggu. Mama sama Papi lagi buat adek." Kali ini suara William terdengar.
"Maaaaaa ... hihiikk ... Mamaaaa ...." Tangisan Maura semakin kencang.
"Bang lepasin dulu," Lea mengurai belitan tangan Raymond pada pinggangnya.
Bergegas Lea meraih bajunya yang sudah terlempar di berbagai sudut kamar.
"Kenapa Maura?" Lea menggendong Maura setelah dengan cepat memakai kembali bajunya.
"Ga ada apa-apa Ma, tadi begitu pulang dia nyariin Mama di dapur ga ketemu terus langsung nangis," William yang menyahut.
"Mamaa pegiii lagiii ....hiikhikkk," ucap Maura masih terisak.
"Enggak, Mama ga pergi lagi. Tadi Mama ngantuk nungguin Maura pulang. Ayuk, mandi dulu baunya sudah acem." Lea menggelitik perut Maura dengan hidungnya.
"William mau mandi sama-sama?" tanya Lea.
"Iihhh, ga mau. Aku sudah gede."
"Ato kita mau renang sama-sama yuk, mumpung masih siang. Buruan bangunin Papi." Lea memberi kode pada William untuk masuk ke dalam kamar.
Siang menjelang sore itu, mereka berempat menghabiskan waktu berendam di kolam renang mungil yang terletak di taman belakang rumah mereka.
Kedua orang tua Raymond duduk di gazebo memandang anak serta cucunya yang terlihat bahagia. Sebagai orang tua, mereka sangat senang saat putra dan cucu mereka kembali berbahagia, setelah lima tahun yang lalu rumah tangga Raymond di hempas prahara.
Kejadian lima tahun yang lalu, sedikit banyak mempengaruhi kondisi mental William. Melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat malam itu, saling berteriak dan memaki.
Papinya yang saling beradu tinju dengan seorang pria yang sering mencium mamanya di tiap sudut rumah, meski di sana ada Mbok Nah dan dirinya yang ikut melihat.
William yang masih berusia kurang dari tiga tahun saat itu, hanya bisa berteriak histeris ketakutan di dalam pelukan Mbok Nah. Itulah terakhir kalinya ia melihat Mamanya.
Ia tidak berani bertanya pada Papinya kemana perginya Mama, karena setiap keluarga dan teman Papinya datang dan bertanya tentang keberadaan Mamanya selalu berakhir dengan kemarahan besar.
Bukan sekali atau dua kali orang tua Raymond berusaha memperkenalkan dengan seorang wanita, tapi semua gagal bahkan tidak jarang Raymond bersikap sinis dan menolak terang-terangan di depan wanita yang akan dikenalkan padanya.
...❤❤...
Pesan singkat lagi like, komennya, bunga dan kopinya jangan lupaa 😁🤗🙏
__ADS_1
Promo yaa karya baruku yang baru menetas. Ini cerita tentang anaknya Tante Silvi, keponakannya Raymond yang sedikit manja dalam menemukan cinta yang sesungguhnya. Konflik di dalamnya nanti agak sedikit beragam