
Lea menahan bibir Raymond dengan tangannya, saat suaminya itu masih tetap berusaha menggapai bibirnya.
"Bang!" Matanya melotot kesal.
"Sebentar aja," rengek Raymond. Tingkah suaminya ini sejak menikah, hampir sama manjanya dengan William jika meminta sesuatu.
"Iihhh, tunggu dulu itu Maura nangis." Lea berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Raymond.
Ia tahu sebentar bagi Raymond bisa berubah jadi dua bentar, tiga bentar dan berbentar-bentar jika dituruti kemauannya.
Lea segera keluar kamar meninggalkan Raymond yang manyun karena keinginannya tidak terpenuhi.
Saat Raymond turun ke lantai satu dilihatnya kedua orang tuanya, Lukman dan Nina sedang bersantai di ruang keluarga.
"Nagih ya?" ledek Lukman sambil tertawa terbahak.
"Nanti lihat ya, kalau kamu nikah aku sumpahin istrimu halangan saat malam pertama," tantang Raymond kesal.
"Auuchh," Raymond terpekik memegang telinganya saat dari arah belakang kursi, Mamanya menyentil daun telinganya.
"Ga baik main sumpah-sumpahin orang begitu!," sembur Mama sembari menaruh secangkir teh hangat untuk Papa.
"Kamu harus mengerti Ray, istrimu itu punya anak masih balita. Masih butuh dekat-dekat Mamanya terus. William juga gitu, begitu tahu Lea sekarang jadi Mamanya sueneng banget nempeeel terus sama Lea ... coba lihat itu," jelas Papa bijak sambil mengarahkan pandangan ke arah taman belakang.
Sambil memangku Maura, tangan Lea terus menyuapi William makan. Padahal selama ini putranya itu selalu melakukan semuanya sendiri, begitu ada Lea mendadak menjadi manja ... sama seperti Papinya.
"Istrimu bukan hanya milikmu, tapi waktu dan badannya harus terbagi tiga antara kamu, William dan Maura. Bahkan kalau perlu kamu ga kebagian," lanjut Papa sambil terkekeh di akhir kalimat.
...đšī¸...
"Papi kok kesini?" protes William saat Papinya ikut naik ke atas tempat tidur.
"Ini memang tempat tidurnya Papi sama Mama, kamu sama Maura kan sudah punya kamar sendiri," sahut Raymond tak mau kalah.
"Ga bisa!, mana boleh Papi tidur sama Mama. Kata guru aku, laki-laki itu ga boleh dekat-dekatan sama perempuan apalagi tidur sama-sama ... ga boleh itu!" William menarik Papinya keluar dari kamar.
"Papi ini kan sudah jadi suaminya Mama, boleh dong satu kamar. Justru kamu tuh harus bobok sendiri." Raymond masih bertahan di depan pintu. Ia menatap Lea mengharap datangnya bantuan dari istrinya itu.
"Aku masih kecil, Papi sudah besar. Jadi harus tidur sendiri!" William berkacak pinggang menghadang Raymond.
"Opo to yooo, sudah malam masih ribut. Ini juga sama anak kecil ga mau kalah!" Mama dari kamar tamu di bawah naik ke atas lalu menepuk punggung Raymond kesal.
"Bang, semalam ini aja ya, biar anak-anak sama aku tidurnya. Nanti pelan-pelan William sama Maura di kasih pengertian, mereka masih belum terbiasa aja." Lea berbisik, membujuk Raymond yang sudah memasang wajah merengut.
Tapi semalam itu bertambah menjadi seminggu, Maura dan William masih belum mau tidur di kamar mereka masing-masing. Meskipun kamar mereka sudah di design dan penuh mainan sesuai keinginan mereka.
__ADS_1
Raymond yang sudah di puncak kekesalannya, memanggil William ke ruang kerjanya.
"Hai boy, duduk." Raymond duduk berhadapan dengan putranya yang memasang sikap waspada.
"Willi tau kan sekarang Papi dan Mama sudah menikah?" William mengangguk.
"Willi tau juga kan sekarang Papi dan Mama sudah suami istri dan boleh tidur satu kamar?" Raymond menekankan kata boleh, William kembali mengangguk.
"Lalu kenapa William masih tidur sama Mama?" tanya Raymond lagi.
"Papi lagi mau tawar menawar sama aku?" William menaikan satu kakinya menumpang di satu kaki lainnya. Tangannya ia lipat ke depan dadanya.
"Apa yang kamu mau?" Raymond memicingkan matanya curiga.
William membuka ponselnya mencari sesuatu di halaman pencarian, "Ini," William tersenyum licik.
Raymond ternganga melihat barang dengan harga fantastis yang di tunjukan William di layar ponsel miliknya.
"Kamu mau peras Papi?"
"Enggak. Aku hanya kasih penawaran, mau diterima bagus ga juga ga apa-apa." William mengambil ponselnya dan siap beranjak berdiri.
"Duduk dulu!, Papi belum selesai. Kamu belajar dari mana sih?!"
"Aku kan anak Bapak Raymond Sanjaya, jadi juga harus pintar bernegosiasi." William tersenyum lebar. Raymond hanya mendecih sebal menanggapi.
"Transaksi dulu dong, semua harus jelas." William bertahan. Raymond menggeleng dan langsung mengetik sesuatu pada ponselnya, melakukan transaksi pada pembelian online dan membayarnya.
"Sudah!," Raymond menunjukan hasil transaksi di ponselnya.
"Terima kasih Papikuu," William bangkit ingin memeluk Raymond.
"Eeitsss tunggu dulu, mulai malam ini tidur sendiri. Ini berlaku juga untuk Maura." Raymond menahan bibir William yang ingin mencium pipinya.
"Beres, Maura itu nurut sama Aku. Papi ga perlu khawatir ... muuacch love you Papi." William mencium pipi Raymond dengan cepat dan langsung keluar ruangan.
...đšī¸...
"Eeh, mau apa kalian ke sini?" tanya Raymond pada Kinanti dan Nina yang hilir mudik masuk ke dalam rumah membawa berkantong-kantong makanan.
Dilihatnya juga Gilang dan Lukman sibuk menyusun tempat pemanggangan di kebun belakang.
"Abang lupa, ini kan malam tahun baru." Lea yang menjawab.
"Lalu?, ngapain mereka di sini?" tanya Raymond masih tidak terima.
__ADS_1
"Kan kemarin kita sudah sepakat, malam tahun baru di rumah aja. Bakar-bakar jagung, ikan dan lain-lainnya," sahut Lea.
"Iyaa tau, yang aku tanyakan kenapa gerombolan siberat itu ada di sini juga??" tanya Raymond lagi mengejar langkah Lea masuk ke dalam dapur.
"Mmm, aku yang undang ... biar rame maksudnya." Lea tersenyum kikuk.
"Ngapaiiin?, William sama Maura aja sudah jadi ramai ga perlu ada mereka," sergah Raymond kesal.
"Abang mau kemana," Lea menahan tangan Raymond yang akan keluar dari dapur.
"Mau suruh mereka pulang."
"Eeehh, jangan dong. Ga enak kan aku yang minta mereka datang." Lea merayu dan memeluk Raymond erat.
"Sayang, kamu tau kan sudah lebih dari seminggu kita ga berdekatan. Ini bahaya loh." Raymond berusaha menahan diri untuk tidak membalas pelukan Lea.
"Bahayanya apa sih?" tanya Lea menggoda.
"Bahaya sekali sayang, aku bisa saja menyergapmu ... menggendong dan menaikan kamu di atas meja makan itu lalu ...." Raymond berjalan maju mendorong Lea pelan ke arah meja makan.
"Lalu apaaa?" Lea tersenyum menggoda. Misinya kali ini membuat suaminya lupa untuk mengusir keempat temannya pulang.
"Laluu aku----" Saat Raymond akan memeluk Lea, suara Gilang menghentikan mereka.
"Waduuhhh, maaf ... maaf aku ga lihat." Gilang menutup matanya dengan tangannya.
"Aku cuman mau cari arang, tadi kata Mbok Nah di dapur hehehee ... maaf ya." Masih dengan mata di tutup Gilang meraba-raba kitchenset bagian bawah.
"Ga usah belagak tutup mata ... ganggu aja!" sembur Raymond kesal.
"Maaf ... maaaf, silahkan di lanjut saya maklum aja." Gilang keluar dapur setelah menemukan apa yang di cari.
"Lanjut di kamar yuk," rengek Raymond.
"Masih banyak orang, nanti malam aja ya." Lea mengelus-elus dada Raymond.
"Sudah hampir dua mingguuu yaaaanggg," Suara rengekan Raymond masih terdengar saat Lea sudah berlalu dari dapur.
...â¤â¤...
Sebar jempol dan komennya yaa đđĨ°
Bunga, Kopi, rating dan vote juga sangat boleehh đ
Lewat lagi karya teman aku, ramaikan yaa
__ADS_1