
Klotak ....
Terdengar suara benda jatuh dari ambang pintu dapur, sekilas terlihat ada sosok yang melintas. Rupanya Dea mengikuti Raymond ke dapur, dan tidak sengaja melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
Ia tidak sengaja menyenggol sebuah pajangan kecil di atas meja, karena terburu-buru atau mungkin emosi.
"Si ulat bulu, ngapain dia ikut ke sini," ucap Raymond malas.
"Jangan biasakan panggil mantan istri dengan nama binatang. Begitu-begitu juga, dia ibu dari anak Abang."
"Mmmhhh, kamu memang istri idaman." Raymond mencubit ujung hidung Lea.
"Abang sebut ibunya William ulat bulu, besok-besok kalo aku jadi mantan di sebut apa?"
"Jangan ngomong aneh-aneh!, lagian yang kasih julukan ulat bulu kan kamu."
"Ya emang, jadi cuman aku aja yang boleh sebut begitu. Itu juga kalo dia kegatelan deketin kepunyaan orang," sahut Lea mencibir sambil berdiri dari pangkuan Raymond.
"Siapa sih yang kepunyaan orang?" goda Raymond, ia memeluk pinggang Lea dari arah belakang.
"Udah ah sana, Abang tunggu di meja makan aja," usir Lea.
Raymond mengalah, ia melepas pelukannya lalu berjalan mundur ke arah pintu keluar, tapi sebelumnya ia menepuk gemas pant*at Lea, "Abang!" Lea melotot kesal, tapi setelah itu ia tergelak geli melihat tingkah tengil suaminya.
Sebenarnya ia dengar semua percakapan antara suaminya dan mantan istrinya itu.
Ia sungguh bangga suaminya bisa tegas menghadapi mantan istrinya, setidaknya satu kekhawatiran berkurang. Tapi tidak tentang Anya, sangat mengesalkan mengetahui suaminya suka mengamati wanita seksi, sekalipun itu artis.
"Biar saya aja, Nya." Mbok Nah tiba-tiba muncul dari arah belakang Lea, saat ia akan menuangkan sayur ke dalam mangkuk saji.
"Iiih, Mbok Nah nih bikin kaget, dari mana aja baru muncul." Lea mencebik kesal.
"Hehehee, maap tadi saya sudah mau masuk ga enak lihat Nyonya sama Tuan lagi pangku-pangkuan, terus ...." Mbok Nah mempertemukan kedua tangannya dengan jemari yang dikerucutkan, memperagakan dua orang sedang berci*uman.
"Mbok Nah lihat?!"
"Ga saya aja yang lihat, Bu Dea juga. Wajahnya langsung merah, kayak mau marah."
"Terus?"
"Bu Dea langsung masuk ke kamar Den Willi."
"Mbok, dulu Tuan sama Bu Dea mesra juga ga?"
"Eehmm ...." Mbok Nah terlihat ragu untuk menyampaikan.
"Ga apa-apa Mbok, kan sudah berlalu. Saya hanya ingin tahu aja."
"Kadang aja sih, karena Bu Dea itu dulu orangnya cuek. Malah Tuan yang perhatian sekali, kalo sudah sayang ya seperti sekarang ini ke Nyonya Lea. Makanya begitu dikhianati, sakit hatinya lama sembuh."
"Nyonya sama Tuan yang akur-akur ya, saya seneng lihat Den Willi sama Tuan bisa senyum lagi seperti dulu. Rumah juga sudah rame, ga kayak dulu sepiiii banget eh, tau-tau Den Willi nangis histeris, jarang ada suara ketawa di rumah ini."
"Yang ketawa cuman kunti ya Mbok," seloroh Lea.
"Iihh, Nyonya ini bikin takut aja."
__ADS_1
"Hahahaa ... makasih ya, Mbok." Lea merengkuh tubuh kecil Mbok Nah dari arah belakang.
"Iyaa, sama-sama Nya. Saya bawa sayurnya ke meja makan ya."
Mbok Nah membawa semangkuk sayur, Lea menyusul dari belakang dengan sepiring ikan fillet asam manis.
"Mba Dea di mana, Bang?" Raymond malas menjawab ia hanya mengangkat kedua bahunya.
Lea berjalan ke arah kamar William, ia mengetuk pintu kamar perlahan.
"Ya, Ma?" Willi membuka pintu, ia melihat Dea duduk di pinggir ranjang, sedang membolak balikan sebuah album foto yang ada di pangkuannya.
"Makan dulu yuk, ajak Mami juga ya." Lea mengusap rambut coklat Willi.
"Ya, Ma."
"Kita makan sama-sama Mba Dea ya, Bang," ucap Lea hati-hati.
"Yakin kamu?"
"Kenapa harus ga yakin?"
"Ya ga apa-apa, asal jangan tiba-tiba ngambek ga jelas aku lagi yang kena sasaran."
"Aku kalo marah pasti ada alasan yang jelas juga kok." Lea melirik suaminya kesal.
"Maura masih tidur?" Raymond segera mengganti topik, saat merasa ada aura peperangan yang dikeluarkan Lea.
"Masih."
"Silahkan duduk, Mba. Kita makan sama-sama ya," ucap Lea ramah.
Dea mengambil tempat berhadapan dengan Lea, sementara Raymond berada di ujung meja diapit oleh dua wanita itu.
Dea memandang beberapa lauk yang ada di atas meja, "Ini kamu yang masak sendiri?" tanya Dea pada Lea.
"Iya, maaf hanya makanan rumahan yang sederhana."
"Ow, pantes," sahut Dea lebih terdengar seperti gumaman, bibirnya pun tersenyum seakan mengejek.
"Segini cukup, Bang?" Lea mengambil beberapa ikan fillet untuk Raymond.
"Cukup sayang, terima kasih ya." Raymond menerima piring dari tangan Lea, seraya melemparkan senyum manis pada istrinya.
"Sejak kapan kamu suka makan ikan?" tanya Dea pada Raymond.
"Dari dulu aku ga masalah makan ikan," sahut Raymond tak acuh.
"Tapi dulu kalau kita makan di luar, kamu selalu memilih daging atau ayam." Raymond tidak mempedulikan perkataan Dea, ia hanya sibuk dengan isi di piringnya.
"Ow, aku tahu, pasti karena aku dulu pernah kesedak tulang ikan ya? hahahaha ... waktu itu kamu panik sekali lihat aku hampir ga bisa nafas. Sejak itu deh, rasanya kamu menghindari semua makanan yang berbau ikan."
Raymond tetap membisu seakan tidak mendengar semua cerita Dea.
"Mba Dea sekarang ga bisa makan ikan?"
__ADS_1
"Ga, tapi bolehlah dicoba kalau aku tersedak lagi, aku yakin kamu pasti langsung tolongin aku kan?" Dea mengerling pada Raymond, tapi masih belum ada tanggapan dari pria itu.
"Ini ikannya di fillet mba, jadi ga bakal tersedak tulang. Saya buat seperti ini, supaya anak-anak gampang makannya." Lea menyodorkan piring yang berisi ikan ke depan Dea.
"Ga usah, cukup ini aja." Dea mendorong kembali piring yang disodorkan Lea, ia beralih ke mangkuk yang berisi sayur.
Melihat penolakan dingin yang diberikan Dea pada istrinya, Raymond mengangkat wajahnya dan melirik kesal pada mantan istrinya itu.
Dea yang merasa mendapat perhatian dari mantan suaminya, membalas tatapan itu dengan senyuman manis.
"Kamu mau sayur juga, Mas?" Lea mendongak mendengar sebutan baru dari Dea untuk suaminya.
"Kamu di sini tamu, hargailah perasaan tuan rumah yang sudah mengundangmu untuk makan bersama," ucap Raymond dingin.
"Ma--maksudnya?"
"Aku selesai, terima kasih makanannya sayang." Raymond berdiri lalu mengecup kening Lea.
"Maura bangun, Ma," ucap William saat mendengar suara tangisan adiknya dari dalam kamar.
"Willi sudah selesai juga?, mau ikut Papi ke kamar adek?" Raymond memberi kode pada William, agar mengikutinya ke kamar Maura.
"Sepertinya kamu senang, lihat sikap Ray sinis sama aku." Dea menatap tajam pada Lea, saat Raymond dan William sudah menghilang di balik pintu kamar.
"Kalau bilang ga senang aku munafik ya, tapi kamu benar aku senang dan lega." Lea menatap Dea lurus dan tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi aku juga merasa kasihan sama kamu, yang masih saja terus mengharapkan milik orang lain."
...❤❤...
Maaf jika agak lambat ya, seperti biasa dunia nyata menyita waktu, selain itu agak drop dengan penilaian NT di awal bulan 🥺
Tapi saya tetap konsisten selesaikan cerita ini ya, karena baca komen teman-teman itu bikin semangat 💪😊
Pertahankan nama kalian di 13 teratas sampai di akhir cerita utk give away dari saya.
kenapa 13? karena hanya utk 10 nama yg murni pembaca 🙏😁 (maafkan sesama author)
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
__ADS_1
Votenya doong 🥰