
Jarum jam sudah hampir menunjukan pukul empat sore. Suasana riuh sudah mulai terdengar dalam ruangan, terutama dari penghuni wanita.
Seperti biasa mereka para wanita saat mendekati waktu pulang kantor menyempatkan diri untuk merapikan riasannya.
Erik pun segera merapikan alat tulis dan gambarnya. Ia ingin segera sampai rumah karena sudah berjanji pada Lea, akan mengajak jalan malam ini untuk membeli perlengkapan bayi.
Bayi yang dikandung Lea memanglah bukan anak biologis Erik, tapi sejak awal Erik sudah memutuskan akan menyayangi anak yang dikandung Lea seperti anaknya sendiri.
Saat pulang kantor seperti ini jangan harap lift akan kosong. Jika ingin pulang cepat harus rela mengantri dari pada kaki bengkak harus turun lewat tangga darurat.
Sekilas Erik melihat Nina juga berada dalam satu lift dengannya, ia menyempatkan tersenyum dan melambaikan tangan dari jauh.
Saat sudah sampai lantai dasar Erik melihat Ghea duduk di sofa tamu sambil memegang kepalanya.
Erik menghampiri lebih dekat, "Kamu kenapa Ghea?" Ghea mengangkat kepalanya, lalu hanya memberikan senyum sekilas dan menggeleng.
Erik menatap wajah Ghea yang sedikit terlihat pucat, "Kamu sakit?, kenapa tidak segera pulang?"
"Iya ini juga mau pulang, tapi masih tunggu reda sedikit sakit kepalanya. Aku baru aja minum obat." Ghea bersandar dan memejamkan mata.
Matanya terbuka lagi karena merasakan masih ada mata yang menatapnya, "Kamu pulang aja dulu. Aku baik-baik aja. Sebentar lagi juga sudah sembuh," usir Ghea.
Erik menempelkan telapak tangannya pada dahi Ghea, "Badanmu panas, wajahmu juga pucat. Ini yang kamu bilang baik-baik aja?" Erik mengedarkan pandangannya mencari wajah yang mungkin dikenalnya.
Ia ingin meminta tolong rekannya untuk membantu Ghea, tapi sepertinya mereka sudah tidak berada di kantor lagi.
"Aku antar." Akhirnya Erik memutuskan, "mana kunci mobilmu." Erik menengadahkan tangannya di hadapan Ghea.
Ghea masih diam dengan dahi berkerut. Erik kembali menggerak-gerakan telapak tangannya meminta kunci yang dimaksud.
Ghea akhirnya mengalah lalu memberikan kunci mobilnya pada Erik.
"Kamu tinggal dimana?," tanya Erik setelah mereka berada dalam mobil.
Ghea tidak menjawab, ia hanya mencari sesuatu dalam handphone-nya dan memberikan pada Erik lalu kembali bersandar dan memejamkan mata.
Erik menatap layar handphone milik Ghea yang menunjukan peta online arah menuju ke apartment milik Ghea.
"Ghea, sudah sampai." Erik menepuk lengan Ghea saat mobil sudah terparkir sempurna di basement apartment Ghea.
Ghea terbangun dengan wajah yang terlihat semakin kacau.
__ADS_1
"Terima kasih ya Rik, sudah diantar. Kamu balik ke kantor ambil motor naik apa?," tanya Ghea sambil menutup pintu mobilnya.
"Gampanglah, ojek banyak. Kamu yakin baik-baik aja?" Erik melihat langkah Ghea yang tidak terarah.
"Aku antar sampai atas." Erik langsung menggamit lengan Ghea tanpa meminta ijin.
Saat lengan Erik bersentuhan dengan kulit Ghea, ia merasakan suhu tubuh Ghea semakin tinggi panasnya.
"Ghea, kamu tambah panas badannya, lebih baik kamu ke dokter deh." Saran Erik saat menuntun Ghea untuk duduk di sofa ruang tamu.
Ghea hanya menggeleng lemah, "Ini sudah biasa. Aku kalau terlalu capek seperti ini gampang demam. Dibawa tidur, minum yang hangat-hangat, terus minum obat ga lama juga sembuh."
"Ya sudah, aku buatin teh panas ya." Erik berjalan menuju ke arah mini bar kecil.
"Ga perlu lah Rik." Ghea memandang tubuh Erik dari arah belakang. Sosok yang selama ini selalu hadir bersama lamunannya.
Pertama kali bertemu, Erik sudah menarik perhatiannya.
Dengan wajah yang terlihat pintar dan pembawaan yang tenang, Erik sudah mendapat tempat di hati Ghea.
Namun ia cukup terkejut saat mendengar dari mulut Erik sendiri, bahwa ia sudah memiliki istri. Pupus sudah harapan Ghea seketika.
"Diminum dulu." Erik menyodorkan secangkir teh panas dengan aroma melati.
"Justru masih panas harus segera diminum biar cepat berkeringat." Erik kembali menyodorkan cangkir ke arah bibir Ghea.
Ghea sedikit terkejut saat bibir dan lidahnya terasa terbakar air panas dari teh yang diberikan Erik.
Ia spontan menepis cangkir yang masih terisi penuh. Sebagian air teh itu jatuh membasahi kemeja putih milik Ghea.
Erik terkejut dan merasa bersalah, ia lantas mengambil sapu tangan miliknya dan mulai membersihkan air panas yang masih mengalir di leher, dada dan perut Ghea.
Matanya tidak bisa menghindar dari pemandangan di hadapannya. Baju putih Ghea yang tipis terkena air semakin memperjelas apa yang tersembunyi di dalamnya.
Tangannya bergetar saat bersentuhan dengan kulit leher Ghea. Matanya semakin nanar memandang bibir Ghea yang masih terlihat berwarna meski lapisan lipsticknya sudah mulai memudar.
Entah siapa yang memulai saat ini bibir keduanya sudah bertemu dan semakin panas beradu.
Erik yang selama ini merasa kekosongan dalam hubungan pernikahan dengan Lea, merasa mendapatkan oase di padang gurun. Ghea pun begitu, sudah cukup lama menyimpan rasa dalam hatinya malam ini seperti tercurah saat itu juga.
Mereka berdua semakin tidak bisa dihentikan, saling membutuhkan, saling melepaskan. Erik sudah tidak ingat lagi akan janjinya pada Lea.
__ADS_1
Dalam sekejap dua insan yang bukan pasangan sah itu, sudah berpindah dari ruang tamu menuju kamar.
Merasa lebih leluasa Erik dan Ghea semakin bersemangat melakukannya.
Suara des*han .. erangan ... baik dari Lea dan Erik saling bersahutan memenuhi sudut-sudut kamar.
Dua jam berlalu tanpa terasa bagi mereka yang masih sama-sama baru pertama kali melakukan hubungan intim.
Erik dan Ghea tertidur pulas setelah energi mereka terkuras habis.
Dering telepon berulang kali terdengar dari arah ruang tamu membangunkan Erik dari tidurnya.
Beberapa saat terdiam di atas tempat tidur, Erik lantas tersadar apa yang sudah terjadi.
Ia lalu segera berlari ke ruang tamu mendapati handphone-nya yang terus bergetar.
Ada sedikit rasa lega dalam hatinya saat nama Karenina yang muncul di layar handphone miliknya.
"Ha ... Halo." Erik terbatuk untuk mengembalikan suaranya yang terdengar serak seperti baru bangun tidur.
"Kak Erik di mana?," seru Nina tidak sabar, "Lea sudah melahirkan kak, cepat kemari." Nina menyebutkan sebuah nama rumah sakit dan ruangan Lea.
Erik terduduk lemas di lantai. Ia memandang kondisi ruang tamu yang berantakan akibat ulah mereka berdua.
Ada timbul rasa malu dan penyesalan dalam hatinya, mengapa hal ini bisa terjadi padanya. Ia yang biasanya dapat dengan baik mengontrol diri, sekarang seperti berubah menjadi liar.
Erik meremas rambutnya dengan marah. Marah pada dirinya sendiri yang sembrono menuruti hawa nafsunya, tapi semua sudah terjadi waktu tidak bisa diputar kembali.
"Cepatlah, istrimu sudah menunggu." Ghea bersandar pada daun pintu, tubuhnya ditutupi dengan selimut.
"Ghea ...." Erik berjalan mendekat. Ghea mundur mengambil jarak. Hatinya ingin memeluk Erik, tapi ia sadar Erik sudah ada yang jauh lebih berhak untuk memilikinya.
Saat ini pula anaknya sudah lahir, hati Ghea teriris saat mencuri dengar pembicaraan Erik.
Rasa sesal di hati Ghea, ia merasa jadi wanita yamg sangat jahat.
Di saat seorang istri sedang berjuang melahirkan, ia di sini bercinta dengan ayah dari sang bayi yang baru dilahirkan.
"Aku minta maaf Ghea ... aku menyesal." Erik terus berusaha mendekat.
"Pergilah, anak dan istrimu sudah menunggu. Jangan membuat aku semakin merasa bersalah dengan menahan kamu di sini," ujar Ghea sambil tersenyum palsu.
__ADS_1
...❤❤...
Cukup segitu aja ya, tidak berani terlalu hareudang nanti bisa ga lolos. lagi proses ajukan kontrak doain ya 🙏🙏😁