Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Racun yang harus disingkirkan


__ADS_3

Lea duduk di pinggir ranjang masih menunggu Raymond yang sedang membasuh tubuhnya di kamar mandi.


Sejak pulang Raymond tidak bicara banyak padanya. Wajah lelahnya tidak dapat ia sembunyikan, seperti ada yang membebani pikirannya.


"Maura mana? dari tadi aku ga dengar suaranya. Sudah tidur?" Tiba-tiba Raymond sudah berdiri di hadapannya.


Terlalu larut dalam pikirannya sendiri membuat ia tidak menyadari, jika suaminya sudah selesai mandi bahkan telah berganti pakaian.


"Mmm ... Maura lagi sama Kak Erik." Lea berkata pelan.


Rencananya Maura hanya sampai jam delapan malam bersama Erik, tapi karena Maura tertidur ia tidak tega membangunkan putrinya. Mantan suaminya itu meminta agar Maura tidur semalam di kostnya.


"Sama Erik?, kenapa? Dia bukan siapa-siapanya Maura, Lea! Aku yang sekarang jadi Papanya, bukan Erik!" Raymond mulai berkata dengan suara lantang. Handuk di tangannya dilemparkan begitu saja di atas ranjang.


"Kak Erik juga punya hak, Bang. Maura juga masih sering nyariin." Lea masih berusaha menahan emosinya. Ia tahu ini hal yang cukup sensitif untuk suaminya.


"Itu karena kamu yang selalu buka jalan. Maura itu masih kecil, kalau ga pernah ketemu pasti ga bakalan inget lagi."


"Abang tega." Lea terkejut dengan perkataan Raymond yang dinilainya tidak punya hati.


"Kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Kalau tidak ada Kak Erik saat itu, mungkin Maura tidak pernah ada. Mungkin aku dan Maura sudah mati!" Nafas Lea tersengal menahan tangis dan emosi.


Mengingat awal kehamilannya dulu selalu menimbulkan efek emosional pada dirinya. Hal itu tidak akan pernah hilang dalam ingatannya, selalu akan menjadi pelajaran baik buruk kehidupannya.


"Maaf, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ga suka kamu selalu ada kontak dengan si Erik itu, atau jangan-jangan kamu yang masih belum bisa melupakan dia dan Maura kamu jadikan alasan?"


Tuduhan tanpa dasar Raymond kali ini benar-benar membuat Lea naik pitam.


"Mau mencari kambing hitam?, kalau Abang memang ada rencana dan maksud lain, bilang aja ga perlu cari celah kesalahan orang lain!!"


"Ngomong apa sih kamu?" Raymond memandang Lea heran.


"Asyik dong yang habis reuni, melepas rindu apa sudah ada rencana bersama? bilang aja secepatnya ga perlu pake drama!"


"Kamu itu kenapa??!" Raymond semakin pusing dengan perkataan Lea yang seperti benang kusut.


Tubuhnya yang lelah ditambah dengan sikap Lea yang menurutnya aneh, membuat otaknya tidak bisa diajak kerjasama.


"Abang menyembunyikan apa dari aku?"


"Menyembunyikan apa?, aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu." Raymond merentangkan kedua tangannya, seakan memeperlihatkan jika ia sedang tidak menyembunyikan apa-apa.


"Yakin?" Mata Lea menantang mata Raymond.

__ADS_1


"Sangat yakin, jika memang harus ada yang aku katakan pada kamu pasti aku sampaikan." Raymond melangkah ke arah ranjang, tubuhnya sudah lelah untuk diajak berdebat malam ini.


"Pembohong!" Raymond yang sudah akan merebahkan tubuhnya, sontak berdiri kembali mendengar tuduhan yang ditujukan pada dirinya.


"Apa kamu bilang? aku pembohong? aku berbohong apa sama kamu? coba bilang!" Raymond melangkah maju mendekati Lea.


"Abang berselingkuh!" Lea tetap bertahan di tempatnya berdiri, walaupun ia sempat gemetar saat Raymond berjalan ke arahnya dengan sorot mata marah.


"Apa maumu Lea?, apa si Erik itu yang merayumu, jadi kalian berdua membuat drama seolah aku yang bersalah?!" Raymond terus maju hingga jarak mereka sudah sangat dekat.


"Kenapa abang selalu ga mau jujur!!" Lea berteriak, tangisannya yang sedari tadi ia tahan akhirnya meledak.


Lea mendorong tubuh Raymond yang menjulang tinggu, ia segera berlari menuju ke kamar Maura dan mengunci dirinya di sana.


Raymond yang tadinya ingin mengejar Lea, memutuskan membiarkan istrinya itu menenangkan diri di kamar yang lain.


Ia pun sangat lelah hari ini, ingin segera beristirahat tidak kuat jika harus meladeni kemarahan Lea yang terasa konyol baginya.


Biarlah besok pagi dengan keadaan yang sama-sama segar, ia akan mencoba berbicara dengan istrinya itu.


PoV Raymond


Hari ini benar-benar mengesalkan bagiku, diawali rapat dengan calon klien yang super cerewet dengan segudang permintaan, tapi meminta perincian pembayaran yang super minim membuat semangatku turun drastis.


Belum lagi seminggu yang lalu aku baru tahu jika selama ini istriku masih berhubungan dengan mantan suaminya, di depan mataku saja ia berani berbalas pesan di jam yang seharusnya hanya untuk pasangan.


Sudah hampir seminggu ini ia menerorku datang ke kantor untuk diperbolehkan menemui William.


Ia tidak bisa menghubungiku lewat ponsel karena semua akses sudah ku blokir, hanya kedatangannya ke kantor aku masih belum menemukan cara yang tepat.


Menahannya di security depan bukan tindakan bijak, karena mantan istriku ini orang yang sangat nekat namun licik dan penuh perhitungan. Ia akan berteriak di depan kantorku jika tidak diijinkan masuk.


Aku menakutinya jika ia memaksa bertemu William sendirian tanpa ijinku bisa dipastikan penjara menantinya.


Dan di sinilah dia, hampir setiap hari duduk di sofa itu, merayu, mengancam, memohon dan segala cara dia coba untuk meluluhkan aku.


"Maaf Pak, tadi Ibu ini sudah saya minta tunggu di bawah tapi tetap memaksa." Nia, sekertarisku merasa ketakutan melihat aku marah pada wanita yang terus mengomel dan memaksa masuk ke dalam ruangan saat aku sedang rapat.


"Ga apa-apa Nia, bukan salahmu. Kembalilah bekerja." Nia membungkuk dan segera menutup pintu.


"Cepat katakan apa maumu dan segera pergi dari sini!" aku benar-benar muak melihat dia di ruanganku.


"Santai dulu dong, buru-buru amat. Duduk sini dong Ray," Dea menepuk sofa di sisinya.


"Jangan harap." Dia kira aku akan jatuh dalam perangkapnya. Aku lebih memilih berdiri memandang padatnya lalu lintas dari balik kaca gedung kantor ini.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu apa yang aku inginkan Ray, tidak perlu aku memberitahumu lagi." Dea mengangkat satu kakinya menumpang di kaki lainnya, roknya yang super mini sedikit terangkat naik.


Dea selalu berusaha mencoba menggodaku, merasa bahwa aku akan bertekuk lutut di bawah kakinya karena kecantikannya.


"Kamu pun sudah tau jawabanku. Sudahlah pulang saja aku sibuk."


"Kalau begitu, apa aku harus datang sendiri ke rumahmu yang baru itu?" Aku sedikit terkejut saat Dea menyinggung perihal rumah yang kutempati bersama Lea.


Aku tidak mau Dea menginjakan kakinya di kediamanku bersama keluarga baruku. Lea tidak boleh bertemu dengan mantan istriku ini karena bagiku dia adalah racun, dan racun harus dilemparkan sejauh-jauhnya.


PoV Raymond end


Dea memang belum bercerita pada Raymond jika ia pernah datang dan bertemu dengan Lea, karena jika Raymond tahu ia sudah lancang kesempatannya bertemu dengan putranya akan benar-benar hilang.


Sepertinya istri mantan suaminya itu, juga belum bercerita karena Raymond seperti tidak menaruh curiga padanya.


"Aku kecewa Ray, kamu meninggalkan rumah kita." Dea berjalan mendekat, dengan langkahnya yang anggun ia mendekati dan berdiri tepat di hadapan Raymond.


"Rumah itu banyak kenangan kita Ray, apa kamu mau melupakannya?" Dengan nada sensual Dea mencoba peruntungannya menggoda mantan suaminya. Jari telunjuknya ia gerakan di dada Raymond.


"Jangan melewati batas Dea!" seru Raymond geram, ia mencengkram telunjuk Dea dengan keras.


"Sakit Ray," ucap Dea manja.


"Jangan pernah menyentuhku dan menjauh dari rumahku." Raymond memandang wanita di hadapannya dengan sorot mata mengancam.


"Kamu yang memaksaku mengambil langkah seperti itu, aku hanya ingin bertemu anakku Ray hanya itu." Dea mencoba cara baru, merajuk sekaligus mengancam.


"Hanya bertemu?" Raymond meliriknya tajam. Dea mengangguk dengan semangat.


Raymond menarik nafas panjang dan berat, "Baiklah, hanya bertemu tidak lebih."


"Kamu mengijinkan aku bertemu William??" Mata Dea membesar, ia tidak menyangka akhirnya Raymond mengijinkan setelah perjuangannya selama seminggu menyatroni kantor mantan suaminya.


"Hanya satu hari dan harus tetap bersamaku," tegas Raymond.


"Terima kasih Ray." Dea spontan memeluk Raymond.


Tepat saat itu pintu ruangan terbuka, saat melihat istri baru mantan suaminya yang masuk, Dea semakin mempererat pelukannya dan menempelkan dagunya ke bahu Raymond dengan mesra.


Tidak lupa ia memberikan senyuman teramat manis pada wanita yang berdiri dengan wajah pucat di ambang pintu, sebagai balasan atas tindakannya melarang ia bertemu anaknya tempo hari.


...❤❤...


Hayoo siapa yang masih kesal sama Raymond

__ADS_1


Yuk like, komen, bunga dan kopinya yaa. Awal minggu nih, bagi votenya doong 🙏😍


__ADS_2