
Sejenak mata mereka saling bertaut, satu detik ... dua detik tepat detik ketiga Lea memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Hapus sendiri!" Raymond melempar tissue ke atas pangkuan Lea.
Degub jantung Raymond masih terasa, walau kejadian awkward tadi sudah lewat beberapa saat yang lalu.
Receh banget sih jantung ini, tatapan mata sama anak kemarin sore aja ga mau berhenti goyang. Batin Raymond kesal.
"Kenapa cerai?," tuh kan ngapain pakai nanyain itu segala, kayak ga ada topik lain. Raymond memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Mmm ... biasa masalah rumah tangga," sahut Lea.
"Ya tau masalah rumah tangga, masak iya masalah negara penyebab kamu cerai," cetus Raymond sewot.
"Bapak sendiri kenapa cerai?"
"Ha?" Raymond terkejut akan balasan pertanyaan Lea yang tidak disangka, "Kok jadi saya?, dari mana kamu tahu saya bercerai, bisa aja kan pasangan saya meninggal?"
"Hussh!, orang masih hidup kok dibilang meninggal, pamali pak. Bapak kan bos, sudah biasa jadi bahan pembica ...." Lea menggantung kalimat sambil menutup mulutnya, menyadari kebodohannya yang membuka kebiasaan teman-temanya bergosip.
"Mèmangnya mereka bicarakan saya apa?" Raymond mengernyitkan keningnya.
"Yang baik-baik kok. Bapak pemimpin hebat bertangan dingin, baik, ramah, royal sama karyawan ... bagus semua kok." Raymond menyeringai sombong mendengar pujian beruntun dari Lea, meski dirinya tahu kalau itu hanya agar dirinya senang.
"Kalau masih cinta kenapa mau cerai?" lanjut Raymond.
"Bapak sendiri kenapa pisah kalau masih cinta?" balas Lea.
"Loh kok saya lagi sih?" sergah Raymond mulai kesal, "Kali ini kamu salah, saya sudah ga ada perasaan apapun pada mantan yang sudah berkhianat." Tanpa sadar Raymond membuka sendiri alasan dirinya bercerai.
"Ow, mantan istri bapak selingkuh?" tanya Lea polos.
Raymond terdiam hanya merutuki dalam hati mulutnya yang gampang sekali berceloteh.
"Sama sih," lanjut Lea lirih.
"Suamimu berselingkuh?"
"Dengan teman sekantor."
"Tapi kamu masih cinta buktinya denger lagu melow aja langsung mewek. Kalau masih bisa dipertahankan ngapain harus cerai?, suami kamu juga kelihatannya masih mau sama kamu," sambung Raymond panjang lebar.
Lea menggeleng pelan, "Tidak semudah itu, mereka ...." Kalimat Lea terhenti.
"Sudah tidur bersama?" tebak Raymond.
Lea mengangguk, "Yang wanita beneran cinta, dan itu yang pertama bagi dia."
Raymond menarik nafas panjang dan berat, "Kamu punya anak, posisimu lebih berat kalian juga sama-sama masih menginginkan satu sama lain ... lalu?"
"Kak Erik juga menginginkan wanita itu, untuk Maura ... bukan sepenuhnya tanggung jawab Kak Erik." Raymond mengerutkan kening merasa jawaban Lea yang terdengar janggal.
"Berencana cerai tapi sok mau mengundurkan diri, emang anakmu nanti mau kamu kasih makan apa?"
"Saya percaya rejeki anak sudah tersedia selagi orang tuanya tidak berhenti berupaya." Lea memandang Raymond sambil tersenyum optimis.
Terpaku Raymond memandang wajah Lea yang sedang tersenyum.
Sangat manis ... dan terlihat bercahaya, "Eheemm ...." Raymond berdeham menutupi kecanggungannya.
Sejak pertama kali melihat Lea di Mall dengan tampilan apa adanya, sebenarnya sudah ada rasa ketertarikan entah apa namanya itu.
Ada di antara wanita yang berdandan dan berpakaian penuh totalitas, Lea yang sederhana dan terkesan polos justru terlihat menonjol di matanya.
Pertemuan kedua yang tidak diduga, ternyata William putranya selama ini sangat dekat dengan anaknya Lea dan seakan tidak mau berpisah.
Lebih mengagetkan lagi saat mengantar Maura pulang, ia disambut huru-hara sepasang suami istri itu.
Hal itu menambah rasa penasarannya akan Lea, tapi selalu ditepisnya perasaan itu.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa juga ia harus kesal saat Gilang bersikap ramah pada wanita ini, toh selama ini Gilang juga selalu bersikap manis dengan semua wanita yang ada di kantor dan ia biasa saja melihat itu.
Rasa penasarannya semakin besar saat tahu Lea akan bercerai, melihatnya menangisi suaminya ada rasa tidak rela menyelusup dalam hati Raymond.
"Jadi single parent itu tidak mudah, kamu harus pikirkan baik-baik."
"Saya sudah memikirkan lama, dan menurut saya ini yang paling baik dari pada harus hidup dalam kebohongan terus menerus."
"Kamu ga kasihan dengan Maura?"
"Bapak sendiri ga kasihan dengan William?, anak masih kecil kan biasa dekat sama ibunya," balas Lea.
"Kenapa saya lagi siih?, kan kamu yang lagi proses cerai kalau saya kan sudah lama ga usah dibahas," sungut Raymond.
"Alasan saya tentang anak mungkin sama dengan alasan bapak dulu," sahut Lea tenang.
Mereka berdua kembali terdiam, menikmati pemandangan yang mulai terlihat menghijau selepas keluar dari jalan bebas hambatan.
Tangan Raymond memutar lebih keras saluran radio saat penyiar memutar lagu Bentuk Cinta dari Eclat story
Aku tak tau apa yang lain
Darimu hari ini
Apa itu karena sepatu flatmu?
Atau kukumu
Yang baru kau warnai?
Pernahkah kau bertanya
Seperti apa bentuk air tanpa wadah?
Pernahkah kau mengira
Seperti apa bentuk cinta?
Imut lucu walau tak terlalu tinggi
Pipi chubby dan kulit putih
Senyum manis gigi kelinci
Membuatku tersadar
Bentuk cinta itu
Ya kamu
Tanpa sadar Raymond mulai tersenyum-senyum sendiri sambil meresapi lagu yang sedang diputar.
"Lagi senang ya pak?" celetuk Lea.
Senyum Raymond seketika hilang, perasaan bahagia tadi yang sempat ada di hatinya mendadak lenyap mendengar pertanyaan Lea yang terkesan mengejeknya.
"Biasa aja," desis Raymond.
"Sudah dekat pak, tadi saya lihat bapak lagi asyik melamun saya cuman takut terlewat."
"Hmmm," sahut Raymond cuek.
"Masih siang kamu ga mau nyekar ke makam orang tuamu dulu?" lanjut Raymond menawarkan.
"Boleh pak?, ga apa-apa?" Lea tampak senang bersemangat.
"Ya boleh aja mumpung masih terang, kalau sudah gelap saya ga mau ke kuburan."
__ADS_1
"Takut pak?" celetuk Lea sambil tersenyum menggoda.
"Enggak ... gembira. Pertanyaan apa itu, jadi ga nih?" sungut Raymond gemas.
"Iyaa jadi, depan belokan kedua belok kiri lurus aja sudah sampai area pemakaman." Raymond melirik Lea yang wajahnya sudah berubah kembali ceria.
Lea langsung menuju ke makam ayah dan ibunya, sedangkan Raymond mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Sesampainya di depan makam ayah dan ibunya, Lea memanjatkan doa dan mulai sedikit terisak lirih.
Ayah, ibu maafkan Lea baru bisa dan berani datang kembali.
Lea pingin pulang dan tinggal di sini tapi Lea takut
Lea sekarang sendiri lagi cuman ada Maura yang menemani
Oh ya, Ayah dan Ibu sudah punya cucu loh cantik dan lucu sekali namanya Maura.
Pasti Maura senang kalau ketemu sama Kakek dan Neneknya
Lea kangen sekali sama Ibu dan Ayah ...
Lea rinduuu ... hhuuuhu ... huhuuu ...
Raymond berdiri mengambil jarak lima langkah di belakang Lea, yang duduk di samping dua buah nisan kembar.
Lea terus mengusap-ngusap kedua nisan itu sambil terus bergumam dan menangis pelan.
Setelah dilihatnya Lea mulai agak tenang, Raymond maju dan menyerahkan tissue dan dua buah tangkai bunga mawar.
Lea menerima tissue dari tangan Raymond, tapi saat akan mengambil bunga mawar tangannya menggantung dan menatap Raymond bingung.
"Jangan GR ini buat ayah dan ibumu bukan buat kamu, aku beli di depan tadi," sahut Raymond ketus.
"Iya saya tau, biasanya kan bunga tabur bukan bunga mawar kayak gini," kilah Lea menutupi rasa malu.
"Ga usah cerewet, orang tuamu tidak mempermasalahkan bentuk bunganya. Yang dikhawatirkan mereka anaknya yang masih cengeng dikit-dikit nangis."
Raymond berjongkok di samping Lea "Om, tante yang tenang ya, anaknya sekarang sudah kerja gajinya lumayan dan sekarang dapat proyek yang cukup besar sudah pasti bonusnya juga besar. Kalau dia masih suka nangis hantui aja tiap malam."
"Ngomong apaan sih bapak ini!" Lea spontan memukul punggung Raymond dengan keras.
"Berani kamu?" Raymond membesarkan matanya membuat Lea kembali menciut.
"Sudah belum?, atau masih mau lanjutin nangisnya?," sindir Raymond sambil berdiri.
Lea mengikuti Raymond berdiri setelah mengucapkan salam perpisahan pada ayah dan ibunya.
Dalam perjalanan menuju rumah Pak Beni, hati Lea mulai berdegup. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan kembali dalam waktu singkat ke kampung ini, apalagi mendatangi rumah orang yang menyebabkan ia harus pergi ke kota.
Tiba-tiba Lea teringat akan istri Pak Beni, ia sudah berjanji pada Bu Devi akan menjauh dari suaminya.
Bagaimana responnya jika melihat dirinya ada di rumahnya.
Lea melirik Raymond yang fokus menyetir, dalam hatinya hanya berharap atasannya ini tidak menyadari ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka.
note :
Awkward : Canggung
Pamali : larangan, pantangan (berdasarkan adat dan kebiasaan)
single parent : orang tua tunggal
...🔹️🔹️🔹️...
Saat menulis ini saya senyum-senyum sendiri seperti Abang Raymond yang bercambang tapi sukanya sama lagu ABG 🤭
Banyak terima kasih untuk teman-teman yang sudah like, love (favorite), vote, komen di setiap bab kasih semangat seneng deh lihatnya 🥰🤩🤗, mohon maaf terkadang ga bisa balas satu-satu 🙏
__ADS_1
Kembali lagi mau kenalin karya teman aku Ruth89 judulnya Berbagi Cinta : Aku, Madu Sahabatku