Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Calon baby yang ga sombong dan rendah hati


__ADS_3

"Capek?" Raymond memandang khawatir pada Lea yang masih betah berada di atas tubuhnya.


"Gantian sayang, aku aja yang selesaikan ya." Raymond bangkit berdiri dan hendak memutar posisi dengan istrinya, tapi Lea mendorongnya pelan dan jatuh kembali ke atas ranjang.


"Abang meragukan aku?" Bibirnya sudah mulai maju satu senti.


"Bukan ragu sayang, aku cuman takut kamu kecapaian." Raymond sempat terhenyak tadi, saat Lea mendorongnya kembali rebah di atas ranjang.


"Aku ga capek kok." Lea kembali melakukan aktifitasnya yang sempat tertunda tadi.


"Aakkh!" Lea meringis sambil memegang perut bagian bawahnya.


"Tuuh, kan." Raymond segera beranjak berdiri dan membaringkan istrinya.


"Mana yang sakit?" Raymond mengusap-usap perut istrinya, seolah mencari celah yang terluka di perut Lea.


"Ga sakit, cuman kram dikit tadi. Yuk lanjut." Lea bangkit lagi dan akan menaiki suaminya kembali.


"Stop Lea!" Raymond menahan tubuh istrinya.


"Abang nolak aku?!" Mata Lea membesar.


"Bukan nolak sayang, tapi biar aku aja yang selesaikan ya." Raymond berusaha menekan suaranya agar terdengar lebih lembut.


Mereka berdua berdebat di atas ranjang, menentukan siapa yang akan memimpin pertandingan dengan tubuh tanpa selembar kain.


"Aku mau nunjukin meskipun aku perutnya besar seperti ini, bisa kok senengin Abang. Biar Abang ga lirik-lirik di luar sana." Lea mulai merajuk.


"Kamu selalu bisa nyenengin Abang kok." Raymond sudah mulai merasa gila, di saat hasratnya sudah memuncak tapi ia harus membujuk istrinya yang merajuk seperti anak kecil.


"Lanjut yuk, kamu ga kasian sama Abang?" Raymond memberi kode dengan tatapan memohon, agar istrinya melihat ke arah pangkal pahanya yang masih dalam mode standby.


"Abang tadi nolak aku, aku di suruh stop." Lea masih bertahan dengan posisi duduk di ranjang, dan melipat tangannya di depan dada.


Sungguh menggelikan duduk seperti itu dengan perut besar tanpa busana dan wajah merajuk.


"Maksudnya stop kamu di atas, biar Abang yang lanjutin." Raymond mendekat dan merebahkan Lea kembali.


"Perut aku besar, susah kan ga keliatan nanti." Lea masih bertahan di sela-sela serangan suaminya.


"Si joni hafal jalan pulang ke rumahnya," bisik Raymond pelan.


...❤...


"Mau ke mana?" tanya Raymond dengan suara serak khas pria yang baru bangun tidur. Lengan besarnya menahan istrinya yang akan bangkit dari ranjang.


"Mau mandi, kita kan mau jalan pagi. Abang sudah janji loh kemarin."


"Hmmmm ...." Raymond kembali memejamkan mata, sembari memeluk guling sebagai ganti tubuh istrinya.

__ADS_1


Semalam benar-benar melelahkan baginya, bercinta sembari membujuk Lea agar tetap menikmati permainannya dan tidak merajuk lagi.


"Bang, kok masih tidur. Ayo buruan, anak-anak lagi siap-siap juga tuh." Lea mengguncang tubuh Raymond yang masih terlelap dengan tubuh telanjang tertutup selimut.


"Kamu lucu sekali." Raymond membuka matanya sedikit, ia melirik Lea yang terlihat lucu dengan perut buncit menggunakan setelan training warna kuning cerah.


"Jelek ya." Gawat!, alarm waspada Raymond berbunyi. Kantuknya hilang seketika, ia langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Cantik begini istriku, siapa yang bilang jelek." Raymond bangkit dan duduk bersandar di sandaran ranjang.


"Papiiiii ...."


"Piiii ...."


William dan Maura membuka pintu kamar, dan langsung naik ke atas ranjang lalu menerjang Raymond.


"Ihhh, Papi kok telanjang sih?" William memandang Papinya aneh.


"Ehh, tadi malam AC kamar mati, jadi Papi kepanasan terus buka baju." Raymond berpura-pura tak melihat pandangan William yang menatapnya curiga.


"Ayo, Willi sama Maura ikut Mama tunggu Papi di bawah aja ya kita sarapan dulu." Lea menuntun William dan Maura turun dari tempat tidur, sebelum putranya itu berkomentar yang lebih berbahaya lagi.


Hari minggu pagi jalanan utama di kota besar ini, ditutup selama beberapa jam karena ada acara rutin car free day.


Di sinilah mereka berlima bersama Mbok Nah, berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan protokol yang biasanya di hari biasa ramai dengan kendaraan bermotor.


Sesekali Raymond dan William berlari kecil diikuti dengan Maura yang tertinggal jauh.


Lea berhenti di salah satu ibu penjual makanan yang berada di pinggir jalan.


Tangannya ia lambaikan pada suaminya, yang sudah terlihat agak jauh dari tempatnya sekarang berdiri.


"Siniii ...." Lea memberi isyarat pada suaminya untuk datang cepat.


"Aku mau itu," tunjuk Lea pada ibu penjual yang masih sibuk menyiapkan pesanan pembeli lainnya.



(foto from google : IDN Times, Kebanggaan Surabaya)


"Eeh, kita cari makan di tempat lain ya." Raymond menarik tangan Lea menjauh dari kerumunan pembeli yang mengeliling si ibu penjual semanggi.


"Ga mau, aku pingin makan itu." Lea menarik lengannya dari genggaman suaminya, sehingga menahan langkah Raymond.


"Jangan di sini sayang, ada kok restoran yang jual makanan seperti itu." Raymond mengernyit melihat lahapnya pengunjung di sana.


Ia yang terbiasa makan dengan menggunakan peralatan makan yang lengkap, dan restoran berkelas tidak habis pikir melihat cara makan yang tak lazim menurutnya.


Piring menggunakan daun pisang dan sendok menggunakan krupuk yang besar, belum lagi bahan yang tercampur dedaunan hijau bercampur bumbu coklat kental.

__ADS_1


"Ayo, sayang." Raymond kembali menarik tangan Lea, sambil melirik terus ke arah tangan ibu penjual yang dengan lincahnya meramu pesanan pembeli.


"Aku mau di sini, Bang." Lea mulai merengek, sehingga menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya dan ibu penjual Semanggi.


"Kenapa, Cah Ayu?, Eeh, lagi 'isi' ya. Duduk sini, Nduk. Sebentar ibu buatkan ya." Ibu penjual menunjukan bangku kosong di sampingnya, dengan bersemangat dan senyum terkembang Lea duduk di sebelah Ibu penjual Semanggi.


"Ini buat Cah Ayu, semoga sehat terus ya Ibu sama bayinya." Ibu penjual memberikan sepincuk Semanggi, dan kerupuk puli yang lebar ke tangan Lea yang disambut dengan wajah ceria.


"Masnya juga mau?" tanya Ibu penjual pada Raymond yang masih berdiri memandang istrinya.


"E-enggak ... saya ga---"


"Apa itu Ma?" tanya William yang sudah berada di antara mereka.


"Ini Semanggi, makanan khas kota Surabaya enak deh Willi mau?"


"Aku mau krupuknya."


"Ini, untuk cah ganteng sama cah ayu cilik." Ibu penjual memberikan masing-masing kerupuk puli lebar ke tangan William dan Maura.


"Mbok Nah mau juga?" tanya Lea.


"Mauuu, ini kesukaan saya. Biasa lewat depan rumah sekarang sudah jarang, jadi kangen saya." Mbok Nah langsung duduk di bangku kecil samping Ibu penjual.


Tinggalah Raymond memandang istri, kedua anaknya dan Mbok Nah menikmati makanan yang baru sekali itu dia lihat.


"Calon adeknya William sama Maura sepertinya suka sama makanan tradisional asli Indonesia ya, pasti anaknya nanti ga sombong dan rendah hati," ucap Mbok Nah spontan.


Raymond melirik Mbok Nah dengan tatapan tajam dan penuh peringatan.


"Eeh, hehehe .... ga sombong dan rendah hati seperti Papinya," lanjut Mbok Nah.


...❤❤...


Aku juga kangen Semanggi Suroboyo sama seperti Mbok Nah 😭, adakah yang suka makanan khas Surabaya ini seperti saya


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕

__ADS_1


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


__ADS_2