
"Hanya masalah teknis aja Pak Raymond tidak terlalu penting," sahut Beni.
" ... baiklah kalau begitu, kalau ada kekurangan bisa disa----"
"Saya tunggu di hotel, Pak Raymond," sahut Beni tiba-tiba, "Anak saya semalam ingin bermain dengan ... putri Bu Lea, dia agak marah kami ajak pulang lebih cepat, maklum anak-anak hehehe ...." Beni tertawa sumbang.
"Maksud Pak Beni, saya ke hotel tempat Bapak ... bersama Lea dan anaknya begitu?"
"Ya ... jika tidak merepotkan, sebelum saya kembali pulang." Beni sudah tidak peduli jika Raymond menaruh curiga padanya, yang ia inginkan adalah bertemu dengan Lea dan anaknya sekarang atau tidak bisa sama sekali.
"Baiklah, tapi saya tanyakan Lea dulu apa bisa putrinya di bawa karena saya hanya menggaji ibunya bukan anaknya hehehe ...."
"Baiklah ... saya minta tolong Pak." Kalimat Beni lebih terdengar memohon.
Selepas memutus pembicaraan dengan Beni, Raymond menimbang-nimbang apa perlu ia memberitahu Lea pernintaan Beni.
Ada rasa berat dan enggan untuk mempertemukan mereka, karena ia yakin ada hubungan lain antara Lea dan Beni lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
"Halo, selamat pagi Lea." Raymond akhirnya memutuskan menghubungi Lea, karena rasa penasarannya jauh lebih besar.
"Selamat pagi Pak."
"Pagi ini kamu ga usah ke kantor, saya jemput kamu eh ... Maura juga."
"Maura?, mau kemana pak?"
"Bertemu Pak Beni."
"Jangan!, ... eh maksud saya untuk apa Maura dibawa?, saya bisa bawa dia ke penitipan dulu sebelum bertemu dengan Pak Beni," sahut Lea cepat.
"Pak Beni mau Maura dibawa juga, biar bermain dengan anaknya." Lea hanya terdiam. Raymond tahu di seberang sana Lea sedang mempersiapkan alasan penolakan.
"Jangan khawatir ... ada saya," ucap Raymond pelan, "Bersiaplah saya segera kesana."
...đšī¸...
Raymond memperhatikan Lea yang duduk dengan gelisah di sampingnya. Sesekali Maura di dekap dengan erat, kepalanya dicium seakan ingin pergi jauh.
"Kamu tunggu di sini, saya hubungi Pak Beni dulu." Setelah sampai di hotel tempat menginap Beni dan sekeluarga, Raymond meminta Lea untuk duduk di sofa lobby hotel.
"Terima kasih Pak Raymond sudah menyempatkan datang kemari." Beni langsung menyalami Raymond begitu keluar dari lift.
"Hai Lea." Beni menyapa Lea pelan, namun matanya tidak lepas dari gadis cilik dalam dekapannya. Lea menanggapi hanya dengan mengangguk pelan.
Jonathan sudah mendekat ke arah Lea, dan menggoyang-goyangkan tangan Maura, "Kakak punya kue, adek mau?, kata mama adek masih kecil jadi belum boleh makan permen." Jonathan memberikan sebungkus roti pada Maura yang langsung diterima dengan gembira.
"Boleh saya menggendongnya?" pinta Devi. Setengah hati Lea memberikan Maura untuk di gendong Devi, tapi ia tidak punya alasan untuk menolak.
"Lucu sekali." Devi mencium pipi Maura dengan sayang, Beni menatapnya penuh haru.
__ADS_1
Ia tahu jika Devi sangat mendambakan seorang anak perempuan, tapi harapannya pupus saat dokter harus mengangkat rahimnya karena terjadi komplikasi setelah melahirkan Jonathan.
Drrrttt ... drrttt ... Ponsel Raymond berdering.
"Maaf, saya jawab sebentar," pamit Raymond lalu berjalan menuju keluar lobby.
Lea ingin mengikuti Raymond, tapi Maura masih dalam dekapan Devi. Berada dalam tatapan tajam Beni membuat Lea merasa menjadi seorang terdakwa.
Lea beranjak ingin mengikuti Devi yang sudah membawa Maura dan kedua putranya menjauh di sudut hotel.
"Saya sudah tahu. Mengapa kamu menyembunyikan dia dari saya?" tanya Beni penuh penegasan memberhentikan langkah Lea.
Lea hanya terdiam tak mau menjawab juga tidak mau menatap Beni.
"Kenapa kamu berbohong??, dia anak sa---"
"Maura anak saya!!" Lea menatap Beni tajam.
"Maaf tadi ada telepon dari kantor, kita lanjutkan sambil duduk di sana?" Saat Beni akan membalas perkataan Lea, Raymond sudah terlanjur masuk dan kembali bergabung dengan mereka.
Sebenarnya saat menerima telepon, Raymond memperhatikan dari luar lobby perdebatan antara Lea dan Beni, walau ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
Saat melihat Lea terlihat emosi, ia langsung memutus pembicaraan telepon secara sepihak.
"Kita bawa anak-anak bermain di taman belakang, biar para bapak berbicara di sini," ajak Devi.
Lea setuju dengan Devi, karena ia sudah muak melihat wajah Beni.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Lea bingung. Devi membuka ponselnya dan menunjukan pada Lea sebuah foto.
"Ini?? ...."
"Itu Alexander ... mirip sekali bukan?" Lea memperhatikan foto anak kecil di ponsel Devi, seperti Maura hanya bedanya ini berpakaian laki-laki.
"Beni hanya kecewa baru mengetahui jika ia punya seorang anak perempuan, karena saya ... tidak bisa memberikan ia anak lagi." Devi memandang nanar ke arah Maura.
"Jadi sekarang kamu sendiri?" Lea mengangguk, malas menjelaskan.
"Kamu masih muda ... tidak merasa terbebani mengurus anak di usia muda?" Lea memandang Devi penuh tanda tanya apa arti pertanyaanya.
"Kalau kamu tidak keberatan ... bolehkah Maura saya asuh?" tanya Devi penuh harap.
"Apa maksudnya?" Lea menggeleng tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Maura juga anak Beni, dia berhak-----"
"Maura anakku!, dia anakku!!" Lea berdiri dan langsung menggendong Maura membawanya pergi menjauh dari Devi.
Lea berjalan cepat menuju ke arah lobby diikuti Devi dan kedua putranya.
__ADS_1
"Lea ... Leaaa dengar duluuu." Devi menarik tangan Lea.
"Jangan pernah berpikir memisahkan aku dari anakku!" pekik Lea tertahan.
"Ini juga demi kebaikan anakmu, dia akan hidup lebih baik bersama orang tua yang lengkap. Kami akan menyekolahkan dia dengan baik," Devi masih bersikukuh tetap menggenggam lengan Lea.
"Saya memang orang susah, tapi bukan berarti saya tidak bisa jadi orangtua yang baik. LEPAS!!" Lea menyentak tangan Devi hingga terlepas.
"Pak, saya mau pulang. Kalau Bapak masih ada perlu saya duluan ga apa-apa." ucap Lea saat sudah berada di samping Raymond.
"Heei, tunggu dulu!" Raymond mencekal tangan Lea yang sudah mau kabur keluar dari Lobby.
Beni menatap tanya pada istrinya yang menyusul di belakang Lea. Keduanya terlihat tidak baik-baik saja.
Devi terlihat gugup karena takut akan kemarahan suaminya, dan juga takut kehilangan Maura. Sekali lihat ia sudah jatuh cinta pada putri cantik itu.
"Maaf, kami permisi dulu," pamit Raymond singkat. Beni yang masih bingung hanya mengangguk cepat.
"Ada apa?, apa saya tidak berhak tahu?" tanya Raymond tegas saat mereka sudah berada dalam mobil.
Sedari tadi Lea terlihat menahan emosi. Sesekali ia menyusut air matanya yang tidak ia ijinkan jatuh ke pipinya.
Lea tetap diam enggan menjawab pertanyaan Raymond, tapi begitu arah jalan yang di tuju berbeda, akhirnya ia mau membuka suaranya, "Kita mau kemana?"
"Pulang."
"Saya mau taruh Maura di penitipan, lalu lanjut kerja."
"Kamu mau kerja dengan wajah seperti itu?, yang ada semua customerku lari gara-gara kamu."
"Ini bukan jalan ke rumah saya."
"Memang ... kita pulang ke rumah saya. William juga ada di rumah, biar Maura main dulu," jawab Raymond santai.
"Saya mau pulang," cicit Lea pelan.
"Sayangnya ga bisa, saya yang pegang setir mau saya bawa ke mana mobil ini terserah saya."
Lea hanya menarik nafas panjang dan menyenderkan tubuhnya, ia malas berdebat karena sudah sangat lelah menghadapi Beni dan istrinya tadi.
Biarlah bosnya ini mau bawa ia kerumahnya, nanti dari sana ia akan memesan taxi online.
...â¤â¤...
Yeeeii akhirnya bisa double up đ
Maaf bukan ga mau double up, tapi terkadang lagi nulis banyak "iklan" di kehidupan nyata lewat jd ketunda-tunda terus, harap maklum đđ
Terima kasih atas vote, like, komen dan favoritenyaa â¤đ
__ADS_1
Promo lagi yaa kali ini punya Kiss 'Pernikahan Toxic'