Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
unboxing


__ADS_3

Ada adegan 21+, mohon bijak dalam membaca. Meski kata-kata sudah diperhalus, mohon dengan sangat yang masih belum cukup umur skip aja🙏


Perlahan bibir Raymond turun ke arah leher mengecup dan sesekali menyesapnya. Erangan pertama lolos dari mulut Lea, spontan ia menutup mulutnya dengan tangan.


"Kenapa? ... ga apa-apa ... lepaskan aja." Bisik Raymond sambil menarik tangan Lea.


Lea menggeleng, tangannya kembali menutup mulutnya, "Malu."


Raymond hanya terkekeh pelan dan menarik kembali tangan Lea, "Ga apa-apa, aku suka." Bisiknya di telinga Lea.


Tanpa Lea sadari, seakan gerakan tanpa bayangan Raymond telah melepas semua kancing piyamanya.


Bibirnya perlahan turun dan terus mengecup apa yang dilewatinya. Saat Raymond berhasil membuka penutup dadanya, Lea menyambar bantal dan langsung menutup tubuh bagian atasnya.


"Kenapa?, hehehehee ... malu? oke biar adil aku juga buka ya." Raymond membuka kaosnya.


"Sekarang kita sama sudah ga pake baju ... ayo buka dong jangan ditutupin." Raymond setengah merengek berusaha menarik bantal yang dipeluk Lea erat.


"Oke ... kalau gitu aku duluan yang buka celananya." Raymond berdiri bersiap membuka celana tidurnya.


"Tunggu!" seru Lea panik, "Lampunya boleh matikan ya." Lea memohon.


"Oke." Raymond mematikan semua lampu kecuali bagian depan dan kamar mandi yang pintunya di biarkan terbuka.


"Itu?" Lea menunjuk lampu kamar mandi.


"Jangan semua, kalau terlalu gelap aku nanti salah pegang gimana hmmm?" sahut Raymond sambil naik kembali ke ranjang dan mulai mengukung Lea.


Raymond kembali menc*ium bibir Lea, sambil perlahan membuka celana panjangnya. Tangannya ia selipkan ke bawah bantal yang menutupi tubuh Lea.


"A---aabaangg," seru Lea tertahan saat Raymond berhasil mencapai apa yang di cari.


"Hmmmm?" Sekali sentak namun perlahan Raymond berhasil menyingkirkan penghalang tubuh mereka.


"Ga adil ... buka juga ya?" Raymond menyentuh pinggang Lea siap menarik turun celana piyamanya.


Lea tertawa pelan saat Raymond sengaja menggelitik pinggangnya, dengan sekali tarikan celana piyama sekaligus c*elana dal*am Lea pun terlepas.


"Abang?!" Lea terkejut saat menyadari sudah tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya, ia langsung merapatkan kedua kakinya.


Tadi saat Raymond ingin membuka celananya, ia pikir hanya celana piyamanya saja tapi ternyata itu satu paket.

__ADS_1


"Hhehehee ... biar adil aku buka juga." Raymond mulai membuka lembar terakhir yang menutup tubuhnya.


Saat Raymond sudah dalam keadaan polos, Lea memalingkan wajahnya. Lampu memang sudah padam tapi bukan berarti ia tidak bisa melihat apapun.


Sangat jelas di mata Lea tadi saat Raymond membuka kain terakhirnya, ada sesuatu yang menunjuk ke arahnya. Benda itu bagaikan menantangnya.


Saat Pak Beni melakukan padanya Lea sama sekali tidak melihat milik mantan bosnya itu, karena ia dipengaruhi oleh obat penenang.


Begitupun saat Erik melakukan hal yang sama, ia tidak sempat melihat milik mantan suaminya, itu karena sudah diliputi oleh kemarahan, ketakutan dan rasa sedih.


Ini pertama kalinya ia melihat benda pusaka milik pria sungguh ... menakutkan?


"Tak kenal maka tak sayang," ucap Raymond tersenyum penuh arti, "Marilah saling mengenal dulu," lanjut Raymond berbisik di telinga Lea.


Raymond mengarahkan tangan Lea untuk menyentuh miliknya. Lea mengeratkan genggaman jarinya dan menggeleng enggan.


"Ga apa-apa, ini milikmu .... semua yang ada di sini milikmu, tapi kamu harus bisa mengenali sifatnya." Kembali Raymond membantu Lea untuk menyentuh benda pusakanya.


Perlahan Lea mulai menyentuh dengan telunjuknya dari atas ke bawah, kembali lagi ke atas merasakan tekstur dan kehangatannya.


"Aku biasa menyebut dia joni hehehee," Raymond menertawai perkataannya sendiri.


"Joni, hehehee ...." Lea terkekeh seakan berbicara dengan benda panjang di tangannya.


"Leaaa, hmmm kamu harus berhati-hati dengan dia ya. Dia sedikit aahhhh ... agak nakal, suka memaksa kalau hhhhmmm .... menginginkan sesuatuu." Raymond mulai kehilangan kendali saat melihat wajah antusias Lea.


"Sekarang Giliranku!" Sambil menahan tangan Lea agar tetap menggenggam miliknya, Raymond kembali mengukung Lea di bawah tubuhnya.


Tangannya di arahkan ke pusat tubuh Lea, jari tengahnya perlahan di selipkan di belahan tubuh istrinya. Raymond berusaha mengenali titik-titik di mana bisa membuat istrinya ini menggila.


"A---hhh---baang, jangann." Lea menggeleng gelisah.


"Ssstttttt, percaya aku." Raymond kembali berbisik dan menurunkan kepalanya ke dada Lea.


Jari dan mulut Raymond berkerja dengan aktif di kedua titik penting tubuh Lea. Tubuh Lea sudah bergerak tak tentu arah, suara-suara aneh terus keluar dari bibirnya.


"Aa---banng ... pleaseee." Lea semakin keras menggeleng dan mulai mendorong tubuh Raymond. Deru nafas keduanya sudah tidak beraturan.


Raymond tahu tubuh bagian bawah istrinya sudah sangat siap sekali untuk di s*tubuhi.


Perlahan Raymond mulai memasuki istrinya. Lea terus bergerak gelisah, sesekali ia menolak kehadiran Raymond di dalam dirinya.

__ADS_1


"Lea ... Leaa, lihat aku Lea." Raymond kembali menarik miliknya yang hampir setengah masuk.


Lea memandang mata Raymond, ia menemukan ketulusan dan tatapan memuja di dalam sana.


"I Love you Lea." Bersamaan dengan itu, perlahan Raymond kembali menyatukan miliknya.


"Baanng, aku .... takuttt." Lea mencengkram bahu Raymond.


"Its okey, beib. Jangan takut, rileks aja. Kamu percaya kan sama aku, hmmm?" Raymond mengusap rambut dan mengecup dahi Lea yang sudah berkeringat.


"I love you ... aku cinta kamu sayang." Raymond semakin membenamkan seluruh miliknya. Dilihatnya Lea sudah mulai sedikit tenang.


Perlahan Raymond menggerakan tubuhnya secara teratur, dari bibirnya terus mengeluarkan kata-kata cinta dan sayang. Semakin cepat Raymond begerak Lea pun semakin meracau tak jelas.


Hampir empat puluh menit sejak perkenalan aset penting masing-masing, hingga mereka bersama-sama sampai ke puncak himalaya versi Raymond.


"Beraat." Lea menggulingkan tubuh Raymond yang masih nyaman berada di atas tubuhnya.


"Empuuk." Raymond tertawa pelan.


Raymond memandang wajah wanita di sampingnya yang sekarang resmi lahir dan batin menjadi istrinya.


"Tadi apa aku ada menyakitimu?" Raymond merapikan anak rambut Lea.


"Ga." Lea menggeleng pelan. Ia menarik selimut hingga menutupi leher.


"Jangan ditutup dong, kalau abang mau nambah susah nanti." Raymond berusaha menyingkap selimut Lea namun gagal.


"Hhhmmm, maunya dalam selimut ya." Dengan kecepatan kilat Raymond masuk ke dalam selimut dan berbuat sesukanya di sana.


Lea yang tidak siap hanya menjerit dan selanjutnya diganti dengan desah dan erangan.


Permainan kedua kali ini, Raymond sudah tidak berusaha menahan hasratnya lagi. Ia bermain sesuai versi ala Raymond.


Lea yang tidak punya pengalaman harus bagaimana di ranjang dengan suami, dengan susah payah mengimbangi serangan demi serangan dari suaminya.


"Aku capek," keluh Lea saat Raymond akan memulai kursus sesi ketiga.


"Maaf," Raymond merengkuh tubuh istrinya, mengecup dahinya dan mengusap rambutnya hingga Lea tertidur.


"Terima kasih wifey (istri-pasangan kata hubby-suami)," bisik Raymond sesaat sebelum Lea benar-benar terlelap.

__ADS_1


...❤❤...


Maaf jika adegan yang sudah teman-teman tunggu tidak sesuai ekspetasi 🙏😁


__ADS_2