Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Makan ayam


__ADS_3

"Willi jangan banyak gerak kasihan kaki tantenya sakit," tegur Raymond pada putranya, yang terus saja bergerak saat dipangku Lea.


"Mama Maura kakinya sakit?, maaf ya." ucap William manis sembari memegang pipi Lea. Raymond mendecih dalam hati, masih kecil sudah pandai merayu.


"Ga apa Willi, adek Maura seneng tuh lihat William buat wajah-wajah lucu seperti tadi." Lea sedari tadi ikut terkikik melihat William berusaha membuat putrinya tertawa, dengan merubah-rubah mimik wajahnya.


"Piii ... laperrrr." William memasang wajah lesu sambil mengusap perutnya.


"Tadi di rumah belum makan?" tanya Raymond heran.


"Sudah sih, tapi laper lagiii. Kita makan ayam yuk piii." Kembali William memasang wajah penuh harap.


"Kasihan tante sama adeknya kemalaman, Will."


"Mama Maura lapar kan ... ya kan?" William bertanya setengah memaksa.


Raymond memandang Lea dengan perasaan tidak enak. Lea segera memahami situasinya, ia mengangguk mengiyakan.


"Yeeeiiii, kita makan opa ayam. Maura mau es krim ga?, nanti kakak belikan es krim yaa." William tak henti-hentinya bersorak sambil memeluk Maura.


Mobil hitam besar milik Raymond masuk ke area parkir gerai makan cepat saji kenamaan bermaskot kakek tua, yang selalu disebut opa ayam oleh William.


Begitu masuk William membawa Maura ke area bermain yang khusus disediakan di dalam gerai itu.


"Kamu cari tempat duduk dulu aja, biar saya yang pesan. Kita tadi juga belum sempat makan saat perjalanan pulang."


Lea mengangguk, ia memilih tempat di sisi kaca dekat area bermain anak-anak agar mudah mengawasi.


Lea tersenyum melihat Maura yang baru saja lancar berjalan, mencoba mengejar William yang berlari menghindarinya.


Terkadang William tampil bak seorang pelindung, saat ada anak lain yang akan membahayakan Maura saat bermain.



Perhatian Lea sedikit teralihkan saat melihat sepasang pria dan wanita yang sangat di kenalnya, keluar dari salah satu tempat makan yang masih satu area dengan gerai yang ia tempati sekarang.


Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir memasuki mobil, dan berlalu dari pandangan Lea.


Ada sedikit perih yang dirasakan Lea saat melihat Erik bersama Ghea berjalan berdua.


Mungkin belum ada rasa cinta sepenuhnya di hati Lea untuk Erik, tapi bagaimanapun Erik masih berstatus sah sebagai suaminya.


Erik yang awalnya telah memberikan perhatian dan cinta hanya untuk dirinya seorang, tapi sekarang ia harus menerima kenyataan jika ada wanita lain yang juga mendapatkan semuanya itu.


Seperti ada yang tercabut dari hatinya, jujur rasa kehilangan itu ada.


Lea melihat pesan di telepon genggamnya, sejak ia pergi hingga sekarang tidak ada pesan masuk dari suaminya. Hanya dari Nina, yang meminta maaf tidak bisa menjaga Maura hari ini.


"Makan dulu." Raymond menaruh nampan berisi banyak makanan di meja. Setelah itu ia menuju ke area bermain, menggendong Maura dan menggandeng William untuk mencuci tangan mereka.

__ADS_1


Lea terbengong melihat Raymond yang begitu sigap mengurus hal-hal sepele untuk anak kecil.


Saat mereka bertiga kembali Lea masih saja terpaku, melihat Raymond mendudukan Maura di baby chair (kursi khusus bayi) yang di ambil oleh William dari sudut gerai.


"Mama Maura tidak cuci tangan?" Kali ini Raymond yang bertanya dengan nada mengejek, dengan wajah memerah Lea menuju wastafel.


Saat ia kembali Raymond tampak telaten menyobek-nyobek daging ayam, agar putranya lebih mudah memakannya.


"Kenapa?" tanya Raymond yang melihat Lea masih belum menyentuh makanannya. Lea hanya tersenyum, sambil tetap memperhatikan tangan Raymond yang masih sibuk dengan ayam milik William.


"Sejak William masih kecil, saya sendiri yang mengurusnya tentunya dibantu Mbok Nah. Jadi sudah biasa seperti ini, tidak perlu terpesona seperti itu."


"Bapak hebat," puji Lea tulus. Bluusshhh. panas seketika wajah Raymond mendengar kata pujian Lea, yang walaupun sederhana tapi mampu membuatnya tidak fokus.


Seharusnya daging ayam yang sudah di sobek diberikan pada William malah masuk ke dalam mulutnya sendiri.


"Piiii, itu ayamkuu," protes William cemberut.


"Nanti papi ganti," sahut Raymond cepat.


"Mama William kemana?, eh ... maaf kalau lancang." Lea tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Raymond menatap Lea, dengan lancarnya semua cerita masa lalu mengalir dari bibirnya.


"Awal pernikahan kami, saya bukan siapa-siapa. Saya yang baru merintis usaha bertemu dengan dia yang sudah jadi model terkenal."


"Singkat cerita kami memutuskan menikah, rupanya dia yang biasa hidup mewah tidak tahan hidup sederhana bersama saya."


"Puncak kesabaran saya ... saat menemukan dia dan pria lain ada dalam ranjang yang biasa kami tiduri tiap malam." Raymond memandang Lea lekat. Tampak masih ada kemarahan dalam nyala matanya.


"Saat itu juga saya menjatuhkan talak padanya. Jika dia melakukan hal itu di luar rumah, saya masih menutup mata. Tapi saya tidak bisa menerima jika William harus ikut melihat kebusukan ibunya," geram Raymond.


Lea tertegun mendengar cerita panjang lebar dari atasannya itu, ternyata lebih pahit dari yang telah ia alami.


"Ga usah dijadikan bahan gosip kalian di kantor ya. Jika ada orang lain yang tahu cerita ini, sudah dipastikan itu dari kamu. Sampai lubang semut pun saya cari kamu." Lea meringis melihat mode galak Raymond kembali.


"Tadi itu suamimu sama siapa?" tanya Raymond tiba-tiba. Lea tidak menyangka jika atasannya ini sejak tadi ikut memperhatikan Erik dan Ghea.


"Ghea," sahut Lea singkat, enggan rasanya membicarakan hal pribadi dengan orang asing sekalipun itu atasannya.


"Wanita yang kamu bicarakan siang tadi?" lanjut Raymond. Lea hanya mengangguk.


Melihat respon Lea yang tidak ingin membahas persoalan rumah tangganya, Raymond memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Sudah selesai?, kita pulang sekarang. Kasihan anak-anak terlalu capek nanti." Raymond berdiri dan memanggil dua bocah yang masih asyik bermain.


"Mama Maura, aku duduk sama adek di belakang boleh ya," pinta William saat akan masuk ke dalam mobil.


"Tante aja yang di belakang sama adek ya, Willi di depan sama papi," tawar Lea.

__ADS_1


"Aku mau tidurrr ... di depan sempit." William kembali merengek.


"Will!," suara tegas Raymond membuat air mata bocah tampan itu mulai merebak.


"Jangan di marahi, dia sudah capek jadi rewel. Anak-anak biasa seperti itu." Lea mengingatkan Raymond yang sudah akan melanjutkan ayat panjang pada anaknya.


"Sudah jangan nangis. Willi boleh duduk di belakang sama adek, tapi janji jangan lompat-lompat ya." Lea kembali membujuk.


Selang lima menit mobil berjalan, suara canda tawa di bangku belakang sudah tidak terdengar lagi.


Raymond melirik dari kaca spion, senyumnya terkembang melihat William dan Maura tertidur saling memeluk.


Dalam hatinya memuji Lea yang sangat tanggap menghadapi putranya, yang terkadang sangat sulit dikendalikan emosinya.


Ruang tamu rumah Lea tampak menyala, tanda Erik sudah lebih dulu sampai.


Raymond melirik Lea yang terlihat khawatir, "Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk kabari saya. Kamu simpan nomer saya kan?" Lea menggeleng.


"Sudah bekerja tiga bulan kamu belum menyimpan nomer atasanmu?" cetus Raymond sewot.


"Saya sudah simpan nomer Kinanti dan Mas Gilang untuk urusan kantor," sahut Lea polos.


Wajah Raymond mengkerut kesal karena merasa Gilang lebih terdepan dibanding dirinya, bagaimana tidak kesal kalau ia lebih dulu sudah menyimpan nomer Lea.


Ia menyebutkan deretan angka dengan cepat, "Simpan nomer saya," ucap Raymond yang lebih terdengar seperti menggerutu.


"Sudah," ucap Lea, setelah membuat Raymond mengulang berkali-kali menyebutkan nomer ponselnya.


Setelah mengucapkan terima kasih dan mengambil Maura dari bangku belakang, dengan pelan Lea membuka pintu rumahnya.


"Kenapa malam sekali pulangnya?, kasihan Maura bisa sakit kena angin malam." Suara Erik menghentikan langkahnya.


"Maaf kemalaman kak, tadi diantar naik mobil jadi aman aja." Lea hendak melanjutkan langkahnya ke kamar, namun suara Erik menginterupsinya lagi.


"Jadi karena tidak ada mobil aku ditinggalkan?"


"Kak!, please jangan mulai lagi. aku capek," keluh Lea.


Erik mengangguk pelan dan berkata dengan lirih, "Sama, boleh kita bicara?" Erik menatap sendu Lea.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Ga bosan-bosannya saya ucapkan terima kasih buat yang sudah meninggalkan jejak jempol berupa Like 👍, Love (favorite) ❤, dan komen yang membangun 🤗.


Jangan bosan ikuti cerita Lea ya đŸĨ°


Saran dan kritik yang membangun dari teman-teman saya terima 🙏đŸĨ°


Promo numpang lewat lagi ya. Karya dari kak Enis Sudrajat "Biarkan Aku Memilih"

__ADS_1



__ADS_2