Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Apa dia anakku?


__ADS_3

"Maura?" Lea terbelalak tidak menyangka melihat Maura berlari mendekatinya.


Sejenak semua perhatian orang yang ada di sekitarnya, beralih pada bocah perempuan yang sedang bergelayut manja pada Lea.


"Maaf, tadi aku cuman pingin lihat dari jauh, tapi Maura rupanya lihat kamu jadi dia berontak minta turun terus langsung lari ke sini." Erik menjelaskan sambil sedikit terengah mengatur nafasnya.


Sedetik kemudian wajahnya menegang, saat matanya menangkap Beni yang sedang memandang tajam ke arah Maura.


"Maaf ... maaf, saya permisi dulu." Dengan sedikit panik, Lea segera membawa Maura ke area istirahat karyawan.


Langkahnya di ikuti Erik yang masih menyisakan pandangan khawatirnya pada Beni.


Reaksi Lea, Erik dan juga sepasang suami istri kliennya ini tidak luput dari pengamatan Raymond.


"Mmm ... bagaimana Pak Beni apa masih ada yang kurang, bisa di sampaikan mumpung ini masih hari pertama." Raymond mencoba mengalihkan perhatian Beni yang masih mengikuti kemana Lea membawa Maura.


"Pa ... Pak Raymond bertanya," bisik Devi sambil menyentuh lengan suaminya sekilas.


"Ah ... ehm, bagus ... bagus, cukup bagus." Beni tergagap dengan memaksakan sebuah senyuman.


"Ma, mukanya adek kecil tadi mirip kak Alex ya hihihihi ...." Putra Beni yang kecil, Jonathan terkikik menggoda kakaknya.


"Huusst," Devi menggelengkan kepala serta mengisyaratkan anaknya untuk diam, dengan menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.


Bukan Devi tidak tahu perubahan wajah suaminya saat melihat putri Lea. Devi sangat yakin dengan sekali lihat, suaminya pasti yakin itu anaknya.


Devi sama sekali tidak menyangka, jika kekhawatirannya dulu saat meminta Lea pindah saat ini menjadi kenyataan.


Jika memang inilah saatnya Beni bertemu dengan anaknya dari wanita lain, dia harus ikhlas karena ia sadar mau bersembunyi di sudut dunia manapun jika takdir mempertemukan mereka tidak akan bisa menghindar.


"Maa lihat ke sana yuukk, adeknya lucuuu." Jonathan menarik tangan Devi untuk mengikuti Lea.


Devi menatap suaminya meminta persetujuan, Beni hanya memandangnya dengan tatapan sedih, bingung dan ... hampa.


Anak itu ... mengapa melihat matanya aku seperti sudah mengenalnya lama. Apa benar? ... Anak itu anakku? ...


Bukankah dia bilang tidak hamil?


Berarti aku sudah di bohongi??


Siapa saja yang sudah menutupi anak itu dari aku??!


Semua penjelasan Raymond, hanya sekedar lewat di telinga Beni. Di pikirannya hanya satu wajah yang melekat ... Maura.


"Lea ...," panggil Devi, saat sudah berada dekat Lea yang sedang menyuapi Maura kue.


"Aah, Ibu ... maaf saya ga bermaksud----"


"Yaa, ga apa-apa Lea. Saya paham ... bukan salahmu. Mungkin sudah saatnya ...." Devi membelai pipi Maura dengan sayang.

__ADS_1


"Maksud ibu?" tanya Lea tidak mengerti.


"Beni berhak tau, anakmu juga berhak bertemu ayah kandungnya. Kamu tidak bisa menyembunyikan dia terus menerus."


"Enggak!, saya ga mau." Lea menggeleng keras dan memeluk Maura rapat.


"Hhhhh ... itu terserah kamu, hak kamu sebagai ibu. Saya sebagai istri dari ayah anakmu ... ikhlas jika Beni mau bertanggung jawab dengan anakmu ... tapi tentu bukan dengan ibunya." Devi sedikit begurau pedih di akhir kalimatnya.


"Apa yang kamu khawatirkan?, kamu masih menyimpan dendam pada suami saya? Kamu sudah hidup bahagia dengan suamimu, Beni tidak akan mengganggumu lagi."


"Kami sudah bercerai," cetus Erik yang tiba-tiba mendekat sambil membawa minum yang baru saja ia beli.


"Kenapa??" tanya Devi, ada sedikit rasa cemas dalam hati mendengar Lea kembali sendiri tanpa pendamping.


Lea dan Erik hanya bertatapan tanpa ada satupun yang berniat menjelaskan.


"Saya .. saya kembali dulu," Devi dengan perasaan sedikit kalut ingin segera menjauh dari area itu.


"Jo, ayo," Devi menggamit lengan anaknya yang sedang asyik bermain dengan Maura.


"Tungguuuu, aku mau main dulu Maaa ..," rengek Jonathan.


"Sudah di tunggu papa, ayolah Jo!" Sedikit tidak sabar Devi menarik lengan putranya agar segera berdiri.


"Kenapa dia?" tanya Beni, saat melihat Jonathan merengut kesal.


"Aku mau main sama adek kecil ga boleh sama mama!" Sebelum Devi menjelaskan, Jonathan dengan kesal menumpahkannya pada Beni.


"Besok kita ke sini lagi ya paaa, aku mau main sama adek lagi. Pingin punya adek perempuaaaan ... di rumah bosen lihat kakak terus weeekkkk ...." Jonathan menjulurkan lidahnya ke arah Alexander yang lebih terlihat tenang.


"Iya, besok kita ke sini lagi." Beni menatap Devi yang sedang berpura-pura tidak mendengar.


Rasa penasarannya sebenarnya sangat tidak terbendung, jika menuruti emosi dan keingintahuannya ia sudah melesat ke area istirahat karyawan sejak tadi.


Tapi ia sadar sikap sembrononya akan mengacaukan segalanya, terlalu banyak mata dan telinga saat ini. Ia tidak akan mengulangi kebodohan masa lalunya.


Yang pertama ia akan bertanya pada istrinya, dari sikap Devi ia yakin isitrinya ini tahu lebih banyak dari pada dia sendiri.


...đŸ”šī¸...


"Sudah ngantuk?" tanya Beni pada istrinya yang sudah bersiap akan tidur.


"Hmmm ... kamu mau bicara apa?" Devi menegakan badannya dan bersender pada sandaran ranjang hotel.


"Anak Lea ... menurutmu ...." Beni menggantung perkataanya, ia bingung harus mulai dari mana takut jika istrinya harus terluka lagi.


"Aku ga punya hak untuk menjelaskan ini sama kamu." Devi memandangnya sendu.


"Kamu tahu??"

__ADS_1


"Maaf ... kamu boleh marah. Apapun itu, tapi ... jangan tinggalkan kami." Devi mulai terisak.


"Ngomong apa kamu?, mana mungkin aku meninggalkan kalian?" Beni merengkuh istrinya, mencoba menenangkan isakannya agar jangan sampai kedua putranya terbangun.


"Aku hanya ingin memastikan ... sejak kapan kamu tahu?"


"Aku bertemu saat Lea memeriksa kandungannya untuk pertama kali."


"Selama itu??, dan kamu menyimpannya sendiri? ... dia anakku Dev!." Beni menatapnya tidak percaya.


"Aku tahu ... aku tahuuu, aku minta maaf." Devi semakin tersedu, antara takut dan rasa bersalah mendera hatinya.


Beni semakin erat merengkuh tubuh ringkih istrinya, ikut merasakan kesakitan yang pernah ia ciptakan.


...đŸ”šī¸...


Semalaman Beni tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya mencari cara bagaimana bisa bertemu dengan Lea dan juga putrinya.


Pagi ini ia memutuskan untuk menghubungi Raymond, "Selamat pagi Pak Raymond."


"Selamat pagi, Pak Beni. Bagaimana istrirahatnya semalam."


"Baik ... baik. Eeemm, Pak Raymond saya ingin berbincang terkait pameran semalam dengan penanggung jawabnya ... Bu Lea, ada yang ingin saya sampaikan bisa saya minta nomer ponselnya?" Raymond terdiam di ujung sana. Beni dengan rasa berdebar menanti jawaban dari atasan Lea.


"... saya penanggung jawabnya, Lea hanya membantu saya," sahut Raymond datar.


Sebenarnya untuk hal teknis ia paling malas untuk turun tangan langsung, jika bisa semuanya akan dia serahkan ke bawahannya.


Tapi tidak untuk ini, ada rasa tidak rela jika harus membagi nomer ponsel Lea dengan pria lain meski itu urusan pekerjaan sekalipun.


"Oww begitu." Beni mengusap wajahnya dengan kasar.


"Semua urusan tentang Lea ... semua karyawan maksud saya, bisa melalui saya. Ada yang bisa saya bantu?" Raymond berkata tenang.


Ingin rasanya mengorek tabir yang selama ini membuatnya penasaran tentang Lea, ada apa dengan mereka?


...❤❤...


Haaii maaf lambat update, ini lagi lanjut nulis bab selanjutnya semoga bisa up lagi nanti malam 🙏🤗


Hari senin niiihhh ...


Abang Raymond dan Lea boleh di bagi votenya dong 🙏đŸĨē


Tapi jangan lupa juga like, komen, bunga ato kopinya dan favoritenya yaaa 🙏😍


*Give awaynya saat novel ini tamat* 😊


Promo lewat lagiii .. karya baru dari Dhevis Juwita "Mendadak Gangster"

__ADS_1



__ADS_2