
"Kamu sudah kenal lama dengan Pak Beni?" tanya Raymond dalam perjalanan mereka menuju kediaman mantan atasannya itu.
"Di kampung saya siapa yang tidak kenal dengan Pak Beni, beliau orang yang terpandang. Saya termasuk orang yang beruntung bisa punya kesempatan kerja di kantor Pak Beni ."
"Lalu kenapa keluar?"
" ... nikah?" sahut Lea, Raymond mengerutkan kening mendengar jawaban Lea yang terkesan tidak yakin.
Tidak berapa lama mereka sampai pada rumah putih besar bertingkat dua.
"Ayo kamu dulu, kan kamu jauh lebih kenal dengan Pak Beni." Raymond meminta Lea untuk berjalan terlebih dahulu.
Lea menggeleng, "Bapak aja, kan bapak bosnya," kelit Lea.
"Alasan aja," sungut Raymond tapi dia tetap mendahului Lea berjalan.
Menunggu pintu terbuka di hadapannya sama seperti menunggu giliran suntik mati bagi Lea.
"Silahkan masuk pak, duduk dulu sebentar lagi Bapak keluar." Mbok Tin pekerja rumah tangga keluarga Pak Beni, membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
"Eehh, mba Leaa lama ga ketemu kangen banget mbok nih, tinggal di mana sekarang??" Mbok Tin terkejut melihat Lea muncul dari balik badan Raymond, dengan terharu langsung memeluk Lea erat.
"Di Surabaya, Mbok gimana sehat?" Lea balas memeluk wanita paruh baya di depannya dengan erat.
"Alhamdulillah, sehat si Mbok ... eh maaf mba Lea kan tamu, mbok ke belakang dulu ya mau buat minum." Lea hanya tersenyum dan duduk di sofa bersebelahan dengan Raymond.
Lea mengikuti arah pandang Raymond yang sejak tadi masuk hanya terdiam.
Sebuah pigura foto besar yang berisi empat anggota keluarga Pak Beni, Bu Devi dan kedua putranya.
Keduanya terpaku tanpa bersuara hanya memandang foto yang terpasang di dinding.
Wajah putra Pak Beni terutama yang sulung Alexander, sangat mirip dengan Maura.
Bisa diibaratkan Alexander adalah versi cowok dari Maura.
"Maaf sedikit lama ... selamat datang." Suara Pak Beni yang baru masuk ke ruang tamu mengalihkan pandangan mereka dari foto keluarga.
"Kami baru saja sampai ... terima kasih." Raymond dan Lea berdiri dan memberikan salam pada pasangan suami istri yang berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Apa kabar Lea," sapa Bu Devi sambil tersenyum ramah, tapi matanya tidak bisa berbohong ada sirat kekhawatiran di dalamnya.
"Baik bu," jawab Lea singkat tanpa berani menatap langsung ke bola mata istri mantan bosnya itu.
Pak Beni bergantian menatap Lea dan istrinya lalu menarik nafas panjang dan tersenyum kecut.
"Kami sudah menyusun perencanaan biaya terkait promosi dan pameran Bapak, sesuai yang di sampaikan sekertaris Pak Beni via email beberapa hari lalu." Raymond membuka dan menyodorkan sebuah map berisi lembaran kertas bertuliskan angka-angka.
Beberapa saat Pak Beni mencermati lembaran-lembaran kertas di tangannya.
"Apapun yang ditawarkan perusahaan Pak Raymond saya setuju." Pak Beni menutup map tersebut dan tersenyum puas.
Devi melirik suaminya, banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. Kemarin suaminya hanya berkata jika ia bertemu Lea saat di kota, dan Lea akan datang ke rumah dengan atasan tempat ia bekerja sekarang untuk membicarakan persoalan pekerjaan.
Devi memindai wanita yang duduk di hadapannya, satu tahun lebih tidak bertemu sudah banyak perubahan dari Lea.
Pembawaannya yang lebih tenang dan dewasa, bentuk badan yang berisi semakin menampilkan sisi keibuannya.
Aahh, benar dia seorang ibu sekarang. Ibu dari anak pria yang juga suamiku. Apa Beni sudah tahu jika ia punya anak dengan Lea? Rasa penasaran dan kekhawatiran semakin berkecamuk dalam hati Devi.
"Lea kita ke dalam yuk, biarkan para pria ini bicara tentang pekerjaan." Devi berdiri mengajak Lea untuk mengikutinya, dari wajahnya Pak Beni sedikit tidak setuju namun istrinya berhasil meyakinkannya hanya dengan lewat isyarat mata.
Lea mengikuti langkah Devi ke arah taman belakang. Sampai detik ini Bu Devi masih bersikap ramah padanya, Lea masih ada rasa khawatir teringat kemarahannya malam itu.
Lea terhenyak mendengar pertanyaan Devi yang langsung mengarah pada anaknya.
"Baik bu, umurnya baru satu tahun setengah."
"Pasti lucu." Devi menatap Lea lekat. Lea hanya tersenyum tanpa memandang wajah wanita di sampingnya.
Terdengar tarikan nafas berat dari Devi, Lea tahu istri mantan atasannya ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu jangan khawatir, Pak Beni tidak tahu dan tidak akan pernah tahu." Lea meyakinkan, sebagai sesama wanita Lea sangat mengerti perasaan Devi.
"Saya tidak khawatir jika dia tahu, karena bagaimanapun anak itu juga haknya hanya ... saya takut," sahut Devi resah sambil meremas baju di dadanya.
"Takut apa ma?" Pak Beni dan Raymond sudah berdiri di ambang pintu belakang mereka.
Lea dan Devi saling bertatapan cemas jika dua pria itu ikut mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aah tidak, kami sedang ngobrol tentang ... tanaman." Devi menunjuk jejeran pot tanaman koleksinya.
"Kami mau permisi kembali dulu Bu Devi," Pamit Raymond sambil memberikan isyarat pada Lea.
"Oh ya, terima kasih banyak sudah mampir ke tempat kami. Sampai ketemu Lea, jika ada waktu ingin saya main ke tempatmu," ucap Devi ramah sambil menggenggam tangan Lea.
Menghangat hati Lea dengan kebesaran hati Devi. Tidak mudah bagi seorang istri untuk menerima kenyataan jika suaminya punya anak dengan wanita lain.
Selepas mobil yang dikendarai Raymond dan Lea menghilang dari pandangan mereka, Beni memeluk pinggang Devi dari belakang.
"Apa yang kamu pikirkan hmm?" bisik Beni di telinga istrinya. Devi hanya menggeleng menatap sendu pagar rumah mereka yang ditutup perlahan oleh penjaga rumah.
"Aku tahu, kamu takut aku kembali seperti dulu?" Beni membalik tubuh Devi menghadapnya.
"Takut? mungkin ... dia semakin cantik, masih muda, terlihat sangat menarik."
"Aku akui itu, tapi hatimu lebih cantik. Terima kasih sudah memaafkan dan menerimaku kembali." Beni menangkup pipi Devi dan tersenyum teduh.
Dia sedang tidak berbohong karena benar adanya, ia sangat memuja ketegaran istrinya ini.
Di saat seluruh penghuni kampung berkasak-kusuk tentang gosip yang beredar antara dirinya dan Lea, istrinya tetap tegar dan tenang tampil di depan umum menghadapi banyak tatapan mata ingin tahu dan rasa kasihan.
"Gombal, bisanya cuman ngomong." Devi mencebik tersipu.
"Kamu juga sukanya digombalin kan." Beni terkekeh pelan. Devi memeluk suaminya, dalam hati berharap tidak ada yang berubah jika suatu saat suaminya bertemu dengan anaknya dari Lea.
"Lihat foto keluarga Pak Beni tadi jadi ingat Maura, anaknya yang besar mirip sekali sama anakmu." Raymond berkata santai.
Oh tidak jangan sekarang. Lea mengeluh dalam hati. Sungguh ia belum siap mental jika disinggung masalah Maura.
"Masih saudara?" lanjut Raymond.
"Bukan. Maaf Pak, saya agak pusing boleh saya tiduran sebentar?" Lea mencoba berkelit dari pembicaran yang berbahaya ini.
"Bosmu sedang menyetir dan mau kamu tinggal tidur?, silahkan aja tidur, tapi jangan kaget kalau saat bangun nanti kamu sudah di hotel dan di ranjang yang sama dengan saya." Reflek tubuh Lea menegak kaku, padahal sebelumnya ia sempat sedikit memundurkan senderan kursinya agar lebih santai.
...đšī¸đšī¸đšī¸...
Maacih-maacih Vote, Like, favorite juga komen dari teman-teman kalian baik sekali đđĨ°đđ¤Š
__ADS_1
Kenalkan lagi nih karya teman aku Muh Iqram Ridwan