Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Masa lalu


__ADS_3

Belum ada sepuluh menit pesan terakhir diterima, ponsel Raymond berdering kembali masih dari nomer yang sama.


"Apa maumu?" tandas Raymond langsung tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Sekian lama tidak bertemu, tidakkah kamu ingin tahu kabarku Ray?" Suara di seberang sana terdengar mendayu.


Dahulu suara itu sangat memabukkan bagi Raymond, hanya mendengar helaan nafasnya saja sudah membuat dirinya melayang.


Suara yang membuatnya semangat untuk bekerja lebih keras tidak mengenal waktu, tidak juga mempedulikan badan yang terlampau lelah hanya agar sang wanita tercukupi dengan limpahan materi yang ia sodorkan dan tetap berada di dalam pelukannya.


"Apa maumu Dea!!" seru Raymond geram. Gilang yang masih duduk di hadapannya, membelalakan mata mendengar nama ibu dari William disebut.


"Bagaimana kabarmu Ray?, aku di Indonesia sekarang. Don't you miss me?" Dea tidak menghiraukan suara amarah dari Raymond.


"Aku tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu, sebutkan apa maumu menghubungiku."


"Mmm, masih seperti dulu tidak sabaran dan suka ngambek." Raymond menarik nafas panjang berusaha mengelola emosinya.


Ia tahu menghadapi mantan istrinya ini harus penuh dengan kesabaran, karena Dea penuh dengan taktik dan sangat pintar mempengaruhi emosi lawan bicaranya.


"Cepatlah!


"Apa kabar anakku Ray, aku ingin bertemu William."


"Anakmu?, anak yang kamu biarkan menonton kemakziatan ibunya maksudmu?" Emosi Raymond kembali naik lagi. Ia berjalan dan berdiri menatap ke luar jendela.


Butuh pemandangan yang lapang saat suasana hatinya mendadak gelap pagi ini.


"Aku dengar kamu sudah menikah?" Dea mengabaikan perkataan Raymond yang menghinanya.


"Ternyata kamu butuh waktu yang lama juga untuk melupakan aku?, apa kamu benar mencintai dia atau hanya sekedar pelarian Ray?" Dea terkekeh di seberang sana, menambah panas hati Raymond.


"Itu bukan urusanmu!, butuh waktu lama melupakanmu? hah!, jangan buat aku mati tertawa. Aku bahkan tidak ingat kalau William lahir dari seorang wanita."


"Aku ingin bertemu dengannya. Aku datang ke rumah kita, ternyata kamu sudah pindah. Aku kecewa Ray, rumah itu kenangan kita." Suara Dea kembali mendayu, terdengar menjijikan di telinga Raymond.


Raymond sangat bersyukur keputusannya untuk pindah dari rumah itu ternyata sudah sangat tepat. Walaupun maksudnya bukan untuk menghindari mantan istrinya itu, tapi untuk memberikan suasana yang lain untuk keluarga dan hidup barunya.


"Jauhi dia Dea, dia sudah jauh lebih baik. Jangan kamu merusaknya lagi."


"Apa maksudmu aku merusaknya!, kamu yang menjauhkan dia dari aku Ray!. Kamu tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan anakku!. Seorang anak butuh ibunya!" Dea berteriak di ujung sana.


"Ibu bagaimana yang kamu maksud?. Sepertimu?, yang selalu mempertontonkan tingkah mesumnya setiap hari??!!" Raymond tak kalah keras berteriak.

__ADS_1


"Aku mencintainya!, aku mencintai Andrew! kamu tahu itu, tapi kamu sudah berbohong Ray, kamu memfitnah Andrew berselingkuh agar aku mau menikah dengan kamu!"


"Apa bedanya aku dengan kamu?, bekerja keras hah?, main pangku-pangkuan sama perempuan itu yang kamu bilang bekerja?" Dea terus membakar emosi Raymond. Ia sangat memahami kelemahan mantan suaminya itu.


"DIAAAMM!!" Raymond melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


"Ray, Ray!" Gilang mengambil ponsel Raymond yang sudah tidak berbentuk lagi.


Gilang mendesah dan menggelengkan kepala melihat nasib ponsel berharga puluhan juta itu, sekarang bentuknya sangat menyedihkan.


Setelah menghubungi sekertaris Raymond untuk meminta teh hangat, Gilang mendekati Raymond.


"Ray," Gilang menepuk punggung sahabatnya perlahan. Wajah Raymond masih memerah sisa kemarahannya yang tadi.


"Aku ga mau dia ketemu William." Raymond menggelengkan kepalanya keras.


Anaknya itu sejak ia menikah sudah jauh lebih baik, menjadi lebih dewasa karena merasa dibutuhkan dan di sayang.


Dea dan Andrew adalah model yang sering dipakai jasanya oleh perusahaan Raymond untuk berbagai macam acara.


Raymond jatuh cinta sejak pandangan pertama pada modelnya itu, sayangnya Dea sedang menjalin hubungan dengan Andrew.


Kedekatan Andrew dengan model lainnya, dijadikan senjata oleh Raymond untuk mempengaruhi dan mendekati Dea yang sudah lama diincarnya.


Namun itu saja ternyata tidak cukup mempertahankan Dea menjadi istrinya.


Dea kembali berhubungan dengan mantan pacarnya, bahkan jelas-jelas di depan matanya.


Ia masih berusaha menutup mata karena rasa cintanya, tapi Dea telah melampaui hal yang paling sensitif bagi Raymond. Dea membawa pria itu ke hadapan William.


"Ponselmu rusak Ray."


"Buang saja," ucap Raymond tak peduli.


...đŸ”šī¸...


Ting Tong ....


Bel rumah berbunyi saat Lea berada di dapur bersama Mbok Nah.


"Saya aja yang bukain Nya." Mbok Nah dengan langkah tuanya berjalan pelan ke arah ruang tamu.


"Siapa Mbok?" tanya Lea, saat tidak mendengar suara apapun dari ruang tamu.

__ADS_1


Mbok Nah dengan wajah kalut, berjalan kembali ke arah dapur. Sesekali ia menoleh ke arah ruang tamu dengan rasa khawatir.


"Siapa Mbok?" tanya Lea khawatir. Melihat reaksi Mbok Nah, pikirannya terbang kemana-mana.


Ia menyesal tidak memberikan pesan pada Mbok Nah, jika tidak kenal jangan dulu membukakan pintu karena banyaknya kejahatan di siang hari saat rumah sepi.


"Mmm, itu Nya ada ... ada ibunya William," ucap Mbok Nah ragu. Ia takut terjadi sesuatu di saat tuannya tidak ada di rumah.


Pertengkaran tuan dan mantan nyonyanya terakhir, memberikan ingatan yang sangat buruk bagi Mbok Nah dan William.


"Ibunya William?" Kening Lea berkerut. Ibunya William berarti mantan istri suaminya.


Ada apa ia datang ke rumah?, mengapa suaminya itu tidak memberi kabar jika ibunya William akan datang?


Beribu pertanyaan hilir mudik di kepala Lea. Sebenarnya ia belum siap bertemu orang dari masa lalu suaminya, tapi orang itu sudah ada di ruang tamunya dan mau tidak mau ia harus menemui mantan istri Raymond itu.


"Selamat siang." Lea masih berdiri menatap wanita yang duduk dengan anggun di sofa miliknya.


"Selamat siang, kamu pasti istri baru dari mantan suamiku." Dea berdiri dari duduknya. Ia menekankan kata baru kepada Lea untuk menjatuhkan mentalnya.


"Kenalkan namaku Dea," tangannya yang panjang dan lentik terulur.


"Lea ... Bintang Amalea," ucap Lea lirih. Ia merasa sangat lusuh sekali berdiri di hadapan model cantik seperti Dea.


Tampilannya benar-benar mencerminkan model profesional. Tubuh yang tinggi dengan bentuk yang proposional bagi seorang model, rambut pendek berwarna kecoklatan memperlihatkan leher jenjangnya.


Akhirnya Lea tahu dari mana wajah tampan William berasal, jika tubuh besarnya di adopsi dari Raymond, wajah blasteran William berasal dari mamanya.


"Silahkan duduk." Lea menyelipkan daster di bawah tubuhnya saat duduk. Walaupun harga dasternya juga bukan tergolong murah untuk sekelasnya, tapi mendadak terlihat tidak berharga berdampingan dengan setelan mahal di tubuh Dea.


"Saya mau bertemu dengan anak saya." Dea tersenyum manis, matanya mencari-cari keberadaan William.


...❤❤...


Update lagi tengah malam seperti mak kunti 😅


Love (favorite) : biar kamu ga ketinggalan updatenya


Like dan komen, vote sebagai sumber semangatkuuu đŸĨ°đŸ™đŸ¤—


Permisi promo lagi, punya teman sesama author


__ADS_1


__ADS_2