Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Booomm


__ADS_3

Mendapat tatapan menyelidik dan tajam dari undangan yang hadir, Beni memilih segera angkat kaki dari ballroom hotel.


Lea yang masih belum sepenuhnya kembali dari awang-awang setelah beradu bibir dengan Raymond, menurut saja kemana pria itu menggiringnya bagaikan robot.


"Kenapa diam aja ... mau lagi?, nanti ya kita puas-puasin." Raymond menggoda.


"Apa sih!" cetus Lea menutupi rasa malunya. Untunglah riasan wajahnya cukup tebal jadi bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Kurang satu jam lagi." Raymond melirik jam di lengannya.


"Memang mau ada apa?"


"Ga ada apa-apa, hanya mau kasih tahu sewa gedung ini berakhir satu jam lagi. Tamu-tamu juga sudah tinggal sedikit." Raymond menunjuk ke arah tengah ballroom yang menyisakan beberapa orang undangan termasuk keluarganya.


"Kamu ga makan?"


"Kan tadi sudah makan?" sahut Lea heran.


"Makan lagi maksudnya sebelum acara selesai." Raymond menarik tangan Lea ke arah meja prasmanan.


"Ga ah, sudah malem." Lea menggeleng.


"Makan aja, kita butuh tenaga banyak nanti." Raymond tetap mengambilkan Lea sepiring nasi beserta lauknya.


"Tenaga apa? Ga ah, saya sudah kenyang." tolak Lea.


"Tenaga untuk malam yang panjang apalagi kalau bukan itu, cepat makan." Raymond menyodorkan piring lalu menunggui hingga Lea menghabiskan makanannya.


"Sudah kenyang Pak, saya ga sanggup lagi ini pedas banget." Lea menaruh piring yang isinya masih tersisa sedikit di atas meja, lalu pergi mencari minum tanpa menunggu ijin dari Raymond.


"Ray, kamu ajak istrimu istirahat aja. Tamu juga sudah pulang, tinggal kenalan Papa sama Mamamu." Tante Silvi menggiring Lea dan Raymond keluar dari ballroom menuju kamar pengantin mereka.


"Eh, maaf Tan saya kok ke sini? kenapa ga pulang?" tanya Lea heran saat berada di lorong kamar hotel.


"Loh di sini dulu toh, masak langsung pulang." Tante Silvi menyerahkan kunci kamar ke tangan Raymond.


"Anak-anak?" tanya Lea khawatir.


"Aman ... amaaann, udah kalian ga usah khawatir. Buruan masuk!" Tante Silvi mendorong sepasang pengantin itu masuk ke dalam kamar lalu menutupnya dari luar.


"Maura dan William di mana Pak?" tanya Lea pada Raymond yang sudah melepas jas dan dasinya.


"Mereka sama Mama, sebagian keluarga menginap juga termasuk Maura dan William." Raymond sudah mulai membuka kemejanya.


"Eh, saya ... sama Maura aja ya Pak. Takut kalau dia rewel." Lea membalikan badan membelakangi Raymond yang sudah bertelanjang dada.


"Yang rewel kamu atau Maura?" Raymond tertawa dalam hati melihat Lea yang seperti ketakutan berada di pojok ruangan.


Sementara itu di lantai hotel yang lain Lukman, Nina, Kinanti dan Gilang berjalan menuju kamar mereka masing-masing.


"Astagaaa, aku lupa!" Lukman menepuk dahinya. Ketiga temannya ikut berhenti dan memandangnya heran.


"Aku belum sempat cerita tentang kondisi psikologisnya Lea," ucap Lukman pelan.


"Segawat itu kah?" tanya Gilang, hanya dirinya yang tidak tahu menahu tentang Lea.


"Sangat gawat, coba telpon Raymond deh ajak ketemu dulu," saran Nina.


Lukman mencoba berkali-kali menghubungi Raymond, sementara Nina mencoba menghubungi Lea. Tapi semua nihil tanpa hasil, karena tanpa mereka ketahui, ponsel Lea dan Raymond sudah disita oleh Tante Silvi.

__ADS_1


"Samperin ke kamarnya aja, ada yang tahu di kamar nomer berapa mereka?" usul Gilang, semua menjawab dengan gelengan.


"Tadi Lea juga cerita kalau ia menduga kamu dan Raymond ada hubungan spesial." Nina tertawa geli.


"Mampuusss!" Kinanti memegang kedua pipinya. Semuanya beralih menatap Kinanti.


"Lea sepertinya terpengaruh banget gosip yang beredar di kantor kalo Pak Raymond itu bis*eksual, aku sih tau kalau itu ga bener tapi ga nyangka kalo Lea segitunya percaya," ucap Kinanti lesu.


"Pantas aja Lea ngomongnya aneh betul kemarin, pakai minta maaf segala," sahut Lukman sambil menggelengkan kepala.


Beberapa saat mereka berempat terdiam di tengah lorong kamar hotel, beberapa detik kemudian, "Aahh sudahlah mereka sudah berpengalaman soal begituan, ga perlu kita ikut bingung. Ayo tidur." Gilang menarik tangan Kinanti.


"Eeehhh, mau ngapain? Ini juga mau-mau aja ngikut." Nina menarik balik tangan Kinanti.


"Namanya juga usahaaaa," sahut Gilang, sambil jalan di seret oleh Lukman.


...đŸ”šī¸...


"Kamu ngapain di sana?, ga panas apa pakai baju itu terus?, oww tunggu saya bantu lepasin?" Raymond menggoda.


Pelan-pelan ia mendekati Lea dari belakang, saat jarinya menyentuh resleting gaun pengantin Lea terkejut.


"Saya bisa sendiri." Reflek Lea membalikan tubuhnya, tapi posisi itu rupanya sangat membahayakan.


Ia berdiri berhadapan dengan Raymond sangat dekat, wajahnya tepat berada di depan dada Raymond yang telanjang.


"Kamu kenapa sih?" Raymond merasa geli melihat Lea berjalan menyamping mencari celah keluar dari kukungan Raymond.


Saat Lea berada di hadapannya tadi, Raymond bisa merasakan hembusan nafas hangat Lea di dadanya. Ingin rasanya menerkam istrinya saat itu juga, tapi melihat reaksi Lea ia ingin sedikit bermain-main dulu.


"Anu, eh ... saya mau ambil baju ganti," sahut Lea kikuk.


"Ini apaa??, ini bukan punya aku." Lea mengangkat sebuah baju 'dinas' berwarna merah yang sangat minim. Keningnya berkerut memandang baju yang ada di tangannya.



"Punya siapa ya Pak?" tanya Lea sambil mengangkat gaun itu ke depan wajah Raymond.


"Aahh, itu mungkin hadiah dari Tante Silvi. Tadi Tante Silvi bilang mau kasih kamu hadiah untuk di pakai malam ini ... ya berarti benar itu punyamu, pakai aja."


"Saya?, pakai ini?? Ga mau!" Lea melempar pakaian 'dinas' itu ke atas tempat tidur.


"Ya ga apa-apa kalau ga mau pakai. Pilihannya tinggal tidur pakai gaun pengantin atau ... tidak pakai apa-apa sama sekali." Raymond mengangkat sebelah alisnya.


Lea kembali menyambar pakaian 'dinas' itu dan juga mengambil selimut yang terlipat.


"Kamu mandi dulu?" tanya Raymond berusaha menyembunyikan senyumnya. Lea hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama di dalam, Lea kembali membuka pintu kamar mandi, "Pak ... boleh minta tolong." Lea menunduk malu.


"Tangan saya ga sampai ... buka resletingnya." Raymond hampir saja tertawa terbahak melihat raut wajah Lea yang merah padam.


Ia tidak mengatakan apa-apa hanya memberi kode dengan tangannya agar Lea segera membalikan badannya.


Raymond sengaja menurunkan resleting gaun Lea dengan sangat perlahan, jarinya ia sentuhkan ke kulit punggung Lea.


"Cukup!, terima kasih." Lea segera berbalik, saat resleting gaunnya terbuka sampai di pertengahan punggungnya.


Raymond yang sedang menikmati halusnya kulit punggung Lea, sedikit terkejut saat Lea tiba-tiba berbalik menghadapnya, seketika imajinasi liarnya terputus.

__ADS_1


"Mandinya jangan lama-lama Lea." Raymond berteriak dari luar kamar mandi.


Lima belas menit lebih berlalu Lea masih belum keluar dari kamar mandi.


Raymond dengan tidak sabar mengetuk pintu, "Leaaa sudah belum? kalau sudah selesai mandi, cepat keluar."


"Sebentar Pak, perut saya sakiiitt." Lea membalas dari dalam.


Hampir tiga puluh menit Lea akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajahnya sedikit pucat dan lemas.


Raymond tidak bisa menyembunyikan tawanya saat melihat Lea keluar kamar mandi dengan seluruh badan terbungkus selimut.


"Kamu mau ngapain?, bajunya bagus kenapa ditutupin? Kamu kalau seperti itu jadi mirip lemper ... hmmm saya jadi lapar." Raymond bergerak mendekati Lea yang duduk di pinggir ranjang.


"Pak, mandi! sergah Lea kesal melihat tingkah bosnya malam ini yang berubah menjadi tengil.


"Oww okee, siaaap saya mandi dulu. Tunggu yang sabar di sana." Raymond berjalan mundur sambil memberikan kedipan mata menggoda.


"Kamu kenapa?" Raymond yang selesai mandi panik saat melihat Lea merintih bergelung selimut sambil memegang perutnya.


"Perut saya sakiiitt, ini juga gara-gara Bapak tadi paksa saya makan pedas." Lea meringis menahan sakit yang melilit.


"Saya kan ga tau kalau itu pedas, sini saya bantu oleskan minyak." Raymond mengambil minyak kayu putih di atas meja samping ranjang.


"Tadi sudah," tolak Lea.


"Saya buatkan teh hangat ya?" Raymond memandang iba, ia mengusap dahi Lea yang berkeringat menahan sakit.


"Minum dulu," Raymond membantu Lea duduk lalu memberikan segelas teh yang baru dibuatnya.


"Pak ... saya mau tanya tapi jangan marah ya." Lea duduk bersandar dengah gelisah.


"Bapak dan Mas Lukman ... ada hubungan spesial?" tanya Lea takut.


"Spesial bagaimana maksudmu?" Kening Raymond berkerut.


"Eeh, seperti pacaran." Raymond membesarkan matanya kaget mendengarkan ucapan Lea.


"Saya dan Lukman? apa katamu tadi? pacaran?? Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?" tanya Raymond kesal.


"Teman-teman di kantor, saya juga lihat sehari-hari Bapak dan Mas Lukman intim sekali." sahut Lea lirih, "Eeh, saya ga apa-apa kok Pak. Rahasia Bapak aman di saya," lanjut Lea tiba-tiba sebelum Raymond mengatakan sesuatu.


"Ga ada yang lain gitu Lea?, kenapa saya harus di gosipkan dengan laki-laki?? kenapa ga Santi, Claudia, Emmy ... kenapa harus Lukman??!" seru Raymond frustasi.


Harga dirinya sebagai penakluk wanita seakan terjun bebas saat di gosipkan dengan sesama lelaki.


Lea merasa ga enak hati melihat bosnya itu uring-uringan akibat berita yang dia bawa. Ia berniat menghabiskan teh hangat yang di buat Raymond dan segera tidur.


Brrootttt ... Dhuuussss


Tiba-tiba suara asing diiringi aroma tidak sedap memenuhi kamar sesaat setelah Lea menghabiskan tehnya.


Raymond dan Lea bertatapan melongo tidak percaya dengan yang terjadi.


Sedetik kemudian Lea menenggelamkan dirinya masuk ke dalam selimut.


Raymond mendesah kesal, "Mungkin ini yang dinamakan malam panjang yang benar-benar memabukkan."


"Maaf ... maaafff," seru Lea dari balik selimut.

__ADS_1


...❤❤...


__ADS_2