Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Ketok Palu


__ADS_3

Lea berdiri terpaku melihat koper yang terbuka di tengah kamar. Sambil menidurkan Maura ia melirik ke dalam isi koper tersebut.


Pakaian Kak Erik ... semuanya punya Kak Erik. Lea membuka lemari, sisi lemari bagian Erik sudah kosong seluruhnya.


"Kak ...." Lea tergesa keluar dari kamar. Erik menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku hanya mempermudah semuanya, aku ga mau kamu semakin tersiksa hidup bersamaku." Erik mengusap rambut Lea.


Luruh air mata Lea, "Aku ... maaf aku ga bermaksud tidak menghargai kebaikan Kak Erik, aku hanya ...."


"Aku tahu ... aku tahu. Maafkan aku yang mengacaukan semua. Aku juga terlalu egois." Erik menatap Lea lekat.


"Ghea?"


"Aku berpisah denganmu, bukan karena ingin langsung menikahi Ghea. Aku tetap akan bertanggung jawab, tapi biarlah berjalan apa adanya."


"Kak Erik mau kemana?"


Erik menarik nafas panjang lelah, "Aku tadi dibantu Ghea keliling cari tempat kos, syukurlah dapat masih dekat kantor."


"Yaah sementara kos dulu, belum sanggup beli rumah hehehe ...." Erik tertawa pedih.


"Selama kita menikah, aku belum bisa berikan kamu sesuatu, yang ada aku malah menyakiti kamu." Mata Erik memerah menahan tangis, tangannya mengusap sudut bibir Lea yang pernah lebam karena perbuatannya.


"Kak Erik sudah berikan yang terbaik dalam hidupku, dan itu tidak bisa dinilai dengan apapun. Kalau saja tidak ada Kakak saat itu, mungkin saat ini aku sudah berada di rumah sakit jiwa, dan Maura juga tidak pernah ada."


"Aku masih bisa ... bertemu Maura?" Lea mengangguk.


"Selamanya Maura tetap anak Kak Erik."


"Boleh aku memelukmu ... mungkin untuk yang terakhir?" Suara Erik tercekat menahan air mata yang hampir saja terjatuh.


Lea tidak menjawab tapi langsung memeluk Erik dengan erat dan ikut menangis.


Malam itu mereka lewati berdua, dengan saling mencurahkan perasaan tanpa kata hanya dalam bahasa air mata dan pelukan.


...đŸ”šī¸...


Keputusan sidang perceraian sudah keluar, Erik dan Lea resmi berpisah tanpa ada perdebatan sengit lagi.


"Nin, ini ... maaf lama pakainya. Tempat kos ku dekat dengan tempat kerja, jadi aku cukup jalan kaki." Erik menyerahkan kunci sepeda motor yang pernah dipinjamkan Nina saat awal mereka datang di kota ini.


"Ehh, ga apa-apa Kak. Pakai dulu aja, jangan gitu ah. Ga ada hubungannya perceraian kalian dengan pinjam meminjam motor, kita tetap berteman oke." Nina menolak menerima kunci yang disodorkan Erik.


"Terima kasih ya Nin, maaf aku mengecewakan kalian. Kamu sudah bantu aku cari kerja, pinjemin motor ... hhhhh." Erik mengusap wajahnya kasar, lelah perang batinnya selama ini sedikit mereda, setelah keputusan berat dia ambil.

__ADS_1


"Apaan sih Kak, aku tuh tulus bantunya ga perlu di ungkit," cetus Nina.


"Boleh ... aku gendong Maura?" Erik memandang Maura yang bergelayut di leher Nina.


"Paap ... paaa." Tangan kecil Maura terulur meraih lengan Erik yang mengarah padanya.


"Ya sayang, ini papa ... ini papa." Erik mencium haru seluruh wajah Maura dengan sayang.


Maura tidak mengerti apa yang sedang terjadi, terkekeh geli sembari memainkan kacamata dan rambut Erik.


Kesekian kalinya air mata Lea dan Nina menetes, melihat begitu sayangnya Erik pada Maura yang bukan darah dagingnya.


Nina yang sejak awal mengikuti persidangan, mendampingi Lea sambil menggendong Maura juga tak henti-hentinya meneteskan air mata.


Ia sangat tahu bagaimana perjuangan Erik mendapatkan Lea, dan saat Erik berat melepas Lea, Nina dapat memahami apa yang dirasakan pria itu.


"Walaupun aku bukan orang tua kandungnya, bolehkah Maura tetap memanggilku papa?" tanya Erik sedih sambil terus mengusap pipi dan rambut keriting Maura.


"Selamanya Kak Erik tetap papa yang terbaik bagi Maura. Nama yang diberikan Kakak, Bintang Maura Anersa ... anak erik saputra, ingat?" Erik tersenyum haru, namanya akan dibawa terus oleh Maura selamanya.


"Terima kasih Lea, aku bersyukur pernah sempat memilikimu, jaga dia baik-baik." Dengan berat hati Erik menyerahkan Maura ke tangan Lea.


"Pintu rumah selalu terbuka untuk Kakak, kapan saja mampirlah. Maura pasti rindu kalau ga ada papanya di rumah."


Erik mengangguk, "Jaga diri baik-baik, jangan ragu hubungi aku kalau butuh bantuan aku masih Erik yang kamu kenal."


"Mana ada." Lea mencebik.


"Kalau mau nangis, nangis aja ga usah malu. Cuman aku yang lihat, Maura juga sudah tidur." Nina masih terus menggoda Lea yang sejak mobil berjalan, terus diam memandang keluar jendela.


"Kalaupun aku nangis bukan karena menyesal, tapi wajar kan kalau aku sedih. Kamu juga tadi nangis," sahut Lea dengan nada merajuk.


"Resmi jadi janda nih, janda khembhaang hahaha ...."


"Iihhh tak patut tau." Lea menarik daun telinga Nina.


"Tapi kamu memang ngeselin, aku pacar aja belum punya kamu sudah duluan nikah, terus punya anak sekarang malah cerai. Ingat ya jangan sampai kamu nikah lagi sebelum aku, ga rela aku kamu langkahi dua kali."


"Ga bakal Nin, kemarin nikah bukan karena keinginan aku juga. Sekarang fokusku hanya untuk Maura."


"Yaah anggap aja kamu pinjem jodohnya orang selama setahun ini."


"Rasanya jatuh cinta tuh gimana sih Nin?" tanya Lea setelah mereka terdiam agak lama.


"Hehh?, sudah beranak masih tanya rasanya jatuh cinta?, tanyanya sama aku lagi, yang belum punya pacar. Kamu nanya ato ngeledek?"

__ADS_1


"Aku tuh tanya serius, kamu kan tau aku gimana." Lea berkata lirih.


"Katanya sih kalau ketemu gebetan tuh kita deg-degan, keringat dingin, lemes,---."


"Itu jatuh cinta apa laper Nin?," gurau Lea.


"Beda tipis hahahahaa ... kamu harus sering nonton drama korea. Lengkap tutorialnya di sana mulai dari pedekate, sampai uhu-uhunya juga ada."


"Jadi kalau ada cowok yang pedekate kamu tahu, ga lempeng-lempeng aja seperti dulu. Kak Erik deketin kamu sudah kasih lampu merah kuning hijau, masih aja ga sadar." Lea tersenyum mengingat masa-masa sekolah mereka.


...đŸ”šī¸...


"Ramai?"


"Eh, dokter tumben main di Mall sama siapa?" Lukman berdiri di samping Lea sambil mengamati brosur yang dia pegang.


"Ini malam minggu Lea, kamu sendiri ngapain masih kerja malam minggu gini."


"Namanya juga kerja di Mall dok, justru ramai kalau malam minggu."


"Jangan panggil dokter lah kalau di luar, panggil nama aja ... Lukman. Bagaimana keadaanmu, sepertinya sudah lebih baik."


Lea mengangguk dan tersenyum cerah, "Iya, jauh lebih baik."


"Tidak perlu saran saya yang dulu?, bawa suami untuk konsultasi sama-sama?"


"Sudah jadi mantan." Lea tertawa pelan sambil menutup mulutnya. Walau perih, tapi kata mantan yang disematkan pada Erik sedikit terasa lucu baginya.


"Kamu ... cerai?" Lukman terbelalak.


"Iissh jangan keras-keras dong, malu." Lea melihat sekelilingnya takut ada yang mendengar.


Sengaja Lukman mengeraskan suaranya, karena tahu Raymond ada di balik mobil yang dipamerkan sedang memasang kupingnya dengan baik.


...❤❤...


Maafkan kemarin bukan tidak mau double up 🙏, tapi lagi buat video untuk dipromokan besok sekali lagi maaf ya 🙏đŸĨē


Follow IG saya yang khusus untuk promosi novel : ave_aveii


Terima kasih atas bunga sekebon, secangkir kopi, vote, jempol dan komen dari teman-teman 🙏 sangat membuat saya semangat 🤗 semoga cerita ini tetap membuat teman-teman betah mengikuti.


Saya juga mau menyampaikan dukacita bagi korban bunuh diri di Mojokerto (yang beritanya) diperkosa dan dipaksa aborsi. Mengingatkan saya kisah Lea ini, bahwa menjadi korban pemerkosaan itu sangat traumatis apalagi sampai mengandung. Jaga diri baik-baik bagi teman-teman di sini yang belum menikah, dan bagi orang tua yang punya anak gadis maupun bujang 🙏


Promo lewat lagi ya karya dari teman aku Gupita : I'm A night Butterfly

__ADS_1



__ADS_2