Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Kita bersalah


__ADS_3

...Langkah awal pemulihan adalah saling keterbukaan...


"Ga banyak sih yang aku baca ... tapi tolong kakak jangan marah." Potong Lea sambil menggenggam tangan Erik dengan tatapan memohon.


Erik menarik nafas perlahan, bagaimana ia bisa marah jika ia sendiri sudah melakukan hal yang jauh lebih fatal.


"Dari chat Kak Erik, menurut aku kakak terlihat sayang sekali sama Ghea ... Kak Erik selalu ingatkan makan, sakit jangan lupa minum obat, tanya sudah bangun atau belum, itu bentuk dari perhatian juga kan kak?"


"Wajar ... kan kami teman," sahut Erik salah tingkah.


"Perhatian hanya ke Ghea?, bagaimana dengan Febri, Nina juga Masha. Kak Erik memperlakukan mereka dengan cara yang sama?"


"Sebetulnya apa sih yang mau kamu bicarakan Lea?" tanya Erik lelah.


"Memastikan perasaan Kak Erik."


"Apa yang ingin kamu tahuuu?" Erik mulai sedikit terpancing emosinya.


"Itu tadi ... perasaan kakak ke Ghea, Kak Erik suka?"


Erik menatap Lea dalam dan lama, "Kalau iya, bagaimana?"


Lea sedikit terkejut dengan pengakuan Erik. Ia tidak menyangka Erik akan cepat terbuka seperti ini.


"Eehh ... ya aku tidak apa - apa, kalau benar suka perjuangin dong kak." Lea tertawa canggung.


"Kamu minta suamimu mengejar wanita lain??" Erik menatap Lea dengan heran.


"Lalu harapanmu apa jika aku benar - benar mengejar Ghea?, kamu sudah siap poligami?"


"Eehhhh ... mana bisa begituuu." Lea melirik Erik kesal.


"Lalu?"


Lea merapikan duduknya lalu memutar arah badannya menghadap Erik, "Jika cinta kakak bersambut, Kak Erik bisa menikahi Ghea ... tentunya setelah kita berpisah," lanjut Lea pelan.


Erik memicingkan matanya, "Berpisah, maksud kamu bercerai?"


Lea tidak menjawab hanya menatap Erik penuh dengan kekhawatiran. Ia tahu pernintaannya sebagai seorang istri terdengar sangat gila. Bahkan lebih gila, dari pada istri yang mencarikan madu bagi suaminya.


"Kamu meminta aku menikahi Ghea dan kita bercerai?" Erik menekankan sekali lagi.


Lea hanya mengangguk untuk menanggapi.


"Otak kamu di mana Lea??, tidak ada seorang istri yang ikhlas suaminya menikah lagi. Ini kamu malah menyuruh aku mengejar wanita lain??"


"Kalau mau jujur aku pun tidak rela, kak. Aku juga tidak mau kehilangan perhatian dari orang yang sedari awal melindungi aku ... tapi aku punya alasan." Suara Lea merendah ketika mengatakan hal terakhir itu.


"Apa alasanmu?" tanya Erik jengah.

__ADS_1


"Kalian saling mencintai,"kata Lea lugas.


Erik menaikan kedua alisnya lalu tersenyum miring.


"Okelah jika benar kami saling menyukai. Tapi itu bukan suatu alasan yang tepat untuk kami bersatu Lea?. Aku sudah menikah, aku punya kamu dan Maura!."


"Kakak bahagia?"


"Jelas aku bahagia."


"Kalau benar bahagia, kenapa hampir setiap malam kakak duduk di teras menghubungi Ghea?, mengapa kakak begitu perhatian dengan kak Ghea melebihi dari sekedar teman?"


"Kamu cemburu?"


Lea terdiam sesaat lalu melanjutkan, "Jelas aku cemburu, aku istri Kak Erik."


"Berarti kamu sudah mencintai aku Lea?" Lea tergagap tidak bisa menjawab pertanyaan Erik.


"Kalau benar kamu cemburu berarti kamu sudah mencintai aku. Jika kamu sudah mencintai aku berarti kamu sudah siap menunaikan tugasmu sebagai istri?" Badan Lea seketika menjadi tegang mendengar perkataan Erik.


"Kenapa diam Lea?" lanjut Erik.


"Apakah semua itu berhubungan?, mencintai ... cemburu ... berhubungan intim. Itu menjadi satu kesatuan?"


"Jelas, semua pasangan yang mencintai pasti akan ada rasa cemburu jika pasangannya dekat dengan lawan jenis yang lain. Jika resmi menikah, mereka akan melakukan hubungan intim untuk meneruskan keturunan ... dan kita belum sampai pada tahap itu." Erik setengah berbisik pada Lea.


" ... apa maksudnya?" Erik kembali menegang.


"Kak Erik dan Ghea sudah melakukan hubungan intim." Bola mata Erik bergerak - gerak memandangi wajah Lea dengan gelisah. Mencoba mengingkari arti dari kalimat yang Lea ucapkan.


" .. itu aku juga baca pesan di handphone Kak Erik ... maaf." Lea menunduk.


Erik berdiri lalu melangkah ke luar rumah.


"Kak ... mau kemana?" Lea mengejar Erik dan menariknya masuk ke dalam rumah kembali.


"Lea ... aku ... aku malu sama kamu. Aku sama sekali tidak punya muka di hadapanmu." Erik terus menghindari melihat wajah Lea.


"Kak, dengarkan aku dulu. Kita harus bicarakan ini dulu." Lea menarik tangan Erik untuk duduk di sofa ruang tamu.


Erik menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku minta maaf Lea, aku tidak bermaksud mengkhianati kamu ... sungguh." Erik terisak.


"Semua terjadi begitu saja."


"Kak Erik sadar melakukan hal itu?" tanya Lea. Erik mengangguk masih dengan menutup wajahnya.


"Ghea bagaimana?" lanjut Lea.

__ADS_1


"Dia tidak menuntut apapun, bahkan selalu terkesan menghindar."


"Aku minta maaf kak, semua ini salahku tidak bisa memberikan hakmu sebagai suami." Lea ikut meneteskan air mata.


"Kita berdua sudah salah Lea. Aku yang berkhianat mengingkari janji suci pernikahan, dan kamu pun salah karena mengabaikan hak suami."


"Ceraikan aku kak." Lea berkata lirih.


Isakan Erik semakin terdengar keras, "Aku ga bisa Lea. Aku sayaaang kamu dan Mauraaa. Kita berdua sudah sampai sejauh ini dan kamu meminta pisah?" Erik menatap Lea dengan mata memerah dan berkaca menahan tangis.


"Aku juga sedih kak. Tapi jika kita tetap bersama, tidak adil bagi Ghea ... lagi pula Kak Erik juga mencintai Ghea kan?"


Erik menggeleng - gelengkan kepala dan mengucapkan istighfar berulang kali.


"Mengapa kita harus jadi seperti ini sih Lea?" Erik menangkup pipi Lea dan memandangnya lekat.


"Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini?" Lea mengangkat bahu sambil berusaha tersenyum menahan tangis.


"Aku sudah janji pada almarhum ibu untuk menjagamu Lea."


"Kak Erik sudah benar menjaga aku dan Maura dengan baik sampai sejauh ini, jika ibu ada pasti juga senang."


"Kak, aku hanya tidak mau bersenang di atas penderitaan wanita lain."


"Apa kamu juga tidak merasa menderita jika aku bersama wanita lain?, sama juga kan dengan Ghea. Aku yakin Ghea pasti tidak mau jika kita berpisah karena dia."


"Beda kak ... Kita benar mempunyai status resmi sebagai suami istri, tapi aku tidak pernah disentuh Kak Erik ...."


"Bukan tidak pernah disentuh, tapi tidak pernah mau." Potong Erik sebelum Lea meneruskan kalimatnya.


"Iya itu maksud aku." Lea tersenyum malu."


"Kalau Ghea ... tidak mempunyai status apa pun dengan Kak Erik tapi ...." Erik mengerti apa maksud Lea.


"Berikan aku waktu untuk berpikir sebentar." Erik memandang Lea lemah.


"Baik, tapi jangan membiarkan cinta Kak Erik terlalu lama menunggu." Erik tersenyum.


Ada rasa sesal mengapa bukan Lea yang mencintai dirinya, mengapa harus Ghea?. Sehingga ia bisa jatuh dalam situasi seperti ini.


"Kamu tidak mau di madu?" tanya Erik sambil tersenyum simpul.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Terima kasih, jangan lupa vote, like dan komen yang santun 🙏😊


Sambil nunggu jawaban Lea, silahkan mampir ke novel berjudul ''Dia bukan janda." Karya Emma Risma


__ADS_1


__ADS_2