Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Bertemu lagi?


__ADS_3

"Tidak ada tempat lain gitu yang lebih mentereng dibanding Mall Ruby?, ketemu klien penting kenapa kok di Mall seperti itu," gerutu Raymond.


"Beliau mau lihat bagaimana team kita handle pameran otomotif PT. Auto Sirene. Jadi sekalian maksud saya," sahut Gilang santai.


Raymond, Gilang dan dokter Lukman sebenarnya berteman sejak di bangku kuliah.


Semua tentang Raymond diketahui Gilang begitu juga sebaliknya.


Hanya di kantor mereka bersikap profesional, di luar itu layaknya berteman biasa seperti dokter Lukman.


Lea membesarkan dan memutar bola matanya secara spontan saat mendengar Raymond menganggap Mall Ruby tidak mentereng.


Bagi Lea Mall Ruby sudah sangat keren dan luar biasa mewahnya.


Sikap Raymond di nilai Lea bentuk dari keangkuhan pria AC-DC itu, ditambah lagi sikapnya yang sok iyes.


Respon spontan Lea tidak luput dari mata Raymond yang mengamatinya dari pantulan kaca pintu lift.


Meradang hati Raymond dengan tingkah karyawan barunya yang belum genap tiga bulan bekerja, tapi sudah berani menghinanya.


Saat pintu lift terbuka Raymond langsung melesat keluar dengan menggerutu kesal, "Suami istri sama saja tabiatnya."


Mendengar itu Gilang dan Lea berpandangan dengan heran.


"Kamu takut sama Pak Raymond?" tanya Gilang saat mereka berjalan menuju ruang masing-masing.


"Ha?, gaa ... saya ga takut." Lea sedikit terkekeh menanggapi pertanyaan Gilang.


"Dia memang seperti itu, tapi baik kok orangnya. Nanti kalau sudah kenal dekat pasti tahu juga."


Kenal dekat?, males banget. Kalau perlu ga usah ketemu lagi yang penting gajian tetap lancar. Lea membatin dalam hati.


"Baik Pak, terima kasih bantuannya tadi." Lea mengangguk hormat dan berbelok masuk ke dalam ruangannya.


"Eh, sudah datang. Langsung aja yuk sudah siang nih." Saat Lea akan duduk, Kinanti malah berdiri hendak berangkat.


"Aku ikut juga?" Sebenarnya Lea malas ikut ke Mall Ruby karena kemungkinan besar akan bertemu dengan bossnya lagi.


Hari ini sungguh melelahkan dan menguras emosinya.


Menghadiri sidang perceraian pertama, namun Erik sebagai yang tergugat memilih tidak hadir, sehingga proses persidangan hanya di isi membaca gugatan dan berlangsung sebentar saja.

__ADS_1


Sialnya sampai di kantor bertemu dengan Raymond yang bermulut pedas.


Inginnya hari ini berakhir sedikit tenang dengan hanya duduk manis di ruangan, meminimalkan interaksi yang membuat jantung copot.


"Ya dong kamu harus ikut, kita ada pertemuan penting juga nanti di sana." Kinanti memegang pintu yang terbuka menunggu Lea menyusulnya.


"Jangan bilang klien baru yang mau lihat pameran kita?" sungut Lea.


"Loh kamu sudah tau?, dari mana?" sahut Kinanti takjub.


"Tadi aku satu lift sama Pak Gilang dan Pak Raymond, mereka sempat bahas tentang itu juga."


"Tuh sudah tahu malah ga mau ikut, gimana sih."


"Males tadi sudah kena semprot sama Pak Raymond, gara-gara telat masuk. Padahal sudah bilang kalo sudah ijin, tetap aja sinis. Lemah jantung aku lama-lama kerja di sini," keluh Lea.


"Masih baru kena semprot, belum sampai kena sembur. Ayoo buruan sudah siang." Dengan tega Kinanti menarik tangan Lea sampai berdiri dari duduknya.


Saat jam makan siang, Lea masih berusaha merayu Kinanti agar dirinya tidak perlu ikut meeting bersama klien baru.


"Kin, aku di sini aja ya ga ikut makan siang sama klien ... pleaseee." Lea mengatupkan telapak tangannya di dada dan memasang puppy eyes andalannya.


"Kamu itu asisten aku, tujuannya kalau nanti banyak kerjaan kita bisa bagi-bagi tugas. Jadi selama masih belajar wajib kamu ikut kemana aku pergi. Titik no debat."


Dalam ruang VIP restoran sudah ada Gilang dan Raymond serta beberapa staff kantor yang berkepentingan, duduk berhadapan di meja makan yang besar.


Lea memilih duduk di sudut paling jauh dari para petinggi, tapi dengan gerakan tangan dan kepala Gilang sang Manager Pemasaran meminta Lea mendekat dan duduk di sebelahnya.


Tidak mau menjadi pusat perhatian karena berdebat seperti kejadian tadi pagi, Lea dengan cepat duduk tepat di sebelah Gilang.


Raymond yang duduk tepat di depan Gilang tersenyum sinis melihat sikap Lea.


Lambat bergerak salah, cepat juga salah. Maunya apa sih orang ini. Batin Lea kesal.



"Kin, kenapa bisa kamu paling akhir masuk ruangan, padahal kamu jaga pameran di sini?. Untung klien kita belum datang. Sejak punya asisten, performa kerjamu semakin menurun. Apa asisten yang kamu pilih ... tidak berguna?, ganti saja kalau tidak membantu kamu jadi lebih baik." Raymond berkata dengan santai tanpa melihat sedikitpun pada Lea.


Kinanti melirik Lea yang tertunduk semakin dalam, ia tahu Lea merasa malu karena ditegur di depan semua peserta rapat.


Dalam hatinya ia merasa kasihan dan menyesal memaksa Lea untuk ikut rapat siang ini.

__ADS_1


"Maaf Pak, tadi kami terlambat karena spot pameran hari ini sedikit lebih ramai dari pada biasanya, dan Lea sangat membantu saya selama tiga bulan ini. Lea juga cepat bela---."


"Ya, ya sudah. Itu tidak penting. Din, sudah kamu hubungi klien kita sudah sampai mana?" Raymond memutus penjelasan Kinanti saat sudah mulai memuji Lea.


Sentimen banget ni orang kayaknya sama aku. Lagi-lagi Lea hanya bisa membatin kesal.


"Lima menit yang lalu sekertarisnya bilang sudah sampai di lantai dasar," jawab Dito asisten Raymond.


"Sepertinya itu mereka sudah datang." Gilang menunjuk tiga orang pria yang diarahkan pelayan restoran untuk naik ke ruang VIP.


"Selamat siang Pak Raymond, maaf kami terlambat maklum jauh perjalanan ke kota." Salah satu pria tersebut menghampiri Raymond yang berdiri untuk menyambut.


Jantung Lea berdegub dengan cepat saat mendengar suara yang sangat dikenalnya sekaligus dibencinya.


Saat semua peserta rapat berdiri menyambut dan memberikan salam, Lea tetap duduk tegak tidak bergerak.


"Eheemmm." Suara batuk Raymond yang disengaja dan colekan Kinanti di bahunya menyadarkan Lea untuk segera bangkit berdiri.


Perlahan Lea membalikan badan dan mengangkat wajahnya, memastikan apakah yang di khawatirkannya terbukti.


Pak Beny ... benar itu Pak Beny


Pria berkulit putih itu tersenyum dan memberikan salam pada satu persatu peserta rapat yang hadir.


Lea mengamati wajah Pak Beni dari balik punggung Gilang, wajahnya yang bulat, kulitnya yang putih dan rambutnya yang ikal, oohh ... tidak kenapa hampir seluruh bagian wajahnya sangat mirip dengan Maura.


Lea menahan nafas saat mata Pak Beny sudah hampir sampai padanya.


Ia tahu tidak selamanya bisa menghindar, tapi mengapa secepat ini dan mengapa harus di sini?


Lea hanya bisa berdoa, dia tidak pingsan atau bertingkah bodoh yang akhirnya semua akan tahu masa lalunya yang hitam.


"Lea?" Namanya terucap dari bibir Pak Beni, dan inilah saatnya ia harus menghadapi sendiri tanpa ada Erik yang siap berdiri di belakangnya.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


AC/DC adalah kode yang digunakan dalam chatroom untuk menunjukkan bahwa seseorang biseksual dan tertarik secara seksual baik pria maupun wanita


(sumber : google)


Hai-hai kenalin karya temen author lagi ya. Kali ini milik dari Green_tea "Bukan pernikahan impian"

__ADS_1



__ADS_2