
Lea menatap Devi yang tersenyum tulus padanya. Ia tidak mengerti, seberapa luas hati wanita yang duduk di sampingnya ini.
Ia yang pernah mengandung anak dari suami wanita di sebelahnya ini, dan sekarang mereka duduk bersama, tapi istri mantan bosnya ini masih bisa tersenyum dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Sedangkan ia yang baru melihat suaminya bersama wanita lain, itupun juga belum tahu ceritanya seperti apa dan bagaimana, sudah emosi dan pergi dari rumah.
Bahkan suaminya pun belum sempat menjelaskan apa-apa, karena mereka semalam juga tidak membicarakan hal itu sama sekali.
Semalam hanyalah pertengkaran kosong yang tidak menjelaskan apapun.
Lea merasa kerdil di depan Devi, permasalahan rumah tangganya tidak ada apa-apanya dibanding kejadian dua tahun silam yang melanda keluarga mantan bosnya ini.
Lea merasa lelah dan pusing, kepalanya sedikit berputar. Tidak sanggup berbicara ia memberikan kode pada Devi ingin ke kamar kecil.
Di dalam kamar kecil ia berusaha mengeluarkan sesuatu yang mendorong ulu hatinya, tapi tidak ada sesuatupun yang keluar.
Lea terkejut saat keluar dari kamar kecil, Devi sudah berdiri di depan pintu dengan secangkir teh hangat di tangannya.
"Habiskan, setelah ini ikut saya ke dokter."
"Saya cuman masuk angin, Bu. Saya ijin istrahat sebentar ya." Lea duduk dengan lemas dan wajah yang sedikit pucat.
"Kamu bisa istirahat setelah pulang dari dokter," tegas Devi.
"Bagaimana bisa seorang ibu menjaga seorang anak yang masih balita sendirian saat sedang sakit?" Devi segera memotong saat Lea hendak mengatakan sesuatu.
...❤...
"Ibu Bintang Amalea." Seorang perawat memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan. Lea masuk seorang diri, sedangkan Devi menunggunya di ruang tunggu pasien.
Sekitar lima belas menit kemudian, Lea keluar dari ruang periksa dengan wajah yang jauh lebih pucat dari sebelumnya.
"Kenapa Lea?, apa kata dokter?" Devi memberondong Lea dengan pertanyaan.
Lea tidak mengatakan apapun, hanya memberikan amplop putih kecil pada Devi.
"Kamu hamil, Lea??" Devi memandang takjub alat tes kehamilan di tangannya. Sedetik kemudian ia memeluk Lea dengan erat.
"Selamat ya, kamu kok ga bahagia gitu sih?" Devi menarik nafasnya, ia mengerti apa yang sedang dipikirkan Lea.
"Sabar ya, jangan pikirkan sesuatu yang belum pasti. Hanya dia saja yang harus kamu pikirkan sekarang." Devi mengusap perut Lea sekilas.
__ADS_1
...❤...
Nina menatap kedua pria yang duduk meringkuk di hadapannya. Jika biasanya kedua pria ini tampil maskulin dan gagah, siang ini di hadapannya, mereka seperti kucing yang disiram air karena ribut berkelahi.
"Ada apa?"
"Dia sembunyikan Lea dan Muara." Raymond melirik geram pada Erik.
"Aku kalo mau bawa pergi Lea dan Maura, pagi ini tidak duduk di sini denganmu. Mungkin aku sudah dalam kamar hotel di capadocia berpelukan mesra dengan Lea."
"BANGS*AT!"
"DUDUK!!" seru Nina, Raymond yang sudah berdiri hendak melayangkan tinjunya lagi, kembali meringkuk di kursinya.
"Memangnya Lea bilangnya mau ke mana?, Pak Raymond sudah coba hubungi Lea belum?" Sambil bicara Nina mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi sahabatnya itu.
"Kalau tau istri saya di mana sekarang, saya ga akan buang-buang waktu duduk di sebelah orang ini." Raymond melemparkan tatapan membunuhnya.
Nina menggelengkan kepala, ia tidak berhasil menghubungi Lea. Ponsel sahabatnya itu tidak aktif. Kebiasaan lama Lea, jika ada masalah selalu menutup diri tidak mau berbagi.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Nina menyelidik.
"Tidak ada, kami baik-baik aja." Nina dan Erik menatapnya tidak percaya.
"Okee, okeee .. semalam Lea marah-marah dan kami bertengkar, tapi aku ga tau kenapa alasannya. Maksud aku kita bicarakan pagi ini, karena semalam aku tuh capek banget dari acara reuni mendadak dengan teman SMU. Pagi ini di sudah ga ada di rumah, ga tau ke mana." jelas Raymond. Ia menyugar dan meremas rambutnya frustasi.
"Halo, Kin. Lea ada sama kamu ga? bilangnya ada acara rekreasi sama teman kantor lama." Nina menghubungi Kinanti dengan speaker ponsel yang terbuka, agar kedua pria itu bisa ikut mendengar.
"Ga tuh, rekreasi apaan? aku di kantor kok." Di belakangnya suara Gilang menyela, "Boro-boro rekreasi, Nin dapet bonus aja dah bersyukur kerja di sini." Suara gelak tawa Gilang terdengar nyaring di seberang sana.
"Kin, sampaikan ke Gilang bosmu mendengarkan karena aku buka speakernya," ucap Nina kalem.
Sontak suara tawa Gilang menghilang, berganti teriakan panik Gilang "Tutup.. tutuuupp."
"Eehh, tunggu sebentar jangan ditutup dulu ini penting Lang." Mereka berdua di seberang sana, terdengar ribut saling memperebutkan ponsel yang masih tersambung.
"Nin, kemarin Lea datang ke kantor terus pulangnya kayak sedih gitu. Aku ga sempat tanya karena dia langsung ngilang gitu aja, tapi kata Gilang, Lea sempat lihat Pak Raymond pelukan sama mantan istrinya."
"APA MAKSUDNYA?!" Raymond langsung menyambar ponsel Nina.
"Kamu aja yang cerita." Suara Kinanti di seberang sana, melemparkan ponselnya ke tangan Gilang.
"Mmm, anuuu Ray. Maaf, kemarin aku lupa bilang ... Lea bawakan kamu makan siang, dia masuk ruangan pas kalian berdua lagi pelukan," Gilang menjelaskan dengan sedikit gemetar.
__ADS_1
"KENAPA KAMU GA BILANG!!" Raymond mencengkram ponsel di tangannya semakin kuat. Nina melihat nasib ponselnya di tangan Raymond hanya bisa pasrah.
"Kamu kemarin siang kan langsung pergi begitu aja sama Mamanya William, Ray. Setelah itu kamu ga kembali ke kantor sampai jam pulang," ucap Gilang membela diri.
"AARRRGGHH!!" Raymond hampir saja melemparkan ponsel milik Nina, tapi urung karena sang empunya menatapnya tajam.
Kemarin siang setelah mengijinkan Dea bertemu dengan William, Raymond mengajak mantan istrinya itu untuk menjemput putranya dari sekolah.
Raymond sengaja memberitahukan jika ia yang akan menjemput William pulang hanya ke Mbok Nah bukan karena ada Dea bersamanya saat itu, tapi karena ia berpikir Lea sakit dan sedang berisirahat, dan ia tidak mau mengganggu istrinya itu dengan kabar yang menurutnya tidak penting.
Raymond menemani William dan Dea hanya sekedar makan siang dan bermain di sebuah mall hingga hampir sore.
Saat akan pulang, Raymond bertemu dengan beberapa teman SMU-nya. Mau tidak mau demi menghormati ajakan teman-temannya yang sudah lama tidak berjumpa, akhirnya ia kembali lagi ke dalam Mall hingga menjelang malam.
Ia tidak menyangka Lea akan datang ke kantornya tanpa pemberitahuan, terlebih kedatangannya di saat yang tidak tepat, sehingga mendatangkan kesalah pahaman antara mereka berdua.
"Lea ke mana, Nin?" ucap Raymond lirih, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Di kota ini, Lea tidak mengenal siapa-siapa selain kita. Tempat yang paling aman menurut dia adalah ..."
"Kampung halaman," ucap Nina dan Erik hampir bersamaan.
Raymond mengangkat wajahnya dan langsung berdiri ingin langsung keluar ruangan.
"Memangnya kamu tau jalan ke arah sana, Ray?" tanya Nina heran.
"Cuman sampai perbatasan aja, masuknya ke dalam ga tau." Raymond menggeleng pelan dengan tatapan kosong. Nina menatap suami Lea kasihan, jika seperti ini aura don juan milik Raymond hilang entah ke mana.
"Kamu butuh teman perjalanan, Ray," ucap Nina mengingatkan.
...❤❤...
Hollaa 🤗
Mengingatkan kembali
Like
Komen
Bunga
Kopi
__ADS_1
Vote
Jangan lupa yaaa 🥰❤