
Raymond terbangun saat mendengar suara riuh di lantai satu, rupanya ia tertidur sangat nyenyak saat menunggu Lea masuk ke dalam kamar.
Jam di dinding menunjukan pukul delapan malam, setidaknya ia tidak tertidur sampai tahun depan.
Sedikit membasuh diri, ia lantas turun ke lantai satu. Suasana memang sudah cukup ramai, ternyata tidak hanya Tante Silvi dan anak gadisnya yang cerewet tapi juga ada beberapa kerabatnya yang juga hadir.
Setelah berbasa basi sedikit dengan para saudara di ruang tamu, Raymond menuju taman belakang mencari keberadaan istrinya.
"Naah, baru muncul. Emang yang namanya bos itu nongolnya selalu terakhir," Salah satu kerabatnya berseloroh.
"Tahu aja sudah pada mateng, ga perlu susah-susah ngipasin." Gilang menyodorkan piring berisi nasi dan lauk hasil bakarannya.
"Thank you, istri aku di mana Lang lihat ga?" Raymond masih mengedarkan matanya mencari Lea di antara orang-orang dan tanaman yang tinggi."
"Tuuhh," Gilang menunjuk sekumpulan wanita yang berkerumun.
Lea yang berbadan kecil terlihat tenggelam berada di antara yang lain.
Saat Raymond memandangnya, mata Lea pun mengarah padanya. Keduanya saling melemparkan senyum dari kejauhan.
"Romantis amat, pake pandang-pandangan," ledek Lukman.
"Kalo iri, sana noh sama Nina tatap-tatapan berdua," sahut Raymond kesal moment romantisnya terpotong.
"Abang sudah makan?" Lea sudah berdiri di dekatnya.
"Ini lagi makan, kamu?" tanya Raymond balik. Lea menggeleng dan ingin mengambil piring.
"Ga usah, kita sama-sama aja ya." Raymond menarik Lea duduk di gazebo yang sedikit terhalang pandangan orang.
"Malu ah, aku makan sendiri aja." Lea menggeleng saat Raymond hendak menyuapinya dengan tangan.
"Ga usah, gini aja lebih asyik." Raymond terus memaksa, akhirnya Lea pun menurut dan semakin menikmati.
Gilang dan Lukman yang berada di dekat mereka berdua, hanya melongo dan menatap dengan iri.
"Anak-anak di mana?" tanya Raymond.
"Di dalam main sama Nina dan Kinanti," sahut Lea.
"Heemm, sudah hampir habis satu piring baru ingat sama anak," ledek Lukman.
"Ray kok baru keliatan, mojok lagi dasar manten baru." Tante Silvi dengan segala kehebohannya menghampiri.
"Tadi Tante sudah ngobrol sama istrimu, kata dia belum ada isi perutnya. Usaha tiap hari dong Ray, jangan menyerah kita kan ga tau hubungan intim yang mana yang bisa jadi anak." Wajah Lea sudah memerah menahan malu mendengar kalimat dari Tante Silvi.
"Siapa yang menyerah?, belum ada isi ya wajar dong, kan kita baru nikah belum ada genap satu bulan." Raymond bangkit hendak melarikan diri dari hadapan tantenya.
__ADS_1
"Tante punya buku tips supaya cepat hamil, harus makan apa, pakai posisi apa, harus berapa kali, pakai----"
"Ga perlu Tan, terima kasih. Aku sama Lea sudah cukup berpengalaman, nanti kalo Lea hamil tante aku kasih tau yang pertama." Raymond memutuskan harus segera memotong pembicaraan, sebelum tantenya menyuruhnya praktek di tempat itu sekarang juga.
Pesta kecil di rumah Raymond berangsur-angsur sepi. Para keluarga memilih pulang lebih dulu, sebelum malam pergantian tahun karena takut terjebak macet.
Di ruang tengah hanya tinggal beberapa orang saja yang sedang duduk santai menonton televisi.
Papa sedang beradu strategi dengan Lukman di atas papan catur. Gilang asyik bermain play station menemani William.
Para wanita duduk di meja makan entah sedang membicarakan apa, terlihat serius tapi sesekali mereka tertawa.
Hanya Maura yang terlihat sendirian, anak itu duduk bengong di samping William melihat kakaknya yang sedang bermain seru dengan Gilang.
"Maura, sini sama Papi," panggil Raymond, dengan lincah setengah berlari Maura mendatangi Raymond.
"Sudah malam, Maura ga ngantuk?" tanya Raymond pada gadis kecilnya.
Maura menggeleng tapi juga menggosok matanya dan menguap.
"Mau tunggu kembang api ya?" Raymond terkekeh melihat Maura yang berusaha menahan matanya.
"Nanti Papi rekam untuk Maura, sekarang Maura bobok dulu ya." Raymond menidurkan Maura dalam gendongannya, masih dalam posisi duduk di lantai.
Saat Maura sudah menutup matanya, Lea mendekat.
"Tidur?" bisik Lea menunjuk Maura yang nyaman dalam pelukan Papinya.
"Bang Ray, kenapa dulu mau menikahi aku?" tanya Lea tiba-tiba. Raymond masih terdiam memandang lekat pada istrinya.
"Menurutmu apa?" tanyanya balik.
"Maura?" timpal Lea.
"Mmm, itu juga."
"Itu juga?, ada alasan yang lain?" Dada Lea berdegub menanti jawaban Raymond.
"Selama ini apa kamu tidak merasa Lea? ... aku cinta sama kamu." Raymond mendekatkan wajahnya sedikit, lalu berbisik pelan di depan wajah Lea.
"Sejak kapan?"
"Mmm, aku juga kurang tau pasti. Bukan maksudku aku ga serius dengan perasaanku, hanya rasa itu tiba-tiba ada begitu saja."
"Awal aku lihat kamu, aku sudah tertarik karena kamu beda dari yang lain. Apa itu cinta aku juga belum tau saat itu."
"Selanjutnya saat aku lihat Gilang sok-sokan dekat dan berani nyentuh-nyentuh kamu, padahal kalian baru ketemu hari itu juga ... dan aku kesal sekali waktu itu." Raymond bercerita sambil melirik Gilang yang bersorak karena menang melawan William.
__ADS_1
"Puncaknya, saat Pak Beni mengenalmu dan tatapannya terlihat intim. Rasanya saat itu aku ingin menyeret kamu keluar ruangan restoran. Biar ga di pandangi sama Pak Beni, dan akhirnya si joni jadi korban kekerasanmu." Raymond memandang ke tengah pahanya dengan belagak sedih.
"Maaf, itu kan hanya untuk aku membela diri. Abang yang duluan kasar sama aku." Lea mencebik.
"William sepertinya sudah ngantuk, mainnya sudah ga konsen kalah terus dari tadi lawan Gilang. Kalau di biarkan bisa ngamuk. Aku bawa ke kamar dulu ya." Lea berjalan ke arah William, membisikkan sesuatu lalu menggiring William naik ke kamarnya di lantai dua.
"Aku bawa Maura kamarnya ya," ujar Raymond berbisik.
Menaruh Maura di ranjang dalam kondisi sudah pulas sama sekali tidak menghabiskan waktu.
Raymond menutup pintu kamar Maura pelan, lalu pergi ke arah kamar William.
Ia berbisik pada Lea yang sedang menidurkan William.
"Nanti ga usah turun lagi, aku tunggu di kamar ya," Raymond mengedipkan sebelah matanya. Lea tersenyum geli melihat tingkah laku suaminya.
"Eehh kurang sepuluh menit, mana kembang api sama merconnya,' teriak Mama heboh.
Semua serempak bangkit berjalan ke arah kebun belakang, bersiap menyambut kemeriahan tahun baru.
Gilang dan Lukman menata jajaran kembang api dan mercon yang akan di nyalakan saat pergantian tahun nanti.
Semua mulai menghitung mundur, saat sampai di angka satu Lukman dan Gilang menyulut kembang api dan mercon. Nina dan Kinanti meniup terompet berkali-kali.
"Eh, aku kok ga lihat Raymond sama Lea? tanya Kinanti.
"Mereka di atas mungkin, bawa tidur anak-anak," Gilang menimpali.
"Coba aku panggil ya,"
"Eeh, ga perluuu. Mereka ada ritual khusus menyambut tahun baru." Lukman menahan tangan Nina yang sudah akan berlari masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di atas, Raymond yang sudah bersiap akan melakukan serangan di buat terkaget-kaget karena suara dentuman mercon yang di pasang Lukman dan Gilang.
"Sialan si Gilang sama Lukman," gerutu Raymond yang kesekian kalinya meleset karena terkejut.
Mercon yang di pasang kedua temannya itu, sering meledak tepat di sisi jendela kamar mereka.
Otomatis percintaan panas mereka, di warnai kerlap kerlip kembang api.
...❤❤...
Keluarga besar Raymond Sanjaya dan teman-temannya mengucapkan
...SELAMAT TAHUN BARU 2022 ...
__ADS_1
Sempatkan promo lagi ya, Novel punya Ruth89