
"Aku hanya melihat William, dia berhak punya waktu dan kenangan bersama ibu kandungnya. Hari ini Willi juga kelihatan capek, kasihan kalo harus dibawa jalan keluar," jelas Lea pada suaminya dengan nada pelan.
"Sok jadi Ibu pengertian," cibir Dea. Ada terbesit rasa cemburu dalam hatinya, jika melihat tatapan mantan suaminya pada wanita yang sekarang menggantikan posisinya yang bergelar istri Raymond Sanjaya.
"Saya ga peduli dengan pendapat anda," Lea melirik sinis pada Dea.
"Itu penawaran saya, diterima silahkan, tidak juga lebih baik dan tolong segera angkat kaki dari rumah ini," ucap Lea santai seraya melemparkan senyum kemenangan.
"Kamu tidak berhak mengusir saya!, ini rumah Raymond ayah dari anak saya, kamu cuma ibu tiri tidak lebih!"
"Eheem!, kamu salah, Dea. Ini rumah atas nama istri aku, Lea."
"Dia sangat berhak mengusirmu dari rumah ini jika dia mau," lanjut Raymond.
Nafas Dea masih berderu menahan emosi, karena merasa direndahkan oleh orang yang selama ini dianggap lebih lemah dibanding dirinya.
"Mii ... hari ini kita di rumah aja ya." William sudah berada di antara mereka, anak itu memandang Maminya dengan penuh harap dan sedih.
"Mami mau ajak Willi main di Mall, sayang." Dea berlutut menyamakan tingginya dengan putranya.
"Jangan memaksa, Dea. Sekali-kali menuruti permintaan William juga tidak ada salahnya, mungkin dia benar-benar lelah. Salah kamu sendiri tidak memberitahu rencana untuk datang menemui William," Ucap Raymond dengan pelan.
Ia tahu Dea memang bukan istri yang baik, tapi sebagai ibu, Dea masih bertanggungjawab dan sayang pada putranya.
"Kita bisa nonton film atau main lego di kamarku."
"Baiklah, Willi coba cari film yang bagus, nanti kita nonton bersama ya." Dea mengalah, setelah memejamkan mata sedikit lama, dan menarik nafas panjang.
"Mudah kan?, lain kali kalo mau ke sini egonya ditinggal di rumah," ucap Lea seraya kembali masuk ke dalam dapur.
"Istrimu itu mengesalkan sekali!" Dea mengacungkan tinjunya pada Lea yang sudah menghilang di balik pintu dapur.
"Kamu harus berhati-hati, sejak mengandung Lea bagaikan induk macan yang melindungi sarangnya. Aku pun gemetar kalo dia sudah keluar taringnya."
"Lemah!, sejak kapan kamu takut dan tunduk sama wanita?!"
"Aku bukannya takut sama Lea, tapi aku menghormati dia sebagai istri dan ibu dari anak-anakku."
"Basi!, aku tau betul seleramu, Ray. Kalau kamu menikahi salah satu modelmu, aku maklum dan terima, tapi kamu menikahi aahh ... come on, Ray aku sungguh terhina, kamu memilih wanita yang kualitasnya jauh di bawahku."
"Itu menurutmu, bagiku kualitas istriku jauh di atasmu. Kamu mungkin terawat di luar tapi busuk di dalam."
"Oh, please kamu masih sakit hati persoalan yang dulu?, aku dan Andrew sudah lama berpisah, kami juga tidak pernah menikah."
"Peduli amat," ucap Raymond tak acuh, matanya masih terarah pada ponsel di tangannya.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, Ray. Kamu dulu tergila-gila padaku kan?" Dea bergerak mendekati Raymond.
"Hentikan langkahmu, Dea!. Satu hal yang kamu harus tahu, aku masih di sini meladenimu berbicara dan mendengarkan omong kosongmu, hanya agar William bahagia melihat kita tidak saling berteriak, bukan karena aku suka menghabiskan waktu denganmu!" Raymond menatap tajam penuh peringatan pada mantan istrinya.
__ADS_1
"Tidak bisakah ki---"
"Tidak!, dan jangan tanyakan perihal apapun tentang kita. Urusan kita hanya sebatas anak tidak lebih. Jadi jangan berharap apapun."
"Aku menyesal, Ray."
"Bagus, hiduplah lebih baik."
"Apa kamu masih ingat saat ki---"
"Tidak ada satupun kenangan yang perlu diingat. Satu-satunya yang melekat di kepalaku hanyalah malam itu aku mengusirmu keluar dari rumah, dan mengucapkan kata cerai. Tidak hanya aku, William pun hanya mengingat malam itu."
"Aku ingin memulainya dari awal."
"Mulailah, aku yakin banyak pria yang antri di belakangmu. Sekali kamu kibaskan rambutmu, banyak yang akan bertekuk lutut."
"Termasuk kamu?"
"Hahahaa ... in your dream." Setelah tertawa, Raymond tersenyum sinis pada Dea.
"Aku maunya kamu."
"Maka teruslah bermimpi." Raymond beranjak pergi menyusul istrinya di dapur yang tak kunjung keluar.
"Sayang lama banget, tega kamu ninggalin aku berdua sama ulat bulu, mana gatel banget." Raymond menggaruk tangan dan badannya seolah benar-benar terasa gatal.
"Jangan mulai sekarang dong, aku kalo laper ga kuat berdebat." Raymond menangkupkan wajahnya di atas meja.
"Dia sepertinya masih mengharapkan Abang."
"Hmmm." Raymond masih dalam posisi mata tertutup dan kepala di atas meja.
Ia malas menanggapi percakapan Lea yang berbahaya, selain itu ia merasa sudah lelah meladeni percakapan dengan mantan istrinya yang begitu menguras emosi.
"Tadi aku kira Abang nyusul masuk ke dapur mau minta ijin nikah lagi."
"Aku kalo mau nikah lagi, milih juga kali. Mending sama Anya Geraldine jelas," ucap Raymond malas, hampir terdengar seperti gumaman.
Lama tidak terdengar suara dan tanggapan apapun, Raymond mengangkat wajahnya. Lea sudah berdiri di sisinya dengan tatapan datar yang terkesan dingin.
"Jelas apa maksudnya?, jelas lebih cantik?, jelas lebih seksi? atau jelas lebih banyak tonjolannya?"
"Jelas ... jelas ditolak lah, hahahaha ...." Raymond tertawa sumbang.
"Lagian kamu lebih banyak yang menonjol, si Anya lurus-lurus aja."
"Perhatian banget sampai tahu bentukannya segala?!"
"Namanya artis filmnya juga lagi booming sering lewat di TV, jadi ga sengaja nonton."
__ADS_1
"Ralat, filmnya bukan di TV. Ketahuan boongnya, bilang aja suka kepoin di instagram!. Aku lebih suka Abang jujur dari pada pura-pura biar aku seneng."
"Iya juga sih, maaf tapi bukan sengaja kepoin tapi sering lewat aja di beranda jadi ga sengaja lihat."
"Nah gitu, jujur aku ga apa-apa, emang cantik orangnya." Raymond menarik nafas lega, bagaikan habis keluar dari ruang sidang skripsi.
"Ga sengaja tapi dinikmatin juga," Lea mencibir.
"Mata boleh kemana-mana, tapi hatiku sudah di setting cuman terarah ke kamu." Raymond menarik Lea duduk di pangkuannya.
"Gombal."
"Kamu juga suka di gombalin."
"Semoga adeknya Maura sama William cantik seperti artis Anya Ge---"
"Jadi ga usah mirip Mamanya gitu?, aku ga cantik mak---" Omelan panjang Lea terhenti oleh lum*atan bibir Raymond.
"Abang dari mana tahu kalo si kecil ini cewek?" tanya Lea dengan kening saling menempel satu sama lain. Mereka masih sedikit terengah-engah mengatur nafas setelah ci*uman panjang tadi.
"Daddy's feelings, maybe?"
...❤❤...
Ketahuilah para wanita, kodratnya pria itu suka melihat sesuatu yang 'indah-indah'.
Jadi jangan heran dan cepat marah, jika ada 'mahkluk yang indah' lewat di depan matanya atau beranda medsosnya.
Jika pasanganmu itu, memperhatikan satu hingga tiga detik masih bisa ditoleransi, tapi jika lebih dari itu kalian boleh pasangkan kacamata kuda dan sediakan pecut untuk mengendalikan mereka.
Becanda 😂
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1