Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Keputusan bodoh?


__ADS_3

"Aauuuuwww ... kamu kok suka sekali nyubit sih?" Erik mengusap lengannya yang memerah terkena cubitan Lea.


"Enak aja, jangan pernah ada terlintas di pikiran Kak Erik untuk poligami ya," sahut Lea ketus.


"Kamu memilih lebih baik pisah?, cerai? ... jadi janda begitu?"


"Jadi janda itu kan bukan aib kak."


"Aku ga bilang janda itu aib, tapi bukankah lebih baik jika punya pasangan?"


"Udah ah ... ga bakal selesai kalau soal ini kita bahas terus selama kita beda prinsip."


"Kak, jika kita menikah karena alasan yang normal saling mencintai, aku akan mempertahankan Kak Erik sebagai suamiku. Dan aku tidak akan berikan celah sedikitpun bagi wanita lain untuk masuk. Mungkin juga aku pertimbangkan soal poligami."


"Kondisi pernikahan kita berbeda. Kak Erik menikahi aku karena ingin membantu aku menutup aib, dan selama menikah kita belum pernah melakukan hubungan suami istri." Jelas Lea panjang lebar


"Maaf harus mengungkit hal itu lagi. Bukannya aku dengan sengaja menolak Kak Erik, tapi aku punya masalah dengan psikis akibat dari trauma masa lalu."


"Beberapa waktu yang lalu aku menjalani teraphy untuk bisa pulih dari taruma. Setelah Maura lahir aku berangsur - angsur pulih dan aku ingin memperbaiki hubungan kita sebagai suami istri tapi ternyata ... aku lebih dulu menemukan kenyataan jika Kak Erik mempunyai hubungan asmara dengan Ghea."


"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Ghea, malah sekarang dia menghindari aku," jelas Erik sedih.


"Apa yang sudah terjadi antara Kak Erik dan Ghea melebihi komitment dalam hubungan asmara. Kak Erik harus bersikap gentleman untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah Kakak perbuat pada Ghea." Erik menunduk saat Lea kembali mengingatkan dosa yang sudah ia lakukan.


"Haruskah aku melepasmu dan Maura?" Erik memandang Lea sedih.


"Sebagai istri ... ya. Tapi Maura tetaplah akan menjadi anak Kak Erik. Dan aku sangat berharap meski Maura bukan darah daging Kakak, Kak Erik tetap menganggap Maura anak sendiri, meski nantinya Kakak sudah punya anak kandung sendiri."


"Aku akan memberikan Kak Erik ruang dan waktu untuk berpikir, aku berharap Kak Erik bijak mengambil keputusan."


Sepeninggal Lea, Erik terdiam termenung menarik ke belakang ingatan masa saat ia meminta Lea untuk menikah.


Saat itu ia sangat bahagia, walaupun menikah dalam kondisi yang tidak semestinya.


Ia pun tahu Lea belum menaruh hati padanya, seharusnya ia paham kondisi kejiwaan Lea.


Tapi bodohnya ia tidak peka sehingga Lea mencari jalan sendiri menemui psikiater.


Tentang Ghea, sejak pertama bertemu ada rasa tertarik yang dirasa Erik walaupun saat itu ia sudah berstatus sebagai suami.


Hingga akhirnya mereka melakukan hal terlarang itu pertama dan terakhir kalinya hingga saat ini.


Sampai dengan saat ini komunikasi Ghea dan Erik sama sekali tidak terjalin dengan baik.

__ADS_1


Namun Erik tidak mudah menyerah, tidak dianggap di kantor ia mengejar Ghea lewat media sosial dan beribu - ribu pesannya bagai spam di chatting.


Walau isi pesannya tidaklah penting seperti yang Lea katakan dan lebih sering tidak dianggap, Erik tetap melakukan hal itu.


Untuk apa ia mengejar Ghea, ia pun tidak tahu alasannya.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


"Hheeehh ... Gila." Kata pertama yang keluar dari mulut Nina saat Lea mengakhiri ceritanya tentang keinginannya melepas Erik, dan mendukungnya untuk mengejar Ghea.


"Kamu perempuan yang aneh, di mana - mana istri mempertahankan suaminya lah kamu punya suami malah disodor - sodorkan." Lea tersenyum sambil membersihkan bibir Maura yang penuh dengan bubur.


"Aku bisa lebih gila lagi kalau aku hidup dengan orang yang hatinya bukan untuk aku," sahut Lea tenang.


"Kak Erik kan cinta sama kamu."


"Itu dulu ... sekarang mungkin sudah tidak, atau ... entahlah Nin."


"Apa lagi yang kamu sembunyikan?" Nina sudah hafal dengan gelagat dari Lea yang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.


Lea memandang Nina lalu melanjutkan, "Kak Erik dan Ghea sudah melakukan itu," lanjut Lea sambil melakukan kode dengan kedua tangannya.


Nina tampak tidak terkejut dengan penuturan Lea.


"Kak Erik sudah mengakuinya."


"Lepaskan," Sahut Nina tegas.


"Ha?" Lea merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ya, lebih baik kalian berpisah. Meskipun posisimu sah sebagai istri tapi tidak menguntungkan saat ini. Jika kamu bertahan pasti kamu akan kecewa nantinya. Mumpung saat ini hubunganmu dengan Kak Erik baik - baik saja lebih baik akhiri dari pada kalian berpisah dengan bertikai dan membawa sakit hati." Lea menatap Nina haru dan langsung memeluknya.


"Terima kasih Nin, kamu memang mengerti aku. Mungkin bagi orang lain aku bodoh atau gila tapi aku yakin ini jalan terbaik."


"Memang bodoh dan gila sih kamu tuh, tapi yaaah ... aku sudah biasa," sahut Nina di timpali dengan tawa Lea.


"Aku butuh pekerjaan Nin, usaha online shop ku tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan Maura yang semakin lama semakin tinggi," keluh Lea.


"Kerja apa ya." Nina tampak berpikir.


"Apa aja deh Nin yang penting halal dan bisa aku kerjakan dengan ijazahku yang tamatan SMK." Lea memajukan bibirnya dengan sedih.


"Kamu cantik, masih muda, body mu juga masih oke meski sudah punya anak." Nina tampak mengamati tampilan Lea dengan tatapan menilai.

__ADS_1


"Awas yaaa, jangan bilang kamu punya pikiran mau jual aku ke pria hidung belang." Lea menarik daun telinga Nina dengan gemas.


"Kamu pikir aku germo?" sahut Nina kesal sambil mengusap - usap telinganya yang memerah.


"Aku tuh punya teman dia biasa jaga pameran, kalau pekerjaan seperti itu sih setahu aku tidak diperlukan pendidikan tinggi atau ijazah. Yang penting tampilan menarik dan pandai berkomunikasi sudah cukup."


"Boleh ... boleh Nin, aku mau apapun asal halal, aku mau kerjakan buat Maura. Eh tapi Maura sama siapa kalau aku kerja?"


"Sementara kita carikan tempat penitipan anak yang aman untuk Maura biar kamu tenang bekerja, sampai keadaan keuanganmu membaik aku yang bayarin penitipan Maura."


Lea langsung memeluk Nina dengan erat, "Kamu memang teman terbaik Nin."


"Iyee ... tapi sudah tahu kan semua ga ada yang gratis." Nina tersenyum menggoda.


"Biar Tuhan yang membalas kebaikanmu Nin." Lea menepuk - nepuk bahu Nina dengan bijak.


"Hmmmm, diplomasiiii ... " sahut Nina kesal.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


"Kenalkan ini Kinanti, dulu kita sempat tetanggaan." Lea menyambut tangan Kinanti yang terulur untuk bersalaman.


"Di tempat kamu masih ada lowongan kerja ga Kin?" tanya Nina.


"Buat Lea?, pas deh kebetulan kami lagi ada persiapan beberapa pameran di mall dan aku butuh assisten team leader untuk bantu mengatur jadwal sales promotion girl yang bertugas," jelas Kinanti.


"Maksudnya dia bukan jadi SPG gitu atau gimana Kin?" tanya Nina bingung.


"Iya bukan, kalo SPG kan sistem kontrak jika ada event saja. Tapi yang aku butuhkan sekarang pegawai tetap buat bantuin kerjaan aku."


"Seriusss?" Lea terpekik tak menyangka.


Kinanti mengangguk tersenyum lalu melanjutkan, "Aku sih yakin kalau kamu cocok berteman dengan Nina pasti juga cocok sama aku, karena yang bisa memahami Nina hanya orang - orang yang diberikan kemampuan khusus." Kinanti tersenyum simpul disambut dengan gelak Lea.


"Eeh monyeet kalian kompak sekali," cetus Nina.


"Kamu bawa aja surat lamaran kerja hanya sebagai formalitas ya. Jangan lama - lama karena banyak daftar kerjaan yang menunggu kita." Kinanti tersenyum hangat.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Sambil nunggu up episode selanjutnya, silahkan mampir ke novel berjudul 'SOLD' karya R.Angela


__ADS_1


__ADS_2