
Besar harapan kedua orang tua Raymond pada pernikahan kedua putranya. Keesokan harinya sebelum kembali pulang ke kota asal mereka, Mama dan Papa Raymond menitipkan pesan pada anak serta menantunya.
"Ray, ingat pesan Papa jangan terlalu larut dalam pekerjaan. Kamu sudah punya semuanya, sudah sangat cukup. Jangan sampai hartamu yang paling berharga lenyap begitu saja karena kamu sibuk mengejar sesuatu yang tidak pasti."
"Kamu sekarang sudah punya pasangan hidup. Apapun yang terjadi, keputusan apapun terkait rumah tangga kalian, harus dibicarakan bersama karena kamu sekarang sudah tidak sendiri lagi."
Baru kali ini Papa berbicara dengan nada yang cukup serius. Papa mengambil waktu di dalam ruang kerja, hanya berdua saja dengan anaknya.
"Jangan kamu samakan Dea dan Lea. Hmmm tapi nama mereka sedikit mirip, kenapa bisa begitu ya Ray? kamu ga terobsesi sama mantan istrimu itu kan?" tanya Papa curiga.
"Jelas mereka sangat jauh berbeda Pa. Soal nama ya kebetulan aja, aku juga ga sampai sana mikirnya." Raymond juga baru tersadar dengan nama istrinya yang mirip, namun ia bersyukur tidak pernah salah sebut nama saat bersama Lea.
"Lea, sebelumnya Mama mau mengucapkan terima kasih sama kamu sudah mau menerima anak dan cucu Mama. Kamu tahu sendiri, sifat keduanya terkadang susah dipahami. Mama minta tolong kamu yang sabar ya menghadapi suamimu. Jangan cepat terpancing emosi, kalau ada masalah cerita sama Mama ya, ini Mama kamu juga." Mama menepuk dadanya dengan air mata berlinang.
Mama juga menyempatkan waktu untuk berbicara dengan menantunya, hanya berdua saja saat mereka berada di dapur.
Baru satu bulan tinggal bersama, Mama sudah merasa sangat dekat dengan menantunya. Ia merasa mempunyai seorang anak perempuan.
"Iya Ma, Lea paham. Lea justru bersyukur punya suami yang baik, Maura punya kakak yang sayang seperti William. Lea juga merasa punya orang tua lagi, ga ada yang lebih buat Lea bahagia sekarang." Lea memeluk Mama mertuanya dengan perasaan haru.
...๐น๏ธ...
Pagi ini hari pertama aktifitas rutin dimulai setelah bulan madu yang panjang ditambah libur tahun baru.
Raymond mengernyitkan kening saat melihat Lea keluar dari kamar sudah dengan pakaian formal seperti akan berangkat kerja.
"Kamu mau kemana?" tanya Raymond sambil menyipitkan mata.
"Kerja," jawab Lea ragu.
"Kerja? di kantorku?" Raymond menunjuk dirinya sendiri. Lea mengangguk masih dengan perasaan ragu.
"Kita sudah menikah dan kamu istriku. Lalu kamu mau bekerja di kantorku?" tanya Raymond heran dengan nada suara yang semakin meninggi.
"Iya, aku paham maksud Abang. Maksudnya, hari ini aku masuk hanya untuk mengajukan pengunduran diri. Aku masuk baik-baik, keluar juga harus pamit secara baik gitu," jelas Lea.
"Kamu mau pamit sama siapa?" Raymond berkacak pinggang.
"Mmm, Kinanti?" sahut Lea namun setengah bertanya.
__ADS_1
"Kinanti siapa yang gaji?"
"Abang," cicit Lea.
"Oke, sudah jelas kan?" Raymond berbalik hendak keluar kamar.
"Tapi kan aku harus pamit, suatu itikad baik yang sopan." Raymond kembali berbalik badan menghadap Lea.
"Kamu kalo ketemu Kinanti memangnya mau pamit bagaimana sih?" tanya Raymond semakin kesal.
"Mmm, yaa seperti ini 'Kin hari ini terakhir aku kerja. Terima kasih sudah bimbing aku selama kerja di sini.' Seperti itu kira-kira, sama mau serahkan ini." Lea mengacungkan amplop berisi surat pengunduran diri.
"Apa ini?, surat pengunduran diri kamu?" Raymond mengambil amplop dari tangan Lea.
"Ini aku yang bawa, kata-kata pamitmu cukup lewat pesan singkat." Raymond kembali berjalan menuju pintu.
"Tapi Bang." Lea menahan langkah suaminya lagi.
"Oke ... Saya Raymond Sanjaya pemilik dari Ray Manly Cipta Kreatif dan juga suami Bintang Amalea, menyetujui permohonan pengunduran diri anda hari ini juga." Raymond kembali menghadap Lea dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Eh?, baik. Terima kasih," sahut Lea lirih.
Ia sama sekali ga habis pikir dengan cara berpikir istrinya yang terlampau rumit. Untuk apa harus datang ke kantor mengajukan pengunduran diri, jika yang punya perusahaan ada di depannya bahkan mereka seranjang tanpa busana tadi malam.
Apa yang nanti dia jawab saat di tanya bagian personalia. 'Mengapa anda mengundurkan diri?, saya menikah dengan bos perusahaan ini'. Terlalu menggelikan, Raymond menggelengkan kepala sembari tertawa.
...๐น๏ธ...
Hari ini ia baru menjejakkan kaki di kantor setelah pernikahannya.
Semua karyawan berebut memberinya selamat saat ia berjalan melewati mereka.
Tatapan dan reaksi mereka cukup beragam. Ada yang dengan tulus mengucapkan selamat, ada yang mengucapkan dengan raut wajah menyelidik tak percaya, ada pula dengan raut wajah sedh dan kecewa, yang terakhir tentunya dari para wanita barisan model dan SPG yang selama ini sudah mengincarnya.
"Cerah, cemerlang, bersinar. Ruangan ini terlihat beda seperti ada bunga-bunga yang bertebaran di mana-mana." celetuk Gilang bak pujangga saat memasuki ruangan Raymond.
"Mungkin kamu lagi sakit mata," sahut Raymond santai tidak menanggapi kegilaan Gilang.
"Tolong kasih ke bagian personalia," Raymond menyerahkan surat pengunduran diri Lea.
__ADS_1
"Punya Ibu bos." Gilang terkekeh sambil mengibaskan amplop ke udara.
Saat Raymond ingin menimpali celotehan Gilang, ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya dari nomer yang tidak ia kenal.
"Hai, lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu?" Raymond mengerutkan kening membaca pesan yang masuk. Ia memutuskan tidak membalas sebelum benar-benar tahu siapa yang mengirimkan pesan tersebut.
"Siapa?" tanya Gilang. Raymond hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
"Ga kamu balas?"
"Sudah biasa orang yang berpura-pura kenal seperti ini."
Ponsel berbunyi lagi, kali ini nada panggilan masuk dari nomer yang sama.
"Halo," Suara di seberang sana meyapa. Wajah Raymond menegang, rahangnya mengeras mendengar suara di seberang sana.
"Halooo," Suara itu kembali menyapa, karena merasa tidak ada respon dari yang menerima panggilannya.
Raymond memutus panggilan sepihak. Wajahnya sudah suram tidak bisa digambarkan lagi.
"Siapa?" tanya Gilang penasaran dengan reaksi temannya.
Belum sempat Raymond menjawab, panggilan kembali masuk dari nomer yang sama.
Raymond membiarkan ponselnya itu berdering terus menerus, ia mengaktifkan mode senyap pada ponselnya.
"Ray, kamu ga angkat?" Raymond hanya menggeleng kepalanya dengan keras.
Pesan singkat kembali masuk dari nomer yang sama.
"Mengapa kamu tidak mau menjawab panggilanku Ray?, kamu tidak merindukan aku?"
...โคโค...
Maaf ya absen satu hari, hari senin di awal bulan dan awal tahun benar2 rame di kehidupan nyata, semoga kalian tidak bosan menunggu๐๐
Awal minggu yang masih punya stok vote boleh ya dibagi semoga belum telat ๐.
Sekalian juga bunga mawar untuk Lea dan secangkir kopi untuk Abang Raymond ๐ฅฐ
__ADS_1
Komen2nya jugaaa ditungguuuu ๐