
"Maaf, Dok." Lea menyengir malu.
"Sudah punya nama untuk si cantik ini?" tanya Raymond.
"Karena cewek, maunya yang ada nama Bintangnya juga kayak aku sama Maura."
"Bintang Kanaya Putri Sanjaya." Raymond tersenyum lebar.
"Bagus, aku suka." Lea ikut tersenyum. Sejurus kemudian senyumnya menghilang, "Kanaya itu bukan nama salah satu mantan Abang, kan?"
"Bukan, kamu kok punya pikiran sampe sana sih."
"Barangkali, katanya mantan Abang kan banyak."
"Karena banyak itu aku sudah lupa semua namanya." Sedetik kemudian cubitan Lea sudah mendarat di pinggang suaminya.
"Nama belakang Maura yang Anersa itu bisa diganti ga?, aku kok ga ikhlas ada nama Erik numpang di kartu keluarga."
"Jangan gitu, ah. Abang kan tau jasa Kak Erik buat aku sama Maura." Lea mengusap pipi suaminya untuk meredakan kekesalannya.
"Kapan dia nikah?, selama dia masih jomblo aku ga tenang."
"Akhir tahun ini katanya." Beberapa hari yang lalu Erik bercerita jika hubungannya dengan Ghea, sudah mendapat restu dari orangtua Ghea dan mereka akan segera melangsungkan pernikahan di tahun ini.
"Bagus kalo gitu, biar mereka bisa buat anak sendiri."
"Sudah selesai. Selamat sekali lagi Ayah dan Bunda untuk kelahiran putrinya." Sang Dokter berdiri dari kursinya lalu memberi selamat pada Lea dan Raymond.
"Suster, tolong di bantu pindah ke ruang perawatan ya."
Saat Lea dan baby Kanaya sedang dibersihkan, Raymond berjalan mendekati Dokter yang sudah hampir keluar dari ruang bersalin.
"Dok, eeh ... maaf boleh tanya, jahitannya tadi banyak ga?" tanya Raymond pelan.
"Lumayan," jawab sang Dokter singkat.
"Tidak semuanya kan, dok?" bisik Raymond.
Dokter itu tidak langsung menjawab, ia menatap pria besar yang tak tahu malu di hadapannya itu, dari ujung kaki hingga kepala.
"Masih ada celah sedikiiit, cukuplah buat ukuran anda." Sang Dokter memberi kode dengan lingkaran terkecil di jarinya, seraya tersenyum meremehkan.
Setelah itu ia langsung berjalan meninggalkan Raymond yang menahan rasa kesal dan malu.
"Sayang, ingat ya anak keempat kita cari rumah sakit lain. Aku ga mau di sini lagi."
"Jahitan yang di bawah baru selesai, sudah bicarain anak ke empat," sergah Lea kesal.
"Pak, Ibu saya bawa ke kamar perawatan ya. Baby nya di bawa ke ruang bayi dulu untuk di data." Seorang perawat mendorong kursi roda yang diduduki Lea.
__ADS_1
Sampai di kamar, Raymond tidak bisa menahan kantuk di matanya. Setelah semalaman ia tidak tidur dan mengalami ketegangan yang luar biasa, pagi ini dirinya langsung terkapar di atas sofa ruang perawatan Lea.
Ia terbangun saat merasakan ada bibir basah menempel di pipinya.
"Jangan suka menggoda, sayang. Imanku lemah loh kalo diajak begituan," gumam Raymond masih dengan mata terpejam dan senyum yang terkembang.
"Ngimpi jorok!" Tepukan keras di pahanya, membuat Raymond langsung tersadar.
Saat membuka mata, ia melihat Maura terkekeh di sisi sofa dan Mama memandangnya dengan kening terlipat.
Raymond bangkit dari tidurnya dan duduk di sofa, ia mengusap wajahnya lalu melirik jam yang melingkar di tangannya.
Rupanya ia sudah tertidur hampir lima jam, dan sekarang sudah masuk waktu makan siang.
Ia mengusap pipinya yang masih terasa basah, di sana ada lelehan coklat yang menempel.
Ternyata bukan istrinya yang menciumnya, tersangka utamanya masih terkekeh di sampingnya dengan sebatang coklat di tangannya.
"Kakak Maura ya ternyataaa." Raymond menggendong Maura lalu menggesekkan jambangnya di pipi putri kecilnya itu.
"Sudah lihat adeknya Maura?" tanya Raymond, gadis kecil itu masih terkekeh geli sambil mengangguk.
Raymond membawa Maura mendekati Lea yang sedang menyusui baby Kanaya. William sedang duduk di sisi Lea, memandang dengan takjub adek baru dalam gendongan Lea.
"Mama datang jam berapa tadi?"
"Dari jam sembilan Mama sudah di sini. Sudah dua jam juga, Mama lihat kamu tidur sambil senyum-senyum ga jelas."
"Aku ga ngigau macam-macam kan?" bisik Raymond pada Lea. Istrinya hanya tersenyum simpul tidak mau menjawab.
"Kamu tuh, cucu Mama sudah lahir malah diam-diam aja. Kalo Mbok Nah ga kasih tau, mungkin dia sudah jadi sarjana baru Mama tau kalo sudah lahir."
Raymond mengelengkan kepala menghadapi sikap Mamanya yang berlebihan.
"Bukan ga mau kasih tau, cuman belum sempat kasih kabar aja. Kanaya lahirnya subuh, dan kita semalaman belum tidur," jelas Raymond.
"Mama bawa rendang kesukaanmu, cepet di makan. Jangan lupa suapin juga istrimu, dari tadi belum sempat makan. Ibu menyusui harus banyak makan." Mama dengan cekatan mengambil piring lalu mengisinya dengan berbagai macam lauk.
Tangan Raymond ditepis Mama saat ingin mengambil alih piring yang sudah terisi penuh, "Ambil sendiri, ini buat Maura sama William."
"Papa?" tanya Papa dengan wajah memelas.
"Papa ambil sendiri juga, di rumah kan sudah sering diambilin, kalo di sini ngalah dulu sama cucu."
Papa mendekati Raymond yang sedang mengambil nasi dan lauknya, lalu berbisik, "Kita sekarang senasib, ini baru permulaan."
"Cah ganteng, cah ayuu, ayo sini ma'em dulu sama oma. Nanti lagi lihat adeknya."
Raymond mendekati istrinya saat dua kurcaci itu merapat ke omanya.
__ADS_1
"Kamu makan dulu, aku suapin sambil kamu nyusuin ya."
"Kayaknya dia jago nyusu, aku bisa ga kebagian giliran nih."
"Puasa empat puluh hari, Bang."
"Jangan bercanda kalo urusan itu, Lea. Biasa haid cuman seminggu sekarang jadi empat puluh hari."
"itu kan haid, ini masa nifas habis melahirkan, beda. Abang dulu sama Mba Dea gimana, masa lupa?" Wajah Raymond mendadak suram, ia malas mengingat masa lalunya lagi.
Tidak lama setelah William lahir, Dea sudah kembali berjalan di atas catwalk, bahkan ia tidak mau menyusui William karena takut payu*daranya berubah bentuk.
Setelah William lahir, jarak antara dirinya dan Dea semakin jauh.
Dea semakin gila kerja. William yang belum genap berumur empat puluh hari, hampir tidak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu.
"Maaf." Lea menyentuh tangan Raymond.
Raymond menggeleng dan tersenyum, "Ga apa-apa. Aku justru sangat bahagia dan bersyukur, karena kamu sekarang yang jadi istri dan anak-anakku." Raymond mendaratkan kecupan ringan di kening dan bibir Lea.
"Puasa, Ray!" seru Papa.
"Istrimu ga kenyang kalo cuman kamu kasih cium gitu," celetuk Mama.
"Sabar ya, sepertinya empat puluh hari kedepan banyak mata di rumah," bisik Raymond.
"Selamat siaaangg." Pintu kamar terbuka, lalu muncul empat kepala dengan senyuman lebar di wajah mereka.
Raymond menarik nafas panjang dan berat melihat kehadiran mereka, sedangkan Lea tersenyum lebar menyambut dua pasang sejoli yang selalu berhasil membuatnya bahagia.
...❤❤...
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1
Mampir ke karya teman aku ya, ramaikan di sana 🙏🤗