Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Menuju dunia yang baru


__ADS_3

"Kamu lagi ngapain?" tanya Erik pada Lea yang terlihat sibuk dengan kertas bertebaran di sampingnya.


"Lagi siapkan lamaran kerja kak." Lea menoleh sekilas lalu kembali fokus pada berkas - berkas di hadapannya.


"Kamu mau kerja?, apa kurang dengan apa yang sudah aku kasih?, lalu Maura?" Erik melemparkan pertanyaan bertubi - tubi.


Lea menghentikan kegiatannya dan mendongakkan kepalanya melihat Erik


"Aku harus segera menpersiapkan diri dari sekarang."


"Mempersiapkan diri dari apa?" Erik mengerutkan kening.


"Saat kak Erik tidak lagi berada dalam kehidupan kami, aku harus sudah siap menopang kehidupan Maura kedepannya."


"Kamu ngomong apa sih?" Erik terlihat menahan emosi.


"Kak Erik lupa dengan pembicaraan kita minggu lalu?" Erik menyugar rambutnya dengan kesal diingatkan lagi dengan pembicaraan yang membuatnya pusing.


"Kamu kok maksa sih?!, jangan - jangan kamu sendiri yang ngotot ingin berpisah?"


"Kenapa jadi kak Erik yang marah sama aku?, hal ini terjadi kan karena kakak yang memulai."


Keduanya sudah terlihat menegang. Lea sudah berdiri dari duduknya dan terlihat menantang mata Erik.


Ia merasa kesal pada Erik karena tuduhan yang tanpa dasar mengatakan jika ia yang menginginkan semua ini terjadi.


"Ghea saja tidak bingung kenapa kamu yang pusing?"


"Ghea dan aku sama - sama wanita jadi aku tahu perasaannya. Bukannya ia tidak bingung, tapi karena Ghea wanita baik - baik ia tidak mau merusak hubungan orang lain."


"Ghea mengalah dan memilih menyimpan rasa sakitnya sendiri. Justru di sini kak Erik lah yang brengs*k kalau mengacuhkan Ghea." Lea dengan berapi - api mengeluarkan semua emosinya.


Erik hanya terdiam dengan mulut setengah terbuka ingin protes mendengar semua perkataan Lea.


Selama ini yang ia tahu Ghea tidak memedulikannya sama sekali, dan menganggap semuanya sudah berlalu tidak seperti yang dikatakan Lea saat ini.


"Tahu apa kamu tentang keadaan aku dan Ghea?" sergah Erik menahan kesal karena dikatakan brengs*k oleh Lea.


"Temukan aku dengan Ghea, dengan begitu kita sama - sama paham situasinya," tantang Lea.

__ADS_1


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


"Ada pangeran kecil datang rupanya, pantes langit cerah seharian ini." Lukman menyambut William yang diantar mbok Nah dengan senyuman lima jarinya.


"Bosan." William tidak mengacuhkan gombalan dokter Lukman dan langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesaran Lukman.


Sedikit kode dari Lukman, mbok Nah sudah mengerti lalu berbicara tanpa suara mengatakan jika William marah karena papinya kembali mengingkari janjinya untuk bermain dengannya.


"Pangeran kesepian?" Lukman duduk di kursi pasien berhadapan dengan William yang duduk di kursinya.


"Mau ke mall?" tawar Lukman.


"Gak!, percuma di sana juga mainnya sendiri." Sambil berbicara tangan William ikut bergerak meremas, mencoret, merobek apa yang ada yang ada di meja. Membuat Lukman dengan gerakan perlahan namun pasti menyelamatkan berkas - berkas pentingnya.


"Okee kalau begitu Willi mau kemana?, mau apa?, om dokter mau dengar."


" ... Mau yang ramai banyak temannya." Setelah terdiam sebentar William mengutarakan keinginannya.


"Sekolah?"


"GA MAUU!." Sekali hempas beberapa benda di atas meja berterbangan ke lantai.


"Kalau di hambur seperti ini tambah lama kita jalan ke tempat yang banyak temannya."


"Di mana?" William mulai tertarik.


"Hayuuk cusss kita berangkat ... eeehhh tunggu dulu, bantuin om dokter dong beresin mejanya." William yang tadi langsung melompat dari kursi segera berhenti dan dengan cepat membantu Lukman menyusun kembali semua yang tadi ia lempar.


"Kita mau ke mana Om?" Pertanyaan yang sama sudah lebih dari lima kali ditanyakan oleh William, sejak mereka berangkat dari tempat praktek Lukman.


"Nanti juga Willi tahu."


"Kalau anak - anaknya jahat suka olok - olok seperti di sekolah aku ga mau!." William mendekapkan kedua lengannya di dadanya.


"Kalau Willi ga suka dengan tempat yang om dokter ajak nanti, ya kita cari tempat lain. Masih banyak kok tempat yang banyak temannya, gampang kan?" Lukman tersenyum pada bocah tampan yang duduk di sebelahnya.


Perlahan mobil yang dikendarai Lukman berhenti pada sebuah rumah yang cukup besar dan berpagar cukup tinggi.


"Yuk turun, di dalam banyak temannya." Lukman membuka pintu mobil di sebelah William.

__ADS_1


"Ga mau." William menggeleng menatap pagar tinggi di hadapannya. Bangunan itu terlihat menyeramkan seperti ingin memenjarakan dia untuk selamanya.


"Om dokter kan tadi bilang kalau Willi tidak suka di sini, kita cari tempat lain ... percaya sama om dokter." Lukman menyodorkan tangannya untuk diraih oleh William.


William menggenggam erat telapak tangan Lukman. Saat pagar besar dibuka, terdengar suara riuh anak - anak dari dalam rumah besar itu.


Ternyata di balik pagar yang tinggi itu, tersimpan pemandangan yang sangat indah.


Taman yang luas dengan berbagai warna warni bunga yang indah.


Kolam kecil berisi ikan dengan beraneka jenis, suara gemericik air mancur dengan gazebo yang teduh terlihat nyaman untuk beristirahat di sana.


Lukman melangkah terus memasuki ruangan yang lebar penuh dengan ornamen warna warni khas anak - anak.


"Halo dokter, apa kabar?. Apa ada yang bisa saya bantu?" Suara empuk dan senyum ramah dari Niken salah satu pekerja dari yayasan di Rumah Cinta terdengar menyapa.


"Hai Kak Niken, kenalkan ini William dia bilang mau punya banyak teman. Di sini apa bisa punya banyak teman Kak Niken?" Lukman bertanya seolah - olah tidak tahu tentang tempat yang di tujunya ini.


Niken berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi badan William, "Hai William, kenalkan nama saya Niken biasanya dipanggil Kak Niken sama anak - anak seusia William di sini. Tentu dong di sini memang tempatnya bermain buat anak - anak, pasti William dapat teman yang banyak di sini." Lukman dan Niken saling mengangguk - anggukkan kepala penuh arti melihat mata William yang antusias melirik ke arah belakang Niken, di mana banyak anak seusianya yang sedang bermain, menggambar, dan melakukan kegiatan lainnya.


"Mau main sama mereka?" tawar Niken. William mengangguk penuh semangat. Lukman memberi kode pada mbok Nah untuk mengantar William lebih dekat pada teman sebayanya, sementara ia mulai menjelaskan kondisi mental William pada Niken.


Satu jam berlalu Lukman membiarkan William puas bermain. ia menghampiri ruangan tempat di mana tadi mbok Nah membawa William bermain, tapi ia tidak menemukan keduanya di sana.


Lukman berjalan menyusuri bagian rumah sisi barat tempat penitipan anak mulai usia empat tahun hingga delapan tahun. Satu persatu ruangan dibukanya berharap menemukan William ada di sana.


Langkahnya terhenti mendengar suara kekehan William di sisi rumah bagian timur tempat penitipan bayi hingga balita berada.


Dengan cepat Lukman melangkahkan kakinya melewati taman yang memisahkan dua bagian rumah itu.


Dilihatnya William sedang berlari kecil mengejar balita perempuan berambut ikal usia sekitar satu tahun. Keduanya terlihat sangat ceria seperti tidak menghiraukan lingkungan sekitarnya.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


William sepertinya sudah menemukan "dunianya" đŸĨ°.


Biarkan William main dulu, mampir yuk di cerita keren temen author nih "Cinta Buta" karya Red White


__ADS_1


__ADS_2