Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Ulat bulu yang gatal


__ADS_3

"Loh kok balik, kenapa?" tanya Raymond kebingungan, saat melihat istrinya berjalan berbalik arah saat sudah di depan rumah mereka.


Ia sendiri masih di belakang berjalan sedikit lambat, karena menggendong Maura yang tertidur kelelahan setelah ikut jalan santai minggu pagi ini.


"Ada ulat bulu yang gatel banget!"


"Ulat bulu?!" Mata Raymond membesar kaget, tapi sejenak kemudian ia heran karena Lea tidak terlihat takut, tapi lebih ke merasa kesal.


Raymond segera mempercepat langkahnya. Setelah sampai di depan rumah, ia melihat mantan istrinya sudah duduk di bangku teras, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


Rumah Raymond dan Lea memang di design tanpa pagar, membuat siapapun bisa masuk hingga ke teras dengan leluasa.


"Ngapain kamu ke sini?"


"Mengunjungi putraku," sahut Dea tak acuh.


"Bukankah sudah pernah aku bilang, jangan pernah kamu injakan kaki di rumahku?!" Raymond memandang Dea tak suka.


"Rasa rindu seorang Ibu tidak bisa menunggu lama, Ray."


"Omong kosong!" sergah Raymond seraya masuk ke dalam rumah meninggalkan mantan istrinya di luar, karena Maura sudah terbangun dan mulai resah terganggu oleh keributan mereka berdua.


"Sejak kapan kamu sabar merawat anak orang lain?" ejek Dea sambil mengikuti langkah Raymond masuk ke dalam rumah.


"Anda belum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Tolong lebih sopan sedikit." Langkah Dea terhenti oleh suara Lea di depan pintu.


"Mamii?" William muncul dari belakang tubuh Lea bersama dengan Mbok Nah.


"Ini rumah anakku, sah-sah saja aku ada di sini," ucap Dea tidak peduli dengan tatapan protes dari Lea. Ia malah berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sana.


"Sini Willi sayang, sama Mami," panggil Dea seraya merentangkan kedua tangannya.


William menoleh pada Lea meminta persetujuan.


Lea tahu ia tidak berhak melarang William dekat dengan ibu kandungnya, dari tatapan mata William juga ada sorot kerinduan yang sama dengan Maminya.


Lea mengangguk setelah menarik nafas panjang, "Cuci tangan sama kaki dulu ya."


"Iya, Ma." Dengan wajah riang dan lega William segera masuk ke kamar mandi, lalu ia mendekati Maminya yang berada di ruang tamu.


Lea memilih masuk ke dalam kamar menyusul suaminya, dari pada ia ikut gila dengan kelakuan mantan istri suaminya itu.


Samar-samar ia masih mendengar suara Dea yang meminta dibuatkan minum oleh Mbok Nah, layaknya masih Nyonya di rumah ini.


"Yang." Raymond bangkit berdiri dari sisi Maura yang sudah terlelap dan berjalan mendekati Lea yang baru masuk kamar.


"Tuh diapelin, hepi kan?!"


"Kok gitu ngomongnya, aku mana tau dia mau ke sini."


"Apaan sih, aku mau mandi." Lea mendorong Raymond yang sudah mengendus-ngendus tengkuknya saat ia bersiap mandi dan mengangkat tinggi rambutnya.

__ADS_1


"Ikut, aku mandiin ya." Raymond menempel erat pada tubuh Lea, ke mana saja istrinya melangkah ia berusaha ada di dekatnya.


"Ada Maura." Lea membesarkan matanya, seraya menahan pintu kamar mandi dengan kakinya.


"Bobok." Raymond bersikeras ingin masuk ke dalam kamar mandi.


"Ga mau ah, aku mau mandi sendiri."


"Ya udah, aku temani William aja di luar." Wajah Raymond berubah suram.


"MASUK!" Lea langsung membuka pintu kamar mandi lebar-lebar.


Bagaikan anak kecil yang diperbolehkan main di saat hujan, Raymond melesat ikut bergabung bersama istrinya di bawah pancuran.


...❤...


"Ternyata sama tidak sopannya, membiarkan tamunya seorang diri di luar, sementara tuan rumahnya asyik berduaan di pagi hari." Dea melirik sinis pada rambut Raymond dan Lea yang masih terlihat sangat basah.


"Anda bukan tamu saya," tandas Lea sambil berjalan masuk ke dalam dapur.


"Kamu pilih wanita yang kasar untuk menjadi ibu William?!" cecar Dea pada Raymond yang duduk di kursi meja makan, sedang menikmati secangkir kopi.


"Jangan cari ribut di rumahku. Cepat bilang, apa mau mu datang ke sini?"


"Aku kebetulan ada acara pemotretan di Indonesia selama seminggu, dan hari minggu ini aku mendapatkan kesempatan libur. Jadi aku ingin menghabiskan waktu dengan putraku."


"Kita sudah sepakat, William boleh pergi denganmu tapi harus tetap dalam pengawasanku."


Taacckkk ....


Suara pisau beradu dengan telenan berbunyi nyaring dari arah dapur, mengagetkan Raymond dan Dea di ruang makan.


"Bar-bar sekali!" gerutu Dea.


"Tapi setia," sahut Raymond cuek seraya menyesap kopinya.


"Ayo, kita jalan Ray." Dea menarik tangan Raymond.


"Jangan mencuri di siang hari." sindir Lea dari arah dapur.


"Aku juga punya hak menghabiskan waktu bersama dengan anakku. Berhubung Papinya tidak mengijinkan kami jalan berdua, makanya saya ajak Ray ikut bersama kami," tantang Dea.


"Kalo Abang mau pergi, silahkan." Lea menaruh semangkuk sayur di atas meja seraya melirik suaminya dengan tatapan datar.


"Ayuk." Dea tersenyum semakin lebar dan bersemangat.


"Istriku harus ikut, aku tidak akan meninggalkan dia sendirian."


"Aku ga mau orang lain ikut, Ray."


"Yang kamu sebut Ray, dia juga sudah orang lain bagimu," sahut Raymond jengah, dengan sikap Dea yang seakan mereka masih ada hubungan yang terjalin.

__ADS_1


"Kamu bukan orang lain bagi aku, Ray. Masih ada ikatan anak di antara kita."


"Persetan Dea!, hentikan ocehanmu itu!, dan jangan kamu panggil aku Ray ... Ray. Sebut namaku secara lengkap, Raymond!" Raymond berdiri dari duduknya dengan kasar, membuat suara derit kursi dan lantai bergesekan.


"Jika kalian ingin bertengkar, jangan di sini!" Lea berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sebelah William yang memandang kedua orang tuanya dengan tatapan sedih.


"Jangan nangis ya, Mami sama Papi Willi ga bertengkar mereka hanya bicara dengan suara keras." Lea membesarkan volume televisi agar pembicaraan orang dewasa di ruang makan tidak di dengar oleh William.


"Aku ga mau jalan keluar, capek," bisik William.


"Oke, nanti Mama yang sampaikan. Willi di sini dulu ya nonton film." Lea berdiri dan kembali ke ruang makan.


Rasanya sangat berbahaya meninggalkan Raymond hanya sendiri bersama mantan istrinya, bagaikan menaruh ikan di pinggir jalan dan diintai oleh kucing liar.


"William tidak mau jalan keluar, dia capek bilangnya."


"Pasti kamu yang mempengaruhi!"


"Dea!"


"Dia mempengaruhi anak kita, Ray agar membenci aku ibunya."


"Lea sekarang juga ibunya William, dia juga berhak menentukan apa yang terbaik untuk anaknya."


"Bulshit!"


"Aku ga mau pergi keluar hari ini, Mi!" seru William dari arah ruang keluarga.


"Aku bukannya tidak mengijinkanmu untuk bersama William, tapi jika Willi sudah mengatakan tidak mau tolong jangan memaksa. Kamu bisa menghabiskan waktu bersama di dalam rumah ini," jelas Lea.


"Yang!" seru Raymond kurang setuju. Dea hanya tersenyum sinis mendengar panggilan Raymond untuk Lea, karena panggilan itu dulu hanya untuknya.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2