
Selama perjalanan pulang menuju rumah Raymond, Mama tak henti-hentinya bercerita tentang masa kecil Raymond.
Hal itu membuat Raymond semakin kesal, dan sering memotong pembicaraan jika sudah menjurus ke hal yang memalukan.
Raymond melirik Lea yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion, Wanita itu dari tadi tak henti-hentinya tertawa menanggapi cerita Mama.
Walaupun sedikit memalukan, Raymond merasa bahagia melihat wajah calon istrinya itu kembali ceria setelah seharian tadi ia membuat moodnya jelek dan hampir menangis.
Calon istri ... kata itu melintas di pikiran Raymond. Ia merasa geli sekaligus bahagia memikirkan sebentar lagi akan menikah dengan Lea, wanita yang tanpa ia sadari selama ini sudah dengan perlahan masuk terlalu dalam ke hatinya. Tanpa sadar ia tersenyum dan tertawa kecil.
"Heei!, kamu kok malah ketawa. Kita ini lagi ngomongin Om Cahyono yang baru aja meninggal kok malah ngguyu to, ga sopan!." Papa menepuk bahunya dengan keras.
Raymond segera tersadar, ia melirik Mamanya dan Lea yang sedang memandangnya heran melalui kaca spion. Ternyata topik pembicaraan sudah berubah bukan sesuatu yang lucu tapi berita duka, dan konyolnya ia malah tertawa di saat yang tidak tepat.
"Bukan itu maksudnya, tadi lagi inget kejadian lucu di kantor," ucap Raymond asal.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada dua bujang karatan menunggu di depan pintu masuk.
"Selamat malam Om, Tante. Selamat datang."
"Sehat-sehat semua kan. Capek pasti di perjalanan."
Lukman dan Gilang berebut memberi salam dan kata sambutan.
"Ramah bener, pasti nungguin oleh-oleh," ledek Mama.
"Tante selalu bisa mengerti kami," sahut Gilang yang paling lemes mulutnya.
"Tante sama Om sudah lima kali lebaran lima kali puasa datang ke sini kalian masih aja belum laku," cetus Mama sambil mencubit perut Gilang dan Lukman.
Lukman dan Gilang hanya meringis menahan sakit tanpa berani protes. Mereka bertiga sudah sangat dekat dari masa kuliah.
Orangtua Raymond sudah seperti orangtua mereka sendiri. Hidup kos dan jauh dari rumah selama mereka kuliah, membuat kesejahteraan perut mereka harus bersandar pada Mama Raymond.
"Doain ya Tan, tahun ini bisa nikah juga. Saya terpaksa mengalah sama yang lebih senior." Lukman menunjuk Raymond yang dari tadi bolak-balik keluar masuk rumah angkat koper.
"Ya jangan lama-lama, nanti bisa membusuk kalo ga pernah di pake," ledek Papa sambil tertawa penuh arti.
"Omaaaaa ...." William berlari dari dalam rumah dan langsung memeluk Omanya erat.
"Loohh, dah gede cucuku cepet banget toh."
"Oma, aku sekarang punya adek loh." William menunjuk Maura yang bersembunyi di antara kaki Lea.
"Oma juga sudah tau dong, namanya Maura kan? Siniiii sama Oma," Mama mendekat dan langsung menggendong Maura.
__ADS_1
"Uluu uluuuu ... cantik banget toh bocah ini," Tanpa perlawanan dari Maura, Mama membawanya masuk sambil terus mengecup pipi bulat Maura.
Lukman menyusul Raymond di dapur yang sedang mencari sesuatu di dalam lemari es.
"Apaa ... apaaaa hah??!" Belum sempat ada kalimat terucap dari Lukman, Raymond sudah menyembur duluan.
"Aku curiga, jangan-jangan niat kamu menikahi Lea sudah sejak Maura dalam kandungan." Lukman terkikik.
"Sembarangan!" sembur Raymond sambil menegak air dingin langsung dari botolnya.
"Belum ada dua minggu rencana kamu mau nikah, Mamamu sudah siap lahir batin ... lihat tuh." Raymond mengarahkan pandangannya ke arah ruang tamu.
Tampak Mamanya sedang membuka koper dan mengeluarkan segala macam barang berupa baju, aksesories dan perlengkapan wanita lainnya untuk Maura dan Lea.
"Kamu tau lah Mamaku gimana, begitu aku bilang mau nikah beliau langsung minta diceritakan dari A sampe Z lanjut minta kirim foto Lea dan Maura dari segala sisi," sahut Raymond nyengir, sambil terus memperhatikan Mamanya yang masih bersemangat memakaikan baju baru ke Maura.
"Beda banget dulu pas mau nikah sama Dea."
"Ga usah bawa-bawa nama itu!" sergah Raymond kesal.
"Tapi kamu beneran serius sama Lea?"
"Yang namanya menikah bagiku selalu serius ... kalo mau main-main kawin namanya, cuman sekedar numpahin isi botol," seloroh Raymond asal.
"Mmm, Ray ... ada yang aku mau sampaikan seri----"
"Sebentar, ada panggilan dari kanjeng permaisuri kalo aku enggak segera datang teriakannya bisa naik sampai tujuh oktaf." Raymond segera berdiri dan menghampiri mamanya.
"Sudah malam, anter dulu Lea sama Maura pulang. Kasihan sudah ngantuk dia." Mama menunjuk Maura yang sudah berkali-kali menguap di gendongan Lea.
Lea yang sejak tadi mengamati Lukman dan Raymond berbincang di dapur, mempunyai pandangan lain. Di matanya Raymond dan Lukman seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat.
Dalam hati ia merasa tidak enak hati dengan Lukman, karena seperti sudah merebut pasangannya.
"Mas Lukman, mmm ... saya minta maaf ... saya dan Pak Raymond tidak seperti yang Mas Lukman kira. Saya janji ini hanya sementara aja, tolong jangan marah sama Pak Raymond ya ... sekali lagi saya minta maaf," bisik Lea tiba-tiba saat mereka sudah bersiap akan pulang.
Lukman yang awalnya mengerutkan kening mendengar perkataan Lea, berubah menjadi melongo melihat Lea langsung berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa dia?" tanya Gilang heran, sambil memperhatikan mobil Raymond yang baru saja keluar dari halaman.
"Ga tau ... memang klop ternyata mereka, pasangan yang aneh." Gilang dan Lukman tertawa bersama.
"Ngapain kalian masih di sini, masih nunggu oleh-oleh?" Tawa berderai mereka diinterupsi oleh Mama yang melirik curiga.
...đšī¸...
__ADS_1
"Kamu ingkar!" Nina mencebik di samping Lea yang sedang di rias.
"Ninaaa, jangan gitu dong. Kamu kan tau aku ga ada pilihan lain. Kalo boleh milih sih aku ga mau nikah sekarang Nin, capek tau," keluh Lea setetes air mata sudah menitik di pipinya.
"Eeh, jangan nangis toh cah ayu nanti make up-nya luntur ... piye to." Sang Perias kembali memoles perona pipi.
"Ya aku tau, maap aku cuman becanda aja tadi." Nina menggenggam erat tangan Lea, "Aku turut bahagia, aku harap ini pernikahanmu yang terakhir."
"Pak Raymond orangnya baik kok sama Maura juga sayang banget, casing-nya aja serem tapi aku yakin dia tuh cinta sama kamu bukan sekedar ingin bantu doang, keliatan dari cara dia mandang kamu."
" ... aku ga yakin deh Nin, mmm ... kamu kan deket sama dokter Lukman masak ga tau?" sahut Lea ragu.
"Tau apa?, kok jadi nyambungnya ke Lukman?"
Lea membisikan sesuatu, sedetik Nina membelalakan matanya lalu berubah menjadi tertawa terbahak-bahak.
"Kamu kok malah ketawa sih, ini masalah serius loh."
"Itu kata siapa sih?, kamu denger dari mana??" tanya Nina masih menyisakan tawanya.
"Anak-anak kantor, terus aku lihat mereka berdua juga deket ...."
"Pikiranmu tuh cocok sama Kak Erik." Nina menoyor dahi Lea.
"Inget ga Kak Erik kira kita apaan dulu?"
Lea mengingat saat Erik mengira dirinya dan Nina punya hubungan spesial yang lebih dari persahabatan hanya karena melihat mereka berpelukan dan saling mencium pipi, ditambah lagi saat itu dirinya masih belum mau disentuh oleh Erik.
"Jangan kamu ulangi lagi kejadian tolol dengan Kak Erik dulu."
"Dengarkan Lea ... meski awal pernikahanmu ini bukan di dasari oleh perasaan cinta seperti pada pasangan umumnya, tapi bukan berarti perasaan itu tidak akan muncul. Beri kesempatan untuk perasaanmu lebih mengenal apa dan bagaimana cinta itu. Jangan lewatkan 'dia' lagi." Nina memegang kedua pipi Lea.
"Ninaaaaa ...." Lea memeluk erat sahabatnya itu.
...â¤â¤...
Masih nungguin MP yaaa đ đ¤
Asli masih galauuu nulisnya bagaimana đ , semoga masih tetap sabar đ
Semoga nanti malam sempat up lagi bekal malam mingguan ya
Terima kasih atas vote, like, komen, hadiah dan ratingnya đâ¤. Acara pernikahan belum mulai jadi kotak angpau masih terbuka lebar, yang mau ngisi dipersilahkan đ
Lewat lagi promo punya temen aku kak Trias Wardani, Berbagi Cinta : Suamiku menikah tanpa ijinku
__ADS_1
Ramaikan yaa