Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Baby Launching


__ADS_3

"Suster panggil siapa tadi?" Raymond berdiri lalu berjalan mendekati perawat yang berdiri di depan pintu, yang sedang memegang beberapa berkas.


"Susteeerrr lebih cepat sedikit." Suara dari arah dalam ruang tindakan berteriak tidak sabar, membuat perawat itu sedikit tergesa.


"Pak Raymond?" Perawat itu kembali bertanya untuk meyakinkan.


Raymond mengangguk dan berusaha mencuri lihat isi berkas yang di pegang oleh sang perawat.


"Minta tolong pak cepat sedikit." Perawat itu dengan tidak sabar, sedikit memaksa Raymond masuk ke dalam meninggalkan Lukman yang melongo di kursi ruang tunggu.


Raymond berusaha mengikuti langkah perawat yang cepat dengan rasa penasaran.


Setelah berada di ruang yang cukup besar, Raymond melihat ada beberapa orang berpakaian medis sedang sibuk mengelilingi seorang wanita yang terbaring dengan kaki terbuka lebar.


Para medis itu ada yang mengusap peluh wanita itu sambil berkata menenangkan, ada pula yang membantu dokter yang sedang duduk menghadap kaki wanita yang terbuka lebar.


*W*eeeeww ... ujung bibir Raymond tertarik ke atas melihat hal itu. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mengamati suasana dalam ruangan yang terlihat super sibuk.


"Suster, mana suaminyaaa?" Tiba-tiba sebuah wajah muncul dari antara kedua kaki wanita yang terbuka lebar itu.


Raymond sempat sedikit terkejut melihatnya muncul dengan cara seperti itu.


"Oohh anda?, cepatlah!" Dokter kepala pelontos berkacamata itu, dengan tidak sabar memanggil Raymond agar sedikit mendekat.


Raymond menunjuk dirinya sendiri dengan keheranan tapi tetap melangkah maju. Pada dasarnya ia masih belum sadar untuk apa dirinya berada disana.


"Istri anda mengalami pendarahan. Awalnya kami akan melakukan operasi caesar karena belum cukup usia kandungannya, tapi kepala bayi sudah masuk dalam tulang panggul jadi tidak ada pilihan lain untuk membantu persalinan dengan normal." Dokter berkacamata berkepala pelontos berkata dengan sangat cepat, sambil sesekali melongok di antara kedua kaki wanita itu yang terbuka lebar itu.


Raymond meringis melihatnya, di dalam pikirannya bertebaran hal-hal aneh yang mungkin di lihat dokter itu.


"Pak Raymond tolong bantu istrinya diberikan semangat ya." Seorang perawat menepuk bahunya.


"Istriii???" Raymond segera tersadar untuk apa ia berada di dalam sana. "oww, maaf sepertinya ada kesal----"


"Aaaaaarrrghhhh ...." Perkataan Raymod terpotong dengan jeritan kesakitan Lea.


"Pak! ... tolong bantu tenangkan istri anda." Dokter itu sudah mulai terlihat tidak sabar melihat Raymond masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


Raymond memandang sekitarnya, tatapan para medis yang sedang bertugas tertuju padanya dengan pandangan menuduh.


Pandangan Raymond beralih ke Lea yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata antara bingung, takut juga kesakitan.


Tubuh Raymond oleh seorang perawat, di tuntun dengan sedikit paksa ke sisi pembaringan Lea.


"Tarik nafas bu, hembuskan dengan perlahan saat saya bilang dorong ibu mengejan yang kuat ya." Dokter itu memberi arahan dari arah bawah sana.


Lea mengangguk pelan dengan keringat hampir membasahi seluruh tubuhnya.


Raymond sedikit merasa iba melihatnya, saat putranya lahir ia tidak pernah melihat proses kelahirannya.


Lea menarik nafas dan menghembuskannya sambil matanya tetap tertuju pada pria di sampingnya seolah mengatakan untuk apa anda di sini.


"Dorong sekarang bu ...." seru dokter dari arah bawah sana, yang masih melongok di antara dua kaki Lea.


"Aaaakkkhhh ...." Lea menjerit kesakitan lalu tangannya reflek menggapai apapun yang ada di sampingnya.


"Heeekkkkkhhh ..." Tubuh Raymond tertarik ke arah Lea, saat kemeja di bagian dadanya jadi sasaran cengraman tangan Lea sehingga membuatnya sedikit tercekik.


Oeeekkkh ... oeeekkh ... Suara tangisan bayi yang keras memenuhi ruangan bersalin menggantikan suara para medis yang riuh.


Bayi yang baru lahir itu dibersihkan oleh perawat, lalu di bawa ke arah Lea dan dibaringkan di atas dada Lea yang sedikit terbuka.


Tanpa disadari senyum Raymond terkembang melihat pemandangan yang menghangatkan hatinya itu.


"Pak bisa langsung di berikan adzan putrinya." Dokter berkacamata itu sudah berdiri di sampingnya dengan tersenyum lebar.


"Tap----" Belum selesai Raymond menyelesaikan kalimatnya, dokter itu sudah berlalu dan kembali duduk menghadap kaki Lea yang masih terbuka lebar.


Raymond kembali meringis melihat hal itu. Otak miringnya berpikir lagi mengapa dokter itu gemar sekali duduk di sana.


"Silahkan saja pak, sambil saya selesaikan di sini dulu ya." Kembali dokter itu menyembulkan kepalanya di antara kedua kaki Lea.


Raymond melihat Lea yang terlihat lelah tertidur menutup matanya rapat, dan sang bayi juga terlihat tenang berada di dada mamanya.


Raymond mendekat lalu meletakan jarinya pada telinga bayi dan melantukan adzan dengan suara perlahan.

__ADS_1


Lea membuka matanya pelan saat mendengar suara merdu pria di dekatnya, saat matanya terbuka tatapannya terkunci pada mata Raymond yang saat itu sedang menatapnya juga. Wajah mereka sangat dekat hampir tidak berjarak.


Beberapa saat mereka terdiam dengan posisi yang masih sama, hanya ada bayi yang baru lahir sebagai pembatas di antara mereka.


"Permisi saya bawa adeknya dulu ya, mamanya mau di bersihkan." Seorang perawat tersenyum di samping mereka, membuat Lea dan Raymond segera tersadar dan memutus kontak mata mereka.


"Mmm ... saya ke toilet dulu." Raymond berniat melarikan diri dari ruangan yang ia rasa semakin panas.


"Saat membuka pintu ruang bersalin Raymond melihat Lukman masih duduk di bangku yang sama, dengan cepat dan emosi Raymond berjalan mendekati sahabatnya itu lalu mencengkram kerah bajunya dan menarik Lukman bangkit dari duduknya.


"Kamu tahu apa yang aku lihat di dalam sana?!!" geram Raymond.


"Wanita melahirkan?" Lukman menjawab dengan santai, sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Raymond pada bajunya.


"Kamu tahu!, tapi kenapa kamu tidak menghentikan aku masuk ke dalam tadiii!" Raymond berteriak kesal.


"Apa kamu tidak bisa baca tulisan itu?" Lukman menunjuk tulisan yang ada pada pintu besar dimana Raymond keluar tadi. Raymond menoleh sekilas dan membaca


...Ruang Bersalin...


...(Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk)...


"Aaarrggghhh ...." Raymond merasa geram, kedua tangannya bergerak ingin meremas sahabatnya itu. Lukman hanya melengos dan berjalan menjauh.


"Bagaimana Lea dan bayinya, baik-baik aja?"


"Apa peduliku!. Aku bukan suaminya, kenal saja tidak. S*al benar aku hari ini datang ketempatmu."


"Kamu suaminya ... itu yang tercatat di data rumah sakit ini, hahahaha ...." Lukman terbahak melihat wajah Raymond yang terlihat menahan kesal.


"Kenapa kamu tidak segera menghubungi suaminya, biar ia cepat datang kesini. Aku tidak mau lebih lama lagi di sini. Semakin lama aku di sini, bisa bertambah lagi masalahku gara-gara pasien gilamu itu." Raymond terus menggerutu.


"Dia tidak gila Ray, harus berapa kali sih aku bilang? Lea ... namanya Amalea, dan aku tidak tahu suaminya." Lukman menaikan kedua bahunya, "Baru sekali ini ia datang konsultasi ke tempat praktekku, jadi aku belum terlalu mengenalnya."


"Lalu bagaimana sekarang??" Suara Raymond terdengar semakin frustasi.


"Ya kita tunggu aja sampai Lea di bawa ke ruang perawatan, lalu kita minta nomer keluarga yang bisa dihubungi." Lukman berbalik menghadap Raymond dan tersenyum sangat manis, namun di mata Raymond terlihat sangat memuakan.

__ADS_1


...❤❤...


__ADS_2