Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Curiga


__ADS_3

Selama di dapur membantu Mbok Nah memasak untuk menu makan nanti malam, pikiran Lea selalu terarah pada data panggilan yang ada di ponsel Dea.


Apa yang mereka bicarakan selama itu?, kenapa juga ponsel suaminya tidak bisa dihubungi sampai sekarang?


Apa nanti suaminya akan bercerita tentang isi pembicaraan mereka di telepon?


Jika suaminya nanti bercerita dan menyinggung tentang ijin mantan istrinya itu untuk menemui anak mereka, tentunya ia juga akan bercerita tentang kedatangan Dea ke rumah mereka dan ia akan meminta maaf atas kesalah pahaman yang sudah terjadi.


Suara deru mobil memasuki halaman, Lea mencuci tangannya dan segera ke depan untuk menyambut Raymond seperti biasanya.


"Hai sayang." Raymond mengecup kening Lea,


"Anak-anak mana?" tanyanya setelah minum secangkir teh hangat yang di sodorkan Lea.


"Main di belakang. Hari ini capek banget ya, kelihatan kusut gitu mukanya." Lea mengusap dahi Raymond yang berkeringat.


"Iya, hari ini padat sekali." Raymond meraih pinggang Lea, menariknya duduk di pangkuannya.


"Iih Bang, ada Mbok Nah." Lea berdiri saat terdengar suara perabotan berdenting dari arah dapur.


Raymond tertawa melihat reaksi Lea yang selalu merasa malu dan takut bermesraan di ruang terbuka.


"Abang sibuk ya, pantes aku seharian telpon ga diangkat."


"Oww, bukan karena itu. Ponselku rusak, Gilang lagi bawa ke service centre. Ini aku sudah beli baru tapi belum sempat di setting." Raymond mengeluarkan satu kotak berisi handphone dengan logo buah pisang.


"Rusak kenapa?"


"Keinjek," sahut Raymond tak acuh.


"Mau kemana?" seru Lea saat Raymond terus menggenggam tangannya saat akan menaiki anak tangga.


"Mandi."


"Ya udah abang mandi aja dulu, aku mau lanjut masak." Lea berusaha menarik tangannya.


"Jangan pura-pura polos, atau aku polosin di sini sekarang juga," ancam Raymond dengan tatapan menggoda. Lea melampiaskan kekesalannya dengan mencubit gemas perut suaminya.


...đŸ”šī¸...


"Will, makan dulu sayang." Lea membuka pintu kamar putra tampannya.

__ADS_1


"Maa, tadi ga bilang kan sama Papi kalo Mami tadi datang ke sini?"


"Kalau Papi ga ada bilang ijinkan Mami ketemu sama Willi, Mama janji ga cerita kalau tadi Mami datang ke sini. Tapi, kalau Papi sendiri yang kasih ijin Mami untuk ketemu William, Mama harus cerita dan kita juga harus minta maaf karena sudah mengabaikan Mami tadi." William tampak terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.


Selama makan malam hanya Maura yang terlihat ceria seperti tidak punya masalah sedikitpun, karena ketiga orang lainnya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai waktunya tidur, Lea masih menunggu suaminya itu bercerita tentang Dea.


"Ada cerita apa tadi di kantor?" pancing Lea, ia mulai memijat kaki Raymond saat pria itu sedang asyik dengan ponsel barunya.


"Ga ada yang seru untuk diceritakan, lebih seru yang tadi sore di kamar mandi." Raymond mengerling.


"Aduh sakit sayang, kalau mau remas jangan disitu agak naikan sedikit dong tangannya." Raymond meringis saat tangan Lea mencengkram betisnya.


Saat Raymond menarik tangan Lea dan ingin menciumnya, ponsel istrinya itu berbunyi.


"Siapa?" tanya Raymond melihat istrinya sekarang asyik berbalas pesan singkat di ponselnya.


"Kak Erik."


"Malam-malam gini?, mau apa dia?kamu masih sering berhubungan dengan dia?!" Nada suara Raymond sedikit meninggi. Ia tidak suka jika istrinya masih dibayang-bayangi masa lalu.


Apalagi ini seorang pria dari masa lalu yang dengan jelas masih menyukai istrinya, sebuah ancaman bagi dirinya.


"Kak Erik kalau hubungi aku juga hanya untuk nanyain kabar Maura kok, ga lebih." Lea mengusap lengan Raymond untuk meredakan emosi suaminya itu.


Ia memang tidak berbohong, pesan singkat selama ini hanya untuk mengabarkan tentang Maura, foto-foto Maura dan segalanya tentang Maura.


"Aku ga percaya, Maura hanya ia jadikan jembatan untuk mendekati kamu lagi."


"Lagian kenapa sih dia tanya tentang Maura?, dia itu kan bukan siapa-siapanya Lea!"


"Bang, please." Lea malas memulai perdebatan di waktu menjelang tidur seperti ini.


Tadinya ia ingin mengorek hubungan masa lalu suaminya, malah sekarang jadi terbalik justru dia yang terhakimi.


"Maura sekarang anakku, aku ga suka dia sok perhatian seperti itu. Kalau dia mau tanya kabar tentang Maura lewat aku aja bukan kamu!"


"Iya, iya nanti aku sampaikan." Lebih baik ia menyetujui pernintaan suaminya, meskipun ia tahu Erik tidak akan mau menghubungi Raymond.


"Jangan marah-marah gitu dong, nanti darah tinggi loh." Lea mengecup pipi Raymond tapi sayangnya suasana hati suaminya itu sedang tidak baik saat ini.

__ADS_1


Raymond langsung berbalik memunggungi Lea, entah kenapa sikap suaminya ini berubah kekanakan dan cepat sekali marah.


Esok paginya Raymond masih belum mau berbicara banyak pada Lea, wajahnya pun tidak banyak tersenyum.


Hanya kepada Maura dan William, Raymond mau bercanda lepas. Lea membiarkan sikap suaminya itu dan berusaha memaklumi. Ia juga menyadari kesalahannya sebagai seorang istri yang bertukar pesan dengan seorang pria pada malam hari.


"Nanti mau dibawakan makan siang ga?" tanya Lea saat Raymond akan menaiki mobilnya.


"Ga perlu!" Tanpa mengecup seperti yang biasa dilakukan, Raymond langsung pergi begitu saja tanpa menoleh.


Hari-hari berikutnya Raymond masih terus bersikap yang sama, meneruskan aksi mogok diamnya.


Ia sendiri juga sedikit bingung dengan perasaannya. Mengapa mudah kesal dengan apapun yang dilakukan istrinya meski itu hal yang kecil sekalipun.


Terkadang ada rasa kasihan melihat raut wajah Lea yang serba salah jika ia menolak, menggerutu dan sedikit membentaknya.


Tiap malam ia terbangun memandang wajah istrinya yang terlihat lelah, mengusap pipinya dan menciumnya tanpa sekalipun Lea tahu. Tapi saat menjelang pagi hingga akan tidur kembali sifat dingin dan tak acuhnya muncul.


Lea memandang suaminya yang sedang mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Sesekali suaminya itu terlihat tertawa kecil dan tersenyum. Apakah ia sekarang mulai curiga dengan suaminya?


Ingin rasanya ia menarik paksa ponsel Raymond, dan melihat siapa yang sedang berbalas pesan dengan suaminya itu.


Pengalaman pernah dikhianati Erik dulu, membuat Lea waspada dengan perubahan pasangannya.


Saat Erik ada main dengan Ghea, situasinya hampir sama dengan keadaan Raymond saat ini. Mudah marah, sering menatap ponselnya dan tersenyum bahagia.


Apakah Raymond berselingkuh?


apa jangan-jangan ia dan mantan istrinya itu menjalin hubungan kembali?


Mengapa suaminya hingga saat ini tidak pernah bercerita tentang pembicaraan dengan mantan istrinya beberapa hari yang lalu?


Apa yang di sembunyikan oleh Raymond?


Kepala Lea mendadak sakit memikirkan kemungkinan yang terjadi, Ia mencengkram rambutnya untuk meredakan nyeri pada kepalanya.


"Kamu kenapa?" Raymond tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya menatapnya dengan khawatir.


...❤❤...


Seperti biasaaa mengingatkan pada reader tersayang untuk tinggalkan jejak like, komen, bunga dan kopi đŸĨ°đŸ™

__ADS_1


Mampir ke karya temanku yaa



__ADS_2