Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Hak asuh


__ADS_3

"Apa yang terjadi??" Beni menginterogasi istrinya saat Lea dan Raymond sudah tidak terlihat.


"Aku hanya meminta hakmu." jawab Devi ragu.


"Hakku? … hak apa maksudmu?"


"Hak asuh Maura."


"Hah?, kenapa? aku bahkan tidak punya pikiran seperti itu?? …." Beni menatapnya tak percaya.


"Aku lakukan itu untuk Maura, Pa."


"Apa maksudmu?"


"Lea … mengasuh Maura sendiri." Devi sadar informasi ini bagai pedang bermata dua baginya.


"Aku hanya mau membantu dia, meringankan bebannya bukan untuk mengambil anaknya. Dia masih bisa bertemu Maura … aku hanya ingin mengasuh Maura, dengan begitu kamu juga bisa selalu dekat dengan putrimu." Devi terus saja membujuk, agar Beni sepaham dengan keinginannya.


Beni terdiam cukup lama mencoba menyerapi segala perkataan Devi. Kemarahan juga ada dalam hatinya, karena merasa sudah dibohongi tentang keberadaan Maura.


Hingga putrinya itu lahir dan sudah berusia satu tahun ia baru dapat bertemu, itu juga karena tidak sengaja.


Jika tidak ada urusan pekerjaan, bisa jadi selamanya ia tidak mengetahui kalau ia punya seorang putri.


"Apa maksudmu Lea mengurus Maura sendirian, kemana Erik suaminya itu?" 


"… mereka berpisah, jangan pernah ada di pikiranmu untuk menikahi Lea," tandas Devi sebelum suaminya berpikir yang macam-macam.


Beni melirik istrinya kesal, saat ini yang di pikirannya hanyalah putrinya.


Ia menyesal belum sempat meminta nomer ponsel Lea, sekarang ia harus kembali menghubungi Raymond untuk menemui Lea.


Raymond dan Lea baru saja sampai, saat Beni menghubunginya.


"Selamat sore Pak Raymond, saya minta maaf atas kejadian di hotel tadi. Ada kesalahpahaman antara istri saya dengan Lea, … kami ingin bertemu Lea untuk meminta maaf. Boleh saya meminta nomer ponselnya?" pinta Beni penuh harap.


Raymond yang berada di dapur ingin mengambil minum terdiam mendengar permintaan Beni, ia tahu Lea sedang tidak ingin bertemu dengan pria itu. Tapi di satu sisi ia sangat penasaran akan hal yang terjadi.


"Lea sekarang ada di rumah saya Pak Beni, jika Bapak ingin bertemu bisa datang kemari tapi tentunya saya harus tanyakan dulu apakah karyawan saya bersedia menemui Bapak." Raymond mengintip Lea yang ada di ruang keluarga dari celah pintu.


Gadis itu tampak sudah sedikit lebih tenang saat bertemu dengan William.


 


"Saya minta tolong Pak Raymond, tidak enak jika kami pulang membawa beban di hati."


"Tunggu sebentar." Raymond menutup speaker ponsel menggunakan tangannya lalu berjalan ke arah Lea.


 


"Lea, Pak Beni dan istrinya mau menemuimu mereka mau minta maaf." Lea menggeleng dengan keras, mengambil tasnya lalu menghampiri Maura ingin membawanya pergi.


"Dengarkan saya!, saya tidak tahu apa masalahmu dengan mereka tapi mereka itu klien saya Lea. Sebagai karyawan saya minta kamu profesional!," Raymond memandang Lea tajam. Hanya ini cara agar Lea mau menemui Beni dan istrinya.

__ADS_1


"Lea bersedia, silahkan Bapak kemari." Setelah memutus pembicaraan, Raymond mengirimkan alamat dan lokasi ke ponsel Beni.


"Masih belum mau cerita?" tanya Raymond dingin.


Lea masih terdiam di tempatnya. Apa yang harus di katakannya, Raymond bukanlah siapa-siapa baginya.


Raymond hanyalah bos di tempat ia bekerja, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan … tidak lebih, dan Lea tidak mau melanggar batasan itu.


Selain itu, apa jadinya jika pria mulut julid itu tahu tentang masa lalunya, ia tidak bisa membayangkan cercaan yang keluar dari mulut bosnya itu.


Tidak menerima respon apapun dari Lea, Raymond memilih kembali ke dapur untuk membuat kopi.


Beberapa saat kemudian, suara mobil Beni masuk ke dalam halaman rumah Raymond.


"Pak!." Lea setengah berlari menyusul Raymond di dapur sambil menggendong Maura.


"Apa?" sahut Raymond tenang sambil menyesap kopinya.


"Pak Beni datang," bisik Lea resah.


"Dia ke sini mau menemui kamu, bukan saya," sahut Raymond masih memegang cangkir kopinya dan mata tetap pada ponselnya.


"Paaak," desis Lea yang lebih terdengar seperti merengek.


Mendengar suara Lea yang seperti ingin menangis, Raymond mengangkat wajahnya.


Sebenarnya ia tidak tega, tapi ia juga merasa kesal karena Lea masih bersikeras tidak mau berbagi dengannya.


"Kamu masih butuh saya?" tanya Raymond lagi sambil mengangkat sebelah alisnya.


Raymond tertawa dalam hati melihat raut wajah Lea, yang tidak ada bedanya dengan Maura jika meminta sesuatu.


Ingin rasanya ia menarik Lea ke dalam pelukan lalu menciumnya.


Hei tunggu dulu, apa tadi yang ada di pikirannya? … mencium Lea?, apa itu tandanya ia benar menyuķai wanita ini?


Raymond berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu. Sebelum sampai, ia membalikan badan lalu menghadap Lea yang mengikutinya dari belakang, "Kamu berhutang cerita sama saya, Maura biar di sini bersama William." Raymond menunjuk sofa di mana William sedang asyik menonton televisi.


"Maaf kami jadi merepotkan Pak Raymond." Beni menunduk dengan sopan.


"Tidak apa-apa, silahkan duduk, ... tidak keberatan kan jika saya duduk di sini ikut mendengarkan?" sahut Raymond karena melihat semua masih terdiam.


Beni, Devi dan Lea saling berpandangan satu sama lain.


"Maura di mana Ma?," bisik Jonathan pada Devi.


"Maura di ruang tengah, mau main?" tanya Raymond ramah. 


Jonathan menatap mamanya penuh harap, Devi mengangguk "Alex, temani adikmu."


Devi menarik nafas panjang siap menyampaikan sesuatu setelah kedua putranya menjauh dari ruang tamu.


"Lea, maaf jika kamu tersinggung perkataan saya tadi. Apa yang saya sampaikan tadi tidak bermaksud menyinggungmu sebagai seorang ibu."

__ADS_1


"Kami ingin membuat hidup Maura lebih baik, kamu juga pasti bahagia kan kalau Maura hidupnya tercukupi?" lanjut Devi.


Lea tidak berkata apapun, hanya menunduk dan meremas bantal sofa di pangkuannya.


Raymond masih memperhatikan dan menerka-nerka permasalahan yang ada.


"Maura akan saya bawa," ucap Beni tegas.


"Jangan mimpi!!, anda tidak punya hak!!" ucap Lea dengan geram.


"Saya punya hak Lea!, sudah cukup lama kamu menyembunyikan Maura dari saya!" sahut Beni menahan amarah.


"Bapak tidak punya hak!!, Maura anak saya!!" Lea menjerit.


"Dia juga anak saya Lea!!" tantang Beni tak kalah emosi.


Suasana tegang di ruang tamu teralihkan dengan suara jerit tangis Maura, dan teriakan anak laki-laki di ruang keluarga.


Mereka berempat segera berlari melihat apa yang sedang terjadi.


William dan Jonathan sudah bergulung di lantai saling memukul, mencakar dan menarik rambut satu sama lain.


Tangisan Maura perlahan mereda setelah Alexander, putra Beni yang paling besar memeluk dan membujuk Maura.


"WILLIAM!!"


"JONATHAN!!"


Raymond dan Beni berteriak hampir bersamaan. Mereka menarik kedua putra mereka yang sama-sama tidak mau mengalah.


"Dia bilang Maura mau di bawa ke rumahnya!!" William berteriak sambil menunjuk ke arah Jonathan.


"Dia adekku!!, papaku bilang Maura adekku dan dia nanti tinggal di rumahku!!" jerit Jonathan tidak mau kalah.


"MAURA ADEKKUUU!!" William berontak melepaskan diri dari pegangan Raymond, dan merangsek maju akan menerjang Jonathan lagi.


Lea dengan sigap memeluk William sebelum ia kembali memukul Jonathan.


"Mama mauraaaa ... bilang sama anak itu Maura adeekkuuuu huuuuhhuuuu ...." Tangis William pecah di pelukan Lea.


"Maura tetap di sini, dia tidak akan kemana-mana," ucap Raymond.


"Lea tidak akan bisa mengurus Maura dengan baik, dia masih terlalu muda," sela Devi gigih.


"Hak asuh Maura akan jatuh ke tangan saya Lea, dia butuh orangtua yang lengkap. Kalau kamu memang sayang padanya, kamu pasti bisa mengerti maksud saya." Beni menambahkan.


"PERGI!!!" usir Lea.


...❤❤...


Maaaf lambaat 🙏.


Sempat mati lampu satu kaltim 🙈

__ADS_1


Dengan kecepatan cahaya saya mengetik 🤭


Semoga part ini bisa memuaskan 🙏😬


__ADS_2