
"Kenapa Lea?, seingat saya masalahmu itu, karena kamu merasa tidak mampu melayani suamimu selayaknya pasangan suami istri. Apa karena itu?" tanya Lukman penasaran.
"Mungkin karena itu awal penyebabnya," sahut Lea sedih kembali mengingat permasalahannya dengan Erik.
"Tapi kami berpisah baik-baik, komunikasi kami masih berjalan lancar saja dok."
"Lukman ... jangan panggil dokter, saya sedang tidak praktek malam ini."
"hehe ... iya Lukman," sahut Lea malu.
"Benar panggil dia dok ... kodok," cibir Raymond yang tiba-tiba muncul dari balik mobil pameran.
"Ehh, ada si bos rupanya. Tumben Pak Bos malam minggu ada di area kerja, biasa habiskan malam di klub----"
"Sssttttt." Raymond menempelkan jari telunjuknya ke bibir Lukman.
Wahh sepertinya benar apa kata teman-teman, Pak Raymond ternyata ACDC. Ga nyangka ternyata pasangannya Dokter Lukman. Pikiran Lea berkelana kemana-mana, melihat tingkah laku Raymond dan Lukman yang terkesan intim.
"Lea mau kemana, kita belum selesai bicara." Panggil Lukman saat Lea pelan-pelan beranjak menjauh.
"Saya mau lanjut kerja, ga enak nanti mengganggu Pak Raymond dan mmm ... Mas Lukman."
"Kinanti kemana?" tanya Raymond.
"Kinanti ambil shift pagi tadi, jadi kami gantian." Raymond manggut-manggut.
"Kamu shift malem terus Maura sama siapa?"
"Duuh si boss khawatir banget," goda Lukman.
Raymond melirik sebal, tapi malas menanggapi celotehan sahabatnya.
"Maura ada sama temen saya, di atas dia lagi main," sahut Lea.
"Nina?" tanya Lukman antusias. Raymond mendecih dan tersenyum sinis, melihat Lukman bersemangat mendengar nama Nina disebut.
"Ya, mereka di tempat bermain anak lantai atas."
"Aku ke atas dulu ya, mau lihat Maura," pamit Lukman tersenyum penuh arti.
"Hah!, Maura yang mana? yang minum susu atau yang minum kopi?" sinis Raymond.
"Pak Bos ini suka bercanda ya Lea, masak Maura minum kopi hehehe ...."
"Sana pergi yang jauh, customerku pada lari semua kalau ada kamu di sini," usir Raymond kejam.
"Iya, iya aku akan menjauh. Bos, jangan lupa karyawan butuh asupan gizi biar semangat kerja." Lukman mengerling memberi kode pada Raymond.
"Eheemm ... sudah makan?" tanya Raymond saat Lukman sudah tidak terlihat.
"Belum Pak masih ramai, nanti aja kurang tiga jam lagi sekalian pulang," sahut Lea sopan dan hendak menjauh.
"Makan dulu." Brosur yang ada di tangan Lea diambil Raymond, lalu dilemparkan begitu saja ke atas meja.
"Tugasmu di sini bukan untuk jaga pameran, itu sudah ada bagiannya sendiri." Raymond menunjuk para SPG yang sibuk membagi brosur dan berbincang dengan para customer.
__ADS_1
Raymond lalu berjalan tanpa menunggu Lea, saat akan menaiki eskalator (tangga berjalan), ia menoleh kebelakang karena tidak merasakan kehadiran Lea.
Lea masih berdiri di tempatnya semula, melihatnya dari jauh dengan tatapan bingung.
Malas untuk kembali ke area pameran, Raymond dengan gemas menghubungi Lea lewat telepon genggamnya, "Tunggu apa?, berharap saya kesana untuk menggendong kamu?"
Tanpa menunggu hubungan telepon putus, Lea berjalan setengah berlari mendekati Raymond.
"Maaf, ada apa ya Pak?" tanya Lea bingung.
"Makan!" seru Raymond hampir di puncak rasa kesalnya.
"Iya Pak nanti saya makan."
"Sekarang! ... ayo."
"Bapak ajak saya?" Lea mengernyit bingung. Raymond mendengus kesal dan langsung menaiki tangga berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Lea mengikuti langkah Raymond dengan sedikit ragu. Dia sungguh bingung dengan perilaku bosnya ini, terkadang bahasanya sulit dimengerti.
Seperti ini tadi, dikiranya hanya menyuruh makan ternyata mau ajak makan sama-sama. Lea juga ga sampai sana pikirannya kalau akan diajak makan oleh bos. Mana kalau ngajak makan ga beda sama ngajak berantem.
"Kamu mau makan apa?" tanya Raymond setelah mereka sampai di deretan gerai makanan ternama.
"Terserah bapak aja, saya ngikut"
"Kalau saya yang pilih kamu harus habiskan." Raymond tersenyum penuh arti.
Mereka memasuki salah satu gerai makanan All You Can Eat. Setelah menyuruh Lea untuk duduk, Raymond memilih berbagai jenis makanan.
"Saya yang memilih tempat dan bayar, kamu yang masak," ucap Raymond puas.
"Saya ... masak sendiri?, ini bagaimana caranya?" Lea memandang bingung berbagai peralatan dan bahan yang terhidang di atas meja.
Raymond menunjuk meja di sebelah mereka dengan dagunya. Lea mengikuti semua gerakan orang di sebelah mereka, yang juga sedang mengolah menu yang sama.
"Hati-hati jangan sampai gosong," celetuk Raymond tanpa memandang Lea, yang terlihat kerepotan dengan segala macam alat dan menu yang terhidang di atas meja.
"Belum matang itu, dagingnya masih merah. Bisa cacingan makan daging mentah."
"Itu daun selada ga perlu di masak."
"Apinya kecilkan nanti gosong."
Raymond terus memberikan komentar setiap pergerakan wanita di hadapannya, dengan tetap tanpa memandang Lea dan masih terlihat asyik mengetik di telepon genggamnya.
Lea melirik Raymond yang tetap terlihat tidak perduli, meskipun meja mereka sudah terlihat berantakan.
"Kalau begitu bapak aja yang masak." Lea menghentikan kegiatan memasaknya dengan kesal, karena merasa di kerjai oleh Raymond.
Barulah Raymond mengangkat wajahnya, "Oh, baiklah. Berarti nanti kita bagi dua ya bayarnya," sahut Raymond santai. Ia mulai mengambil alih peralatan masak dari tangan Lea.
"Hah?. Eehh ... jangan Pak, biar saya aja." Lea menyambar semua yang sudah dipegang Raymond.
__ADS_1
"Bagus." Raymond kembali menekuni handphonenya.
"Akkhhh ...." Lea menjerit saat tangannya tidak sengaja menyentuh pinggan yang panas.
"Kenapa sih ga hati-hati!" Raymond menarik tangan Lea dan meniup bagian yang memerah.
"Duduk aja kamu, biar saya yang selesaikan," ucap Raymond kesal.
"Tapi ...."
"Ga usah takut saya tagih sekarang. Nanti saya totalkan semua sama tissue yang kamu habis pakai kemarin."
Lea terdiam sedih. Dalam pikirannya sudah menghitung kira-kira berapa gaji yang akan dia terima akhir bulan nanti, setelah dipotong belanja bersama Kinanti lalu tissue dan makan dengan Raymond.
"Masih sakit?" Raymond melirik tangan Lea, dari sirat wajahnya terlihat ada rasa khawatir.
"Sudah ga sakit."
"Makan dulu." Suara Raymond sedikit melunak. Ia menyodorkan bermacam-macam menu di hadapan Lea.
"Sesuai perjanjian, kalau saya yang pilih makanannya kamu harus habiskan."
"Banyak sekali." Lea memandang takjub makanan di hadapannya.
"Restoran ini tutup jam sepuluh malam, jadi kamu masih ada waktu sekitar tiga jam untuk menghabiskan semuanya." Raymond tersenyum penuh kemenangan.
Saat tengah makan handphone milik Raymond berdering, tampak nama Lukman yang muncul.
Dering pertama ia abaikan, Raymond tidak mau jika Lukman ikut menyusul mereka makan bersama.
Barulah saat dering kedua dan Lea menegurnya, ia mau merespon panggilan Lukman.
"Mmmm, yang lagi asyik makan berdua. Suara telepon aja sampai ga kedengaran." Raymond mendengus kesal, matanya mencari-cari keberadaan pemilik suara.
Ia menemukan Lukman sedang memandang mereka dari luar restoran, bersama Nina yang menggendong Maura.
"Jaga baik-baik anak gadis orang," sindir Raymond, anak gadis yang dimaksudkan adalah Nina.
"Iya, aku akan jaga baik-baik ANAK GADIS ORANG." Lukman sengaja memberikan penegasan pada kata anak gadis orang, sambil mecubit gemas pipi Maura yang sedang asyik dengan es krim di tangannya.
...❤❤...
Haaii akhirnya bisa update lagi hari ini, mohon maaf kemarin absen. Maklum hari senin, dunia nyata butuh perhatian lebih 🙏😊
Follow IG saya yang khusus tentang novel : ave_aveii
Terima kasih atas bunga sekebon, secangkir kopi, vote, like dan komen-komen yang lucu dari teman-teman 🙏 😊
Maaf mengingatkan lagi teman-teman yang baru mengikuti, jangan lupa like nya per bab yaaa 🙏, khawatir keasyikan baca trus ngescroll langsung ke bab selanjutnya 😁
Beberapa bab kedepan, isinya yang santai-santai dulu, sekitar tentang Abang Raymond. Kasihan Lea kalau nangis terus tagihan tissuenya nanti tambah banyak 🤭
Promo lagi boleh ya, kali ini karya bagus punya bestie aku Eveliniq judulnya Find the Perfect Love. tinggalkan jejak teman-teman di sana 🥰
__ADS_1