Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Camer


__ADS_3

"Lea, saya lima menit lagi sampai di parkir depan Mall. Saya ga mau tunggu terlalu lama." Raymond berkata dengan cepat sesaat setelah Lea menjawab panggilannya.


Secepat kilat Lea membereskan barang-barangnya, bos stressnya ini kalau tidak dituruti keinginannya akan semakin menjadi.


"Kin, aku jalan dulu ya."


"Sekarang?, jadi fitting baju?, kamu seriusan jadi nikah sama tu orang?" Lea hanya mengangguk cepat setiap kali Kinanti bertanya.


Tatapan Kinanti bukan sekedar heran tapi lebih ke rasa ngeri mendengar berita pernikahan Lea.


"Okelah, hati-hati ya." Sekarang tatapan Kinanti berubah menjadi kasihan.


Saat Lea keluar dari pintu utama Mall, mobil Raymond sudah terparkir dengan gagahnya.


"Permisi Pak," ucap Lea saat membuka pintu mobil.


"Hmmm, kamu telat dua menit." Raymond melirik jam tangannya.


"Tanpa berkata apa-apa lagi, Raymond mengarahkan mobilnya ke salah satu boutiqe yang besar di pusat kota.


"Selamat siang Shaaayyyy, akhirnya datang juga sudah ditunggu loh." Seorang pegawai boutiqe yang sedikit agak melambai menyapa dengan riangnya.


"Mana calon nyonya Raymond ... ini?", si gemoy (kita sebut gitu aja ya) menarik tangan Lea dan memutar-mutar tubuhnya layaknya manequin.


"Emmmm, cantik ... pinter deh kalo milih." si gemoy berlagak berbisik pada Raymond, padahal suaranya bisa di dengar seisi boutiqe.


"Yuk masuk cobain dulu gaunnya," si gemoy menggiring Lea masuk ke dalam.


"Sayang Raymond duduk manis di situ ya, nanti kawan eike aja yang bantu fitting, kalo eike yang bantuin takut ga khuuaaatt hihihiii ...." si gemoy terkikik genit.


Saat memilih gaun bukan calon pengantin wanitanya yang cerewet, tapi di sini calon pengantin prianya yang kebanyakan kritik. Terlalu terbuka lah, terlalu tipis lah, terlalu vulgar lah.


Raymond tidak peduli dengan wajah si gemoy yang awalnya ceria berubah menjadi masam, karena hampir semua gaun pengantin koleksinya keluar dari lemari dan terhambur di lantai.


Setelah berkali-kali mencoba gaun pengantin, akhirnya Raymond menetapkan satu pilihan.



"Apa ini ga terlalu biasa say?" tanya si gemoy lelah.


"Saya suka," sahut Raymond tersenyum puas.

__ADS_1


...đŸ”šī¸...


"Kenapa sih wajahmu suram amat, senyum kek." protes Raymond.


"Bapak ga liat tangan saya sudah penuh gini? tadi sudah nyobain baju pengantin sampek sepuluh kali lebih, satu baju itu pakainya aja lebih dari lima belas menit, tapi Bapak suruh ganti cuman dalam hitungan detik. Kalo begini caranya ga perlu nikah!, saya bayar hutangpun juga ga apa!, lebih baik saya bawa Maura jauh dari sini ... saya capek!" Lea setengah membanting seluruh tas belanja yang ada di tangannya.


Ia akhirnya bisa mencurahkan segala rasa kesalnya yang sedari tadi di simpannya dalam hati dengan satu tarikan nafas.


Air matanya sudah mulai merebak siap menetes. Setelah dari fitting gaun, setengah hari mereka habiskan dengan berkeliling Mall membeli segala perlengkapan yang Raymond rasa perlu.


Catatan dan garis bawah, yang Raymond rasa perlu bukan Lea yang merasa perlu dan semua barang belanjaan itu Lea yang membawanya, sedangkan Raymond melenggang santai memilih dan memutuskan hanya dengan kuasa jari telunjuknya.


Raymond tercengang melihat Lea yang sudah kusut, rupanya ia terlalu bahagia dan antusias sampai tidak memperhatikan calon pengantinnya.


"Maaf," Raymond mengambil semua paper bag yang tergeletak di lantai Mall, "Tanganmu sampai merah begini, kenapa ga bilang sih?!" mode nyolot Raymond kembali keluar.


"Bapak kan atasan saya, mana berani saya minta Bapak bawakan barang," cicit Lea lirih.


"Kita di sini bukan untuk urusan pekerjaan, kalo ada keluhan bilang saya kan bukan cenayang. Ayo, tinggal satu tempat lagi." Raymond menggandeng tangan Lea ke arah toko perhiasan.


"Yang kemarin saya pilih lewat foto bisa di lihat?" tanya Raymond pada pegawai yang melayani.


"Kamu suka yang mana?" tanya Raymond. Lea menggeleng takjub memandang jejeran cincin yang berkilauan di hadapannya.


"Ga ada yang kamu suka?, mba ada mod----"


"Bukan!, maksudnya semua bagus saya suka semua ... jadi susah milih." Lea masih mengamati satu persatu.


"Kalau ga bisa milih, di pakai aja semua. Itu ada tiga cincin bisa gantian tiap hari pakainya ... asal jangan nikahnya tiga kali juga." Lea melirik tajam merasa tersinggung dengan ucapan Raymond.


"Saya hanya bercanda," Raymond segera meralat ucapannya karena melihat Lea yang langsung menaruh cincin yang di pegangnya begitu saja.


"Yang ini suka ga?, atau yang ini sepertinya cocok di jarimu ... yang ini juga bagus." Raymond berganti menyodorkan pilihan cincin di hadapan Lea.


"Terserah Bapak, saya ikut aja," sahut Lea malas. Ia berdiri dan langsung keluar dari toko perhiasan, moodnya seketika turun drastis akibat celetukan Raymond yang terasa menusuk hatinya.


Raymond segera mengikuti Lea, setelah memberikan instruksi pada pegawai toko, untuk membungkus ketiga pasang cincin berlian tadi dan mengirimnya ke rumah.


"Maaf," Lea menoleh sekilas, ia baru sadar sudah dua kali kata maaf keluar dari mulut bosnya ini.


"Iya, ga apa-apa." Rasa kesal Lea sedikit luruh, mendengar ucapan maaf yang tulus dari mulut yang biasa pedas itu.

__ADS_1


"Masih kuat?, kita makan dulu habis itu ke bandara ... saya mau jemput orang penting." Raymond tersenyum lebar.


Jam enam sore, mereka berdua sudah berada di dalam ruang tunggu kedatangan bandara.


"Kita mau jemput siapa Pak?" tanya Lea.


"Orang tua saya," sahut Raymond tenang. Dada Lea berdebar, ia takut jika calon mertuanya itu kejam seperti dalam cerita-cerita sinetron. Apalagi lihat anaknya seperti itu ketusnya, bagaimana dengan ibunya.


Serombongan orang mulai terlihat berjalan ke arah mereka, mata Lea mencari-cari figur yang sekiranya mirip dengan Raymond.


"Itu Orang tua saya, ayo." Raymond berdiri berjalan menghampiri sepasang suami istri yang usianya sekitar enam puluhan.


Mereka berdua terlihat berdebat ribut sendiri.


"Ma ... Pa, ributin apa sih?" tanya Raymond jengah.


"Raaaayyyy," Mama Raymond memeluk dan mencium seluruh wajah Raymond.


"Maa ... Maaa!" Raymond berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan mamanya.


"Lha wong anaknya baru pulang sebulan lalu kayak wes tahunan ga pulang," sindir Papanya.


"Yo wes ben to (ya sudah biarkan saja), yang namanya ibu kalo kangen ga ada hitungannya," sahut Mamanya sewot.


"Mana mantuku?" tanya Mama Raymond sambil celingak-celinguk. Lea yang dari tadi sembunyi di belakang Raymond perlahan maju ke depan.


Sejenak Mama dan Papa Raymond terdiam, sedetik kemudian "Uaayuuu tenan yoo (cantik sekali ya)," kata Mama pada Papanya.


Mama langsung memeluk dan mencium Lea, "Namamu Bintang Amalea, Nduk?, mana Maura ga di ajak?" tanyanya antusias.


Lea memandang Raymond bingung, mengapa orang tuanya seperti sangat tahu tentang dirinya.


"Kita pulang sekarang aja, sudah mulai malam," potong Raymond salah tingkah.


Raymond berjalan mendahului sambil mendorong trolly berisi koper orang tuanya, Papanya mengiringi langkahnya dan merangkul bahu Raymond sambil tersenyum penuh arti.


Sementara Mamanya terus berceloteh sambil menggenggam lengan Lea seperti tidak mengijinkan calon istri anaknya ini pergi.


...❤❤...


Masih semangaattt kaann 🤗

__ADS_1


__ADS_2