Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Ngemil masih boleh


__ADS_3

Saat dulu melahirkan Maura, ia sama sekali tidak mengenal apa itu perawatan tubuh pasca melahirkan.


Bahkan untuk merawat Maura yang baru lahir, ia hanya menggunakan insting keibuannya.


Tidak ada seorangpun yang membantu dan memberikan informasi saat Maura rewel karena sakit, atau ASI yang kurang.


Saat itulah ia mengalami depresi dan baby blues syndrom. Pada saat yang sama, pasangan yang di harapkan dapat menguatkan dan menghiburnya, malah membuatnya semakin frustasi dengan sikapnya yang tak acuh.


Beruntung masih ada Nina, sahabat yang mengerti tentang kondisinya.


Walaupun awalnya ia tidak mau terbuka dengan temannya itu bukan karena ia tidak percaya, tapi karena tidak mau membebankan masalah hidupnya pada Nina.


Kehadiran Mama Raymond saat ia melahirkan yang kedua kalinya ini, membuat ia sangat bersyukur dan terharu dapat diberi kesempatan merasakan perhatian dari seorang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Ga pa pa, pelan-pelan aja minumnya. Dikit-dikit nanti abis," Mama menolak menerima kembali gelas yang di sodorkan Lea.


Rasa getir di tenggorokan ia abaikan. Ia tahu apa yang diberikan ibu mertuanya ini, untuk kebaikan dirinya dan baby Kanaya.


Betul kata Mama, gelas yang penuh tadi akhirnya kosong sudah tidak bersisa.


"Naah, habis to. Minum ini selama empat puluh hari ya."


Senyum lega Lea seketika menghilang mendengar ucapan ibu mertuanya. Namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum, sadar bahwa merasakan pahitnya jamu tidak sepahit masa lalunya.


"Habis mandi biasakan pake ini ya, Nduk. Biar singset lagi," Mama melilitkan kain stagen pada perut Lea.


"Sesak, Ma," keluh Lea.


"Awalnya begah, kalau terbiasa lama-lama ga."


Setelah melahirkan Maura dulu memang ia mengalami perut bergelambir, seperti yang di alami ibu melahirkan pada umumnya.


Tidak ada kesempatan dan biaya lebih untuk merawat diri, Lea membiarkan tubuhnya begitu saja apa adanya.


Untunglah ia termasuk wanita yang mudah turun berat badannya, tapi badannya cepat mengecil bisa juga karena dari beban dan masalah hidupnya.


"Itu apa lagi?" Lea melihat ibu mertuanya mengaduk sesuatu di mangkuk kecil.


"Rempah-rempah namanya pilis, supaya ga pusing. Biasa ibu melahirkan darah putihnya naik, bisa bahaya itu," jelas Mama seraya mengoleskan ramuan di dahinya.


"Dingin." Lea tersenyum


"Ma," panggilnya saat ibu mertuanya akan beranjak keluar kamarnya.


"Kenapa?"


Lea berjalan pelan mendatangi ibu mertuanya, lalu memeluknya dengan hangat, "Terima kasih. Lea seneng sekali seperti punya Ibu kandung."


"Mama ini juga Ibumu. Sejak kamu menikah dengan Raymond, tidak pernah ada perbedaan di mata Mama sama Papa. Kamu juga anak Mama, Maura juga cucu Mama."


"Mama juga berterima kasih sama kamu, kehidupan Raymond dan William sebelum kehadiranmu tidak sebaik yang orang lihat dari luar."


"Sudah jangan nangis, masak nangisnya saingan sama Kanaya." Mama menyusut air mata Lea.


"Kok nangis sih, Ma?" tanya William yang baru saja pulang sekolah bersama Raymond.

__ADS_1


"Mama ga nangis, cuman matanya perih kena salep yang Oma pasang di dahi Mama," elak Ibu mertuanya.


"Lea kenapa, Ma?" bisik Raymond.


"Ga pa pa, biasa sindrom ibu melahirkan, kadang bisa sedih, marah-marah, tau-tau nangis. Kamu jangan kaget, ga perlu ikut drama juga."


Raymond menganggukan kepala dengan dahi berkerut. Ia berjalan mendekati istrinya yang sedang menyusui bayi mereka.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Kenapa?" tanya Lea balik. Wajahnya sudah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"He?" Raymond menggaruk kepalanya bingung dengan perubahan instan istrinya.


"Willi, gimana sekolahnya tadi?, ada PR ga?" tanya Lea sembari tersenyum lebar, lalu melambaikan tangan memanggil putra sambungnya yang sedang berbaring di ujung ranjang.


'Sebegitu mengerikankah perubahan mood ibu setelah melahirkan?, sebentar menangis sebentar tertawa.' batinnya ngeri.


Raymond memilih beringsut keluar kamar, saat istrinya dan putranya berinteraksi berdua seakan ia tidak berada di sana.


"Ma, tadi Lea kenapa?" tanya Raymond pada Mamanya yang sedang menyuapi Maura.


"Kan sudah dibilang sindrom ibu melahirkan, kadang butuh diperhatikan lebih. Wajar aja."


"Sepertinya lagi kangen sama almarhum orangtuanya, kalian kapan terakhir ke makam mertuamu?"


Raymond termenung, ia baru sekali datang ke makam orang tua Lea itupun mereka belum sebagai pasangan suami istri.


"Sayang ... William sudah tidur?" Raymond kembali ke kamar, mendapati putranya sudah tertidur di sisi baby Kanaya yang masih menempel pada dada Lea.


"Sama Mama."


"Waktu kamu berdua Maura di rumah Beni dulu, kalian sempat ke makam Ibu sama Ayah?" tanya Raymond hati-hati.


Lea menggeleng lalu kembali fokus dengan Kanaya yang masih menyusu.


"Kita juga belum kesana setelah menikah, kamu mau kesana?" tanya Raymond seraya menaruh dagunya di pundak Lea yang tidur membelakanginya.


"Boleh?"


"Kenapa ga boleh?"


"Aku takut Abang ga suka kesana karena ada Pak Beni."


"Kita kesana kan bukan mau ketemu Pak Beni. Ketemu juga ga pa pa, emang bisa apa dia. Kamu dan Maura sudah jadi milikku." Raymond membenamkan wajahnya di tengkuk Lea.


"Aku memang milik Abang, tapi Maura masih punya hak dekat sama Ayah kandungnya dan Kak Erik, selama dia mau kita ga boleh melarang." Lea mengingatkan.


"Hmmm," jawab Raymond malas.


"Kita sudah menikah setahun lebih, tapi kamu masih sering tertutup sama aku. Kenapa kalo kangen sama Ibu dan ayah bilangnya ke Mama, bukan ke aku?"


"Aku suamimu, kalau ada yang kamu inginkan atau ga suka bilang dong, jangan diam aja."


"Aku udah pernah bilang pas mau melahirkan Kanaya, Abang aja ga inget."

__ADS_1


"Aahh, iya. Maaf, mungkin waktu itu konsentrasinya sama kamu yang mau melahirkan. Ahhh, salah lagi kan aku."


"Tapi kamu masih sering diem kalo pingin sesuatu ato lagi marah. Apa aku harus ambil mata kuliah psikologi biar bisa baca isi hati dan pikiranmu?" bisik Raymond di telinga Lea.


"Emang lulusan psikolog jadi paranormal, kok tugasnya baca isi pikiran," sahut Lea sewot.


"Aku aja ga kuliah tapi tau apa yang Abang mau." Lea melirik ke arah belakang dengan tatapan sinis.


"Emang apa yang aku mau?" tantang Raymond, masih menyembunyikan wajahnya di sela-sela rambut Lea.


"Ngapain ini?" Lea menghentikan gerakan jari Raymond yang sejak tadi berputar-putar di belahan dadanya yang terbuka.


"Menu utama belum boleh di sajikan, ngemil dulu boleh ga?"


"Abang laper?, mau makan?" Lea menoleh ke arah suaminya.


"Belum boleh makan berat, tapi boleh ngemil kan?" tanya Raymond dengan suara sengau. Jarinya kembali naik ke dada Lea, bersaing dengan kecapan bibir Kanaya.


"Mau ngemil yang berat ato ringan?" tanya Lea balas menggoda.


"Ada gitu yang berat dan ringan?" tanya Raymond bersemangat.


"Sssttt, Willi bangun nanti." Lea membekap mulut suaminya.


"Sekarang masih siang jadi cuman boleh ngemil jajan ringan, nanti malem ngemil berat baru disajikan." Lea menutup mulutnya geli sendiri mendengar kalimatnya.


"Bener??, aku laper Maaa, mau jajan boleh?" rengek Raymond bak anak kecil seraya menarik daster Lea lebih ke bawah.


...❤❤...


Teman-teman terima kasih bagi yang masih setia mengikuti cerita ini.


Novel ini babnya tidak akan panjang, ga lama lagi akan saya tamatin. Mungkin masih beberapa bab lagi


Tapi setelah tamat mungkin ada bonus chaper tentang ketiga anak mereka, empat sahabat, beni dan devi atau ghea dan erik jadi jangan di hapus dari fav ya ❤🙏😊


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke karya teman aku ya, ramaikan di sana 🙏🤗

__ADS_1



__ADS_2