
"Aku ga apa-apa, cuman sedikit pusing aja. Abang sudah mau berangkat?" Lea bangkit berdiri dari kursinya.
"Sudah minum obat?" Raymond tidak mengindahkan pertanyaan Lea, ia masih terlihat sangat khawatir.
"Ga usah, tiduran juga sudah hilang sakitnya." Lea tersenyum, hatinya senang sekali melihat sikap suaminya yang kembali perhatian.
"Aku antar ke dokter?" Raymond masih terus memaksa, telapak tangannya diletakan di dahi Lea.
"Ga perlu Abang, aku baik-baik aja." Masih dengan tersenyum lebar, Lea menggiring Raymond ke arah pintu keluar. Ia tidak sedang berbohong, sakit kepalanya mendadak hilang setelah suaminya memberikan perhatian padanya.
"Habis ini tiduran aja, ga usah melakukan apa-apa. Anak-anak nanti sama Mbok Nah dulu." Raymond masih memberi nasihat sebelum menaiki mobilnya.
Walaupun sikap manisnya ini tidak disertai dengan senyuman seperti biasanya, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Lea.
Hatinya sedang bergembira sekarang. Setelah hampir seminggu ia diabaikan oleh Raymond, pagi ini suaminya begitu sangat manis.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang melonjak-lonjak bahagia, selama masak di dapur Lea terus bersenandung sesekali berputar dan menari.
POV Lea
Abang untuk hal bersikap romantis, dan manis aku akui dia jagonya.
Sejak menikah aku diperlakukan bak patung pualam yang mudah pecah jika terjatuh.
Kata-katanya selalu manis dan lembut merayu sangat berbanding terbalik saat kita bertemu pertama kali di tempat praktek Dokter Lukman, dan saat aku masih menjadi karyawannya.
Pagi ini sikap perhatiannya setelah ia mengabaikan aku selama seminggu, membuat debaran di dadaku.
Sikapnya sih biasa aja, malah tanpa senyuman dan godaan yang biasanya ia lontarkan kepadaku, tapi rasanya bagaikan ada bunga bermekaran di atas kepala dan orkestra di telingaku.
Berlebihan dan aneh ya?, aku juga merasakan yang sama. Perasaanku sangat cepat berubah sekarang, tapi aku menyukai dan menikmatinya.
Siang ini aku mau memberikan kejutan kecil pada suamiku. Masak menu makanan kesukaannya, dan kami akan bersama-sama makan di kantor.
Kalau dipikir sejak menikah aku belum pernah menginjakkan kaki lagi di kantor, rindu rasanya melihat hiruk pikuk suasana kerja.
Semoga ia tidak marah karena tadi aku disuruh tidur aja malah yang ada aku jalan-jalan, tapi aku benar sudah merasa sehat bahkan sangat sehat dan bersemangat.
__ADS_1
"Nyonya lagi seneng sekali kelihatannya." Mbok Nah yang dari tadi menemaniku memasak terlihat berusaha menahan senyumnya.
"Iiih Mbok Nah, saya nyanyi nih supaya ga bosan dan semangat aja masaknya." Malu sih, tapi gimana dong rasa senangku tidak tertahan.
"Masak apa, Nya?" Mbok Nah melongok ke arah wajan di depanku.
"Sambal goreng kentang, udang goreng tepung sama sayur bening. Ini makanan kesukaannya Pak Raymond, benar kan?" Mbok Nah sudah ikut keluarga besar Raymond sejak suamiku itu usia sekolah dasar, jadi beliau sangat mengerti apa yang menjadi kesukaannya.
"Tuan mau pulang makan siang, Nya?"
"Gak, saya mau anterin ini ke kantor Bapak nanti siang." Aku tersenyum malu.
"Oww, mau makan siang sama-sama." Mbok Nah manggut-manggut masih dengan menahan senyumannya.
"Mbok saya titip ya, kalau sudah matang tolong diangkat aja biar sedikit dingin kalau mau dimasukan dalam kotak. Saya tinggal mandi dulu ya."
Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, sebentar lagi sudah masuk jam makan siang.
Jarak dari rumah ke kantor setengah jam belum lagi aku harus memesan taxi online, kalau tidak bergegas sekarang keburu Abang sudah pesan makan siang sendiri.
Setelah menikah baru ini aku memakai peralatan make up mahal yang dihadiakan tante Silvi. Tantenya Raymond yang satu itu benar-benar sangat perhatian padaku.
"Nyonya nanti berangkat sama siapa?" Mbok Nah menghampiriku saat aku sedang sibuk memasukkan kotak makan yang sudah disiapkan Mbok Nah tadi ke dalam tas khusus.
"Sendirian aja Mbok, naik taxi online. Saya titip anak-anak ya, cuman sebentar aja kok." Sesekali aku mengntip ponselku mengecek sudah sampai mana taxi online pesananku. Aku sedikit terburu-buru takut terlambat dan terkena macet di jalan.
"Hei Bu Bos tumben ke kantor." Baru saja aku menginjakkan kaki di lobby kantor, suara Kinanti menyambutku riang.
"Sstttt, jangan panggil gitu ah aku malu." Aku membekap mulutnya sebelum menarik perhatian orang lebih banyak lagi.
Belum siap rasanya aku menyandang gelar sebagai Ibu bos, pemilik dari perusahaan dimana aku dulu bekerja tapi tidak genap satu tahun.
Pernikahan mendadakku dengan Raymond, membuat sebagian besar karyawan terutama yang wanita terkejut dan curiga. Aku yang anak baru terlihat culun di antara mereka yang berpenampilan modis, bisa menikah dengan bos besar perusahaan ini.
"Pak Raymond ada kan di ruangan?" Aku melirik ke lantai tiga tempat di mana ruangan suamiku berada. Kantor ini tingginya hanya tiga lantai, tapi sangat lebar jadi terlihat lapang.
Dari lobby bawah bisa melihat dua lantai di atasnya, karena tingkatnya yang hanya setengah lantai.
__ADS_1
"Ada sepertinya. Lah, kamu istrinya malah tanya aku. Memangnya Pak Raymond ga tahu kamu mau datang ke sini?" Kinanti melirik tas yang berisi kotak makan di tanganku, "Ow pantes, mau kasih kejutan nih ceritanya. Kalian selalu bikin ngiriiii."
Lucu rasanya melihat seniorku yang biasanya tampil percaya diri di depan teamnya ini sekarang merengek.
"Sabar, ada masanya. Cepat aja minta di halalin sama Gilang. Kin, temenin ke atas yuk aku malu."
"Aku masih ada tamu, tuh." Kinanti menunjuk pria setengah baya yang sedang menelepon.
"Eh tuh sama Gilang aja." Sangat pas waktunya, Gilang baru turun dari mobil dan masuk ke dalam lobby.
"Eh, Ibu Bos ada kabar apa?, cerah sekali auranya setelah menikah." Satu lagi pria mulut lemes yang harus aku ladeni.
"Udah ah, Mas Gilang temenin ke atas yuk." Aku langsung berjalan ke arah tangga sebelum pembicaraanya mengarah kemana-mana, dan lagian waktu istirahat sudah hampir selesai.
"Oke siap Bu Bos, saya siap mengawal. Kebetulan mau ke ruang Pak Bos juga bawa laporan ini." Gilang menunjukan setumpuk kertas yang dia bawa dari luar tadi.
"Bagaimana setelah menikah?" tanyanya selama menaiki tangga.
"Nano-nano," ucapku singkat, karena bicara dengan Gilang ini satu kalimat dia akan menjawabnya dengan satu paragraf.
"Enak dong rasanya ada asem, manis, asin. Sepertinya sekarang rasanya lagi manis ya, wajahnya juga cerah ceria seperti warna bajunya ada kembang-kembang bermekaran." Nah benar kan kataku.
"Masuk duluan ya, aku mau minta stempel dulu sama Nia." Gilang menghampiri Nia, sekertaris Raymond yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku mengetuk pelan pintu ruangan suamiku, beberapa kali tidak ada jawaban aku memutuskan untuk membuka pintu langsung semoga tidak lagi ada tamu penting.
Lantai yang aku pijak ini seperti jatuh ke lantai dasar dan tembus ke perut bumi, saat aku melihat suamiku berpelukan dengan seorang wanita di dekat jendela.
...❤❤...
Readers sayaaang jangan emosi dulu ya 🙏😅
Mohon jempol like dan komennya, kopi serta bunganya juga untuk Lea supaya ga pingsan 🥰🙏
Siapa yang belum mampir ke karya baru aku, di sana masih sepi ramaikan juga yaa ga kalah seru kok meski ceritanya sekitar anak remaja.
__ADS_1