Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Sang mantan yang berbahagia


__ADS_3

"Kamu lagi sakit, Nduk?" Papa mendekatkan wajahnya ke arah Lea yang memang terlihat sedikit pucat dan kelelahan.


"Ga kok, Pa," jawab Lea, seraya matanya melirik suaminya yang duduk di sisi Papanya. Raymond menyeringai lebar mendengar nada kesal dari istrinya.


Ia teringat kemarin saat siang hari Lea menawarkan cemilan ringan, mereka berdua memulainya dengan susah payah menahan suara dan gerakan yang diperlembut agar William dan Kanaya tidak terganggu tidurnya.


Lalu berlanjut di malam harinya karena belum kenyang jajan di siang hari, ia kembali meminta cemilan tambahan. Kali ini menu sedikit agak berat dan lebih leluasa menikmati suguhan, karena hanya ada Kanaya yang belum mengerti apa-apa.


Lea sedikit agak menyesal menawarkan pilihan cemilan pada suaminya, karena sekarang ia tidak ubahnya sebagai pemilik warung.


Bayi besarnya ini sama sekali tidak mau mengalah dengan bayi kecilnya. Selalu ingin diperhatikan dan menggedor pintu warungnya, layaknya anak kecil yang ingin jajan di siang hari bolong tapi pemilik warung sedang tidur istirahat.


"Kurang tidur mungkin kamu. Kanaya kalo malem rewel, Pa," ucap Raymond dengan bibir masih menyengir puas.


"Kanaya besar ato Kanaya kecil?" celetuk Mama dari arah dapur.


Lea mengucap terima kasih pada ibu mertuanya lewat tatapan matanya.


"Ow," Papa merespon dengan senyum mengejek, "Jangan terlalu sering, Ray. Inget tubuh dan perhatian istrimu sudah terbagi tiga, dan kamu tidak termasuk di dalamnya," lanjut Papa.


"Iyaaaa," sahut Raymond asal. Perhatiannya tetap tidak teralihkan dari istrinya, yang berjalan masuk ke dalam kamar sambil menggendong baby Kanaya yang sudah tertidur.


Raymond berdiri lalu menyusul istrinya masuk ke dalam kamar tidak menghiraukan Papanya yang sudah bersiap akan melanjutkan petuah.


"Ga usah heran, Papa juga gitu dulu," cibir Mama saat Papa melongo melihat putranya tak acuh akan dirinya.


"Aku dulu gitu?"


"Sampe sekarang, manja!"


"Hehehe." Papa mengikuti Mama masuk ke dalam dapur.


Sementara putra tunggal mereka juga terus merapat pada tubuh istrinya.


"Masih pagi, warungnya tutup," ucap Lea sengit.


"Ibu penjaga warungnya masih ada di dalam, kan?" Raymond mengetuk-ngetuk dahi Lea.


"Capek aku, Bang. Ngantuk." Lea merebahkan tubuhnya di sisi baby Kanaya.


Benar kata Papanya Raymond, tubuhnya sudah bukan hanya miliknya sendiri, sekarang ia harus pandai mengatur waktu dan perhatian untuk tiga anaknya dan juga satu bayi besar.


Saat Kanaya menangis, William dan Maura tidak mau kalah saling berebut meminta perhatiannya. Maura merengek minta digendong sedangkan William selalu tidak ingin jauh darinya dengan berbagai alasan, seperti mengerjakan tugas sekolah atau hanya sekedar menjadi lawan bermain.


Sekarang ia harus membagi perhatian dan tubuhnya untuk bayi besar yang paling manja dari ketiga anaknya. Selalu menempel kemanapun ia pergi. Seperti pagi ini Lea berbaring di samping Kanaya, si bayi besar pun ikut berbaring menempel di belakang tubuhnya dan mengendus-endus tengkuknya. Entah apa yang dicarinya di sana seperti anjing pelacak.


"Abang ga ke kantor?"


"Hmmm," sahut Raymond masih menyelipkan wajahnya di balik tengkuk Lea yang terpampang dengan rambut terikat tinggi ke atas.

__ADS_1


Sejak Lea melahirkan, ia semakin betah menempel pada tubuh istrinya. Selain karena bentuk tubuh yang semakin berliku dan menggemaskan, aroma khas tubuh ibu menyusui semakin memancar dan sudah menjadi candu baginya.


"Abang kalo lama ga ke kantor, ga takut nanti kantornya dijual sama Mas Gilang?"


"Hheehhh." Raymond berdiri dari ranjang dengan malas. Lea tersenyum saat suaminya tanpa banyak perdebatan masuk ke dalam kamar mandi.


Tliing ... tliing ... tliing ....


Saat akan terlelap pesan singkat masuk ke ponselnya. Seulas senyum tergambar saat ia membaca pesan dari mantan suaminya.


"Pesan dari siapa?" tanya Raymond yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kabar yang Abang tunggu-tunggu." Lea memperlihatkan pesan di ponselnya.


"Akhirnyaaa menikah juga. Sama wanita itu?"


"Iya, sama Ghea."


"Kamu ga cemburu ato sakit hati?" selidik Raymond.


"Ya gak dong. Aku ikut seneng Kak Erik sudah menemukan pendamping hidupnya. Semoga pernikahan mereka bahagia." Lea terus tersenyum, sambil mengetik pesan balasan untuk Erik.


"Aku juga seneng dulu dia selingkuh sama perempuan itu," celetuk Raymond.


"Jahat!" Lea mencebik.


...❤...


"Haai," sapa Ghea, ia melongok ke dalam ruangan Nina.


"Haaii, tumben ibu bos mampir ke sini," sahut Nina tersenyum seraya melepas kacamatanya.


"Hahahaa .. kamu kan juga ibu bos," sahut Ghea.


"Aku mau kasih ini," ucap Ghea ragu-ragu. Ia menaruh undangan berwarna keemasan di meja Nina.


"Waah, selamat yaa. Aku disalip lagi nih." Nina membuka undangan dengan sesekali melirik Ghea yang wajahnya tampak sedikit sedih.


"Mau jadi pengantin kok wajahnya suram?, dijodohkan ato dipaksa nih ceritanya."


"Hehehee ... aku bahagia kok. Bahagiaaaa banget malah, kamu tau sendiri gimana aku sayangnya sama Erik."


"Cuman, image aku di mata orang lain sulit diubah. Aku tetaplah pelakor di mata mereka," jelas Ghea sendu.


"Aku sudah mencoreng nama Papa, seorang petinggi perusahaan tapi anaknya merebut suami orang." Ghea tertawa miris.


"Kamu bahagia bisa menikah dengan Erik?" tanya Nina.


"Banget," jawab Ghea cepat.

__ADS_1


"Erik bahagia menikah dengan kamu?" tanya Nina lagi.


"Saat ini kami bahagia, walau awalnya sulit menyatukan hati tanpa dibayang-bayangi kesalahan masa lalu."


"Sampai akhirnya kami sadar, aku dan dia tidak bisa kemana-mana. Seakan saling terikat, ingin pergi menjauh, mencoba dengan orang lain tapi kami tetap kembali bersama. Lalu kami menyerah untuk berontak dan mencoba mengikuti apa kata semesta."


"Dan di sinilah kami." Ghea mengetuk undangan pernikahannya yang berada di atas meja Nina.


"Sekarang tidak ada yang di sakiti dari hubungan kalian, lalu untuk apa kalian masih menyakiti diri sendiri hanya karena penilaian orang lain yang tidak tau jalan ceritanya?"


"Lea dan Maura sudah bahagia. Sangat bahagia malah dibanding masih bersama Erik. Hubungan Lea dan Kak Erik sampai detik ini baik-baik saja. Lalu apa lagi yang harus dipermasalahkan?"


"Benar memang hubunganmu dengan Erik diawali dengan perbuatan yang salah, tapi jika memang itu jalan yang harus dilalui dan sudah terlanjur terjadi, maka kalian harus juga bisa ikhlas menerima segala konsekuensinya."


"Mungkin ini masa-masa kalian membayar hutang atas perbuatan masa lalu?"


"Aku yakin kalian bisa melewati semua ini. Aku orang terdekat Lea, tau betul isi hatinya. Aku pun turut bahagia dengan kabar pernikahan kalian."


"Jika ada yang berbicara jahat di belakang kalian, aku akan ajak Lea ke sini lalu kita ajak mereka yang julid itu rujakan bareng kita. Biar mereka tau, kehidupan itu ga selamanya manis, tapi bisa pedas dan asam bersamaan." Ghea tertawa lepas mendengar untaian kalimat Nina yang berapi.


...❤❤...


Maaf ya lambat dari jadwal, harusnya pagi sudah terbit 🙏


Cuaca sedang tidak bersahabat jangan lupa selalu jaga kesehatan. Halu-nya diperbanyak agar imun tubuh semakin meningkat 🤗❤


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Yang belum mampir ke karya kedua aku, melipirrr yuuk



__ADS_1


__ADS_2