Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Adu kuat


__ADS_3

Lea dan Erik terkejut ada anak kecil yang ternyata sedari tadi memperhatikan keributan mereka berdua.


Erik menatap bocah kecil di hadapannya, mata dan tubuhnya seakan menantang Erik untuk berkelahi.


Tidak terima merasa direndahkan oleh seorang anak kecil, Erik membalas menatap tajam dan hendak mendorong anak lelaki itu dengan pinggulnya.


Saat hendak maju untuk membalas perlakuan bocah tersebut, mereka dikejutkan lagi oleh suara ancaman pria yang berat dan dalam.


"Kamu sakiti anakku, urusan kita akan menjadi panjang."


Lea terperangah mengapa bos AC DC-nya itu bisa berada di rumahnya.


"Pak---" Kalimat Lea menggantung.


Perhatian Raymond beralih pada wanita di samping pria menjengkelkan yang hampir mendorong putranya.


wanita peminta sumbangan. batin Raymond.


"Kamu kenal?" tanya Erik pada Lea.


"Pak Raymond ... bos aku kak." Lea memperkenalkan Raymond pada Erik dengan suara lirih dan setengah tertunduk, tidak mau menatap langsung kedua pria di hadapannya.


"Ow, jadi ini atasanmu yang mengajak kamu belanja banyak barang kemarin?" seru Erik.


"Bu--bukan." Lea menggeleng panik.


"Jangan bohong kamu!"


Raymond hanya mengernyitkan alis melihat sepasang suami istri di hadapannya beradu mulut.


Malas menanggapi tuduhan suami dari karyawan barunya, tanpa berkata apapun Raymond menarik tangan William untuk keluar dari rumah Lea dan berniat dan segera pulang.


Awalnya William memberontak tidak mau karena masih ingin beradu kekuatan dengan pria dewasa di hadapannya itu, namun dengan tatapan tajam penuh peringatan dari papinya akhirnya William memilih menurut.


"Hei kamu pebinor!, tidak sopan sekali langsung pergi begitu saja, kamu takut atau malu hah?" teriak Erik.


Raymond menghentikan langkahnya, berjongkok lalu membisikan sesuatu pada William, sekaligus memberikan kode pada Nina agar membawa William menjauh dari mereka.


Setelah yakin Nina dan William menjauh dan masuk ke dalam mobil, Raymond berjalan pelan namun mantap ke arah Erik.


Lea yang melihat gelagat tidak baik dari tatapan Raymond, segera mengambil alih Maura dari gendongan Erik.


Raymond mencengkram pakaian Erik dengan sekali sentak menekan tubuh Erik lekat pada dinding.


Jarak wajah Erik dan Raymond yang cukup dekat membuat Raymond hanya perlu berbisik lirih, "Sebelum kau pakai mulutmu, fungsikan dengan baik mata dan otakmu yang murah itu. Jangan coba-coba mencari masalah dengan saya apalagi berani menyentuh anak saya dengan tangan busukmu!."


Setelah mengancam Erik, Raymond langsung berbalik pergi tanpa menoleh lagi meninggalkan Lea dan Erik yang hanya dapat terdiam karena kaget.

__ADS_1


Sampai di dalam mobil Raymond melampiaskan emosinya dengan memukul setir mobil sambil memaki, "C*k!" geram Raymond.


"Pi," William yang duduk di kursi depan sebelah Raymond menegur dengan nada memperingatkan.


William memberi kode pada papinya seakan mengatakan bahwa kita tidak hanya berdua dalam mobil ini.


Raymond mengikuti arah pandangan William, ia lupa jika ada orang lain yang duduk di kursi belakang.


"Maaf" ucap Raymond.


"Ti--tidak apa-apa," sahut Nina dengan tegang.


"Orang tua Maura tadi itu temanmu?" tanya Raymond sambil mulai menjalankan mobilnya.


"Iya, mereka berdua teman sekolah dulu," jawab Nina pelan.


"Yang wanita karyawan baru di tempat saya," sahut Raymond sekedar memberikan informasi. Nina hanya menjawab dengan O yang panjang, tidak tahu harus berkata apa lagi.


Lea, Nina dan Raymond sudah tidak ingat bahwa mereka pernah bertemu satu tahun yang lalu di rumah sakit saat Lea akan melahirkan, karena setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Hanya dokter Lukman yang masih bertemu Lea dan Nina sesekali setelah Maura lahir.


Saat tadi akan pulang dari tempat penitipan anak, William merengek pada papinya untuk ikut mengantar Maura pulang.


Jadinya seperti sekarang inilah Nina berada satu mobil dengan pria dingin, dan putranya yang terkadang bisa sangat dewasa tapi juga bisa berubah sangat emosional.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Bagai orang asing yang kebetulan tinggal satu rumah.


"Besok tanggal lima, Kak Erik hadir ke persidangan? ... hanya mengingatkan." lirih Lea sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut.


Denting sendok dan piring beradu cukup keras, dan suara gesekan kursi dengan lantai yang di geret ke belakang membuat Lea mendongakan kepalanya.


Erik berlalu dari meja makan meninggalkan piring yang masih terisi setengahnya.


Lea menatap lelah punggung Erik yang berlalu menjauh. Sedih rasanya melihat hubungan mereka yang awalnya hangat sekarang terasa dingin bagaikan orang asing.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


"Baru datang?, belum ada tiga bulan bekerja sudah datang terlambat?. Kamu pikir tiap menit dan jam yang kamu lewatkan itu tidak merugikan usaha saya?" Suara datar dan dingin dari Raymond mengagetkan Lea saat menunggu pintu lift terbuka.


Teguran bos besar di tempat terbuka, membuat beberapa pasang mata dan telinga tertarik untuk menyimak lebih dekat.


Seketika itu juga Lea menjadi pusat perhatian semua karyawan di lantai dasar.


"Maaf Pak, saya kemarin sudah minta ijin sama Kinanti karena ada urusan keluarga," cicit Lea.

__ADS_1


"Saya yang bayar kamu bukan temanmu itu," sahut Raymond ketus sambil berjalan masuk ke dalam lift yang terbuka.


Tanpa menunggu Lea ikut masuk ke dalam lift, Raymond hendak menekan tombol untuk menutup pintu namun gerakannya terhenti oleh panggilan seseorang.


"Tunggu Pak!, jangan tutup dulu." Gilang menerobos masuk ke dalam lift.


Tangannya menahan pintu lift agar tidak tertutup, dengan gerakan kepalanya mempersilahkan Lea untuk ikut masuk.


Lea yang merasa segan berada dalam satu lift menolak masuk, menggeleng bermaksud untuk menunggu lift selanjutnya.


"Cepatlah!, hanya tinggal masuk saja susah!." Lea tersentak dan spontan langsung melompat masuk ke dalam lift karena mendengar suara Raymond yang keras.


"Masih baru?, sabar ya." Gilang menepuk pelan bahu Lea memberikan kekuatan. Ia tahu wanita di sampingnya ini sedikit bergetar tubuhnya karena ketakutan.


"Bagian apa,? kok saya belum pernah lihat kamu." Gilang melanjutkan.


"Saya satu team dengan Kinanti, jadi lebih banyak di lapangan," jawab Lea pelan sambil tersenyum.


"Ow, pantas kita ga pernah ketemu. Lagi ada pameran di Mall Ruby kan?" tanya Gilang. Lea hanya mengangguk membenarkan.


"Nanti siang kesana lagi?, saya nanti makan siang di sana juga, kita makan siang sama-sama ya." Lea hanya tersenyum tipis menanggapi.


Raymond mendecih melihat interaksi Gilang dan Lea dari tampilan kaca pintu lift.


*Yang laki suka tebar pesona sana sini, yang wanita sudah punya suami masih ganjen pantas suaminya marah*. batin Raymond kesal.


Pengkhianatan mantan istrinya yang juga ibu dari William, membuat Raymond berada dalam titik sudah tidak mempercayai cinta tulus dari seorang wanita.


Baginya wanita akan mendekat jika ada fisik yang menarik, harta dan tahta dari seorang pria.


Raymond menikah dengan Dea seorang mantan model terkenal, saat masih merintis usahanya. Keadaan ekonomi yang sangat biasa, membuat Dea yang terbiasa hidup dalam gemerlapnya dunia mencari kenyamanan dari pria lain.


"Siang nanti bukannya kita ada janji dengan klien?" Raymond menyela perbincangan antara Lea dan Gilang.


"Benar pak, saya sudah buat janji dengan mereka untuk makan siang di Mall Ruby."


Raymond mendesah malas.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Maaf up nya lambattt jangan bosan nungguin yaa đŸĨē🙏


Terima kasih banyak yg sudah like, komen dan vote đŸĨ°đŸ™


Mau kenalkan karya teman aku lagi nih Ingflora "Senandung cinta jilbab Reina 2"


__ADS_1


__ADS_2