
Raymond berbisik pada Mamanya, dan langsung di sambut dengan senyuman lebar nan cerah.
Begitu Mama mengambil alih Maura dan menggerakan tangannya mengusir, Raymond langsung menarik tangan Lea kembali menuju kamar hotel.
"Cepat bereskan barang-barangmu, siang ini kita berangkat ke Kalimantan."
"Kita?, sama siapa aja Pak?" tanya Lea sambil merapikan baju dan perlengkapan mandinya.
"Kita berdua."
"Anak-anak?" Lea menghentikan kegiatannya, dan berbalik menatap Raymond yang merebahkan diri di atas ranjang.
"Mereka aman sama Mama, kamu ga perlu khawatir, lagian mereka masing-masing punya pengasuh khusus. Lukman sama William dan Nina sama Maura hehehe ...." Raymond tertawa licik masih dengan mata terpejam.
"Ada acara apa Pak di Kalimantan?, buka cabang baru?"
"Kursus kilat." Raymond tersenyum penuh arti.
"Kursus?, siapa yang mau kur----"
"Yang kursus kamu. Ahhh, sudahlah nanti lihat aja di sana. Pokoknya begitu pulang, kamu harus sudah mahir." Senyum Raymond semakin lebar.
"Ngantuk?" tanya Raymond saat mereka sedang berada di pesawat menuju Kalimantan Timur.
Lea menggeleng, padahal dari tadi ia menguap menahan kantuk. Suasana dalam pesawat yang temaram karena cuaca sedikit berawan, di tambah semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena perut melilit membuatnya ingin segera memejamkan mata.
"Perjalanan kita nanti masih jauh, jadi lebih baik kamu tidur aja sekarang." Raymond menarik kepala Lea ke bahunya.
"Hehee, ga ngantuk kok." Lea kembali menegakan badannya. Meski Raymond sekarang adalah suaminya, tapi perasaan segan tetap ada, karena mereka sama sekali tidak ada proses pendekatan apalagi pacaran.
Perjalanan menuju lokasi honeymoon pilihan Raymond harus melakukan dua kali penerbangan. Sangat melelahkan bagia Lea, ia sudah benar-benar tidak bisa menahan kantuknya. Tanpa sadar ia sudah terlelap bersandar dengan nyaman di bahu Raymond.
Raymond tertawa dalam hati melihat tingkah malu-malu sok menolak Lea. Dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya agar malam pengantinnya bisa sangat berkesan untuk istrinya ini.
"Lea, bangun." Raymond menepuk-nepuk pipi Lea perlahan.
"Eehh, saya ketiduran ya ... maaf." Mata Lea membesar saat melihat ada bercak air di kemeja Raymond.
"Hmmm, ga apa-apa toh kamu sekarang istri saya. Jadi salah satu tugas kamu juga mencuci baju saya nanti." Lea hanya menyengir malu.
Di pintu keluar bandara seorang pria bertubuh besar melambaikan tangan saat melihat mereka berjalan keluar.
"Selamat sore Pak Raymond, lama sudah ga kesini. Sekalinya datang bawa istri." Pria itu terus tersenyum sambil mengambil alih semua barang bawaan.
"Terima kasih, kenalkan ini Agus orang kepercayaan saya kalau saya ke sini."
Sepanjang perjanan menuju Pulau Derawan, Agus terus bercerita apa yang bisa dilakukan mereka saat berada di sana.
Lea sangat antusias mendengar cerita Agus, lain halnya dengan Raymond yang santai bersandar dan memejamkan mata.
Mungkin di benak Lea mereka akan berlibur di pulau eksotis nan indah bak surga dunia tersembunyi sesuai cerita Agus, tapi yang sesungguhnya alasan Raymond memilih destinasi ini untuk bulan madu adalah
__ADS_1
karena tiap penginapannya sangat privacy. Raymond sudah memesan satu kamar villa terbaik di sana.
Ia sangat yakin malam pertamanya dengan Lea akan sukses, karena jauh dari pengganggu dan sudah bisa di pastikan istrinya itu tidak bakal berani jauh dari dirinya di daerah yang sangat asing baginya.
Membayangkannya saja Raymond sudah merasa bahagia, tanpa sadar ia tertawa masih dengan mata terpejam.
Sementara Agus dan Lea hanya memandangnya dengan tatapan aneh.
"Waaaahhhh bagus sekalii Pak, saya baru tau loh di Indonesia ada tempat seperti ini." Lea merentangkan tangan lebar-lebar dan menghirup udara segar yang tidak bisa ia dapatkan di kota besar yang padat.
"Udaranya mirip di kampung saya Pak, segar. Jadi kangen pulang." Lea terpekur memandang laut yang membentang di hadapannya.
Hari sudah mulai senja, matahari sebagian sudah masuk untuk berganti tugas dengan sang rembulan.
Raymond mendekati Lea yang sedang menikmati air laut yang hangat di kakinya.
"Belum pernah main di pantai?" tanya Raymond.
"Belum, kampung saya itu banyak bukit sama sawah. Ga ada lautnya Pak, adanya sungai."
"Lea, kamu sekarang istri saya jangan panggil Bapak lagi. Ga enak di dengernya, saya jadi merasa tua."
"Bapak kan memang jauh lebih tua dari saya heheheee ... makanya Pak, cukur rambut di wajah biar keliatan muda." Setelah menyelesaikan kalimatnya Lea berjalan menjauhi Raymond masih dengan tertawa pelan.
"Ini bukan rambut Lea, ini namanya jambang."
"Lea." Raymond menarik pinggang Lea berbalik dan mendekatkan pada tubuhnya.
"Ehh, ada apa Pak?" tanya Lea canggung berada dalam posisi yang sangat intim.
"Jangan panggil Bapak," sahut Raymond pelan setengah berbisik.
"Bapak Eh, mau dipanggil apa?" Lea memalingkan wajahnya menghindari sapuan nafas Raymond yang cukup dekat dengan wajahnya.
"Apa aja, yang bikin kamu nyaman. Mas, Abang, Kang Mas, A'a, sayang, honey, baby ...." Raymond tersenyum geli melihat wajah Lea yang sudah memerah mendengar panggilan yang disebutkan Raymond.
"Mmm ... Abang aja." Lea menunduk malu.
"Okee, coba panggil saya mau dengar."
"A---abang." Lea terkikik menutup mulutnya.
"Lagi ... yang lengkap dong. Kalo panggil gitu aja kamu kayak manggil tukang bakso."
"Abang ... Raymond." Lea mencuri pandang sekilas lalu menunduk lagi.
"Sekali lagi ... lihat aku Lea," ucap Raymond pelan.
"Abang Raymond ...." panggil Lea lirih, mata mereka bertautan. Raymond semakin merapatkan tubuh Lea dengannya, sekarang sudah tidak ada jarak lagi antara mereka.
__ADS_1
"Ya sayang ..." sahut Raymond dengan perlahan mendekatkan bibirnya dan mulai mencium Lea.
Lea yang pernah merasakan di bawa ke awang-awang oleh Raymond dengan sentuhan bibirnya, sudah tidak merasa kaget lagi saat suaminya ini memagut bibirnya.
Lea bukannya tidak tahu apa yang diinginkan Raymond, dan ia pun tahu sudah saatnya ia melaksanakan kewajibannya.
Kkkrrrrrrrr ....
Lea menahan senyuman di sela-sela c*uman mereka, "Laper?" tanya Lea tidak bisa menahan tawanya.
"Hmmm, memang urusan perut itu ga bisa diajak kerjasama. Kemarin kamu sakit, sekarang aku minta diisi," gerutu Raymond sambil menggiring Lea masuk ke dalam villa.
...đšī¸...
"Mmm A---abang, tadi bilangnya aku mau diikutkan kursus?, kursus apa ya?"
"Sudah siap?" Raymond tersenyum lebar, "Duduk sini kita ngobrol dulu." Raymond menepuk sisi pembaringan.
Lea mengerutkan kening, tapi tetap menuruti perintah suaminya.
"Lea, tadi pagi Lukman sama Nina cerita banyak sama saya ... tentang trauma kamu." Lea menunduk, wajahnya mendadak suram.
"Maafkan saya baru mengetahui hal sepenting itu. Sekarang aku suamimu, kalau ada hal yang membuat kamu ga nyaman berada di dekat aku ... katakan jangan di simpan sendiri." Jelas Raymond dengan memberikan penekanan pada kata aku. Sengaja ia mengganti kata saya dengan aku malam ini, agar terasa jauh lebih dekat dan intim.
"Saat kita menikah dan tadi sore aku menciummu, apa yang kamu rasakan?" kata Raymond pelan. Lea hanya tersenyum malu menghindari tatapan Raymond.
"Kalau aku pegang tanganmu seperti ini? ... kamu takut?" Raymond mengenggam tangan Lea, menautkan jari jemari mereka. Lea menggeleng, ia menatap telapak tangan Raymond yang hampir memenuhi seluruh telapaknya yang kecil.
"Kalau ... seperti ini?" bisik Raymond, sambil melingkarkan tangannya di pundak Lea merengkuhnya semakin menempel pada tubuhnya. Tubuh Lea sedikit menegang, Raymond bisa merasakan.
"Lea ... lihat aku." Raymond mengangkat dagu Lea.
"Aku suamimu ... kamu percaya aku?" ucap Raymond dengan sorot mata teduh. Seperti terhipnotis Lea mengangguk tidak bisa melepaskan tautan mata mereka.
Dengan perlahan Raymond menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya, ia kembali menc*ium Lea perlahan namun pasti.
Semakin lama semakin panas, Lea sudah mulai membalas perlakuan Raymond pada bibir dan semua yang di dalam mulutnya.
Perlahan Raymond menarik Lea untuk berbaring tanpa melepaskan tautan bibirnya, ia melakukan dengan sangat perlahan menahan semua hasrat dalam dirinya agar istrinya merasa nyaman dan dapat menerimanya.
...â¤â¤...
Tiiiiiiitt .... stop dulu ya lanjut di bab berikutnya đđ
Saya mau mengucapkan Selamat Hari Natal bagi teman-teman yang merayakan đđĨ°
Mampir dan ramaikan juga ya ke novel ke dua aku judulnya : Ternyata ini Cinta
ini event lomba jadi harus segera mulai, tapi jangan khawatir saya tetap fokus menyelesaikan cerita di sini đđĨ°
__ADS_1