Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
As you wish baby


__ADS_3

"Kamu kenapa ga pernah bilang suka bakwan yang jual di sebelah kantor?" tanya Raymond pelan, saat kedua karyawannya yang haus belaian kembali ke kantor setelah harus sedikit dipaksa keluar dari rumah.


"Apa aku harus bilang?" sahut Lea sambil menyesap beberapa sendok kuah bakwan terakhir.


"Ya dong, kalau ga bilang mana aku tau sayang ... enak ya?" Raymond mendekat lalu menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya.


"Kayaknya gara-gara Abang ke sini, rasanya jadi ga enak." Lea mendorong mangkuk yang isinya sudah tandas tak tersisa.


Lea meninggalkan Raymond yang masih duduk di kursi meja makan sendirian. Raymond memandangi mangkuk yang sudah kosong dan dua kantong plastik bekas bungkus bakwan, ia menggelengkan kepala dan tersenyum geli "Ga enak kok habis sampai tetes terakhir."


...❤...


"Bang ...." Lea memanggil suaminya dengan manja, saat Raymond baru masuk ke dalam kamar pada malam harinya.


"Kenapa sayang?" Raymond tersenyum, lalu langsung menaiki tempat tidur di sisi istrinya.


"Boleh minta pijit?" tanya Lea malu-malu.


"Boleh dong, mana yang pegel?" Lea tidak menjawab hanya menunjuk kaki bagian bawahnya.


Raymond memijat pelan betis Lea dengan lembut, sambil sesekali keduanya bertukar senyuman.


Lea


Aku memandangi wajah suamiku yang sedang memijat kakiku. Wajahnya terlihat lelah dan seperti banyak pikiran.


Sejak kehamilanku, secara fisik Raymond cepat lelah dan ditambah dengan rasa mualnya yang tidak mengenal waktu. Sungguh kasihan aku melihatnya.


Terkadang aku sedih melihatnya berubah karena sikapku sendiri. Dia semakin terlihat berhati-hati berbicara denganku, sikapnya pun berubah semakin manis.


Harusnya aku senang kan?, tapi entah mengapa aku merindukan sifat dan sikapnya yang dulu. Sangat menggemaskan bagiku.


"Bang ...." Aku mulai memanggilnya pelan dengan suara mendayu.


Aku berniat ingin membuatnya bahagia malam ini, mumpung hormon jahat dan ketusku sedang ajukan cuti.


"Hmmm." Ia melihatku dan tersenyum manis sekali. Lihatlah bahkan untuk mengucapkan kalimat saja ia tidak berani.


"Naik dikit pijatnya." Aku mulai nakal.


"Yang mana?"


"Ini." Aku menunjuk pahaku, aku sedikit menyingkap dasterku.


Ia mulai memijat dengan pelan, wajahnya masih datar sepertinya belum mengerti tujuanku. Dalam hati aku tertawa, mengapa suamiku ini jadi berubah polos dan lugu.


Atau jangan-jangan aku sudah tidak menarik lagi karena sedang hamil?


Perasaan tidak percaya diriku mulai sedikit menunjukkan dirinya.


"Naikan lagi dong, Bang pijitnya." Aku mulai memberi kode padanya.


Dasterku sudah tersingkap hingga ke pangkal paha, kain segitigaku pun sudah mengintip dengan malu-malu tapi mengapa dia datar aja mukanya.


Sepertinya bener aku sudah ga menarik lagi, aku melihat pahaku yang sudah membesar dua kali lipat dari semenjak belum mengandung.

__ADS_1


Kehamilanku yang memasuki usia enam bulan, membuat tampilan perutku semakin membuncit.


Pikiranku mulai terbang kemana-mana saat suamiku berangkat ke kantor.


Bayangan di kepalaku ia bertemu dengan barisan model serta SPG-nya yang tubuhnya terpahat sempurna, lalu ia pulang ke rumah melihatku yang semakin mirip karung beras 25kg.


"Aku jelek ya," ucapku tak tahan.


"Cantik," sahutnya singkat. Ia mengangkat kepala tersenyum lalu menunduk kembali melanjutkan pijatannya.


"Cantik mana sama SPG-mu di kantor." Oke aku tahu ini pertanyaan konyol yang biasa dilontarkan oleh wanita kepada pasangannya, jika sedang cemburu dan ingin memulai pertengkaran.


"Cantik kamu dong sayang, karena itu aku milih kamu jadi istriku." Bagus, jawabannya sudah mulai panjang.


"Bo'ong, kita kan nikah karena Pak Beni ngotot minta Maura."


"Kita kan sudah pernah bahas ini Lea, aku jatuh cinta sama kamu jauh sebelum itu."


Aku sudah tahu sih jawabannya, tapi entah mengapa gatal aja mulutku ini ingin meyulut api dengannya.


Sepertinya hormon ganjenku menyerah dengan sikap dingin suamiku, akhirnya hormon jahat dan ketusku mulai kembali bekerja.


"Udahan aja pijetnya." Aku menepis tangannya, membenahi pakaianku lalu tidur memunggungi suamiku.


"Abang salah apa lagi?" Suaranya terdengar menyedihkan. Aku mulai menangis lagi ga tau kenapa please jangan tanya, air mata ini jatuh sendiri coba tanya aja sama mereka.


"Yaaang." Dia mengukung badanku yang sedang tidur miring. Bibirnya mengecup pipi dan pelipisku berulang kali, jemarinya menghapus air mataku.


Aku semakin tersedu, entah untuk apa.


"Air matanya ga mau berhentiii ... hik ... huuhuu ...." Aku semakin tersedu.


"Abang harus apa supaya air matanya bisa berhenti?"


Aku berbalik telentang, sekarang kami saling berhadapan dengan dia berada di atasku.


"Cium." Aku hampir tidak percaya, kata itu yang keluar dari bibirku.


"Hah?" Rupanya ia masih belum percaya dengan permintaanku.


"Aku minta dicium." Aku sedikit geli mendengar nada suara merajuk yang keluar dari mulutku.


Perlahan senyuman terbit di kedua sudut bibir suamiku. Wajahnya semakin mendekat, dan mulai mencium bibirku.


"Apalagi?" tanyanya setelah kami berciuman sedikit agak lama.


"Peluk."


"Cuman peluk aja?"


"Abang selalu ambil kesempatan dalam kesempitan. Ya udah, kalau mau yang lebih sok atuh." Aku licik ya, jelas yang pingin aku tapi ku buat seolah suamiku yang meminta.


"Abang mulai ya." Apaan juga pakai minta ijin segala, biasa juga langsung srundul.


"Ya, buruan." Aku mulai tidak sabar. Dia hanya terkekeh pelan.

__ADS_1


PoV Raymond


Aku tahu ada yang berbeda dengan istriku malam ini. Dia sedikit terlihat sedikit berani, berulang kali aku mendapatinya memandangku penuh dengan hasrat.


Aku memijat betisnya, ia mulai memintanya semakin naik. Susah payah aku menahan cengkraman tekanan tanganku agar tidak menyakitinya.


Saat ia menyingkap lebih tinggi dasternya, lapisan terakhir berwarna putih itu seakan menantangku untuk menyentuhnya.


Aku berusaha sekuat tenaga menahan keinginan agar tidak menarik paksa kain putih yang terkesan mengolokku.


Jangan sampai jika telapak kakinya berpindah ke pipiku, karena aku melakukan sesuatu hal yang bodoh.


Fantasiku tentang bentuk di balik kain putih itu pecah, saat Lea melontarkan pertanyaan yang berbahaya.


Pertanyaan-pertanyaan yang membuat seorang pria mati kutu. Dijawab salah ga dijawab sama dengan bunuh diri.


Aku tahu jika pertanyaan seperti itu jawabannya selalu salah bagi wanita. Tiba-tiba tangannya menepis kedua tanganku yang masih menikmati lembut kulit pahanya.


Dia mulai menangis lagi, aduuhh gawat kalau sudah air matanya yang ikut bicara.


Aku mencoba merayunya, hanya itu keahlianku. Aku cukup terkejut saat dia meminta cium, bukan hanya mengecup tapi juga ******* panjang dan itu dia yang mendominasi.


Hhhhmmm, sepertinya ini malam keberuntunganku.


Permintaannya semakin berani, ia meminta sebuah pelukan. Aku sedikit menggodanya dan ia terpancing. Binggo!


Malam ini aku kembali membawanya ke puncak tiiiittttt ... salah terbalik, dia yang membawaku ke puncak karena malam ini dia tampil sungguh luar biasa.


Aku sang don juan penakluk wanita di atas ranjang, malam ini tak ubahnya boneka yang dengan puas ia mainkan.


Aku menatapnya dari bawah tempatku berbaring, ia sungguh memukau dengan perutnya yang membuncit ia duduk di atasku bergerak dengan manisnya ... dia istriku.


...❤❤...


Terima kasih sudah mengikuti 🙏


Maafkan saya bolong update dua hari, karena kesibukan dunia nyata yang tidak bisa ditinggal. Mohon jangan kapok ya 😘🙏


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2