Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Tolong Jujurlah


__ADS_3

"Willi ... William, buka pintunya sekarang atau Papi buka paksa pintu kamarmu ini!" Raymond menggedor pintu kamar William dengan kesal.


Penatnya dengan urusan pekerjaan ingin segera ia redakan dengan istirahat di rumah, tapi yang ada ia disambut tingkah William yang selalu membuat emosinya kembali naik.


Terdengar bunyi kunci diputar dan langkah kecil yang terburu - buru berlari ke tempat tidur.


Raymond membuka pintu lamar anaknya, dilihatnya William tidur meringkuk menutupi badannya dengan selimut.


Berulang kali Raymond menarik nafas panjang agar panas emosi di dadanya sedikit mereda.


Menangani anak dengan kondisi seperti William tidak bisa menggunakan kekerasan, ia akan semakin membuat benteng pertahanan diri. Itu yang selalu di sampaikan oleh dokter Lukman.


Raymond melangkah ke sisi pembaringan dan duduk membelakangi William.


Masih terdengar suara isakan dari balik selimut. Raymond tahu anaknya sedang menangis dan takut ia marahi.


"Aahhhh ... papi lelah sekali hari ini. Bqoleh papi tidur di sini saja?" Raymond berbaring di sisi William.


"Kamu tahu Wil, menjadi orang dewasa itu susah, capek. Apalagi saat bekerja kita harus berpura - pura bahagia, agar orang lain juga senang. Kalau tidak seperti itu ... papi jadi tidak bisa dibayar. Kalau papi tidak dibayar orang, kita tidak punya uang untuk bersenang - senang."


"Hmmmm ... sudah lama sepertinya kita tidak jalan - jalan berdua?" William masih diam tidak mau menanggapi.


"Tadi siang papi ada kerjaan di Mall Ruby. Papi setting pameran mobil di sana."


"Waaah kamu tau Wil, banyak permainan baru di sana. Ternyata memang sudah lama ya kita ga kesana." William masih diam tapi gerak badannya sudah mulai terlihat gelisah.


"Ada itu loh Wil, mainan yang kamu suka lompat - lompat di atas ... apa itu namanya lupa papi." Raymond berlagak bertanya.


"Trampolin papii!, gitu aja ga tau." Yesss ... pancingan sudah mulai kena.


"Aahh ... iya trampolin. Rame banget loh Wil ... antriii. Waktu papi lihat langsung ingat kamu, pasti kamu suka kalau main di sana."


"Papi ingat aku?" William berbalik menghadap Raymond, masih dalam gulungan selimut.


"Setiap hari papi ingat kamu ... tapi papi tidak bisa setiap saat temani Willi, papi juga harus cari uang supaya William bisa sekolah yang baik." Raymond berbalik berhadapan dengan William lalu mengusap kepalanya.


"Aku ga punya teman ... sepi." William menutup seluruh kepalanya dengan selimut.


"Teman - teman Willi selalu olok - olok Willi, bilangnya Willi anak ... anaknya pelacur! ... mereka juga bilang mamanya Wili per*k!." Suara William sudah mulai terdengar sesak tertahan.


"Aku ga suka sama mereka ... ga sukaa!! ... mereka jahaaat!!." Raymond meraih tubuh William mendekat, memaksa untuk merengkuhnya walau tubuh William menolak.

__ADS_1


"Willi ga lapor sama guru?"


"Sudah ... mereka sudah dihukum tapi tetap saja."


"Willi masih punya papi, tidak perlu dengarkan mereka yang suka berbohong." Raymond mengusap - usap punggung William yang masih terisak hingga tertidur.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Setelah kata menyakitkan 'Maura bukan anakku' itu keluar dari mulut Erik, hubungan keduanya sudah tidak sama lagi seperti dulu.


Semuanya terlihat berjalan hanya kewajiban saja. Komunikasi yang terjalin hanya sekedarnya.


Sungguh lidah itu lebih tajam dari pedang, setelah menancap luka lebar menganga sulit untuk ditutup kembali hanya dengan perkataan maaf.


Hubungan Erik dan Lea yang kurang baik tidak berdampak pada Maura.


Balita cantik berambut ikal yang saat ini baru menginjak usia delapan bulan sangat dekat dengan papanya.


Lea sendiri tidak berusaha mendekatkan tapi juga tidak membatasi kedekatan antara ayah dan anak itu.


Sejak Erik mengatakan Maura bukan anak kandungnya, Lea sangat menjaga untuk segala kebutuhan Maura tidak terlalu tergantung dan bersandar pada Erik. Lea mulai membuka usaha online, berjualan makanan di depan rumah hanya untuk memenuhi kebutuhan Maura.


Namun hubungan batin antara ayah dan anak meski tidak sedarah sepertinya terlampau kuat.


Ia melihat Maura sedang bercanda dengan Erik bermain ciluk ba dengan penuh gelak tawa.


Hatinya trenyuh melihat Maura dan papanya bercanda sangat akrab.


Lea menutup pintu perlahan, tidak sampai hati untuk memisahkan mereka berdua.


Sebetulnya sudah tersusun rapi di kepalanya rencana untuk melepas Erik.


Mengikat Erik dalam tali pernikahan tapi tidak memberikan kebahagiaan batin adalah sebuah kesalahan besar menurut Lea.


Lea merasa dia bukanlah orang yang dapat membahagiakan Erik, ternyata sudah ada wanita lain yang mengisi hati dan pikiran Erik.


Bohong jika Lea tidak tahu apa yang disembunyikan oleh Erik. Mau marah tapi merasa tidak mempunyai hak untuk marah.


Erik pun juga sudah tidak ada usaha untuk mendekati Lea lagi secara intim. Hubungan keduanya kembali seperti awal sebelum menikah, hanya teman baik tidak lebih.


"Kak Erik ...." panggil Lea saat melihat Erik di dapur sedang mengambil minum.

__ADS_1


"Hmmm ...." Erik menaikan kedua alisnya sambil menyelesaikan minumnya.


"Mau bicara," lanjut Lea. Erik duduk di kursi makan dan menarik kursi di sampingnya lalu memberikan kode Lea untuk duduk di sampingnya.


"Bicara apa?" tanya Erik lembut.


"Kak Erik bahagia?" lanjut Lea tepat pada titik masalahnya. Erik terlihat sedikit gelisah dengan pertanyaan Lea.


"Maksudnya bahagia yang bagaimana?"


"Bahagia menikah dengan aku." Lea menatap mata Erik.


"... Bahagia." Erik menganggukan kepala.


Lea menggenggam tangan Erik, "Aku mohon Kak Erik jujur sama aku, jangan ada yang ditutupi. Jangan membuat aku merasa bersalah."


Ada apa ini, kedua wanita yang disayanginya sama - sama merasa bersalah pada dirinya?, seharusnya ia lah yang paling bersalah dalam situasi ini.


Sudah mengkhianati kepercayaan Lea sekaligus juga merusak masa depan Ghea. Jika ada orang yang dapat dituding biang masalah dari keruwetan ini, dia lah orangnya.


"Aku ga mengerti yang kamu bicarakan Lea ... aku bahagia punya kamu dan Maura, hidupku sudah lengkap."


Lea menyentuh dada Erik dengan telunjuknya, "Orang yang ada di sini, tidak ada di samping Kak Erik."


"Kamu bicara tentang apa sih." Erik menggengam telunjuk Lea.


"Tentang Ghea." Senyum Erik memudar dan genggaman tangannya melemah. Mulutnya terbuka dan menutup seakan ingin menyampaikan sesuatu namun tak ada yang keluar dari celah bibirnya.


"Kak Erik mencintai Ghea?" Wajah Erik sedikit memucat mendengar nama Ghea disebut oleh Lea.


"Maaf aku lancang, Aku ... membaca pesan antara Kak Erik dan Ghea. Aku hanya ingin memastikan dan meyakinkan diri sendiri untuk menentukan langkah ke depan apa yang harus aku ambil."


"Aku tidak menuduh Kak Erik berselingkuh karena ... aku juga bukan seorang istri yang baik."


"Apa yang kamu baca?" Wajah Erik menegang menunggu jawaban Lea.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Duuhh, emang yang dibaca Lea apaan sih ...


Jangan lupa ditunggu ya, love, like dan komentar yang santun 😊🙏

__ADS_1


Sambil nunggu up episode selanjutnya, mampir yuk ke novel berjudul 'Kekasihku kekasih ibu tiriku" karya dari Mama Reni



__ADS_2