Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Sah? ... SAH!!


__ADS_3

"Laah dalaah kok malah nangis lagi toh yo, bedaknya nanti luntur to cah ayuuu," Perias pengantin yang baru saja kembali dari toilet, menggerutu kesal melihat Lea yang wajahnya sudah penuh dengan air mata.


"Ini nangis terharu Bude, lah bude pake make up yang tahan air dong jangan yang murahan," cetus Nina bercanda. Kebetulan perias pengantin ini adalah salah satu kerabat Nina.


"Mmmm, seenaknya aja anaknya Pak Soetoyo ini kalo ngomong. Kamu kalo manten nanti Bude rias pake semen biar awet."


"Hahahhaa ... kalo marah tambah cantik Budeku ini," ucap Nina sambil memeluk dengan gemas.


"Sudah ... sudah, ayo pengantin wanitanya sudah ditunggu." Nina menggandeng tangan Lea untuk berdiri.


"Siap?" tanya Nina sebelum membuka pintu ballroom tempat acara akan berlangsung. Lea menarik nafas, melirik Nina dan mengangguk mantap.


"Eeeh, tunggu sebentar kok ditinggal toh." Seorang kerabat keluarga Raymond tampak tergopoh berlari sambil menggendong Maura dan menggandeng William.


"Loh, saya kira mereka sudah di dalam ruangan," ucap Nina.


"Belum, mereka ini ikut mengiringi Mamanya masuk ruangan. Tadi Maura kebelet pipis untung belum keburu masuk duluan ... ayoo dipegang keranjangnya satu-satu, nanti sambil jalan di tabur ya bunganya." Tante Silvi mengarahkan William dan Maura bak wedding organizer.




"Siap yaa." Nina mulai membuka pintu ballroom. Mata Lea terbelalak melihat dekor ruangan tersebut.



"Calon suamimu sangat mencintaimu Lea," bisik Nina.


Lea mulai memasuki ruangan dengan kaki gemetar, di depannya William dan Maura tampak bahagia menabur-naburkan bunga sesekali para tamu undangan mencubit pipi mereka.


Sayup-sayup sebuah lagu mulai di mainkan mengiringi langkahnya. Lea memandang lurus ke depan, Raymond sedang berdiri memandangnya dengan syahdu, senyumnya semakin melebar seiring langkahnya yang mulai mendekat.


Saat kedua pasang mata bertautan, waktu seperti berhenti, seakan dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.


Suara dengungan para undangan sudah tidak terdengar.


Keduanya larut dalam ingatan masing-masing.


Saat ku tenggelam dalam sendu


Waktu pun enggan untuk berlalu


Ku berjanji 'tuk menutup pintu hatiku


Entah untuk siapa pun itu


(Keduanya sama-sama belum punya keinginan untuk menikah lagi, bahkan mungkin tidak akan pernah menikah lagi)

__ADS_1


Semakin kulihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat ku melihat senyummu


(Keduanya mempunyai masa lalu yang buruk, bagi Raymond cinta itu omong kosong, bagi Lea pria memandang wanita tidak lebih dari objek kepuasan tidak ada yang namanya cinta)


Dan kau hadir merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


(Raymond :Tapi mengapa saat kamu ada di hadapanku, prinsip itu seakan musnah. Lea : Aku belum yakin apa yang aku rasakan, tapi entah mengapa aku ... percaya padamu)


Dan membuatku utuh


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


(Raymond : Mungkin awal kita tidak sebaik pasangan lain, tapi yakinlah aku akan mengisinya jauh lebih baik dari yang pernah kamu bayangkan)


Lagu by Adera : Lebih Indah


"Silahkan duduk dulu kedua mempelai." Penghulu mempersilahkan untuk duduk Lea dan Raymond yang masih berdiri berhadapan, meskipun lagu pengiring sudah selesai sejak tadi.


"Pak Raymond coba lihat dulu pengantin wanitanya, benar tidak? kalau salah orang saya ga tanggung jawab loh," seloroh penghulu.


Raymond menoleh ke arah Lea yang terus menunduk, "Iya benar, tapi agak beda dikit ... lebih cantik." Lea semakin tertunduk lebih dalam.


"Hehehe ... yo mesti harus lebih cantik to kan di dandani. Mba Amalea coba lirik dikit calon suaminya, bener ga yang ini ato mau ditukar mumpung belum sah nih," goda penghulu. Wajah Raymond mendadak kecut seketika.


Lea memutar kepalanya, melihat Raymond yang ternyata juga sedang menatapnya. Spontan senyum tersipunya terbit di kedua ujung bibirnya.


Raymond melihat senyum Lea yang tertuju padanya, kembali bersemangat bagaikan ponsel yang terisi daya penuh.


"Benar." ucap Lea pelan.


Raymond melihat tangan Lea sedikit bergetar, ia mengulurkan tangannya menggenggam telapak tangan calon istrinya itu yang ternyata sangat dingin.


"Takut ... mau mundur?" bisik Raymond. Lea menggeleng cepat, genggaman tangan Raymond menyalurkan kehangatan yang sedikit membuatnya tenang.

__ADS_1


"Looh, pegang-pegangnya nanti dulu tunggu sah yaa. Nanti kalau sudah sah bebas mau pegang apa aja," ucap Penghulu kembali menggoda.


Penghulu kemudian memanggil para saksi untuk maju dan duduk. Lea di dampingi oleh ketua KUA sebagai wali nikah karena tidak ada keluarga sedarah lagi.


Setelah pembacaan doa dan ayat suci Al Quran, pembawa acara mengembalikan kepada penghulu untuk memulai akad.


Tante Silvi memasangkan kain di atas kepala Raymond dan Lea, wali nikah menggenggam tangan Raymond siap melakukan ijab kabul.


"Ananda Raymond Sanjaya Bin Suroto Brotoseno . Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Bintang Amalea Bin Ali Kusno, dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, satu unit rumah dan uang senilai lima ratus juta dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Bintang Amalea Binti Ali Kusno dengan maskawinnya yang tersebut tunai."


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAH." Kedua saksi serempak menjawab, diiringi ucapan syukur dari para undangan.


Raymond dan Lea saling melirik, "Rumah?" tanya Lea tanpa suara. Raymond hanya tersenyum menanggapi.


Setelah khutbah dan pembacaan sighat ta"lik, Orangtua Raymond maju memberikan seperangkat alat sholat, uang lima ratus juta berupa deposito dan kunci rumah yang sudah dihias sebagai simbol maskawin satu unit rumah.


Terbersit ragu dan heran dalam hati Lea, yang dibayangkan saat Raymond memintanya menikah adalah hanya pernikahan simbolis karena menyelamatkan situasi.


Selain itu masih ada rasa curiga jika Raymond dan Lukman ada hubungan spesial meski Nina sudah sempat meyakinkan dia tadi, tapi jika belum keluar pernyataan dari Lukman dan Raymond sendiri Lea masih sulit untuk percaya.


Tapi kenyataan hari ini, pernikahan mereka terasaya nyata dan benar-benar menikah dalam arti sebenarnya.


Sementara para undangan bergantian memberi selamat pada mereka, Lea mencuri pandang wajah pria di sampingnya ini yang sudah berubah status menjadi suaminya.


Raymond terlihat sangat bahagia, ia tidak pernah melihat senyum selebar itu selama mengenal Raymond.


"Kenapa lirik-lirik?" tanya Raymond tiba-tiba, "Suamimu ini memang tampan." Lea membuang pandangannya malu.


"Kalau mau lihat lebih puas nanti aja ada waktunya," Raymond tersenyum simpul. Lea yang ingin membalas perkataan Raymond kembali menutup mulutnya karena melihat Kinanti, Gilang, Nina dan Lukman berjalan menghampiri mereka.


"Selamat untuk pasangan fenomenal tahun ini, semoga Bapak Raymond berbahagia dan gaji kami dinaikan," ucap Gilang pertama yang memberi selamat.


"Selamat ya Lea, ga nyangka kamu sekarang jadi ibu bos, rayu suami ya naikin gaji aku," bisik Kinanti.


"Selamat ya sayaaanggg, aku bahagia banget kalau kamu juga bahagia, dan aku orang pertama yang maju kalau kamu di sakitin." cetus Nina sambil memberikan lirikan tajam pada Raymond.


"Selamat ya Ray, akhirnya nikah juga setelah sekian lama. Aaahhh, aku ditinggal lagi deh." Lea menunduk mendengar ucapan selamat dari Lukman yang ditangkap beda arti olehnya.


...❤❤...


Readers yang hadir silahkan antri yang rapi ambil piring dan makanannya ya 🙏🥰


Maaf kalau ada salah ketik atau pengucapannya 🙏, maklum kejar tayang ketik sampai malam memenuhi janji up 😁

__ADS_1


__ADS_2