
"Aku?" tanya Lea lirih sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kamu sudah berubah Lea, sejak kamu dekat dengan temanmu si Nina itu kamu seperti tidak membutuhkan aku." Erik berkata dengan geram.
"Jangan bawa-bawa orang lain dalam permasalahan kita Kak."
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Nina!" hardik Erik.
"Kenapa Kak Erik tidak suka Nina?, apa karena takut Nina cerita semua apa yang Kakak lakukan di kantor jika bersama dengan Ghea?" tantang Lea.
Tangan Erik sudah terangkat hendak menampar lagi namun terhenti di udara, "Kenapa berhenti?, kalau dengan memukul aku bisa buat Kak Erik puas aku ikhlas," desis Lea.
"Tidak ada yang salah selain kita berdua, tolong jangan lempar kesalahan yang sudah kita perbuat pada orang lain yang tidak tahu apa-apa." Lea memegang kedua tangan Erik.
Erik terduduk lemas di lantai dengan telapak tangan yang menutup wajahnya.
"Aku sama sekali tidak mau hal ini terjadi pada kita, kamu harus tahu itu." Erik berkata lirih.
Lea duduk di tepi ranjang menatap suaminya dengan sedih.
"Aku juga tidak mau kak, tapi semua sudah terjadi cepat atau lambat kita harus mengambil keputusan. Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya."
Setelah beberapa kali mencoba bicara berdua tentang perpisahan, Lea merasa Erik tidak pernah benar-benar memikirkan hal ini.
Pasalnya yang membuat Lea terpaksa mengambil keputusan sendiri adalah karena Erik tidak mau berpisah, tapi ia masih saja berusaha menjalin hubungan dengan Ghea.
Belum lagi sikapnya semakin hari seperti orang asing, raganya di rumah tapi pikiran dan jiwanya entah kemana.
Emosi yang sering tidak terkontrol seperti halnya malam ini, Erik untuk pertama kalinya dengan sengaja menyakiti Lea.
Lea memang sengaja tidak mau memberi tahu tentang pengajuan gugatan cerainya pada Erik, karena keputusannya sudah bulat untuk berpisah dan ia tidak mau rencananya itu di kacaukan oleh suaminya.
"Tidak ada yang perlu diputuskan, semua akan berjalan seperti biasanya." Erik berdiri dari lantai lalu naik ke atas ranjang dan memejamkan mata, mengacuhkan Lea yang masih ingin membahas persoalan mereka.
Lea menarik nafas panjang melihat sikap suaminya. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Erik, terkadang seperti setuju dengan keputusannya tapi tiba-tiba berubah menolak untuk berpisah.
Setelah menidurkan Maura dan cukup yakin Erik sudah tertidur pulas, Lea menuju dapur untuk menghubungi Nina melalui pesan singkat.
Nin, berapa lama lagi proses pengajuan ceraiku selesai?
segitunya nanya terus, udah ga sabar jadi janda?
Nina nih bercanda muluuu, beneran nanya aku tuh 🥺
Sabar neng ga lama lagi ada surat panggilan sayang dari pengadilan untuk Kak Erikmu
Lea mengakhiri percakapannya dengan Nina, tidak lupa menghapus semua isi pesan singkatnya terkait proses pengajuan cerainya.
Hampir satu bulan lamanya peristiwa malam itu berlalu, Lea masih tetap bekerja walaupun masih secara sembunyi-sembunyi dari Erik.
__ADS_1
Berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat dari Erik, dengan dibantu oleh Nina untuk mengantar jemput Maura di tempat penitipan anak.
Sebatas itu usaha yang dapat dilakukan Lea agar rencananya bisa berjalan sempurna.
Bukan karena ia tidak mematuhi perintah suami untuk berhenti bekerja, tapi Lea merasa harus bersiap untuk sesuatu yang akan terjadi di antara mereka.
"Apa ini?" Erik berteriak dari arah ruang tamu. Lea yang sudah tahu apa yang menyebabkan kemarahan Erik, sudah mempersiapkan diri sejak tadi.
Maura dengan sengaja dibawa pulang oleh Nina ke rumahnya, atas permintaan Lea agar tidak terganggu jika mungkin terjadi keributan di antara mereka berdua.
"Apa ini Lea?!" tanya Erik geram sambil mengacungkan lembaran kertas panggilan gugatan cerai.
"Kapan kamu memproses ini semua?, pasti temanmu itu yang sudah mempengaruhi kamu!" tuduh Erik.
"Cukup Kak!, jangan salahkan orang lain. Salahkan aku saja, aku yang salah!, Kak Erik dan Ghea tidak salah, semua salahku ... semua salahku." Lea menepuk-nepuk dadanya menahan sakit di dadanya.
Sakit karena apa Lea juga tidak tahu, toh dia merasa tidak mencintai Erik tapi mengapa rasanya sesakit ini.
"Di mana Maura?" Erik berjalan memasuki kamar mencari bayi mungil yang selalu berceloteh riang itu.
Tidak menemukan Maura di manapun emosinya kembali naik, "Maura ada di mana Leaa??" Erik mencekal lengan Lea dengan keras.
"Sakit Kak ... Maura di rumah Nina, lepas sakit." Lea merintih.
"Ternyata kalian sudah mempersiapkan semua di belakang aku, apa lagi yang aku tidak tahu tentang kamu?"
"Aku bukannya mau menyembunyikan semua, tapi sadar ga sih Kak Erik yang selalu menghindar kalau aku ajak bicara tentang ini."
"Kak Erik setuju atau tidak kita tetap harus berpisah. Aku akan mengalah, Kak Erik dan Ghea sudah melakukan hubungan terlalu jauh. Kakak harus bertanggung jawab pada Ghea."
"Jangan gila Lea" hardik Erik.
"Wajar, kalian berdua saling mencintai bukan?"
"Aku pun cinta sama kamu!, apa kamu tidak pernah sadar akan perasaanku?" Erik mencengkram kedua bahu Lea.
"Mengapa kamu tidak bisa mencintai aku seperti Ghea?, aku harus apa lagi agar kamu melihat pengorbanan aku Lea?" cecar Erik.
"Aku sayang sama Kak Erik ... aku sayaaang, tapi aku terlambat aku minta maaf." Air mata Lea mulai berderai.
"Aku ga bisa melepaskanmu Lea." Erik memeluk Lea dengan kencang.
"Tolong jangan begini kak, ada Ghea yang menunggu Kak Erik." Lea berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan Erik.
"Kamu benar-benar ingin berpisah? ini yang kamu mau?" Erik mengacungkan kertas panggilan persidangan cerai yang sudah kusut.
"Kalau begitu Maura aku bawa." Lea tercengang tidak menyangka dengan permintaan Erik. Bagaimana bisa ia meminta anak yang bukan darah dagingnya sendiri.
"Maura anakku!" pekik Lea. Seorang ibu akan tersulut emosinya jika bersangkutan dengan anak.
__ADS_1
"Kamu pernah menolaknya, kalau bukan karena aku mungkin Maura sudah kamu gugurkan kamu ingat?"
"Terima kasih atas itu. Kak Erik lupa kalau juga pernah mengatakan Maura bukan anak Kakak?" tantang Lea.
Erik meremas kertas panggilan dari pengadilan dan membuangnya begitu saja.
Lea terduduk lemas, tenaganya seperti terserap habis karena pertikaian mereka.
Lea sangat menyesali pertengkaran yang terjadi di antara mereka, inginnya berpisah dengan baik-baik tapi sepertinya tidak mungkin jika melihat reaksi Erik.
Bagaimanapun yang namanya perpisahan pasti akan ada hati yang terluka.
Hanya cara berpikir yang dewasa akan membedakan sikap dan reaksi tiap orang menghadapi situasi tersebut.
Suara salam dan ketukan di pintu terdengar, Erik dengan cepat berjalan ke ruang tamu.
Lea tahu yang datang adalah Nina membawa pulang Maura.
Takut Nina menjadi pelampiasan kemarahan Erik, Lea ikut menyusul berjalan cepat di belakang Erik.
Begitu pintu depan terbuka, Erik langsung mengambil Maura yang tertidur dari gendongan Nina.
"Kamu racuni apa pikiran istriku sampai ia berani meminta berpisah dari aku?" cecar Erik.
Nina yang tidak siap menerima kemarahan Erik hanya melongo menatap pasangan suami istri itu bergantian.
"Kak!" sergah Lea memperingatkan.
"Aku peringatkan kamu, jangan campuri urusan rumah tangga kami." Erik tidak mempedulikan nada protes Lea.
Maura mulai gelisah terbangun dan merengek karena kaget mendengar suara keras Erik.
Lea ingin mengambil Maura tapi Erik tetap menahan dalam gendongannya, sehingga Maura semakin keras menjerit ketakutan.
"Kasihan Kak, dia ngantuk." Lea masih terus berusaha mengambil Maura dari Erik.
"Kasihan?, di mana rasa kasihanmu saat ingin menjadikan dia yatim?" seru Erik.
"Tega kamu Kak seret Maura di tengah persoalan kita."
"Kamu yang tega!" hardik Erik keras. Maura semakin menjerit histeris ketakutan.
"Om jahat!" Erik sedikit terhuyung tidak siap di dorong oleh sepasang tangan kecil.
...🔹️🔹️🔹️...
Erik dapat lawan seimbang nih siapa tuuhh 🤭
Jangan lupa vote, like juga komennya yaa 🥰🤗
__ADS_1
Promo lagi niih, satu lagi teman aku punya karya keren "Tentang Rasa" Asyfa