Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Hai namaku Bintang Maura Anersa


__ADS_3

"Maaf .. maaf ... maaf." Hanya kata maaf yang berulang-ulang terdengar semakin lirih keluar dari bibir Erik.


"Pergilah." Ghea kembali masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu.


Ghea duduk bersandar pada daun pintu, menahan tangis yang terasa semakin sesak di dada.


Saat terdengar pintu depan apartmentnya tertutup, tangis Ghea pecah tak tertahankan lagi.


Sakit, cemburu, malu, menyesal bercampur aduk dalam hatinya, sangat sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.


Patah hati sekaligus mencintai milik orang lain tidak semudah kata-kata penghiburan. Sudahlah ia bukan jodohmu jadi lupakan saja, masih banyak orang lain di luar sana yang jauh lebih baik.


Miris memang, dan Ghea tidak pernah bermimpi apa lagi meminta agar hatinya jatuh pada Erik, pria milik seorang wanita dan ayah dari bayi yang baru lahir.


Sepanjang perjalanan di dalam taxi online menuju rumah sakit, pikiran Erik terpecah menjadi dua.


Rasa bersalah dan malu pada Lea, jelas ia sudah berselingkuh dan mengkhianati Lea ... aarrrgghhh, Erik meremas kembali rambutnya.


Tidak habis pikir ia bisa dengan mudahnya jatuh dalam situasi seperti ini.


Namun di satu sisi yang lain, ada rasa bahagia yang bergejolak di hati Erik saat bersama dengan Ghea.


Entah apa bedanya rasa yang dimiliki Erik pada Lea dan Ghea, ia pun masih sulit membedakan rasa itu.


Bertahun-tahun lamanya hanya nama dan wajah Lea yang mengisi hatinya, namun saat ini separuh hatinya sudah terisi wajah dan nama wanita lain.


Erik melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang sudah terlihat sunyi. Kakinya terasa berat untuk diajak berjalan menuju ruang perawatan Lea.


Dari kaca ruang rawat, Erik melihat Lea setengah berbaring sedang berbincang dengan Nina.


Di sampingnya ada bayi mungil yang tertidur pulas dalam dekapan Lea.


Erik menarik nafas panjang dan menghembuskannya berulang kali sebelum membuka pintu.


Senyum Lea terkembang melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan.


Erik berjalan mendekati pembaringan Lea, diiringi tatapan Nina yang penuh dengan sorot tanda tanya.


"Heeii, maafkan aku baru datang," bisik Erik sambil mengelus sayang rambut Lea.


Perhatiannya lalu beralih pada sosok bayi mungil yang sedang tertidur.


Diusapnya pipi bayi yang lembut itu dengan jemarinya, mata Erik sontak berkaca.


Rasa bersalah karena pengkhianatan yang telah ia buat, ternyata jauh lebih besar pada bayi ini dari pada rasa bersalahnya pada Lea.


Sejak masih berupa janin, Erik sudah menetapkan bayi ini adalah anaknya. Mungkin ikatan batin antara Erik dan bayi Lea sudah terbentuk sejak saat itu.

__ADS_1


"Kakak dari mana?, kenapa tidak hubungi aku kalau terlambat pulang?. Aku telepon juga tidak diangkat?" Lea menggengam erat tangan Erik. Malam ini Erik terlihat sangat rapuh, tidak seperti biasanya.


"Maaf, handphone aku tertinggal di kantor. Kebetulan teman ada acara sepulang kantor kami diajak makan ramai-ramai. Saat mau pulang aku baru sadar kalau handphone masih ada di kantor, jadi aku terpaksa balik lagi ke kantor." Rangkaian kata mengalir begitu saja dari mulut Erik.


Erik mungkin lupa jika sekali berkata bohong, seterusnya akan berkata bohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang lain.


"Berarti belum sempat pulang ya, kunci rumah kan aku bawa." Lea berkata dengan suara pelan sambil tangannya memegang pipi Erik.


Entah mengapa setelah melahirkan Lea lebih berani melakukan kontak fisik dengan Erik.


Apa mungkin karena anak dari Beni sumber rasa trauma Lea sudah lahir, lenyap juga perasaan tertekan Lea saat dekat secara intim dengan seorang pria.


"Tidak apa-apa besok pagi aku pulang dulu, mandi di rumah sebelum berangkat kerja." Erik balas memegang tangan Lea.


Bahagia yang dirasa Erik, saat mendapat perlakuan hangat dari Lea.


"Aku pulang dulu ya, besok aku datang lagi. Di sini cuma duduk di pojokan nonton adegan romantis seperti drama korea, tapi ini lebih nyesek karena live dan eksklusif," ujar Nina dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Iya pulang saja Nin, aku juga sudah ga apa-apa. Terima kasih sudah temanin aku. Besok kalau datang jangan lupa bawa makanan yang banyak."


"Siap boss." Nina melakukan gerakan seperti memberikan hormat.


"Balik dulu ya." Nina yang hendak pamit pada Erik, hanya ditatap sekilas pandang oleh Erik seolah enggan beradu kontak mata dengan Nina.


Saat sudah hanya berdua dengan Lea, Erik akhirnya dapat menarik nafas dengan lega. Selama ada dalam satu ruangan bersama Nina, oksigen yang dihirup Erik serasa tipis. Tatapan Nina seakan ingin mengulitinya.


"Anak kita Lea. Dia lahir dalam pernikahan kita yang sah, jadi dia juga anakku." Lea tersenyum terharu, sungguh saat ini hati Lea sangat bahagia.


"Maura ... Maura An-ersa." Erik mengeja sambil menyunggingkan senyum.


"Dapat nama dari mana?" Lea terkekeh.


"Maura itu nama tokoh anak dari salah satu cerita yang pernah aku baca. Aku suka dengan karakternya, jadi nama itu melekat di kepala. Kalau Anersa ... dari anak erik saputra." Erik tertawa pelan mendengar perkataannya sendiri.


"Iiihh ... masak cuman namanya kak Erik aja. Aku yang hamil, aku juga yang sakit sendirian saat melahirkan masak ga diakui." Lea merajuk.


Nyeri hati Erik saat Lea mengatakan sakit sendiri saat melahirkan. Walau Erik tahu Lea tidak bermaksud menyindirnya, tapi perkataan itu serasa menamparnya.


"Ya sudah jadi gini ... Bintang Maura Anersa ... bagus tidak?"


"Sama dong dengan nama aku Bintang Amalea?"


"Iya ... karena kalian berdua adalah bintangku." Erik mengelus lembut rambut Lea dan mengecup pipi Maura.


"Hai Maura, ini mama dan papa. Kita berdua bintangnya papa. Kalau papa ... matahari kita." Lea berbisik memakai suara anak kecil pada bayinya sambil tersenyum menatap Erik.


Erik matahari, Lea dan Maura adalah bintang.

__ADS_1


Lalu yang jadi bulannya siapa? hadeehh Eriiikkk ...


Apakah nanti juga akan muncul petir dan guntur??


...đŸ”šī¸...


Berkali-kali Erik mengatur deru jantungnya saat melangkah masuk ke area perkantoran.


Ia harus mempersiapkan diri saat berhadapan dengan Ghea nanti.


Suasana ruangan Erik sudah cukup ramai, hari ini Erik sedikit terlambat karena dari rumah sakit ia harus pulang dulu untuk berganti pakaian.


"Wheeiii ... selamat datang untuk papa baruuu." Dio rekannya yang sedikit agak somplak merentangkan kedua tangannya dengan lebar hendak memeluk Erik.


Sedikit terkejut mendapat penyambutan saat masuk ke dalam ruangan. Erik melirik ke arah Ghea yang tersenyum padanya.


Akhirnya ia paham dari mana teman-teman kerjanya tahu tentang berita kelahiran anaknya.


Satu persatu mendatangi Erik dan mengucapkan selamat padanya. Termasuk juga Pak Danu dan Ghea.


Tatapan dan ucapan Ghea terdengar tulus di telinga Erik.


"Kita rencana pulang kerja mau ke rumah sakit jenguk istri dan anakmu, boleh kan?," tanya Pak Danu.


Erik hanya mengangguk canggung di bawah tatapan Ghea.


Sepanjang hari saat kerja, Erik tidak bisa berpikir dan bekerja dengan baik. Tatapannya selalu mengarah ke sudut ruangan di mana Ghea duduk.


Ghea tampak cukup tenang mengerjakan tugasnya di hadapan laptop.


Erik tidak habis pikir, semalam Ghea terlihat begitu hancur. Erik sangat tahu jika semalam adalah yang pertama bagi Ghea, begitu pula juga dengan dirinya.


Erik mengambil kesempatan menemui Ghea saat wanita itu beranjak ke luar ruangan.


"Ghea ... tunggu."


"Ada apa Rik?" Ghea berbalik menatap Erik biasa.


"Semalam ... semalam maaf ... aku tidak sempat beri kabar kamu lagi. Apa kamu baik-baik saja saat aku tinggal?"


"Kamu lihat, aku baik-baik saja." Ghea mencoba tersenyum namun getaran suaranya sangat memperlihatkan kalau ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Erik menyadari itu, Ghea hanya mencoba menutupi dan berusaha terlihat tegar.


"Aku tahu perasaanmu Ghe ... beribu maaf aku ucapkan tidak akan mengembalikan kesucianmu." Erik berkata dengan sedikit emosional.


Erik melihat Ghea tidak beraksi apapun dengan perkataannya, Ghea hanya diam terpaku menatap ke arah belakang badan Erik.

__ADS_1


...❤❤...


__ADS_2