
"Selamat siang Pak Beni." Lea menatap mantan atasannya itu tepat lurus pada bola matanya.
"Kamu di sini?, apa kabar Lea?" Beni merasa senang karena Lea terlihat baik-baik saja, dan sepertinya sudah melupakan dan memaafkan tindakannya.
"Saya baik, mari pak duduk dulu." Lea merasa tidak enak hati karena semua mata saat ini tertuju padanya.
Seribu pertanyaan ada di tatapan Raymond, Kinanti dan Gilang. Baik, sepertinya hari ini bakal menjadi hari yang panjang dan melelahkan karena harus menjawab juga menjelaskan pada mereka yang penasaran.
"Aah, ya mari ... mari semua duduk, kita makan siang sambil ngobrol santai." Raymond mengambil alih pembicaraan sambil sesekali melirik interaksi Lea dan kliennya.
Pak Beni mengambil posisi duduk di sebelah Raymond, itu berarti tepat berhadapan dengan Lea.
Sambil makan Raymond dan Pak Beni serta peserta rapat lainnya sesekali membahas rencana kerja sama mereka kedepannya.
Mata dan senyum Beni tidak lepas dari wajah Lea, meski pembicaraannya tertuju pada pria di sebelahnya.
Hal ini membuat Raymond gondok dan kesal setengah mati, karena merasa terabaikan dan tersaingi.
"Kamu sudah punya anak Lea?" tanya Pak Beni.
pyurrr ...
Tangan Lea tidak sengaja menyenggol gelasnya yang berisi es teh manis yang masih terisi penuh.
Air teh itu mengalir di meja dan jatuh di pangkuannya, membuat sebagian pakaiannya basah dan terasa lengket.
"Sini biar aku bantu," Gilang mengambil tissu dan serbet lalu dengan cekatan membantu Lea membersihkan sisa air teh yang masih mengalir.
Raymond dan Pak Beni mengamati mereka berdua dengan sorot mata yang berbeda.
Pak Beni tertegun penasaran siapa pria yang berada di sisi Lea karena terlihat begitu perhatian, sedangkan Raymond terlihat sangat tidak suka dengan kedekatan Gilang dan Lea.
"Lea, sebaiknya kamu bersihkan bajumu di toilet. Teh manis itu lengket kalau terlalu lama," saran Kinanti.
Lea mengangguk mengiyakan. "Saya permisi."
Lea melesat keluar ruangan dan segera membersihkan di wastafel, rok serta bajunya yang sudah mulai terasa tidak nyaman.
"Saya sangat tidak suka jika ada skandal dalam kantor." Raymond tiba-tiba sudah berada di sebelahnya sedang mencuci tangan.
"Apa maksud bapak?" Gerah Lea rasa dengan perlakuan bosnya ini yang terasa selalu mengintimidasinya.
__ADS_1
"Kamu wanita bersuami, jangan menciptakan cerita skandal di kantor saya. Menjijikan!." Raymond memandang Lea sinis.
"Saya benar-benar tidak mengerti maksud bapak. Jika saya salah, tolong katakan di mana salah saya. Tapi tolong jangan menghina dan menuduh atas apa yang tidak pernah saya lakukan!" seru Lea menantang Raymond.
Hari ini memang terlalu melelahkan dan terasa panjang, jika situasi memungkinkan, Lea bisa saja pulang saat itu juga.
"Kamu ga lebih seperti wanita kebanyakan, yang dengan mudahnya menempel pada pria yang terlihat bisa mendatangkan keuntungan untukmu, saya benar?." Raymond memandang Lea dan tersenyum remeh.
"Jangan semba---"
"Berapa pria yang sudah kamu dekati untuk mengambil keuntungan dari mereka?" Raymond memandang Lea dari pantulan cermin wastafel sambil berpura-pura merapikan rambutnya.
"Kemarin saya dituduh sebagai pebinor oleh suamimu, katanya ada pria yang membelikanmu banyak barang?, waouww luar biasa." Raymond bertepuk tangan.
"Bos besar seperti Pak Beni rupanya juga sudah jatuh ke dalam jeratmu, ckckckck jaman sekarang terlihat polos memang bukan jaminan." Sudut bibir Raymond terangkat sinis.
"Aahh, sepertinya saya harus segera memeberi tahu Gilang. Kasian anak itu kalau bisa tertipu juga dengan wanita macam kamu."
"BRENGS*K!!" seru Lea emosi.
Raymond yang akan melangkah meninggalkan Lea terhenti dan berbalik.
"Siapa yang kamu maksud brengs*k?" Raymond melangkah maju menghimpit Lea yang terus berjalan mundur.
Raymond mencengkram pipi Lea dengan satu tangan, "Jika saya brengs*k, lalu kamu apa? ... murahan?"
Plaakkk! ... Duukkk!
Lea menampar dan menendang benda berharga di sela paha Raymond menggunakan lututnya.
"Aakkhhh jiaanco*k ... wanita sial*n!" Raymond meringis terduduk kesakitan.
Lea berjalan secepatnya menjauh dari boss gilanya. Lea tahu dia pasti akan dipecat, atasan mana yang memperbolehkan karyawannya merusak asset berharganya itu.
Ia sudah tidak perduli lagi dengan urusan pekerjaan, masa bodoh dengan pekerjaan harga dirinya sudah dilecehkan begitu saja.
"Kin, a-aku minta maaf." Lea langsung menghampiri Kinanti saat memasuki ruangan.
Merasa tidak enak pada Kinanti, karena sudah menyia-nyiakan kesempatan kerja dengan perbuatannya yang bodoh.
"Kamu kenapa?" Kinanti menyelidik Lea yang terlihat panik.
__ADS_1
"Maaf lama." Raymond masuk ke dalam ruangan, matanya mencari-cari wanita yang sudah membuat joni-yes-papinya mengkerut kesakitan.
"Tidak apa-apa, Pak. Bagaimana Pak Raymond, kapan bisa kami menerima budgeting perencanaan pameran untuk proyek lahan perumahan kami?" tanya Pak Beni antusias.
"Anda sudah setuju?" Raymond terkejut karena dengan mudahnya kliennya ini mau memakai jasanya tanpa banyak pertimbangan.
"Tentu saja, kenapa saya harus tidak setuju. Saya sudah lihat tadi pameran otomotif di lantai dasar. Team anda hebat bisa menarik perhatian banyak pengunjung," papar Pak Beni.
"Waah terima kasih banyak Pak Beni, team kami akan segera mengirimkan skema perencanaan dan perhitungan biaya untuk pameran perumahan bapak." Raymond tersenyum senang, joni-yes-papinya seketika sembuh terobati dengan proyek besar yang baru di dapat.
"Baiklah, tapi bisa saya minta Lea yang menangani pameran saya?" pinta Pak Beni penuh harap.
"Eh, tapi dia masih baru. Saya khawatir pameran sebesar ini tidak tertangani dengan baik." Rarmond berkelit.
"Lea pernah bekerja dengan saya sebagai sekertaris dan saya tahu etos kerjanya, bukan begitu Lea." Pak Beni menatap Lea lembut.
"Maaf Pak Beni harus membuat kecewa, tapi saya tidak bisa bantu menangani pameran bapak. Karena saya ... mau mengundurkan diri."
Suara dengungan orang-orang memenuhi ruangan saling berbisik, ada apa sebenarnya sampai seorang karyawan baru berani menolak secara langsung proyek besar di hadapan klien dan juga bossnya.
Kinanti menyikut pinggang Lea, "Ini yang kamu tadi mau minta maaf?, ada apa sih Lea?" bisik Kinanti.
"Waah kenapa tiba-tiba mau mengundurkan diri?, apa karena saya?, baiklah kalau begitu maaf---" Wajah Pak Beni seketika muram kecewa, rasa bersalahnya kembali datang.
"Bukan ... bukan karena Pak Beni, saya ha---"
"Jangan khawatir, pameran Bapak tetap akan berjalan. Lea dan saya yang langsung akan menanganinya." tegas Raymond sambil menatap tajam pada Lea.
"Tapi pak----" protes Lea terhenti dengan suara dingin Raymond.
"Ada waktunya kalau 'itu' yang mau kamu bahas." Raymond menekankan kata itu dengan sinis.
...đšī¸đšī¸đšī¸...
'itu' apa siiiihhh Raymond đ¤
Terima kasih đ
jangan lupa dong like, komen dan love (favorite) kalian
Dukungan teman2 walau hanya satu like berarti banget loh buat kami đ¤
__ADS_1
Kenalkan lagi yuk karya teman aku Kirana Pramudya judulnya Berbagi Cinta : Meminang tanla cinta