Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Menua bersama


__ADS_3

Begitu Lea dan Ghea masuk ke dalam ruang ICU, mereka disambut dengan suara mesin yang berdetak dan berdecit untuk menunjang kehidupan Erik.


Lea mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang ICU yang dingin. Pandangannya terhenti pada sosok tubuh yang terbaring lemah, di atas ranjang pasien.


Ghea memberi kode pada Lea, agar lebih dahulu mendekat. Ia masih belum siap, melihat tubuh calon suaminya dikelilingi berbagai macam alat.


Lea menyentuh tangan Erik pelan, seolah ingin mengatakan bahwa ia ada di sini.


Tangan yang dulu pernah membelai rambutnya sekaligus menamparnya, sekarang tertancap jarum yang cukup besar.


Dada yang dulu pernah menjadi tempat bersandarnya saat ia merasa lelah dengan hidup, sekarang menempel banyak alat dan selang.


Bibir yang dulu sering memberikan ia senyuman, semangat sekaligus pernah membentaknya, sekarang tertutup oleh alat bantu pernapasan.


Miris hati Lea melihat pria yang membawanya ke kota besar ini, terbaring lemah dengan bekas luka dan jahitan di beberapa bagian tubuhnya.


"Kak Erik, jangan lama-lama tidurnya. Cepat bangun, ya ... Maura rindu Papanya," ucap Lea dengan suara tercekat. Ia tidak bisa menahan rasa sedihnya, saat mengatakan nama putrinya di depan Erik.


Maura sangat sayang dan manja pada Erik. Meski mereka sekarang sudah hidup terpisah, bagi Maura, Erik tetaplah Papanya.


"A-aku takut Lea, ba-bagaimana kalo Kak Erik ga bisa bertahan?" Ghea kembali menangis.


"Jangan bilang begitu di saat Kak Erik sedang berjuang. Kita doakan saja yang terbaik," ucap Lea, walaupun sejatinya ia juga tidak tahu bagaimana kondisi Erik kedepannya.


"Apapun yang terjadi, kita harus ikhlas." Ghea semakin menangis, saat Lea mengatakan harus ikhlas.


"A-aku ga bisa Lea." Ghea menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Tidak ada yang pernah bisa ikhlas. Aku pun juga, tapi kita harus," ucap Lea lirih, seraya memeluk tubuh wanita yang ada di sisinya itu.


Ia pun merasa takut jika benar terjadi yang dikhawatirkan oleh Ghea, apa yang harus ia sampaikan kepada Maura nantinya?


"Ibu-ibu, cukup waktu untuk berkunjungnya, ya. Pasien biar istirahat dulu." Perawat jaga meminta mereka keluar ruangan dengan sopan.


"Bagaimana keadaan Erik, Nak?" tanya Mama Ghea.

__ADS_1


"Stabil, Ma," ucap Ghea singkat. Ia tidak mau menambah beban pikiran Mamanya.


"Syukurlah. Kita pulang dulu ya, Nak. Istirahat dulu, besok ke sini lagi," bujuk Mamanya. Ghea mengangguk mengiyakan, toh jika ia bertahan di rumah sakit malam ini, juga tidak ada gunanya. Ia hanya berharap tidak ada kabar buruk malam ini.


"Kami pulang dulu," ucap Papa Ghea. Sesaat ia ingin mengatakan sesuatu pada Lea, tapi urung lalu menutup mulutnya kembali.


Sesampainya di rumah, setelah memastikan semua anak-anaknya sudah terlelap, Raymond dan Lea masuk ke dalam kamar dan bersiap tidur.


"Ga bisa tidur, hmmm?" Raymond mengusap rambut istrinya.


Lea masih terjaga. Ia tidur telentang, dengan mata menerawang memandangi langit-langit.


"Aku kasihan sama Kak Erik, aku takut terjadi apa-apa sama Kak Erik. Aku juga merasa bersalah sama Kak Erik," ucap Lea beruntun.


"Merasa bersalah kenapa?"


"Andaikan dulu kami ga berpisah, mungkin ini ga bakal terjadi."


"Sayang, kalo kamu ngomong seperti itu aku sedih loh. Seakan kamu menyesal sudah cerai dari Erik, berarti sama juga kamu menyesal menikah dengan aku?" Raymond mulai merajuk.


"Iyaa, aku paham. Kita ga bisa mengatur takdir, Lea. Semua sudah digariskan, kita hanya menjalani hidup kita dengan versi terbaik. Aku pun juga, mana kepikiran akan menikah lagi dalam waktu perkenalan kita yang singkat. Sama sekali tidak ada dalam planningku, tapi mungkin ada dalam planning Allah."


Lama Lea terdiam, sambil tersenyum memandangi Raymond, "Abang kalo lagi ngomong serius gini keliatan tambah ganteng." Raymond terkekeh senang dipuji oleh istrinya.


"Waktu di kantor dulu, kamu ngakui aku ganteng dong, kan ngomongnya serius juga kalo di kantor."


"Maksud aku tuh, ngomong serius yang tentang kehidupan. Mirip ceramah pemuka agama gitu." Lea ikut terkekeh.


"Lea, kalau semisal aku mengalami kecelakaan seperti Erik. Kamu bakal sedih seperti Ghea tadi ga?" Raymond menatapnya sendu.


"Ga usah ngomong aneh-aneh, aku ga suka!" Lea menarik bibir Raymond kesal.


"Hehehe, iyaa, maaf, cuman mengandaikan aja."


"Kita akan menua bersama-sama. Menunggu anak-anak menikah, lalu menggendong cucu. Bayangkan kalo anak-anak nanti sudah menikah, masing-masing punya anak, minimal dua aja. Cucu kita jadi ada enam. Waah, rumah kita tambah rame, Lea," Raymond tidur telentang, mengkhayalkan masa depan yang masih jauh.

__ADS_1


Raymond menoleh saat tidak ada tanggapan dari Lea, soal lamunannya tadi.


"Kenapa, Lea?" tanyanya khawatir, saat melihat wajah istrinya yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Kita ga akan menua bersama, Bang."


"Kok kamu ngomongnya gitu? sekarang gantian kamu yang ngomongnya aneh-aneh. Aku juga ga suka." Raymond kembali merajuk.


"Kita ga bakal menua bersama, karena Abang kan jauh lebih tua. Jadi Abang pasti menua duluan, baru aku," jelas Lea masih dengan wajah berpikirnya.


Raymond hanya melongo mendengar penjelasan istrinya yang terdengar sangat menjengkelkan.


Ingin rasanya ia menggigit wajah Lea, karena kesal sudah mengungkit-ungkit masalah yang sensitif.


"Iyaa, nanti aku yang tua duluan." Akhirnya hanya itu yang Raymond ucapkan, untuk menghindari terjadinya badai di atas ranjang malam ini.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2