
...Masa lalu mengajarkan arti untuk memahami, mengikhlaskan, dan maju menuju masa depan....
...❤...
“Hai, dia sudah bangun?” bisik Erik seraya mengecup kening Ghea yang sedang menyusui anak pertama mereka. Ia lantas menaruh satu kantung penuh berisi makanan di atas nakas, lalu duduk di sisi Ghea.
Setelah hampir dua tahun menjalani pengobatan di Singapur, Erik sudah banyak mengalami kemajuan. Ia sudah bisa mulai berdiri, walau untuk berjalan masih harus dibantu dengan kruk (tongkat / alat bantu berjalan, untuk orang yang memiliki keterbatasan fisik karena cedera atau cacat).
Mereka berdua memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia, saat kandungan Ghea menginjak usia enam bulan.
Semalam Ghea sudah melahirkan seorang bayi perempuan, buah cintanya bersama Erik.
Gosip santer Ghea sebagai perebut suami orang, tidak bisa mereka redam dan terus melebar dari mulut ke mulut.
Hal itu membuat mereka memutuskan lebih baik untuk mendirikan perusahaan sendiri, tanpa melibatkan orang tua. Walaupun dirinya adalah anak tunggal dari salah satu pemilik perusahaan.
Dengan kemampuan tangan ajaib Erik dalam hal mendesign dan Ghea mengatur keuangan serta manajemen, membuat usaha mereka berkembang cukup pesat dalam hitungan bulan.
"Mereka jadi datang hari ini?" tanya Ghea.
"Kabarnya sih begitu. Kita tunggu aja," ucap Erik seraya mengusap kepala Ghea, dan mengecup pipi bayi mungilnya.
"Papa kasih nama Nastiti yang artinya berhati-hati. Supaya selalu mengingatkan pada kita, agar selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu atau mengambil keputusan," ucap Ghea.
"Bagus itu, Nastiti. Mengingatkan aku juga supaya berhati-hati kalau mau menyeberang jalan," tambah Erik seraya terkekeh geli.
"Kamu mau nambahin nama apa?"
Erik terdiam, ia memandang wajah bayinya yang tertidur damai dalam pelukan Ghea.
"Annikin."
"Artinya apa?"
"Yang memiliki maaf." Ghea menggigit bibirnya dan tertunduk. Walaupun sekarang dalam keluarganya dan mantan istri Erik tidak pernah mengungkit kembali, tapi bagi Ghea yang terbiasa hidup lurus membuat perasaan bersalah dan kotor itu selalu menggrogoti hatinya.
"Aku ingin hehadirannya di hidup kita, mengingatkan bahwa kita pernah bersalah dan telah dimaafkan," ucap Erik sendu.
"Annikin Nastiti?" Ghea mengangkat kepalanya memandang Erik dengan tersenyum lebar.
"Annikin Anersa Nastiti," ralat Erik.
"Anersa ... anak erik saputra?" Ghea tertawa geli.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan di pintu ruang rawat Ghea menghentikan tawa mereka berdua.
__ADS_1
"Papaaa ...." Begitu pintu dibuka, gadis kecil usia enam tahun melompat ke pelukan Erik.
"Woohoiii, easy girl. Papa Erik kakinya belum kuat." Raymond berusaha menahan tubuh Maura yang hampir membuat Erik terhuyung.
Sejak Erik dan Ghea kembali dari Singapur, mereka belum sempat bertemu sekalipun karena kesibukan masing-masing.
"Maura sudah besar, Papa sampe ga kuat gendong." Erik menggiring Maura ke sofa, lalu menarik gadis kecil itu ke pangkuannya.
"Papa sudah bisa jalan?" tanya Maura dengan mata membola besar.
"Sudah, tapi belum bisa lomba lari sama Maura. Kalo Papa lomba lari sama Maura dan Kanaya pasti kalah."
Suara tangisan bayi mengalihkan perhatian mereka. Erik langsung berdiri dan bergantian menggendong bayinya, sementara Ghea ke kamar kecil dibantu oleh Lea.
Erik membawa bayinya duduk di sofa. Maura yang melihat Papanya menggendong seorang bayi, beringsut mundur dan sembunyi di balik tubuh William.
"Maura, sini," panggil Erik. Maura menggeleng dengan wajah sedih.
"Maura, kasih ini untuk adek bayi," Raymond menyerahkan sebuah paper bag kepada Maura.
"Kemarin kan Maura sendiri yang pilihkan untuk adek bayi," tambah Raymond. Maura semakin keras menggeleng. Air mata sudah terlihat di pelupuk matanya.
Akhirnya ia tidak bisa membendung tangisannya. Maura menyenderkan kepalanya di punggung William dan menangis di sana.
Raymond bergeser mendekati Erik dan berbisik, "Ada bayi baru, dia cemburu. Sama seperti dulu waktu Kanaya baru lahir."
"Heei, kenapa nangis? Katanya sudah sekolah, berarti sudah besar dong." Maura menggeleng keras masih dengan menutup wajahnya menggunakan punggung William.
"Mau peluk?" Erik melebarkan tangannya. Maura mengintip dari sela-sela jarinya. Ia melihat Papanya sudah tidak menggendong bayi lagi, tapi bayi itu berpindah di tangan Papinya.
Dalam benaknya, mengapa ada lagi seorang bayi yang muncul. Apakah bayi itu akan mengambil Papanya, sama seperti Kanaya mengambil Mamanya?
Maura langsung memeluk Erik erat, seakan tidak membiarkan Papanya kembali menggendong anak lain selain dirinya.
"Siapa itu?" bisiknya pelan.
"Adeknya Maura," jawab Erik.
"Sudah ada Kanaya, aku ga mau punya adek lagi!"
"Tapi dia pingin punya kakak seperti Maura. Dia sudah menunggu lama untuk ketemu sama Maura yang hebat ini." Erik menggiring Maura mendekati bayinya.
"Siapa namanya," tanyanya lirih.
"Annikin Anersa Nastiti."
Maura menoleh cepat ke arah Erik, matanya membesar dengan mulut terbuka, "Anersa? kok sama kayak namaku??"
__ADS_1
"Iya, ini kan adeknya Maura."
Maura mulai mengusap-usap pipi Annikin yang di gendong Raymond dengan jarinya, sementara ia duduk dipangku Erik.
Ghea dan Lea yang baru keluar dari kamar mandi, tersenyum melihat kedua pria dan dua gadis kecil yang terlihat akrab.
Lea mendekati Raymond yang terlihat kaku menggendong bayi.
"Jadi pingin nambah," seloroh Raymond.
"Tiga kurang? mau nambah berapa lagi?"
"Nambah jatah malam maksudnya," celetuk Raymond. Lea mencubit pinggang suaminya gemas.
"Ma, nama adek ini sama loh sama namaku," ujar Maura dengan rasa bangga.
"Oh, ya? siapa namanya?"
"Ani sapa tadi namanya, Pa?"
"Annikin Anersa Nastiti," sahut Erik.
"Unik, cantik namanya. Artinya apa?" tanya Lea. Erik dan Ghea saling berpandangan dan tersenyum tapi enggan menjawab detail.
"Nama yang mengingatkan kami untuk selalu bersyukur," sahut Ghea.
...❤...
Tidak ada yang pernah tahu akan apa yang terjadi di hari esok. Suatu kesalahan tetaplah kesalahan, hal itu tidak akan hilang dan selalu membayangi. Namun yang terpenting adalah, bagaimana caranya menambahkan sesuatu pada kesalahan itu agar menjadi lebih baik.
Pahitnya kesalahan masa lalu mengajarkan kita cara untuk lebih bersyukur, karena diberi kesempatan untuk memperbaiki bukan untuk semakin terpuruk di dalamnya.
...❤❤...
Bonchapnya rencana tiap hari minggu, tapi jadinya molor dua hari. maafkeun 🙏
Awalnya Erik ini mau saya hilangkan saat kecelakaan 😬, tapi ga jadi karena dia ditolong oleh komennya pembaca 😅
Ayo Kak Erik bilang apa sama pembaca
Erik : Terima kasiiih kalian menyelamatkan nyawaku 🙏😭
Maura : Makasih ya pembaca, Papaku masih hidup 🙏🥰
Bonchap minggu depan enaknya tentang siapa nih?
Untuk give away sebagian sudah diproses, tapi masih ada yang belum bisa di chat niih
__ADS_1