Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Welcome baby girl


__ADS_3

"Dokter kelamin??" tanya Raymond balik dengan kening terlipat, ia merasa diejek oleh para perawat yang berdiri di sekitarnya.


"Ya, ga mungkin kan, Pak," sahut salah satu perawat yang membantu Lea bersiap untuk bersalin.


"Siap Bunda?," seru Dokter di ujung kaki Lea.


"Kakinya dilipat lalu buka yang lebar. Suster tolong dibantu ya," Sang Dokter mulai memberi instruksi.


Sang Dokter mulai membersihkan kewanitaan Lea dengan kassa steril, "Jangan tegang, rileks aja." Sang Dokter menepuk paha Lea pelan.


Wajah Raymond masam seketika, melihat Dokter berkepala licin itu duduk menghadap ke antara kedua kaki istrinya yang terbuka.


Ini Dokter yang sama saat Lea melahirkan Maura dulu, dan kedua kalinya Dokter itu duduk melihat keseluruhan milik istrinya.


Raymond masih ingat bagaimana kepala licin itu berulang kali muncul di antara kedua kaki istrinya yang terbuka lebar.


"Baang." Lea menggenggam lengan Raymond, ia memandang suaminya mohon pengertian agar tidak perlu meributkan hal yang tidak penting.


"Kamu tenang ya, cukup lihat aku aja," ucap Raymond menghibur.


"Abang yang harusnya lihat aku aja!, ga usah matanya lihat ke arah sana," seru Lea kesal, karena melihat suaminya terus-terusan melirik tajam ke arah sang Dokter.


"Ayah Bunda, sudah selesai ributnya? adeknya tadi sudah mau keluar loh, jadi masuk lagi denger Ayah Bundanya ribut," seloroh sang Dokter seraya mengintip dari belahan kaki Lea.


"Ayahnya mungkin mau gantiin posisi saya di sini?, nanti saya yang duduk di sebelah ibunya sambil pegangan tangan," cetus sang Dokter sewot, karena terganggu dengan lirikan tajam dari Raymond.


"Lihat sini ajaahhh," ucap Lea seraya menarik baju Raymond agar lebih mendekat ke arahnya.


"Tarik nafas ya, Bunda, lalu hembuskan perlahan. Jangan mengejan sebelum saya minta."


"Kalau terasa kontraksi, tarik nafas lewat hidung lalu keluarkan lewat mulut."


"Hhhhhh ... ffuuuuh." Sang Dokter memberikan contoh.


"Hhhhh ... ffuuuhhh."


"Betul, begitu terus ya tetap tenang nafas dengan teratur ... eh ayahnya ga perlu nafas seperti itu, cukup bundanya saja. Ayah cukup beri semangat," celetuk Sang Dokter, saat melihat Raymond jauh lebih heboh mengatur nafas.


"Hhhhh ... ffuuuhh ... hhhh .... ffuuhh." Setiap kontraksi datang, Lea mengatur nafas dan mencengkram lengan suaminya erat.


Raymond mengusap bulir-bulir keringat yang menetes di kening dan pelipis Lea.


"Doookk ... sudah mau keluar," bisik Lea lirih.


"Tahan bunda ... sedikiiiit lagi."


"Ga khuuaattt, Baang." Lea menatap Raymond memohon.


"Dok!" seru Raymond.


"Sabar, Pak. Memang seperti ini proses melahirkan normal." Salah satu perawat menepuk pelan pundak Raymond.


"Sabar ya, sayang. Aku tau kamu pasti bisa. Kamu Mama yang hebat. Ingat dulu saat melahirkan Maura?, kamu luar biasa sekali. Aku saksinya," bisik Raymond di telinga istrinya. Mata Lea sudah bersimbah air mata.

__ADS_1


"Aku rindu Ayah sama Ibu ... hhuuhuuu," isak Lea tertahan. Dua kali menjalani persalinan tidak ada orang tua yang mendampingi, sungguh menyesakan dadanya.


"Ada aku, ada Maura, ada William, kami semua keluargamu, sayang. Jangan nangis, ga mau kan nanti adeknya cengeng," bisik Raymond seraya mengusap air mata Lea.


"Sudah siap, Bunda? air ketuban sudah pecah, saat saya bilang dorong langsung mengejan ya."


"Pinggulnya jangan diangkat, tetap menempel di kasur."


"Ayahnya, bantu tahan punggung dan kaki ya."


"Sekarang ... dorong!"


"Arrgghh." Lea mulai mengejan dengan sekuat tenaga saat kontraksi datang.


"Bagus. Atur nafas lagi, jangan panik tenang aja."


"Jangan berteriak saat mengejan ya, dan tetap buka matanya."


"Oke, kita mulai lagi ya. Kumpulkan tenaga, tarik nafas, Bunda ... dorong!"


"Hhhhhfft, ga kuaaatt ...."


"Sedikit lagi, Bunda. Adeknya sudah mau keluar, yuk semangat."


"Sedikit lagi sayang, kamu bisa." Raymond membiarkan Lea menghujamkan semua kuku di tangannya.


"Sekali lagi, ya. Tarik nafas ... yak dorong, Bundaaa."


Genap ketiga kalinya Lea mengejan, suara tangisan bayi memenuhi ruang persalinan.


"Selamat Ayah Bunda putrinya sudah lahir lengkap, sempurna dan cantik," ucap sang Dokter, "Untung mirip ibunya," tambah sang Dokter dengan suara pelan, seraya menyerahkan bayi yang masih terus menangis ke tangan perawat.


Senyum Raymond langsung hilang mendengar perkataan sang Dokter, dalam hati ia bertekad anak ke empat tidak akan dibantu oleh Dokter berkepala licin ini.


"Baju Ibunya tolong dibantu dibuka, Pak," pinta perawat yang sedang membersihkan bayi mereka dari lendir dan darah.


"Kita coba IMD (Inisiasi menyusu dini) dulu ya." Seorang perawat menaruh bayi berkulit putih dan berambut lebat itu di atas dada Lea.


"Bunda, konsentrasi sama bayinya ya. Saya mau mengeluarkan ari-ari sama selesaikan pekerjaan di sini dulu ya. Agak sakit sedikiiiitt, tapi tidak sesakit proses melahirkan tadi," jelas sang Dokter.


"Ayahnya mau bantu saya jahit mungkin?, atau ada request disisakan berapa senti?" tanya Dokter saat mendapatkan lirikan sinis dari Raymond.


"Baang!" seru Lea dengan suara lemah, "Lebih suka lihat dokter ya, dari pada lihat bayinya?" wajahnya mulai merengut.


"Ga sayang, aku lihat dia aja lucu." Raymond mengalihkan perhatiannya pada bayi mungil, yang terus bergerak mencari sumber kehidupannya.


Raymond mendekatkan wajahnya ke telinga bayinya, ia mulai memberikan adzan pertama dengan suara lembut.


"Cantik sekali," ucap seorang perawat yang baru masuk ke dalam ruang persalinan membawa baju ganti untuk Lea.


"Anak keberapa, Pak?"


"Ketiga," sahut Raymond sambil mengusap pipi bayi yang memerah siap meledakkan tangisnya, karena belum menemukan yang dicarinya.

__ADS_1


Sontak Lea mengembangkan senyum harunya, mendengar Raymond menyebutkan anak ketiga. Walaupun ia sangat tahu, jika Raymond sudah menerima Maura seutuhnya sejak mereka menikah, tapi mendengar ucapan spontan yang keluar dari bibir suaminya membuat hatinya menghangat.


"Terima kasih," bisiknya sambil mengusap pipi suaminya.


"Untuk apa?"


"Untuk jadi suamiku dan jadi Papi Maura."


Raymond mengecup lama dahi dan kedua mata Lea yang sudah basah.


"Terima kasih juga sudah menjadi istriku, Mamanya William dan melahirkan putri kecil kita," ucap Raymond.


Perhatian mereka teralihkan pada bayi mungil yang sedikit merengek, karena belum juga mendapatkan yang diinginkannya.


"Jangan dibantu, Pak. Bayi punya insting sendiri untuk menemukan pu*ting ibunya. Biarkan saja menangis ga pa pa, kalo nangisnya kencang paru-parunya semakin sehat," jelas perawat saat Raymond ingin mendekatkan putrinya pada pu*ting Lea.


"Go my girl, dikit lagi." Raymond memberikan semangat pada putrinya yang baru lahir, layaknya arena lomba sepeda.


Cap, cap, cap


Setelah sedikit berjuang, mulut bayi mungil itu akhirnya dapat meraih ujung dada Lea dan menyesapnya dengan antusias.


"Good girl." Tawa lega mereka pecah seketika, melihat keajaiban yang baru saja terjadi.


"Mirip Papinya," celetuk Lea menahan tawanya. Raymond menyipitkan matanya, ia berusaha memahami perkataan istrinya.


Sejurus kemudian ia tersenyum lebar dan berbisik pada bayinya, "kesukaan kita sama, nanti gantian ya."


"Abaaang iiiihh!!" Lea menarik telinga suaminya kesal.


"Pak, Bu. Bercandanya nanti dulu ya, nanti bisa salah jahit loh ketutup semua saya ga tanggung jawab." Kepala sang Dokter muncul dari balik kaki Lea yang masih terbuka dengan tatapan datar.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke karya teman aku ya, ramaikan di sana 🙏🤗

__ADS_1



__ADS_2