
Jam satu siang bis yang ditumpangi Lea dan Maura sampai di terminal, dengan menaiki ojek pengkolan mereka menuju rumah peninggalan almarhum kedua orang tua Erik.
"Maura?" Lea terkejut saat baru saja turun dan membayar ongkos ojek, ada suara anak laki-laki yang memanggil nama putrinya.
"Alex?" Lea lupa rumahnya dan Erik yang termasuk berada di jalan utama, membuatnya gampang terlihat saat berada di depan rumah.
Alexander putra pertama Beni dan Devi, diam berdiri mengamati Lea yang bergerak salah tingkah seperti habis terpergok melakukan sesuatu memalukan.
"Aku bantu ya, Tan." Melihat Lea yang kesulitan membuka pagar dengan tangan penuh, Alex mengambil alih tas berisi bajunya dan Maura.
"Terima kasih ya," ucap Lea sambil tersenyum, setelah Alex menaruh tasnya di ruang tamu.
Alexander kembali terdiam dan mengangguk. Sebelum keluar, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah. Alex mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Alexander putra sulung dari Beni, memang jauh lebih pendiam dan misterius dari adiknya Jonathan. Jika Jonathan seperti laut yang selalu berombak, Alexander seperti danau yang tenang, teduh tapi dapat menghanyutkan.
"Mauraa, jangan seperti itu lantainya kotor sayang." Lea mengangkat Maura yang sudah bergulung di lantai yang penuh debu.
"Maura di sini dulu ya, Mama sapu sama pel lantainya dulu." Lea menaikan Maura di kursi tamu.
Lea memandang sekelilingnya pantas saja Alex tadi melihatnya prihatin, rumah peninggalan orang tua Erik ini ternyata sangat berantakan dan berdebu karena sudah ditinggal sangat lama oleh pemiliknya.
"Hwwuuaaaa ... hwaaaa, Mamaaaa ...." Saat ia masuk ke dalam dapur mencari sapu dan kain pel, jeritan Maura dari ruang tamu mengagetkan Lea.
"Astagaa, Mauraa kenapaa?" Lea menggendong Maura yang masih terus menangis.
"Atit, Maaa ... hwwaaaaa ...." Lea memeriksa seluruh tubuh Maura, ia menemukan tanda merah seperti bekas gigitan binatang.
"Cup .. cup, sakit ya. Mama kasih minyak ya, jangan nangis sayang." Lea pun rasanya sudah ingin menangis juga.
Ia dalam kondisi sangat panik, karena tangisan Maura yang terdengar menyayat dan terus meronta.
Ia tidak siap dan tidak menyangka jika tindakannya keluar dari rumah tanpa persiapan, membawa dampak buruk bagi putrinya. Ia sangat menyesal sudah membawa Maura terlibat dalam emosi dan pertikaiannya dengan Raymond.
Sambil mengoles minyak di tubuh Maura, Lea terus menitikan air mata, "Maafin Mama yaa. Sakit ya, sayang?" Ternyata gigitan itu tidak hanya satu melainkan ada beberapa di tubuh gadis kecilnya.
Lea memeluk Maura erat berusaha menenangkan putrinya yang masih sesenggukan menahan sakit dan rasa gatal.
Ia mengedarkan pandangan ke tiap sudut rumahnya, kalau mau jujur rumahnya belum layak untuk ditinggali malam ini, karena sangat kotor dan berdebu.
Membersihkan semuanya dalam waktu singkat sendirian, rasanya juga tidak mungkin sedangkan saat ini ia sudah lelah dan lapar apalagi Maura yang masih kecil.
__ADS_1
Sekali lagi Lea merutuki keputusannya yang bodoh, sok ingin menjauh dari suaminya tapi yang ada malah menyusahkan putrinya.
Mau kembali lagi ke kota sore ini jelas tidak mungkin, karena bis tujuan ke kota hanya ada dari pagi hingga siang saja.
"Maura kenapa, Lea?" Sekali lagi Lea dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tidak diharapkannya saat ini. Devi sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Di gigit binatang," sahut Lea pelan.
"Alex tadi cerita, lihat kamu sama Maura baru datang berdua aja. Alex minta saya dan papanya untuk jemput kalian berdua, dia kasihan lihat Maura," papar Devi.
Bodohnya Lea, sudah pasti Alex akan melapor pada orang tuanya tentang keberadaan mereka.
"Kami baik-baik saja di sini, Bu." Memang terlalu terlihat berbohongnya, tidak mungkin baik-baik saja jika melihat kondisi rumah dan Maura yang masih menangis kesakitan.
"Bermalamlah di rumah saya, biar rumah ini dibersihkan dulu sama pekerja rumah tangga saya."
Lea menggeleng, tinggal satu atap dengan Pak Beni? bagai kelinci masuk kandang singa pikirnya.
"Jangan egois, Lea. Mungkin kamu masih bisa tinggal di rumah yang berdebu dan kotor seperti ini, tapi Maura?"
"Kalau kamu takut sama suami saya, jangan khawatir saya sendiri yang menjamin keamananmu. Hanya semalam Lea, besok kamu sudah bisa masuk ke rumah ini dalam keadaan bersih." Bu Devi dengan gigih meyakinkan Lea.
Melihat Maura yang terus merintih kesakitan dan gatal, Lea tidak yakin bisa fokus membersihkan rumah sore ini.
Mau tidak mau ia menerima penawaran istri mantan bosnya itu demi kesehatan Maura.
"Malam ini aja, kamu tidur di kamar bawah sini ya." Devi membuka kamar tamu yang berada di lantai satu dekat ruang makan.
"Saya tidak akan mengganggumu, Lea. Kamu jangan khawatir, istirahat saja. Tadi Bik Sri sama Antun sudah saya suruh bersihkan rumahmu, jadi besok sudah bisa kamu tempati," ucap Beni dari jarak yang cukup jauh.
Rupanya ia mengerti tatapan ketakutan dari Lea, dan ia sedang menjaga jarak dengannya demi menjaga kepercayaan wanita itu.
"Kamu mandi aja dulu lalu makan, biar Maura saya yang urus. Setelah itu kita ngobrol di depan." Devi tersenyum manis, ia menggandeng Maura mendekat ke ruang keluarga di mana kedua putranya sedang asyik bermain.
Lea memperhatikan sepasang suami istri yang dulu berusaha ia hindari mati-matian, hingga ia dan Erik harus angkat kaki dari rumah mereka sendiri.
Sekarang tatapan dan tutur kata dari sepasang suami istri itu, terlihat sangat tulus dan peduli padanya dan Maura.
Saat Lea selesai membersihkan diri, ia melihat Maura sudah rapi dan cantik sedang bermain bersama Beni dan kedua putranya. Devi memberi kode padanya untuk duduk mendekat bersamanya.
"Maaf, bukan saya mau ikut campur. Kamu ada masalah dengan suamimu?"
__ADS_1
Suara Lea tercekat di tenggorokan, ia tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Devi. Ia hanya menggeleng singkat.
"Tidak apa-apa jika ga mau cerita. Hanya kalau boleh saya kasih saran dari seorang istri yang sudah berpengalaman di sakiti." Devi tertawa miris saat mengatakan tentang dirinya sendiri.
"Jangan pernah keluar dari rumah jika ada masalah dengan pasangan. Duduk dan selesaikan dulu berdua. Kamu boleh keluar dari rumah, jika ia sendiri yang memintamu untuk keluar dari rumah." Lea tertunduk malu, saat tatapan Devi seperti mengulitinya.
"Saya ga lari dari rumah, saya cuman pingin sendiri aja sebentar," sahut Lea pelan.
"KDRT?" tanya Devi dengan kening berkerut, Lea hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Mmm, wanita?" kali ini Devi tersenyum menggoda. Lea menunduk semakin dalam dengan wajah keruh.
"Tidak lebih parah dari kasus rumah tangga saya kan?" Devi tersenyum miris, sedangkan Lea hanya mendesah menahan malu dan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, sudah berlalu. Jika menyesali dan mengutuk hal itu, sama saja dengan tidak menginginkan Maura ada di tengah-tengah kita." Devi memandang kedua putra dan suaminya yang sangat bahagia bermain bersama dengan Maura.
Suasana rumah mereka malam ini terasa sangat berwarna dan hidup, dengan kehadiran seorang putri kecil.
Biasanya suaminya sibuk sendiri di dalam ruang kerjanya, si sulung Alexander di kamar bersama gadgetnya sedangkan si bungsu selalu menempel bersamanya menonton televisi atau hanya sekedar menonton film yang membosankan.
"Terima kasih," ucap Devi dengan mata berkaca.
"Untuk?" tanya Lea tidak mengerti.
"Mengijinkan Maura hadir di dunia, dan menginjakan kaki di rumah ini."
...❤❤...
Akhirnyaaa selesai sebelum tengah malam 🤗😁
Sebar jempol, komen, bunga, kopi, dan vote yaa.
Sesuai janji saya di bab awal (lupa bab berapa) saya akan membagikan gift away untuk pembaca setia cerita receh perdana saya di NT
Saya ambil dari 10 nama tertinggi di TOP FANS (murni reader bukan sesama author moon maap ya🙏😁, dan sdh pasti diluar nama saya juga)
Finalnya saat novel ini berakhir dan di umumkan di novel saya yang terbaru
Gift Awaynya tdk seberapa 🙏 hanya sebagai bentuk terima kasih, karena walaupun masih jauh dari novel famous tapi jujur saya ga nyangka ada yang suka dengan cerita ini 😘
Kenal lebih dekat yuk :
__ADS_1
follow IG : ave_aveeii (khusus novel)
FB : avellina cornelia (FB umum jd maap kalo isinya seperti gado-gado)