Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Berdamai dengan masa lalu


__ADS_3

Lea duduk dengan gelisah saat Devi mengetuk pintu kamar dan membukanya.


"Belum mau keluar?" tanya Devi sambil menaruh dirinya di sisi Lea.


"Tadi aku tampar dia," ucap Lea lirih. Ia memandang telapak tangannya yang tadi sudah digunakan untuk menampar suaminya.


Rasa bersalah menyelusup ke dalam hatinya, ia tidak bermaksud kasar pada Raymond. Tangannya tidak berhenti bergetar dari tadi karena rasa bersalahnya.


"Dia sudah tau kamu hamil." Lea membalikan badannya menghadap Devi. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran.


"Sepertinya dia senang, agak kaget juga sih awalnya tadi."


"Tapi dia sepertinya mau rujuk." Wajah Lea kembali muram.


"Wanita yang kamu maksud tadi, mantan istrinya?" Lea hanya mengangguk.


"Kalau kamu hanya berdiam di kamar ini, kamu ga bakalan tau cerita yang sebenarnya. Kalau benar dia mau rujuk dengan mantan istrinya, tidak mungkin jauh-jauh ke sini nyariin kamu. Tadi juga, dia manggil kamu sayang ... benar kan?" Devi menyenggol lengan Lea menggodanya.


"Kamu juga harus obatin luka suamimu, ga mungkin kan saya yang obatin."


"Tapi aku kalo lihat wajahnya tuh hiiihhhh ... pingin mukul rasanya." Lea mengepalkan genggamannya seakan menahan rasa geram.


"Hahahaahaa ... baguslah sepertinya anakmu tau harus bagaimana mengendalikan Papinya." Lea menatap Devi tak mengerti.


"Ayo keluar dulu, tahan emosinya. Ga mau kan Maura lihat Mamanya jadi preman." Devi menarik tangan Lea, dan mendorongnya ke arah ruang tamu.


"Lea." Raymond berjalan mendekati istrinya dan memeluk Lea setengah memaksa.


"Kamu hamil sayang?" Raymond mengusap perut Lea yang masih terlihat rata, namun senyumnya meredup saat melihat wajah istrinya yang tidak ramah.


"Duduk!, aku mau bersihkan lukanya." Lea mendorong Raymond hingga jatuh terduduk di sofa.


Raymond hanya diam dan menurut, walau dalam hatinya ia sedikit heran dengan perlakuan istrinya yang sangat berbeda hari ini.


"Auwww, pelan-pelan ... sakit sayang," ucap Raymond saat Lea sedikit keras menekan lukanya yang terbuka.


"Manja, tadi pukul-pukulan aja sok jago ga pake ngerengek," sahut Lea ketus.


"Kak Erik, sini aku obatin." Intonasi suara Lea berubah melembut saat memanggil Erik. Mata Raymond membesar saat Lea memegang wajah mantan suaminya itu.


"Kamu mau ngapain?" Ia mencekal tangan istrinya yang sudah berada di atas wajah Erik.


"Mau obatinlah." Lea memberikan tatapan menusuk pada suaminya. Entah mengapa ia sangat kesal hanya dengan memandang wajah Raymond.


Sebaliknya Raymond semakin sayang dan takut menyakiti Lea, sejak tahu istrinya itu mengandung anaknya.


Raymond memandang kesal pada Erik yang tersenyum-senyum dengan wajah tengadah menatap Lea.

__ADS_1


"Sudah cukup, lukanya juga ga banyak dia." Sekali lagi Lea melirik Raymond sinis dan tetap meneruskan mengobati Erik.


"Sudah cukup, aku sudah ga apa-apa." Erik menengahi saat melihat Raymond memberikan tatapan peringatan kepadanya.


"Maaa ... ku oleh kan ni?" (Ma, aku boleh makan ini?) Maura mendatangi Lea dengan sosis di tangannya.


"Boleeehh, siapa yang kasih?, sudah bilang terima kasih belum?"


"Yah acih," (Ayah yang kasih) sahut Maura sambil menunjuk Beni yang duduk di kursi meja makan.


Lea tercengang mendengar panggilan Ayah yang ditujukan pada Beni, sesaat tubuhnya bergetar.


Bukan ia tidak mau mengakui bahwa Maura anak kandung dari pria itu, tapi tiba-tiba sesaat bayangan malam itu melintas di benaknya.


"Lea." Raymond merengkuh pundaknya dari belakang, mengembalikan kesadarannya yang sudah terbang jauh ke tiga tahun yang lalu.


Lea menatap suaminya meminta pertimbangan.


"Dia punya hak untuk meminta, tapi kamu juga punya hak untuk menolak. Aku kembalikan kepadamu." Lea mengarahkan pandangannya ke arah Erik yang masih duduk di sofa.


Erik hanya berkata pelan sambil tersenyum, "Apapun yang terbaik untukmu dan Maura."


"Bilang terima kasih sama Ayah." Suara Lea tertahan seperti tercekik, saat menyebutkan kata Ayah.


Maura dengan lincah berlari ke arah Beni, memeluk ,dan mencium pipinya "Acih, Yah."


"Kalian berdua langsung balik ke kota malam ini?" tanya Devi pada Raymond dan Erik, saat mereka selesai makan dan masih duduk santai mengelilingi meja.


"Malam ini saya sama Lea dan Maura tidur di rumah Erik, besok kami baru kembali." sahut Raymond cepat.


"Aku di sini dulu, Abang sama Kak Erik aja yang tidur di rumah sana," ucap Lea tanpa mau memandang suaminya.


"Jangan gitu dong sayang, masak Abang tidur berdua sama Erik?"


"Tidurnya terpisah kan bisa, kamar di sana ada dua," tandas Lea tidak terbantahkan. Raymond hanya menghela nafas lelah.


Malam ini Lea ingin memberikan waktu lebih banyak untuk keluarga Beni berkumpul bersama Maura, karena sepertinya mereka masih berat jika harus berpisah malam ini.


"Baiklah, tapi besok pulang ya sayang?" bisik Raymond pelan. Ia sedikit merasa malu di hadapan Erik dan Beni karena sikap Lea yang ketus hanya jika berinteraksi dengannya.


"Liat nanti," sahut Lea singkat, lalu berdiri menuju ke arah dapur.


"Sabar, itu bawaan baby," bisik Devi saat melihat wajah Raymond yang tersiksa.


...❤...


Pagi harinya mobil Raymond sudah siap di depan rumah Beni. Ia sudah tidak sabar ingin membawa istri dan putrinya pulang.

__ADS_1


"Rik, kamu duduk depan ya. Biar Maura sama Lea di belakang," bisik Raymond setengah memohon.


"Kenapa?, biar aku sama Maura di belakang, Lea temani kamu duduk di depan."


"Lea lagi galak, aku takut," ucap Raymond sedih. Erik memandang pria di sampingnya dengan tatapan aneh, tapi akhirnya tanpa bertanya lebih lanjut ia menyanggupi permintaan 'kawan' barunya itu.


"Lea sering-seringlah kemari bawa Maura ya, kami pasti bakal kangen." Devi memeluk Lea erat.


Sejak awal kenal Devi sudah menganggap Lea seperti adiknya, sayangnya semua rusak karena perbuatan bejat suaminya.


"Terima kasih sudah mengijinkan saya menjadi Ayahnya." Beni terus mengecup dan mengusap rambut Maura yang ada di dalam gendongannya.


"Pak Beni memang ayahnya, saya ga bisa menghindari hal itu. Hubungan darah memang kental, terima kasih juga sudah mengakui dan menyayanginya," ucap Lea tulus.


Semalam ia hampir tidak bisa memejamkan matanya, berusaha mengatasi rasa takut dan bencinya saat mendengar sebutan kata Ayah dari Maura untuk Beni.


Akhirnya ia sadar jika ia tidak akan bisa lari dari kenyataan. Ingatan dan kenangan pahit itu selamanya tidak akan pernah hilang, dan akan mengikutinya seumur hidup.


Satu-satunya cara untuk melepas rasa sakit di hatinya adalah, berdamai dengan masa lalu.


Masa lalunya memang pahit dan kelam, tapi dari masa lalu itu ia melahirkan masa depan yang sekarang memanggilnya dengan sebutan Mama.


"Tante, adek Maura nanti boleh nginap di sini lagi?" tanya Jonathan sambil terus memegang kaki Maura seakan tidak rela jika adeknya itu dibawa pergi.


"Tentu boleh, Jonathan sama Alex juga boleh kok menginap di rumah Maura."


"Benar??" Mata Jonathan yang tadinya meredup seketika cerah dan bersemangat.


"Iya, sangat boleh kalau Papa sama Mama mengijinkan."


"Boleh, kalau nanti liburan sekolah," sahut Devi yang langsung disambut dengan sorakan kedua putranya.


"Kami jalan dulu, terima kasih." Lea memberikan senyuman tulus pada sepasang suami istri di hadapannya.


...❤❤...


Akhir-akhir ini agak lambat upnya maaf ya, dunia nyata lagi butuh perhatian lebih 🙏


Seperti biasa Like, komen bebas tapi sabtun, tabur-tabur bunga, secangkir kopi, dan Votenya disebar ya🙏🥰❤


Mampir di sini yaa, untuk yang pemenang gift away akan di umumkan di sana.


Kapan? saat cerita di sini sudah selesai


Jangan lupa tinggalkan jejak teman-teman disana, semoga suka juga dengan ceritanya


__ADS_1


__ADS_2